ROMANTIKA HIDUP

ROMANTIKA HIDUP
133. Warna Sari 26.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Tidak lama kemudian, Marons dan Kaliana sudah berada dalam mobil lalu segera meninggalkan halaman rumah Marons.


"Kau mau ceritakan yang tadi, sebelum kita bicarakan yang lain?" Marons bertanya setelah duduk di samping Kaliana di kursi belakang. Dia masih penasaran dengan apa yang dilakukan Kaliana di garasi rumahnya.


"Ooh, itu. Jangan tertawa, ya. Janji..." Kaliana berkata sambil melihat ke arah Marons dengan serius. Marons mengangguk cepat, agar Kaliana segera mengatakan apa yang dilakukannya di garasi.


"Aku tadi hanya iseng... Eeh, tidak juga." Kaliana menjawab sendiri, sambil melihat ke depan. Dia tidak berani melihat ke arah Marons, agar reaksi Marons tidak mengganggu konsentrasinya.


"Sebelum ini, aku suka bicara dengan mobilku dan tadi aku sedang pamit, karena kali ini tidak diajak ikut. Maksudku, aku pergi dengan mobilmu ini, tidak bawa mobilku." Marons mau tertawa, tapi menahannya. Dia hanya bisa menatap Kaliana dengan heran, karena cara Kaliana membahasakan mobilnya sangat tidak biasa.


Kaliana tetap melihat ke depan, karena dia ingin bercerita sedikit tentang dirinya, agar dia tidak sering membuat Marons heran atau terkejut.


"Mobil itu, adalah temanku setelah kepergian orang tuaku dan saat bepergian sendiri. Teman yang selalu menemaniku, yang selalu aku ajak bicara seakan dia hidup." Kaliana berkata cepat sebelum Marons berpikir dia mulai miring, karena ajak bicara benda mati.


"Itu aku lakukan sebelum punya team kerja dan juga setelah ada mereka, aku tetap lakukan itu. Mungkin karena sudah terbiasa, makanya aku perlengkapi isinya dengan semua keperluanku untuk bepergian. Mobilku, adalah rumah kedua bagiku." Marons jadi serius mendengar penuturan Kaliana, karena pernah naik mobil Kaliana dan bahkan tidur di mobilnya.


"Tidak sembarang orang yang aku ijinkan naik mobilku. Hanya anggota teamku yang bisa dan sekarang kau, karena permintaan Pak Danny untuk mengantarmu dan aku tidak bisa menolak." Kaliana berkata sambil mengingat Marons pertama kali naik mobilnya. Saat itu, mereka bertemu untuk digunakan jasanya sebagai detektif.

__ADS_1


^^^'Pantas harum dalam mobil Kaliana sama dengan kamarnya dan tubuhnya.' Marons berkata dalam hati, mengingat harum dan suasana dalam mobil Kaliana yang menenangkan dan dia terus berusaha dengan berbagai cara agar bisa menggunakan mobil Kaliana jika mereka janjian untuk bertemu.^^^


"Disaat seperti ini, untuk mengenang orang tuaku, aku selalu pergi dengan mobilku lalu duduk di dalam mobil di tepi pantai sampai malam hari. Mobil itu menemaniku dan mengingatkan aku pada orang tuaku." Kaliana berkata lebih lanjut tentang fungsi mobil itu baginya.


"Mobil itu aku beli dan modif dengan uang asuransi kematian orang tuaku. Aku dapat uang yang lumayan banyak, akibat kecelakaan itu. Jadi aku bisa keluar dari kepolisian dan bekerja sendiri seperti sekarang." Kaliana berkata pelan, karena jika sudah mengingat itu, hatinya sangat terharu.


"Aku merekrut anggota team yang pernah bermasalah dengan keahlian mereka dan berurusan dengan hukum, kecuali Pak Yosa. Nanti di rumah kau bisa melihat sejarah perekrutan dan keahlian Novie dan Yicoe. Kalau Putra, kau sudah tau." Kaliana melanjutkan ceritanya dan berusaha tidak menyinggung kedua orang tuanya lagi. Hal itu bisa membuatnya sangat sedih.


"Aku bisa beli semua keperluan kerja Putra dan juga keperluan team. Bisa menggaji mereka dengan baik dan juga beli motor Putra dan Pak Yosa. Semua itu dari uang asuransi kematian orang tuaku." Kaliana menjelaskan dengan detail, agar Marons bisa mengerti. Dia tidak melakukan hal negatif untuk bisa memiliki semua itu.


"Kalau di Jawa Timur, aku bisa pergi ke pantai mana saja berganti-ganti tiap tahun dengan mobilku untuk menabur bunga. Aku beranggapan laut adalah tempat makam mereka." Kaliana sudah berusaha hindari untuk tidak bicara tentang orang tuanya, tetapi tidak bisa. Karena mereka sedang mengenang hari tewas orang tuanya.


"Kalau begitu, sekarang kau mau kita pergi ke mana untuk menabur bunga?" Akhirnya Marons bertanya, agar Kaliana tidak berlanjut dalam perenungan dan kesediannya.


"Kalau begitu, kita ke pantai Marina saja. Ada boat keluargaku di sana." Marons berkata cepat setelah mendengar rencana Kaliana. Mereka tidak perlu menyewa kapal untuk tabur bunga.


"Kirim lokasi tempat bunga segar yang mau dibeli padaku. Nanti aku kirim lokasinya ke sopir, agar bisa mengantar kita ke sana." Marons berkata lagi, lalu mengeluarkan ponselnya.


"Boleh aku langsung searching di ponselmu? Ponselku sedang off. Aku sengaja matiin, agar tidak terganggu." Kaliana menjelaskan, sambil mengulurkan tangannya ke arah Marons karena ponselnya sedang tidak bisa digunakan.

__ADS_1


Marons mengerti, lalu memberikan ponselnya ke tangan Kaliana. Beberapa saat kemudian, Kaliana mengembalikan ponsel Marons dan menunjuk lokasi yang dia maksudkan. Marons mengangguk, lalu mengirim lokasi yang akan dituju kepada sopir.


Setelah itu, Marons menghubungi kapten untuk menyiapkan kapal yang akan mereka gunakan. Kaliana hanya diam mendengar semua yang dibicarakan Marons dengan kapten kapal. Dia sangat bersyukur, Marons bisa pulang ke rumah pada waktu yang tepat. Bukan saja bisa menemaninya, tapi juga menolongnya dan mempermudah rencananya.


Setelah berbicara dengan kapten, Marons melihat ke arah Kaliana. "Kalau begitu, nanti kita makan siang di restoran hotel ..." Marons menyebut salah satu hotel bintang 5 di pantai Marina. Dia ingin mereka makan siang atau malam di hotel tersebut, sebelum atau setelah lakukan rencana Kaliana.


Mendengar apa yang dikatakan Marons, Kaliana terkejut dan melihat Marons dengan serius sambil berpikir. "Arroo... Kita pesan makanan atau beli sambil jalan, ya. Nanti kita makan di kapal saja." Kaliana berkata pelan, tapi serius. Dia berharap Marons bisa mengerti dan mau mengikuti permintaannya.


"Niii... Pikiranmu jangan ke mana-mana. Aku sedang mengajakmu untuk makan. Bukan mau mengajakmu 'ngamar'..." Marons berkata sambil mau mengacak rambut Kaliana, karena dia berpikir Kaliana sudah berpikir negatif tentang ajakannya.


"Kau suka sekali mengacak rambutku." Kaliana mengangkat tangan untuk menahan tangan Marons, karena dia tidak membawa sisir dan mereka tidak dalam mobilnya yang sudah tersedia semua kebutuhan wanita.


"Aku tidak berpikir ke situ... Kau mungkin yang berpikiran seperti itu." Kaliana berkata sambil menyikut pinggang Marons di sampingnya dengan kesal.


"Gimana aku ngga mikir ke situ, saat lihat wajahmu terkejut seperti itu saat dengar hotel? Aku ngga perlu hotel untuk bisa ngamar denganmu. Cukup plester mata Putra, lalu aku anggkut kau ke kamar di rumah." Marons berkata sambil tersenyum mendengar ucapannya sendiri.


"Emangnya aku anak kecil yang bisa diangkut? Jangan sampai sebelum diangkut, jari-jarimu sudah melambai." Kaliana berkata dengan kesal, dengar ucapan Marons.


"Kau bisa lakukan itu padaku? Hhmm... Hhmmm..." Marons berkata lalu mencium pipi Kaliana dalam kecepatan yang tidak diduga oleh Kaliana, hingga membuat matanya membesar.

__ADS_1


...~°°°~...


...~●○¤○●~...


__ADS_2