
...~•Happy Reading•~...
Keempat anggota team sopape melihat Pak Yosa dengan serius. Pemikiran seperti itu bisa masuk akal, jika Bram tidak meminta mereka menyelidiki pimpinannya. Jika dia tidak curiga terhadap pimpinannya, tidak mungkin dia lakukan itu. Mungkinkah dalam kondisi Bram seperti itu, dia akan pergi sendiri ke tahanan? Berbagai pemikiran dan pertanyaan ada dalam benak keempat anggota team sopape.
"Pak Yosa... Itu bisa terjadi dan ada dalam pikirkan kita, jika Pak Bram pergi seorang diri ke sel tahanan Pak Jaret. Tapi kita tau, itu tidak mungkin terjadi. Beliau tidak mungkin pergi sendiri ke sel tahanan. Pasti pergi dengan satu atau dua anggotanya untuk adakan penggeledahan." Kaliana berkata serius kepada Pak Yosa, setelah berpikir tentang tindakan pimpinan Bram.
"Aku setuju dengan Mba' Anna... Tidak mungkin Pak Bram lakukan itu. Jadi jika Pak Bram pergi dengan anggotanya, tindakan 'Bintang' perlu dicurigai. Mengapa tidak memanggil anggota Pak Bram untuk menanyakan informasi darinya, jika tidak bisa menghubungi Pak Bram?" Yicoe berkata cepat, setelah mendengar percakapan Kaliana dan Pak Yosa.
"Kita akan bahas itu setelah Pak Yosa bertemu dengan Pak Bram. Pak Yosa akan menanyakan apa yang dilakukan dan dengan siapa beliau lakukan penggeledahan. Sekarang kita pikirkan cara menolong Pak Bram dalam mengatasi kasus tambahannya ini." Kaliana berkata cepat, untuk mencegah pemikiran mereka menerka hal-hal yang belum tentu terjadi.
"Baik, Anna... Kalau begitu, biarkan aku keluar dengan Pak Danny pagi ini. Jika nomor Jamu.dG sudah aktif, kalian berikan lokasinya padaku, agar aku meluncur ke lokasinya." Pak Yosa memberi usulan, agar mereka bisa bekerja sekali jalan. Supaya sambil menunggu, mereka bisa kerjakan yang lain.
"Aku akan menurunkan Pak Danny di tempat tujuannya, lalu ke lokasi Jamu.gD atau ke Pak Bram terlebih dulu, tergantung informasi dari kalian. Supaya aku bisa lakukan sekali jalan, selagi di luar." Pak Yosa mengatakan pendapatnya, agar Kaliana bisa atur rencana baru untuknya.
"Baik... Kalau begitu, Pak Yosa tolong siapkan semua keperluan Pak Bram. Vie, tolong turun dan katakan kepada Bibi untuk masukan sarapan atau makanan yang ada ke tempat makanan. Supaya bisa dibawa Pak Yosa untuk Pak Bram." Kaliana berkata cepat, karena dia belum tahu berapa lama Bram harus tinggal di hotel.
Semua tergantung penyelidikian mereka terhadap pemilik nomor Jamu.gD. Mereka harus bekerja cepat, tapi juga harus bersabar dalam situasi tertentu, agar tidak bekerja dua kali untuk hal yang sama.
"Siaap..." Novie segera turun untuk berbicara dengan Bibi lalu mengambil tempat makanan yang ditunjuk oleh Bibi kepadanya. Dia juga memasukan beberapa buah apel yang ada di kulkas dan air mineral untuk berjaga-jaga, lalu memasukan semua ke dalam paper bag.
__ADS_1
Saat hendak kembali ke lantai atas, dia melihat Danny sudah bangun dan berpakaian rapi keluar dari kamar menuju ruang makan. "Apakah semua sudah sarapan, atau belum?" Tanya Danny saat melihat Novie keluar dari dapur dan akan melewati ruang makan.
Danny bertanya demikian, karena melihat ruang makan sepi. Keadaan meja makan bersih dan rapi, padahal masih pagi.
"Maaf, Pak... Kami sudah sarapan, karena ada kasus yang harus kami tangani pagi ini di ruang kerja. Nanti aku minta Bibi siapin sarapan buat Pak Danny. Silahkan duduk..." Novie menjelaskan lalu mempersilahkan Danny duduk di ruang makan. Dia kembali ke dapur untuk menemui Bibi dan meminta tolong padanya.
Tidak lama kemudian, Novie kembali ke ruang makan dan disusul oleh Bibi yang membawa sarapan Danny yang sudah disiapkan.
"Pak Danny sarapan sendiri, yaa... Sebentar lagi Pak Yosa turun untuk temani Pak Danny. Selamat sarapan..." Novie berkata sambil menunjuk paper bag di tangannya, sebagai isyarat bahwa ada yang sedang dikerjakan. Danny hanya bisa mengangguk, mengiyakan, karena sudah mulai mengerti cara kerja team sopape.
Novie berjalan cepat meninggalkan Danny, lalu naik ke ruang kerja membawa semua yang telah disiapkan Bibi kepada Kaliana untuk diperiksa. Mungkin ada kebutuhan Bram yang kurang, agar bisa ditambahkan lagi.
Pak Yosa mengangguk pelan, lalu masuk ke ruang kerja untuk meletakan tas yang dibawanya. Kemudian segera turun ke ruang makan untuk menemui Danny. Novie juga ikut masuk ke ruang kerja untuk menunjukan apa yang sudah disiapkan oleh Bibi kepada Kaliana.
"Ok, Vie. Aku rasa ini cukup untuk sementara. Keperluan lain, nanti Pak Yosa bicarakan dengan Pak Bram." Kaliana berkata sambil mengangkat jempolnya ke arah Novie, setelah memeriksa semua yang disiapkan Bibi dan Novie.
"Apa kita tidak tanyakan saja kepada Pak Bram? Supaya kita bisa siapkan semua keperluannya untuk dibawa Pak Yosa." Tanya Yicoe cepat, mengingat Pak Yosa mungkin tidak memiliki dana yang cukup untuk membeli yang dibutuhkan Bram.
"Kita sudah tidak bisa hubungi Pak Bram." Putra berkata cepat, saat melihat ponsel Bram dinon aktifkan. Putra menunjuk layar monitor kepada Kaliana yang merespon apa yang dikatakannya.
__ADS_1
"Mungkin beliau mau istirahat." Kaliana berkata singkat, mengingat yang dikatakan Bram kepada Pak Yosa untuk mengetuk pintu kamarnya dengan kode yang biasa mereka lakukan. Dia yakin Bram tidak bisa tidur sepanjang malam, karena tidak tenang.
Tidak lama kemudian, Pak Yosa masuk ke ruang kerja bersama Danny untuk pamit dari Kaliana dan anggota team yang lain.
"Mba' Anna... Aku baru dapat info, besok kasus narkoba Pak Jaret akan disidangkan. Pengacaranya minta waktu untuk tidak bicarakan kasus percerain. Mereka sedang dalam proses peralihan kepada pengacara baru yang akan tangani kasus narkoba Pak Jaret." Danny berkata kepada Kaliana sebelum pamit bersama Pak Yosa.
"Oooh... Besok sudah sidang? Baik, kami akan bekerja ekstra hari ini. Besok aku ada keperluan pribadi, jadi kita akan begadang hari ini." Kaliana menanggapi informasi Danny yang tidak diduganya.
"Pak Yosa, tolong bicarakan dengan Pak Bram, ya. Kalau bisa hubungi Jaksa penuntut, untuk mengulur waktu saat persidangan. Agar yang diperoleh Pak Bram di sel tahanan bisa digunakan sebagai bukti yang melengkapi." Kaliana berharap, apa yang diperoleh Bram bisa digunakan sebagai bukti. Agar pihak Jaret tidak bisa mengelak lagi.
Pak Yosa mengangguk mengerti yang dimaksudkan Kaliana lalu menerima paper bag dari tangan Novie. Kemudian mereka pamit keluar dari anggota team sopape.
"Mba' Anna... Lihat siapa yang dihubungi nomor rikus.P." Putra menunjuk layar monitor yang sedang dipantaunya. Dia terus memperhatikan layar monitor untuk mengetahui pergerakan orang-orang yang dalam pengawasan.
"Oo oh... Ada yang panik. Besok mau sidang, tadi malam sel tahanan Jaret digeledah. Mimpi buruk bagi pihak Jaret." Kaliana berkata dengan wajah tersenyum, saat melihat Parikus menghubungi Papa Jaret.
"Oo oh... Ternyata orang ini adalah jembatan yang menghubungi banyak orang dari berbagai arah." Novie menimpali, saat melihat layar monitor yang diperlihatkan Putra.
...~°°°~...
__ADS_1
...~●○¤○●~...