
...~•Happy Reading•~...
Saat mendengar apa yang dikatakan Arif, Kaliana, Bram dan Pak Yosa sontak melihat Arif dengan serius. Bram memberikan isyarat kepada Kaliana, agar dia yang menjelaskan kepada Arif.
"Iyaa, Mas Arif. Buktikan orang tua Jaret memalsukan dokumen untuk lakukan semua transaksi yang berhubungan dengan kepemilikan harta kekayaan Jaret. Dengan demikian, pihak Kejaksaan bisa menggeladang orang tua Jaret dengan berbagai tuduhan." Kaliana mengiyakan apa yang dipikirkan Arif dan juga Bram.
"Kita anggap saja sekarang, semua harta kekayaan yang sedang diselidiki atas nama Jaret adalah harta milik orang tuanya. Jadi semua harta milik Jaret adalah milik orang tuanya. Jangan pikirkan lagi, itu harta Jaret atau ini milik Jaret." Kaliana meneruskan apa yang ada dalam pikiran Arif, agar mereka lebih mudah membahasnya.
"Sekarang kita bahas semua kekayaan orang tua Jaret. Namun sebelum menganalisa yang lain, mari jawab dulu. Apakah kekayaan orang tua Jaret ini wajar dengan jabatannya sebagai eselon dua di departemen yang di pimpinnya?" Kaliana bertanya untuk mengetahui pemikiran Arif dan Bram. Dia ingin mendengar juga pendapat Bram dan Arif, sebelum bahas topik selanjutnya. Kalau Pak Yosa, mereka sudah membahasnya dalam team.
^^^Kaliana berhenti sejenek untuk membiarkan Arif dan Bram mencerna apa yang ditanyakan untuk bahas bersama, agar bisa temukan hasil yang maksimal. Sebelum Bram menjawab, Arif yang sedang serius memikirkan pertanyaan Kaliana langsung menjawab.^^^
"Jangankan dengan tambahan harga rumah itu. Dengan tabungan Jaret saja sudah tidak wajar. Itu dilihat dari jumlah dan pendapatannya dan juga daftar kekayaan yang resmi terdaftar." Arif menjawab pertanyaan Kaliana yang sedang melihatnya dengan serius.
"Anna, lebih baik kau sampaikann saja yang kau peroleh. Kalau mau dengar pendapatku, hhhhmmmm.." Bram menarik nafas panjang untuk mengendalikan emosinya terhadap Jaret dan orang tuanya.
"Baru dengar separu yang kau peroleh saja, sudah tidak wajar... Kalau wajar, untuk apa susah payah menyimpan semua hartanya atas nama anak tukang on itu?" Bram jawab dan balik bertanya dengan nada emosi. Ia sudah sangat kesal dari tadi dengan cara hidup Jaret dan orang tuanya.
__ADS_1
"Rif, buktikan saja mereka memalsukan identitas anaknya untuk menyimpan harta yang tidak halal itu. Lalu seret dan krangkeng di dalam terali besi. Jika Pak Japry masih mau hindari dengan berbagai alasan atau menggunakan argument poco-poco untuk menjelaskan sumber kekayaan mereka, pakein gelang besi." Bram berkata dengan emosi yang sudah naik level.
"Kalau ngga, cuci mulutnya saja dengan deterjen. Mungkin dengan mulutnya dicuci, otaknya ikutan bersih." Bram masih berkata dengan nada emosi yang membuat semua terdiam.
"Anak cuma satu, sudah menikah, lagi. Untuk apa orang tua Jaret kumpul harta sebanyak itu? Mau membeli jet pribadi untuk menerbangkan mereka ke liang kubur?" Bram tidak bisa menyembunyikan rasa kesalnya sejak mendengar penjelasan Kaliana.
"Jika orang tuanya masih hidup, apa perasaan orang tuanya melihat keturunannya makan dan nikmati semua yang haram? Anaknya makan dari uang haram, cucunya make barang haram. Ckckckck... Ini namanya pohon haram menghasilkan buah haram dan dinikmati secara haram." Bram berkata dengan kesal dan masih emosi.
"Itu mereka tinggal di rumah dinas bukan? Apa mereka tidak punya rumah sendiri? Atau rumah yang atas nama Jaret itu untuk mereka nanti?" Bram bertanya, karena baru terpikirkan olehnya.
"Ada rumah pribadi selain rumah dinas. Kami sudah geledah juga di sana. Tapi tidak ada apa pun yang disimpan di sana. Hanya ditinggali oleh Papanya Pak Ewan." Penyidik Arif menjawab pertanyaan Bram, membuat Bram terkejut.
"Eeeh, iya. Periksa juga istrinya. Kadang suami main di lumpur, karena istri mendorongnya masuk ke sana. Sang suami sudah keenakan, ngga mau keluar lagi, mala menyelam makin dalam." Bram mengeluarkan semua rasa kesalnya.
"Ok, teruskan infonya, Anna. Kalau aku terusin, kita akan tidur di sini." Bram berkata sambil membuka tangannya, mempersilahkan Kaliana menyampaikan informasinya.
"Aku suka kalau kau lagi kesal. Tembakanmu ke segala arah, tapi tepat sasaran. Mas Arif tindak lanjuti saja apa yang dikatakan Bram tadi. Walaupun ia ucapkan dengan nada emosi, tapi itu juga info tambahan untuk Mas Arif." Kaliana mengakui semua yang dikatakan Bram sudah mewakili apa yang ada dalam pikirannya.
__ADS_1
"Mari kita maju selangkah lagi dari tabungan dan rumah Jaret itu. Sekarang kita fokus pada kekayaan orang tua Jaret. Tidak mungkin orang tua Jaret tidak punya kekayaan yang disimpan sendiri. Tidak atas nama orang lain, tapi atas nama mereka sendiri." Kaliana membuka ke sudut yang berbeda, dari pembahasan sebelumnya.
^^^Mendengar yang dikatakan Kaliana, Bram mengangkat jempolnya ke arah Kaliana lalu menggerakan jari ke bibirnya, sebagai isyarat akan plester mulutnya. Dia akan diam saja sambil menyimak yang dikatakan Kaliana. Bram yakin Kaliana dan team memiliki informasi lain lagi dan itu membuatnya penasaran.^^^
"Sekarang kita mau melihat isi yang ada dalam rumah atas nama Jaret tadi. Sudah bertahun-tahun rumah itu dibeli, tapi tidak ada yang tinggal, termasuk Jaret. Hanya sesekali orang tua Jaret datang ke situ bersama orang untuk lakukan bersih-bersih. Tapi bukan pelayan yang ada di rumah mereka." Kaliana berkata yakin, karena informasi diperoleh dari hasil penyelidikan Pak Yosa.
"Iyaa, saya setuju. Kami sudah interogasi para pelayan di rumah dinas, tidak ada yang menyebutkan tentang rumah ini. Mereka hanya menyebutkan rumah pribadi yang ditinggali Papa Pak Ewan, karena mereka sering dibawa ke sana untuk membersihkan rumah tersebut." Arif mengiyakan informasi Kaliana dan menambahkan apa yang mereka ketahui dari hasil penyelidikan.
"Ok... Jadi benar informasi dari kami. Sekarang, analisa kami yang perlu Mas Arif buktikan kebenarannya. Kami tidak tau, apa saja yang ada dalam rumah tersebut. Tapi nanti Mas Arif yang akan lihat dan tau isinya, saat lakukan penggeledahan." Setelah berkata demikian, Kaliana memperlihatkan lembaran kertas berikutnya, hasil penyelidikan team sopape yang disiapkan Novie.
"Ini kami sudah tandain lokasi dalam rumah tadi. Nanti Mas Arif dan team cari dan temukan titik-titik ini. Kami berikan kode titik A dan titik B. Titik A bisa brankas atau titik B yang brankas." Kaliana menjelaskan sambil menunjuk gambar lokasi yang dibuat Putra.
^^^Semua melihat dengan serius. Bram mau bertanya, tapi ia biarkan Kaliana menjelaskan, agar tidak mengganggu konsentrasinya.^^^
^^^Hal yang sama juga mau dilakukan oleh Arif. Ia ingin sekali bertanya, tapi menahan diri untuk tidak bertanya. Karena melihat Kaliana sedang konsentrasi dan serius menjelaskan apa yang ada dalam lembaran kertas di tangannya.^^^
"Ini hanya gambar segi empat yang kita anggap bentuk rumah tadi. Pintu masuknya dari sini..." Kaliana menunjuk gambar di kertas kepada Arif dan Bram. Putra telah membuat sketsa sesuai dengan jalan masuk Papa Jaret yang mereka pantau lewat ponsel.
__ADS_1
...~°°°~...
...~●○¤○●~...