ROMANTIKA HIDUP

ROMANTIKA HIDUP
63. Warna Sari 11


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Di sisi yang lain ; Setelah berbicara dengan Marons, Kaliana langsung berbicara dengan team sopape dan juga Danny di ruang keluarga. Danny telah menerima kabar dari asistennya, bahwa sudah ada surat pemberitahuan dari Pengadilan Negeri berkenan dengan gugatan cerai Chasina.


"Ternyata benar yang dikatakan suami Sisilia, akan bantu mempercepat gugatan cerai yang aku ajukan. Tapi aku tidak menyangka akan direspon secepat ini. Mungkin setelah kembali dari acara keluarganya, beliau langsung menindak lanjuti gugatan yang aku ajukan." Ucap Danny serius, sambil berpikir tentang pertemuannya dengan Sisilia dan suaminya.


"Hal ini diluar dugaan, tapi ini yang sangat kita harapkan. Jadi mari kita semua bersyukur dan menyingkapi perkembangan kerja hakim dengan baik, agar hasilnya maksimal." Pak Yosa berkata pelan dan serius, sambil melihat Kaliana yang sedang terdiam. Pak Yosa bisa melihat keseriusan hakim Alvian.


"Iyaaa... Kita semua harus bersyukur untuk ini. Kalau begitu, besok aku ikut dengan Pak Danny dan Pak Yosa ke pengadilan. Pak Danny bisa katakan, aku asisten atau apa saja yang sesuai menurut Pak Danny. Aku ingin tau siapa yang datang mewakili Pak Jaret secara langsung." Kaliana berkata serius setelah mendengar keterangan Danny. Dia ingin ikut serta, untuk membaca situasi di pengadilan negeri.


Kaliana bisa memantau pertemuan Danny dengan pengacara, saksi dari pihak Jaret dan hakim bersama Putra di rumah. Tetapi Kaliana mau berhadapan langsung dengan mereka, supaya bisa melihat dan menganalisa setiap yang datang secara langsung.


"Besok aku dan Pak Yosa akan melihat dan menganalisa di tempat. Siapa sebenarnya yang bermain dengan kita. Keluarga Pak Jaret, para nyamuk di kantor Pak Bram atau sindikat dari Pak Jaret. Karena yang mengikuti kita berbeda-beda." Ucap Kaliana serius, mengingat ada yang memantau mereka dan juga Bram.


"Baik... Aku yang urus bagian legal hukumnya, sedangkan yang lain bagian Mba' Anna dan Pak Yosa yang tangani." Ucap Danny senang dan tenang, mengetahui Kaliana akan ikut juga.


"Kalau begitu, mari kita istirahat. Besok mungkin akan menjadi hari panjang yang melelahkan untuk kita." Ucap Kaliana serius, lalu saling mengucapkan selamat istirahat. Kemudian masing-masing masuk ke kamar.


~°°°~ ~°°°~ ~°°°~


Saat sudah di kamar, Kaliana, Yicoe dan Novie tidak bercakap-cakap seperti biasanya. Mereka melakukan rutinitas wanita, lalu tidur. Setelah istirahat beberapa waktu, Kaliana terjaga menjelang Subuh. Tidurnya tidak bisa nyenyak, karena memikirkan banyak hal yang akan terjadi dan yang akan dilakukan di esok hari. Selain itu juga, tenggorokannya terasa kering, sehingga dia terbangun.


Dengan perlahan, Kaliana turun dari tempat tidur, agar tidak membangunkan Yicoe dan Novie yang masih terlelap. Dengan perlahan juga Kaliana membuka pintu lalu berjalan menuju dapur untuk mengambil minuman.

__ADS_1


Kaliana terkejut melihat ada orang di dapur sedang membelakanginya. Ketika matanya mulai terbiasa dengan sekitar dan mengenali sosok yang dilihatnya, Kaliana berteriak. "Arrooo...!" Sontak Marons terkejut lalu menengok ke belakang.


"Ssssssttttt...! Kau bisa bangunkan seisi rumah." Ucap Marons sambil meletakan jarinya di bibir, tapi tersenyum melihat Kaliana berlari ke arahnya. Dia segera membuka tangannya, lalu memeluk Kaliana yang langsung memeluknya, sambil tertawa melihat yang dilakukannya.


"Kau buat aku terkejut. Kapan tibanya? Kenapa ngga kasih tau aku?" Tanya Kaliana beruntun dengan senang, lalu memukul pelan punggung Marons yang sedang dipeluknya.


"Terkejut, tapi senang, kan... Ini baru tiba... Aku ngga kasih tau, supaya bisa dapat yang beginian." Ucap Marons tersenyum, sambil mengusap punggung Kaliana pelan dengan sayang, karena merindukannya.


"Mengapa jam segini sudah bangun? Ngga bisa tidur?" Tanya Marons, tanpa melepaskan pelukannya.


"Tenggorakan kering, pingin minum..." Jawab Kaliana, lalu melepaskan pelukannya untuk mengambil minuman, setelah mengingat tujuannya.


"Iniii... Minum punyaku, nanti aku ambil yang lain untukku." Maons berikan minuman yang sudah diambilnya, lalu mengambil gelas yang baru untuknya.


Kaliana mengangguk mengerti, lalu minum air mineral yang diberikan Marons kepadanya. "Kamar di atas sudah rapi. Mau istirahat di atas atau dengan Pak Danny?" Tanya Kaliana, setelah Marons katakan mau istirahat. Dia bersyukur, kamar untuk Pak Yosa dan Putra sudah rapi.


"Aku istirahat di sofa saja. Tolong ambilkan selimut, ya." Ucap Marons, sambil mengelus lengan Kaliana, setelah meletakan gelas di tangannya lalu mengajak Kaliana keluar dari dapur.


Kaliana mengangguk lalu berjalan cepat ke tempat penyimpanan selimut yang sudah pernah ditunjuk tempatnya oleh Marons. Sedangkan Marons mengambil kopernya, lalu mendorongnya ke ruang keluarga.


"Ini, Arro..." Kaliana dengan cepat telah kembali, karena dia berharap Marons bisa cepat beristirahat, agar pagi bisa bangun dengan segar.


"Ok, thanks. Kau juga, istirahat lagi." Marons berkata, sambil mengambil selimut dari tangan Kaliana. Dia berharap, mereka masih bisa istirahat karena banyak hal yang akan dibicarakan.

__ADS_1


Kaliana mengangguk lalu berbalik meninggalkan Marons yang mau merapikan selimutnya di sofa. "Arrooo...!" Tiba-tiba Kaliana berbalik sebelum keluar dari ruang keluarga, lalu mengangkat kedua tangannya melewati kepala membentuk hati dengan wajah tersenyum senang.


Apa yang dilakukan Kaliana membuat Marons tersenyum, lalu memanggilnya dengan tangan. "Kau belum berikan salam tempel." Ucap Marons sambil mengetuk pipinya beberapa kali dengan ujung jari telunjuknya.


Kaliana berjalan cepat mendekati Marons, lalu memeluknya lagi. Marons menunduk untuk mendekatkan pipinya ke pipi Kaliana, karena tinggi Kaliana hanya menyentuh telinga Marons.


"Terima kasih sudah kembali dengan sangat cepat..." Bisik Kaliana pelan, karena hatinya sangat membuncah, Marons lakukan yang diucapkannya.


"Yaaa... Ada yang rindu 101 %, jadi harus cepat kembali sebelum turun ke 91 %." Ucap Marons asal, dengan hati senang. Kaliana sudah terbuka kepadanya, tentang perasaannya.


"Hehehe... Sekarang aku punya kode baru untuk memanggilmu. Hehehe... Udaaa... Istirahat... Sebelum kita dilihat Putra yang sudah bangun untuk Sholat Subuh." Ucap Kaliana, sambil memukul pelan punggung Marons, dengan sayang.


"Ngga pa-paaa... Kalau Putra lihat, aku malah senang. Nanti pagi, adegan ini penuh di sosmed nya. Jadi kalau lihat sosmed nya, jadi ingat semua kenangan tentang kita." Ucap Marons senang, lalu mengangkat pipinya, kemudian mencium puncak kepala Kaliana, lama. "Thanks...!" Ucap Marons pelan, lalu melepaskan pelukannya. Kemudian Kaliana keluar meninggalkan Marons yang hendak istirahat.


"Aku tidak bermaksud lihat lo', Mba'. Mataku saja yang heran melihat ruang keluarga terang. Padahal tadi malam Pak Yosa sudah matiin lampunya." Ucap Putra sambil mengangkat dua jarinya, sebagai tanda peace. Kaliana sangat terkejut saat berpas-pasan dengan Putra.


"Bukannya Sholat, malah keluar kamar... Cepat sanaaa... Sholat...! Ucap Kaliana pelan, agar tidak didengar oleh Marons, lalu memukul pelan lengan Putra yang terus tersenyum nakal.


"Mba' Anna... ini sudah lewat Subuh. Aku sudah Sholat, lalu keluar ambil minuman. Eeeehhh... Tau nya, lihat ada yang kangen-kangenan. Melepas rindu membaraaa..." Ucap Putra lalu segera berlari masuk kamar sambil tertawa. Dia mengangkat kedua jarinya sebagai tanda peace kepada Kaliana, tanpa menengok ke belakang.


...~°°°~...


...~●○¤○●~...

__ADS_1


__ADS_2