ROMANTIKA HIDUP

ROMANTIKA HIDUP
41. Strategi 3.


__ADS_3

...~β€’Happy Readingβ€’~...


Marons makin tersenyum senang di kamar mewah hotel bintang lima di Seoul. Dia terus membayangkan wajah kesal Kaliana mendengar ucapannya yang suka mengganggunya.


πŸ“±"Yeeee... Ge'er..." Ucap Kaliana, mengalihkan pembicaraan agar wajahnya tidak merona, sehingga diledekin lagi oleh Putra. Marons seakan bisa menebak, bahwa saat seperti begini, dia sangat merindukannya.


πŸ“±"Sudah kukatakan, lebih baik ge'er..., dari pada minder. Jadi benar, kau tidak merindukanku?" Tanya Marons pelan, tidak mau beralih dari topik, karena ingin mengganggu Kaliana.


πŸ“±"Sudaaaa... Sanaaa, konsen sama kerjaannya. Masih sempet-sempetnya, gangguin." Ucap Kaliana yang tidak mau menanggapi gangguan Marons. Dia sudah bisa menebak, apa yang akan dikatakan Marons jika dia menjawab sesuai keinginannya.


πŸ“±"Aku kira, kau mau mengujiku atau menantangku. Hingga membuatku kembali ke Jakarta dan membiarkan aku tidur di pesawat." Ucap Marons yang tersenyum senang bisa mengganggu Kaliana. Dia mengira Kaliana akan balik bertanya, 'jika aku rindu, kau akan datang?'


πŸ“±"Jika aku menantangmu, berarti aku sudah lupa, ada yang lempar rumah Papaku." Ucap Kaliana senang, bisa membalas Marons. Dia mengingatkan Marons pada perbuatannya di masa lalu.


πŸ“±"Hahahaha... Kau mengetahui itu? Pasti gara-gara si Andi, aseemm.. Pantas kau senyum-senyum melihat banyak plester di kaki dan tanganku, tanpa rasa kasihan." Ucap Marons tertawa mengingat dia menerima tantangan Andi untuk melempar rumah orang tua Kaliana.


πŸ“±"Lagian lempar ngga kira-kira, pakai batu besar, segala... Yaaa.. Papaku ngamuk dan uber, laah.. Hehehe..." Kaliana jadi tertawa, mengingat Papanya langsung berteriak marah dan berlari keluar untuk melihat siapa yang melempari rumahnya.


πŸ“±"Hahahaha... Kau tau itu? Jantungku hampir copot melihat Papamu keluar sambil panggul senapan angin. Makanya aku ngumpet di antara pohon mawar di tetanggamu. Badanku abis kegores. Pulang ke rumah diobatin Ibu sambil diomelin... Si Andi malahan tertawa guling-gulingan, melihat aku ngumpet." Marons makin tertawa mengingat kejadian konyol yang dilakukannya bersama Andi.


πŸ“±"Yaaa... Kau itu ngga berasa sedang diakalin temanmu. Sudah tau lempar dengan batu besar, rusakin genteng orang, masih dilakukan juga... Untung ngga dipukulin pakai pegangan senapan." Ucap Kaliana sambil menahan tawa, mengingat emosi Papanya malam itu.

__ADS_1


πŸ“±"Kalau pakai batu kecil, ngga ada bunyinya. Andi bilang, harus ada bunyinya, baru aku bisa menang." Ucap Marons lagi dan tersenyum mengingat saat itu percaya saja pada Andi.


πŸ“±"Kenapa ngga lemparin petasan sekalian? Biar bunyinya bangunin semua orang. Kalian memang konyol. Taruhannya juga konyol. Lagian juga, kenapa harus lempar rumahku? Kanapa ngga cari rumah kosong?" Tanya Kaliana penasaran, karena Andi tidak mau beritahu alasannya, mengapa mereka taruhan lempar rumahnya.


πŸ“±"Tadinya, aku pikir mau gangguin kau. Ternyata Andi sudah tau, Papamu polisi, jadi dia sengaja menantangku melakukan itu. Dia juga sudah tau Papamu galak, jadi dia sengaja." Marons jadi ingat kembali, dia memukuli Andi setelah tahu Papa Kaliana seorang Polisi.


πŸ“±"Eeeeh.... jangan bilang Papamu, aku yang lemparin rumahnya waktu itu, ya. Aku bisa dikasih salam tempelnya, dorrr..." Marons kembali tertawa mendengar ucapannya dan akan menghadapi Papa Kaliana.


πŸ“±"Kau itu pintar pelajaran, tapi gampang diakalin teman. Akibatnya, jadi mures-mures." Ucap Kiliana mengingat teman-teman membuatnya menengok ke arah lain, yang lain memasukan sambal ulek ke mangkok baksonya, sehingga membuatnya sakit perut dan harus bolak balik ke kamar mandi. Kaliana tidak mau membicarakan tentang orang tuanya lewat telpon.


πŸ“±"Kenapa kau ngga ceritakan ini, saat aku masih di situ?" Marons jadi membayangkan apa yang akan dia lakukan jika Kaliana menceritakan kejadian itu padanya secara berhadapan.


πŸ“±"Supaya kau bisa mengacak rambutku?" Tanya Kaliana yang sudah bisa menebak apa yang akan dilakukan Marons.


πŸ“±"Arrooo... Masih ada waktu?" Tanya Kaliana tiba-tiba, keluar dari topik pembicaraan.


πŸ“±"Kalau untukmu, adaaa... Kenapa?" Marons berkata pelan, tapi serius. Dia tahu Kaliana sedang serius, bukan mengalihkan pembicaraan.


πŸ“±"Aku mau bicara serius, jangan gangguin lagiii..." Kaliana berkata dengan nada mulai naik selevel. Dia mengira, Marons masih mau ledekin dia dengan katakan, 'kalau untukmu, adaaa'.


πŸ“±"Siapa yang mau gangguin? Aku seriusss... Untukmu, aku sediakan waktu. Ada apa?" Tanya Marons lagi, karena dia bisa mengerti Kaliana dari nada suaranya.

__ADS_1


πŸ“±"Begini..." Kaliana menceritakan tentang rencana gugatan cerai Chasina, Danny jadi pengacaranya dan juga kekayaan Jaret. Mendengar itu, Marons terdiam dan berpikir ke segala arah. Dia jadi cemas dengan keadaan Kaliana dan anggota teamnya.


πŸ“±"Begini... Kau yang bisa amankan pembicaraan lewat telpon, jadi hubungi Danny. Minta dia tinggal di rumah setelah layangkan surat gugatan. Biarkan dia tidur di kamar yang aku tempati sekarang." Marons berpikir cepat dan mulai atur strategi untuk amankan Danny.


πŸ“±"Katakan saja sama Bibi, aku yang minta Danny tidur di situ. Aku akan hubungi Danny, tapi tidak bicarakan apapun dengannya. Hanya meminta dia untuk mengikuti yang kau katakan. Aku akan secepatnya kembali untuk mengatur yang lain." Marons berkata serius dan tegas, karena menyangkut keselamatan orang-orang terdekatnya.


πŸ“±"Kau ikuti apa yang pernah aku katakan. Jika perlu keluar rumah, pergi dengan Pak Yosa dan pakai mobil yang dipakai Rallita." Marons mengingatkan Kaliana, karena tidak mungkin dia tidak keluar rumah.


πŸ“±"Jika urgent, kirim pesan secepatnya. Kita sudah tidak bisa mundur, karena sudah di pertengahan jalan. Kasihan Chasina juga, dia akan diteror oleh keluarga Jaret." Marons tambah memikirkan keselamatan Chasina di tahanan.


πŸ“±"Niii... Biar aku istirahat sebentar, supaya bisa berpikir. Kondisi ini, jauh diluar perkiraanku. Chasina hanya berpikir untuk lepas dari Jaret. Tetapi gugatan cerai dia, bisa jadi jerat baginya. Apalagi dia sedang berada di tahanan." Marons berpikir, kekayaan yang ada pada Jaret mungkin tidak legal dan bisa berbahaya untuk Chasina.


πŸ“±"Kau tolong bicara dengan penyidik untuk mengamankan Chasina, bagaimana pun caranya. Sebelum Danny layangkan surat gugatan." Marons mulai berpikir dengan cara berpikir Kaliana. Semua cara bisa ditempuh oleh orang yang melakukan kejahatan.


πŸ“±"Itu yang sedang aku pikirkan. Rencananya besok kami mau bertemu. Aku mau menyerahkan bukti, agar Jaret segera disidangkan. Supaya perhatian mereka tertuju ke sidang kasus narkoba bukan ke kasus perceraian Jaret." Kaliana menyampaikan rencana yang sudah diatur dengan Danny.


πŸ“±"Aku setuju. Kau bicarakan ini dengan Danny, agar bisa bersamaan waktunya untuk mengurangi friksi. Apalagi dia sudah tinggal di situ, kalian bisa bebas berdiskusi. Jangan lupa, katakan padanya, tidak boleh bawa mobilnya ke rumah. Pakai mobil online saja." Marons mengingatkan lagi, mengingat kejadian di depan restoran dengan mobil Kaliana.


πŸ“±"Di sela setiap kegiatan dan waktu sibukku, aku akan menghubungimu. Kalau mau keluar, info... Agar aku tidak memghubungimu." Ucap Marons serius, karena kalau Kaliana di luar akan ruwet pengamanannya.


Mereka mengakhiri pembicaraan tanpa ungkapan mesra atau candaan seperti biasanya, karena Marons sedang memikirkan apa yang dibicarakan Kaliana tentang rencana gugatan cerai dan kekayaan Jaret.

__ADS_1


...~°°°~...


...~●○€○●~...


__ADS_2