ROMANTIKA HIDUP

ROMANTIKA HIDUP
11. Warna Sari 2.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Keesokan harinya, semua orang bangun kesiangan. Termasuk Kaliana, Yicoe dan Novie. Membuat mereka semua sibuk di pagi hari. "Coe, kita pesan sarapan dari luar saja, ya. Apa saja yang bisa dan cepat untuk sarapan kita." Ucap Kaliana setelah mereka mandi dan keluar kamar.


"Pagi Bu, Bapak belum siap? Hari ini saya diminta untuk berangkat pagi." Ucap sopir Marons yang mendekati Kaliana dan bertanya sopan dan hormat.


"Oooh... Sebentar ya, Pak. Saya lihat dulu." Kaliana berkata lalu berbalik mencari Marons. Ketika belum terlihat, Kaliana menuju kamar tamu. 'Apakah Arro belum bangun juga?' Tanya Kaliana dalam hati, sambil mencoba ketok pintu pelan.


Ketika tidak ada jawaban dan suara dari dalam kamar, Kaliana teringat kejadian di rumah saat Marons menginap di rumahnya. Dia langsung membuka pintu lalu masuk. Saat melihat Marons masih tidur, Kaliana tertegun. Dia mendekati Marons, lalu membangunkannya dengan memegang kaki.


"Arrooo... Bangun..." Kaliana memanggil beberapa kali sambil menggoyang kakinya. Marons membuka matanya perlahan dan melihat Kaliana sedang berdiri di dekat kakinya.


"Pagiii... Sudah jam berapa?" Tanya Marons sambil memicingkan matanya. Kaliana mendekat dan menarik selimut Marons, karena dia masih mau menarik selimutnya untuk tidur lagi.


"Sudah jam ayam pukul bebek. Sudah ditunggu sopir. Sudah harus bagun. Jadi, cepaaatttt... Kita semua kesiangan, kami juga harus pergi." Ucap Kaliana serius sambil melipat selimut Marons, agar tidak tidur lagi.


"Sopirku sudah datang?" Tanya Marons, langsung full loading lalu duduk dan menyisir rambutnya dengan tangan.


Marons segera turun dari tempat tidur. "Ni, ikut aku ke kamarku dan tolong lihat bajuku. Aku mau mandi, ada meeting." Marons berjalan cepat ke kamarnya dan diikuti Kaliana dengan bingung.


"Arrooo... Aku Kaliana... Bukan Rallita. Bagaimana aku tahu pakaianmu?" Tanya Kaliana sambil berjalan cepat mengikuti Marons dari belakang, karena Marons berjalan cepat dengan langkah panjangnya.


"Karena kau Kaliana, makanya aku minta tolong. Kalau dia, tidak akan, karena belum bangun. Bibi yang siapin pakaianku. Ayooo... Jangan bengong. Nanti baru ngobrol lagi." Marons segera masuk kamarnya dan langsung ke kamar mandi.


'Astagaaa... Dia tidak bilang pakaiannya ada di mana.' Kaliana berkata dalam hati, lalu membuka lemari-lemari yang ada di dalam kamar Marons.

__ADS_1


'Astagaaa... Pakaian begini banyak, bagaimana pilihnya?' Tanya Kaliana dalam hati setelah menemukan lemari berisi jas digantungan berjejer. Kaliana mengambil kemeja, dasi dan jas lalu letakan di atas tempat tidur. Kemudian dia berjalan cepat keluar kamar sebelum Marons keluar kamar mandi.


"Ayooo, Putra. Jangan bicara apapun dulu. Siapin semua peralatanmu, agar kita bisa jalan." Ucap Kaliana saat melihat Putra sudah bangun dan mandi. Putra mengangguk lalu masuk kembali ke kamar tamu.


"Ni, aku berangkat. Tolong kunci rumahnya. Kalau kalian masih di sini, info, ya. Biar aku bilang Bibi pulang ke sini." Marons berkata sambil berjalan keluar dengan dasi masih di tangannya.


Kaliana segera berlari ambil air mineral hangat lalu berjalan cepat menyusul Marons yang sudah berada di dalam mobilnya. "Minum dan makan ini di jalan. Maaf, kami kesiangan, jadi tidak sempat siapin sarapan." Kaliana memberikan air mineral dan roti yang di pesan Yicoe untuk sarapan mereka.


Marons mengambil yang diberikan Kaliana lalu mengatakan 'TQ'. Kaliana mengangguk, lalu memberi semangat dengan mengepalkan tangan dan mengatakan 'sukses'.


Semua yang dilakukan Kaliana tidak luput dari perhatian Yicoe dan Novie yang sedang sarapan di meja makan. Begitu juga Putra yang sudah keluar dari kamar bersama Pak Yosa. Mereka semua tersenyum sambil melihat Kaliana yang baru masuk dengan berjalan cepat.


"Mengapa kalian senyum-senyum begitu? Apa sudah siap semua?" Tanya Kaliana, mengalihkan perhatian mereka darinya untuk fokus pada sarapan dan rencana mereka selanjutnya.


"Mbak Anna sudah seperti seorang istri yang mengantar suaminya berangkat kerja." Putra tidak bisa menahan ucapannya melihat yang dilakukan Kaliana. Hal itu membuat Yicoe dan Novie melemparnya dengan potongan roti. Putra manangkap potongan rotinya, lalu memakannya dengan wajah tersenyum, sambil mengangkat kedua jarinya ke arah Kaliana, tanda peace.


Dia menyadari, apa yang dilakukannya terhadap Marons tadi, memang seperti seorang istri. Hal itu baru disadarinya, setelah semua dilakukan. Dia hanya mengikuti insting dan dorongan hatinya.


~°°°~ ~°°°~ ~°°°~


Beberapa waktu kemudian, saat tiba di kantor mereka mulai sibuk. Putra merapikan semua peralatannya, lalu semua anggota team berkumpul di ruang meeting. Kaliana membicarakan rencana Pak Adolfis yang akan memakai jasa mereka untuk menolong Chasina.


Mendengar itu, semua anggota team tersenyum senang. Mereka akan sibuk lagi dan juga hanya meneruskan sedikit lagi penyelidikan mereka. Saat mereka sedang membahas semuanya, tiba-tiba Danny menghubungi Kaliana.


📱"Allooo... Mbak Anna, sudah dihubungi Pak Adolfis?" Tanya Danny, saat Kaliana merespon panggilannya.

__ADS_1


📱"Allooo, Pak Danny. Iyaa, Pak... Tadi malam, beliau sudah hubungi saya. Bagaimana, Pak?" Kaliana berkata sambil berpikir, apakah Danny sudah dihubungi untuk jadi pengacara Chasina.


📱"Oooh... Ok. Kalau begitu, kita bisa bertemu saat makan siang nanti? Ada yang mau aku bicarakan sebelum kita bertemu dengan beliau." Ucap Danny, karena ada beberapa hal yang perlu dibicarakan sebelum bertemu demgan Pak Adolfis berhubungan dengan peluang Chasina.


📱"Baik, Pak. Shareloc saja tempatnya, nanti saya ke sana." Ucap Kaliana, lalu mengakhiri pembicaraan mereka setelah saling memberikan salam.


Setelah berbicara dengan Danny, Kaliana kembali ke ruang meeting untuk berbicara dengan Putra. Dia ingin mengetahui perkembangan berita tentang apa yang disampaikan oleh Bram saat konferensi pers.


~°°°~ ~°°°~ ~°°°~


Setelah meeting, Marons bertemu dengan Ayahnya di ruang kerjanya. Ayahnya tidak kembali ke ruang kerjanya, tapi ikut Marons ke ruang kerjanya karena menyadari, Marons sedang menghindar untuk berbicara dengannya.


"Ada apa denganmu? Tadi kau hampir terlambat." Ayah Marons berkata sambil duduk di sofa yang ada di ruang kerja Matons.


"Tadi bangun kesiangan, Yah. Kemarin sampai tadi malam lumayan lelah, jadi tertidur seperti kebo." Ucap Marons asal sambil duduk di sofa depan Ayahnya.


"Lalu apa yang terjadi dengan penampilanmu itu? Kenapa tiba-tiba berubah seperti itu?" Tanya Ayah Marons heran melihat Marons tidak mengenakan dasi saat meeting.


"Bukan berubah, Yah. Ini akibat kesiangan. Aku tidak pakai dasi dari rumah, turun dari mobil, dasinya ketinggalan. Yaaaa... weeesss... Ganti penampilan dikit dengan lepaskan kancing." Ucap Marons, sambil tersenyum mengingat semua yang terjadi tadi pagi.


Pak Petter hanya bisa menggelengkan kepala mendengar penjelasan putranya. "Lalu sekarang, jawab Ayah tentang semua yang terjadi tadi malam. Penjelasan polisi saat konferensi pers membuat Ayah makin tidak mengerti dan bingung." Ucap Ayah Marons serius, sambil terus menatap Marons menanti jawabannya.


"Sebenarnya, aku mau bicara dengan Ayah setelah di rumah. Tapi karena Ayah sudah tanya, aku akan menjelaskan yang bisa dijelaskan di sini saja. Pak Ewan berusaha menjebakku, supaya ada punya alasan dan bukti. Aku merencanakan pembunuhan terhadap anaknya." Marons langsung menjelaskan dari Papa Rallita.


...~°°°~...

__ADS_1


...~●○¤○●~...


__ADS_2