ROMANTIKA HIDUP

ROMANTIKA HIDUP
73. Panik 2.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Selesai makan siang, Kaliana menyampaikan rencananya kepada Danny, Pak Yosa dan Bryan. Mereka setuju dengan apa yang direncanakan Kaliana. Bryan berbicara dengan Danny lalu memanggil asisten Chasina, agar menyiapkan ruang kerja asisten untuk dipakai tempat pembuatan video wawancara Pak Yosa dan Danny.


Selesai merekam wawancara Danny dan Pak Yosa, Kaliana segera mengirim videonya kepada Putra untuk diedit bersama Marons dan diupload. Kaliana percayakan proses selanjutnya kepada Putra dan Marons. Dia yakin Marons sudah mengerti rencananya dan akan mengeksekusinya dengan baik, sesuai harapannya.


Kaliana berbicara dengan Bryan untuk mengatur rencana berikutnya berkaitan dengan gugatan cerai Chasina. Kemudian Kaliana segera pamit bersama Danny dan Pak Yosa untuk meninggalkan Bryan. Tidak lupa Kaliana menanyakan kondisi kedua orang tua Bryan. Mendengar perkembangan kesehatan Pak Adolfis lebih baik, Kaliana titip salam hormat kepada beliau dan juga memberinya semangat dan harapan, semoga lekas sembuh.


Bryan mengucapkan terima kasih sambil menepuk tangan Kaliana yang sedang menyalaminya beberapa kali, sebagai tanda rasa terima kasihnya yang tidak terhingga. Dia tidak menyangka Kaliana bekerja lebih dari kontrak kerja sama yang telah ditanda tangani mereka.


Bryan telah bertemu dengan Chasina di tempat tahanan yang baru, sehingga dia makin yakin dengan apa yang dikatakan Kaliana. Semuanya sesuai dengan yang dia rencanakan dan katakan kepadanya, juga kepada Daddy nya. Apalagi mendengar rencana yang sedang dikerjakan Kaliana, agar mempermudah Chasina terlepas dari jerat keluarga Jaret. Bryan makin bersemangat untuk membantu Kaliana dan teamnya.


Setelah saling bersalaman, Bryan bersama asisten Chasina mengantar Kaliana, Pak Yosa dan Danny turun ke tempat parkir khusus mobil Chasina. Mereka kembali saling berpamitan, lalu meninggalkan Bryan dan asisten Chasina.


"Pak Yosa dan Pak Danny, maaf kalau aku mau istirahat sebentar. Ada yang harus aku pikirkan, sehubungan dengan kondisi Pak Bram dan Ibu Chasina." Kaliana berkata pelan, setelah mobil mereka telah keluar dari gedung kantor Chasina. Pak Yosa dan Danny mengangguk mengerti, Kaliana sedang merencanakan sesuatu.


Sambil berpikir, Kaliana jadi tidak sabar untuk tiba di rumah. Agar bisa melihat hasil kerja Marons dan Putra serta respon masyarakat melihat vidoe yang mungkin saja sudah diupload oleh Putra.

__ADS_1


~°°°~ ~°°°~ ~°°°~


Di sisi yang lain ; Mama Jaret merasa sedikit lega, mendengar usul pengacara Elly untuk memakai data sopirnya. Mama Jaret langsung berbicara serius dengan sopir untuk menjelaskan maksudnya yang mau meminjam data pribadi sopir. Walaupun kurang mengerti, sopir menyetujui permintaan Mama Jaret, karena khawatir dengan masa depan pekerjaannya.


Mengetahui sopir telah bersedia meminjamkan data pribadinya, Mama Jaret meminta sopir untuk mampir ke restoran fast food yang memiliki drive thru untuk membeli makan siang mereka. Karena perjalanan ke bank yang mereka tuju, harus melewati daerah yang terkenal dengan macetnya. Apalagi di saat waktu makan siang, seperti sekarang. Oleh sebab itu, untuk menghemat waktu, mereka makan di mobil.


Sambil makan, Mama Jaret menjelaskan lagi apa saja yang harus dilakukan oleh sopir, saat mereka telah berada di bank. Mendengar penjelasan Mama Jaret kepada sopir, pengacara Elly jadi mengerti dan berpikir tentang banyaknya kekayaan Jaret.


"Bu Renette... Maaf, saya hanya menanyakan saja. Apakah Ibu pegang identitas Pak Jaret untuk memindahkan tabungannya?" Tanya pengacara pelan, mengingat Jaret sedang ditahanan. Apakah mereka bisa mengambil atas namanya tanpa membawa identitasnya.


Mama Jaret terkejut mendengar pertanyaan pengacara Elly. Beliau langsung melihat ke arah pengacara dengan mata membulat. Hal yang ditanyakan tidak terpikirkan olehnya saat berencana mau pindahkan uang yang mereka simpan atas nama Jaret.


Mama Jaret segera menghubungi suaminya untuk menanyakan identitas Jaret, karena yang membuka rekening atas nama Jaret adalah suaminya. Jadi suaminya pasti tahu caranya atau menyimpan identitas Jaret. Mama Jaret mulai kesal memikirkan kemungkinan suaminya lupa memberitahukannya. Padahal mereka sedang dikejar waktu untuk menyelamatkan uang mereka.


Setelah terhubung dan Mama Jaret membicarakan tentang apa yang dikatakan pengacara mereka, Papa Jaret terkejut. Dalam kepanikan, tidak terpikirkan hal tersebut. Hanya beliau yang bisa tanda tangan untuk memindahkan semua tabungan Jaret. Selain identitas Jaret ada padanya, hanya beliau yang bisa memalsukan tanda tangan Jaret.


"Kalau begitu, pakai kartu yang ada padamu untuk ambil sebisanya. Aku akan pakai kartu dan juga pindahkan secara tunai." Papa Jaret berkata cepat dan mulai panik, mengetahui kondisi yang akan dihadapi. Mereka segera mengakhiri pembicaraan dalam kepanikan dan rasa khawatir yang makin meningkat. Papa Jaret juga baru teringat dengan buku tabungan Jaret yang disimpannya.

__ADS_1


Mama Jaret meminta sopir segera menuju salah satu bank atau ATM bank tempat mereka menabung sesuai kartu yang ada padanya. Rasa panik makin meningkat disertai cemas, karena kondisi jalanan yang padat, cendrung macet. Sehingga Mama Jaret sangat gelisah dan tidak bisa diam melihat jalananan.


"Pak, tidak usah cari bank... Jika ada ATM segera berhenti. Pak Elly bantu lihat, mungkin ada ATM Center." Mama Jaret berbicara menyebutkan nama bank dengan bibir bergetar, karena mereka telah kehilangan banyak waktu di jalanan.


Setelah melihat salah satu ATM bank tempat mereka menabung, Mama Jaret meminta sopir berhenti di dekatnya. Saat berhenti, Mama Jaret meminta pengacara ikut bersamanya untuk menemaninya ke ATM Center. Mama Jaret mengambil paper bag yang ada dalam mobil, lalu mengeluarkan isinya. Paper bag akan dipakai sebagai tempat uang tunai, karena akan menarik uang dalam jumlah yang banyak.


Kondisi tangan Mama Jaret masih sakit, sehingga pegangannya tidak kuat dan tidak stabil. Mama Jaret menyerahkan paper bag tersebut untuk dipegang oleh pengacara. Setelah berada di dalam ATM Center, Mama Jaret sedikit lega karena sedang sepi. Mama Jaret memberikan kartu ATM kepada pengacara, karena kondisi tangannya yang tidak memungkinkan.


Setelah pengacara memasukan kartu ATM, Mama Jaret berusaha konsentrasi untuk memasukan pin. Kemudian pilih nominal yang akan ditarik. Mama Jaret memilih angka nominal maksimal sesuai kartu platinum yang dimilikinya.


Beberapa saat kemudian, alis Mama Jaret bertaut dan membuatnya terkejut, ketika membaca tulisan di layar mesin ATM. 'Transaksi tidak dapat diproses.' Mama Jaret kembali lakukan transaksi untuk memastikan dan meyakinkan kebenarannya. Beliau lakukan dengan tangan bergetar dan detak jantung yang makin tidak teratur, membayangkan kegagalan transaksi.


Kembali muncul kalimat yang sama di layar ATM, Mama Jaret melihat ke arah pengacara dengan wajah yang mulai memucat dan panik. "Apa yang sedang terjadi? Pin yang saya masukan sudah benar, tapi kenapa tidak bisa diproses?" Tanya Mama Jaret panik dan bingung sambil terus melihat pengacara.


Pengacara mengambil kartu ATM miliknya untuk lakukan transaksi. Beliau ingin mencoba, apakah mengalami hal yang sama seperti Mama Jaret. Ketika transaksinya berhasil, pengacara Elly melihat ke arah Mama Jaret.


"ATM tidak bermasalah, Bu... Coba hubungi bapak lagi untuk mengecek. Apakah beliau mengalami hal yang sama jika lakukan transaksi di ATM..." Pengacara Elly jadi panik dengan apa yang terlintas di pikirannya.

__ADS_1


...~°°°~...


...~●○¤○●~...


__ADS_2