
...~•Happy Reading•~...
Di sisi yang lain ; Setelah telpon dengan Kaliana, Bram segera mencari restoran terdekat untuk makan. Dalam perjalan ke restoran, dia merasa ada yang mengikutinya. Tetapi dia mengabaikan dengan masuk ke restoran dan makan. Dia bersikap seolah-olah tidak mengetahui.
Dia bersyukur, tadi telpon dengan Kaliana di tempat terbuka beratapkan langit, jauh dari gedung atau kendaraan. Jadi jika ada yang mau mendengar, dia harus berusaha mendekatinya dan itu akan sangat menyolok untuk diketahui oleh Bram.
Setelah makan, dia kembali ke kantor, karena sudah dihubungi oleh pimpinannya yang baru untuk kembali ke kantor, walau jam kantor sudah lama usai. Saat tiba di kantor, Bram berjalan cepat untuk menemui pimpinannya. Suasana kantor tidak seperti saat dia tinggalkan kantor. Semua anggota belum pulang dan bekerja dalam diam.
Sehingga saat Bram tiba, mereka bersikap tidak melihat kehadirannya. Padahal Bram tahu, mereka hanya pura-pura sibuk dengan membolak balik lembaran dokumen atau melihat laptop. Bram berjalan cepat, sambil terus berpikir. 'Apa yang sedang terjadi? Padahal tadi pagi sudah bertemu dengan pimpinan, saat melapor tentang mutasinya'. Bram membatin.
Saat tiba di depan ruangan pimpinannya, Bram mengetok pintu dan menunggu. Setelah mendengar perintah masuk, Bram segera buka pintu, menghadap dan memberi hormat kepada pimpinannya. Bram terdiam saat melihat cv nya ada di atas meja pimpinannya.
"Apakah kau sedang menangani kasus di luar?" Tanya pimpinannya setelah Bram selesai memberi hormat. Tanya pimpinan serius, tanpa melihat ke Bram.
"Tidak, Pak. Saya hanya pergi makan dan mau pulang." Bram menjawab sambil berpikir. Apakah tadi ada yang menguping pembicaraannya dengan Kaliana? Tetapi dia tetap bersikap tenang, seakan tidak mengetahui apa pun. Karena dia menyadari, pimpinannya diam-diam sedang memperhatikannya.
"Kau sudah lihat dan pelajari kasus yang diberikan kepadamu?" Tanya pimpinannya lagi, lalu melihat ke arahnya dengan serius.
"Baru melihatnya, Pak. Belum mempelajari." Jawab Bram singkat, karena belum mengerti arah maksud pertanyaan pimpinannya.
"Kau pelajari dulu, kasus mana yang mau ditangani. Jadi sementara ini, kau bekerja di balik meja. Tidak perlu ke luar lapangan." Pimpinannya berkata tegas. Bram terkejut dan heran, tetapi tetap berusaha untuk tenang.
__ADS_1
Instingnya memberikan alaram tanda akan terjadi sesuatu. Jabatan baru yang diberikan padanya, bukan untuk duduk di balik meja. Hal itu membuat kakinya gatal untuk secepatnya kembali ke ruang kerjanya untuk memeriksa kasus yang diserahkan kepadanya.
"Siap, Pak...! Jawab Bram singkat. Dia belum mau bertanya kenapa, karena belum mengetahui alasan pasti pimpinannya memberi perintah demikian.
"Ini daftar anggota yang akan bekerja bersamamu. Dilihat dan kenalan dengan mereka. Jika ada yang tidak cocok bekerja bersamamu, bisa kau coret." Pimpinanannya mengambil lembaran kertas dari bawa map cv nya, lalu menyerahkan pada Bram.
"Siiiaap...! Terima kasih, Pak. Sudah bantu pilih anggota untuk saya. Saya akan lihat dan mempelajari ini. Tetapi sementara ini, saya belum perlu anggota, karena hanya bekerja di balik meja. Jadi biarkan mereka bekerja seperti biasanya saja. Nanti saya akan berikan nama anggota yang dipilih." Bam berkata serius, setelah sepintas melihat deretan nama yang akan ikut bersamanya sebagai team kerja.
Bram masih bertanya-tanya dalam hati, apa maksud pimpinannya. Mengapa memberikan anggota padanya, sedangkan memerintahnya untuk bekerja di balik meja. Bram sabar menunggu perintah selanjutnya, tanpa memberikan reaksi rasa tidak sabarnya.
"Baik... Itu mengenai tugasmu di sini. Sekarang bagaimana dengan kasus Jaret yang kau tangani. Mengapa kau yang menangani kasus narkoba sebelum pindah ke sini?" Tanya pimpinannya sambil melihat Bram dengan serius.
"Saya tidak menangani kasus narkoba Pak Jaret, Pak. Itu terserap dengan sendirinya, saat dia dimintai keterangan sebagai saksi kasus pembunuhan. Jadi itu adalah kasus kecelakan yang tidak sengaja ditemukan." Jawab Bram serius dan percaya diri, karena itu adalah kebenarannya.
Pimpinan Bram memperhatikan penjelasan sambil berpikir. 'Mengapa saat pertemuan itu, aku tidak menolak permintaan sesama rekan pimpinan untuk kepindahan Bram ke bagian ini? Tanya pimpinan Bram dalam hati. Setelah membaca rekam jejak pekerjaan Bram, pimpinan nya menjadi khawatir dengan situasi yang ada di bagian narkotika.
Saat rapat yang tiba-tiba diadakan untuk membicarakan kepindahan Bram ke bagiannya, beliau tidak bisa berpikir dengan baik karena kondisinya sedang tidak bisa konsentrasi. Jadi menerima dan menyetujui keputusan para pimpinan dari berbagai bagian, terutaman dari bagian investigasi.
Melihat gerakan pimpinannya, Bram mengetahui, pimpinannya baru menyadari siapa dirinya setelah melihat rekam jejak pekerjaan sebelumnya. Tapi dia tetap diam, menunggu perintah. Dia tidak mau bertanya, karena belum mengenal pimpinannya dengan baik dan emosinya sedang tidak stabil. Itu yang terlintas dipikiran Bram saat melihat gerakan tangan pimpinannya.
"Dimana kau simpan semua bukti-bukti kasus narkoba Jaret?" Pimpinan Bram bertanya lagi dengan serius.
__ADS_1
"Tidak saya simpan, Pak. Semuanya sudah dilimpahkan ke Kejaksaan saat kami menyerahkan kasusnya untuk disidangkan." Bram berkata tegas, agar pimpinannya tidak terus mempertanyakan bukti narkoba Jaret.
"Apakah kau tau kasus Jaret bisa menyerat bagian ini?" Tanya pimpinannya lagi. Tanda waspada mulai berputar di dalam kepala Bram
"Dengan bukti yang ditemukan oleh kami, tidak ada kaitannya dengan kepolisian. Semuanya murni perbuatan Pak Jaret sebagai pemakai dan pengedar. Itu diakui sendiri oleh Pak Jaret, setelah didapati positif menggunakan sabu." Jawab Bram normatif sesuai dengan penyelidikannya. Dia tidak mau membawa hasil penyelidikan Kaliana dan team.
Bram makin penasaran melihat tarikan nafas lega dari pimpinannya. Dia sangat yakin, kasus Jaret berhubungan dengan instasinya. Hal itu membuat dia berhati-hati menjawab setiap pertanyaan. Apa pun maksud pertanyaan pimpinan, Bram sangat yakin pimpinannya sedang menggali informasi darinya.
"Sementara kau bekerja di balik meja, kau periksa semua kasus yang ada padamu. Jika ada yang berhubungan dengan kasus Jaret, segera lapor kepada saya." Pimpinannya berkata tegas, agar Bram bisa mengikuti perintahnya.
"Siaap, Pak... Mohon ijin... Jika dalam memeriksa dokumen yang sudah diserahkan kepada saya, saya perlu memastikan keaslian bukti yang ada agar ketika disidangkan, institusi kita tidak dianggap tidak profesional dalam menyiapkan bukti." Bram berkata demikian, karena dia memang sudah siap untuk menyelidiki dari dalam semua kasus yang ada padanya.
Dengan diberikan akses untuk menyelidiki kasus yang diserahkan padanya, dia bisa menyelidiki bukti kasus Jaret dan kaitannya yang ada dalam kantor barunya. Bram minta ijin sambil berharap permohonannya disetujui. Agar dia bisa menyiapkan semua bukti dengan baik.
Pimpinannya melihat Bram sambil berpikir tentang permohonannya. Apa yang dikatakan Bram itu adalah sikap ideal dari seorang aparat hukum. Sehingga pimpinannya terpaksa harus menginjinkan untuk menjaga wibawanya di depan anak buahnya yang baru.
"Baik... Saya ijinkan kau mengakses yang kau perlukan. Sekarang kau harus utamakan bagian narkotika, karena kau sudah berada di sini." Pimpinan Bram mengingatkan dengan tegas, sebagaimana kesepakatan dalam rapat pimpinan tentang rencana mutasi Bram ke bagiannya.
...~°°°~...
...~●○¤○●~...
__ADS_1