ROMANTIKA HIDUP

ROMANTIKA HIDUP
92. Panik 6.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Bram fokus memikirkan cara untuk menyempurnakan bukti kasus Jaret dengan mulai fokus pada Parikus. Dia sudah menemukan pintu masuk yang lebih mudah. Hal itu melegakan hatinya. Sekarang yang ada dalam pikirannya adalah memegang Parikus untuk meramba dan mengeksplor semua yang berkaitan dengan pimpinannya.


Dia akan menunggu dan melihat, apakah ada perintah baru yang diturunkan berkaitan dengan keputusannya terhadap Parikus. Jika pimpinannya menginginkan Parikus tetap bekerja di luar, berarti dia sedang melakukan sesuatu di luar untuk pimpinannya.' Itu deteksi awal yang Bram pikirkan untuk menentukan kebijakan selanjutnya kepada Parikus.


Bram sudah melihat sikap Parikus yang tutup mulut, tidak mengatakan sedang kerjakan sesuatu di luar. Dari sikap dan cara Parikus tutup mulut, Bram menyadari ada rahasia di antara mereka berdua. Sehingga mantan pimpinan Parikus yang Bram gantikan, tidak bisa bersikap tegas terhadap Parikus. Bahkan tidak masalah atau tidak menegurnya, jika keluar tanpa ijin di jam dinas.


Saat petugas yang bernama Hendra berdiri di depannya, Bram menyadari ada yang tidak beres. "Kau sedang menangani kasus apa?" Tanya Bram tanpa basa-basi. Hendra langsung menjawab terbata-bata, karena tidak bisa fokus pada apa yang ditanyakan Bram.


"Kau segera keluar dan panggil petugas yang memegang daftar kasus yang ditangani kalian semua." Bram berkata serius dan tegas. Dia tidak mau berlama-lama bicara dengan Hendra. Bagi Bram, itu sama saja membuang waktu dengan orang yang sudah tidak bisa fokus dengan pekerjaannya. Dia menyadari, Hendra sudah menggunakan narkoba.


Ini yang dikhawatirkan Bram, sehingga tidak mengijinkan Raka mengikutinya untuk bertugas di bagian narkotika. Jika tidak kuat hati dan mau coba cicipi narkoba yang disita, akan berakhir seperti Hendra. Tidak bisa berkonsentrasi untuk melakukan tugas yang ditangani.


Hendra memberi hormat lalu keluar memanggil rekan kerja yang dimaksudkan oleh Bram. Tidak lama kemudian, pintu ruang kerja Bram diketuk, lalu Bram perintahkan untuk masuk. Setelah petugas yang dimaksud masuk, memberi hormat dan menyerahkan daftar kasus yang sedang ditangani, Bram hanya bisa menarik nafas panjang. Ada banyak kasus, tapi progres penyelidikannya sangat lambat.

__ADS_1


Bram jadi memahami kondisi yang ada di bagiannya. Dia tidak perlu bicara lagi dengan mantan atasan Parikus untuk konfirmasi kebenaran alasan Parikus tidak menangani kasus. Kenapa Parikus tidak melapor kepada mantan atasannya, tetapi kepada pimpinan Bram. Karena nama Parikus tidak ada dalam daftar nama yang diterimanya.


Sekarang Bram makin terbuka tentang situasi yang ada sebelum dia dipindahkan ke sini. Pimpinan sebelum dia, tidak memberikan Parikus tangani suatu kasus, ada banyak penyebabnya. Itu memang perintah dari atasan untuk tidak memberikan pekerjaan kepada Parikus, atau dia tidak mau berurusan dengan Parikus agar aman dari amukan atasan. Atau dia juga kaki tangan dari pimpinan mereka yang disebut 'big boss', sehingga dia menganak emaskan Parikus.


Semua kemungkinan mulai terangkai di dalam kepala Bram. Dia akan memeriksa progres kasus yang ditangani dengan mencocokan nama petugas yang baru diterima dengan nama petugas yang diberikan pimpinannya untuk jadi anggota di team nya. Dari dua lembar kertas yang berisi nama petugas di tangannya, dia akan mengetahui berapa % petugas yang disodorkan pimpinannya.


"Mari keluar...!" Bram mengajak petugas tersebut keluar dari ruang kerjanya untuk menemui para petugas di luar ruangan. Bram tidak mau berlama-lama, karena petugas yang datang menyerahkan daftar nama sudah mencicipi narkoba. Walaupun Bram bertugas di bagian investigasi, tapi dia sering menjumpai para pengguna narkoba. Jadi sekali pandang, dia sudah bisa menilai orang yang pernah pakai atau sedang pakai narkoba.


Setelah berada di luar ruangan, petugas itu kembali ke mejanya. Bram melihat satu persatu petugas yang ada dalam ruangan. Melihat ketegasan sikap Bram yang serius dan dingin, para petugas jadi panik lalu berdiri dengan sikap siap dan sigap, termasuk Parikus.


"Kalian semua segera pulang dan istirahat. Besok pagi sudah ada laporan semua kasus yang kalian tangani di atas meja saya. Kau juga, Parikus... Segera pulang dan selesaikan masalah keluargamu. Besok pagi saya sudah terima laporanmu." Bram berkata tegas dan serius. Dia melihat sedikit rasa senang di wajah beberapa petugas, saat dia perintahkan Parikus untuk buat laporan. Bram mengabaikan itu lalu kembali masuk ke ruang kerjanya.


~°°°~ ~°°°~ ~°°°~


Di sisi yang lain ; Setelah pengacara Elly telah pamit pulang, Mama Jaret segera mendekati suaminya untuk menanyakan apa yang dibawanya saat pulang tadi. Papa Jaret mengajak istrinya ke kamar untuk menunjukan apa yang dibawanya, agar tidak perlu banyak tanya dan penjelasan.

__ADS_1


"Ini isi safe deposit box ku yang aku ambil dari bank, karena deposito Jaret juga sudah dibekukan. Untuk sementara aku mau simpan sendiri untuk berjaga-jaga, jangan sampai penyelidikan merambat ke harta yang kita miliki." Papa Jaret menjelasakan lalu menuangkan isi dari kedua kantong tersebut ke atas karpet.


Mama Jaret terkejut, karena tidak menyangka suaminya menyimpan banyak uang dollar dan emas batangan di safe deposit box. Ada juga beberapa jam mewah di antara berbagai dokumen. "Apakah kita harus mengamankan yang ada pada kita juga?" Mama Jaret mulai was-was dan panik. Beliau memikirkan SDB nya juga, yang disimpan tanpa sepengatahuan suaminya.


"Kau tidak mengerti yang aku bilang tadi? Amankan yang bisa kita amankan. Itu bukan yang ada pada Jaret saja, tetapi juga yang ada di kita. Bisa saja penyelidikan menyasar kepada kita, jika sumber dana Jaret diselidiki." Papa Jaret berkata dengan serius.


"Mengapa kau tidak katakan dengan jelas tadi? Tidak ada bank yang buka 24 jam. Semoga masih ada waktu untuk kita sembunyikan yang bisa disembunyikan." Mama Karet makin panik memikirkan SDB nya.


"Besok jangan kau pindahkan uangmu di bank ke rekening mana pun, atau tarik tunai. Jangan mancing perhatian pihak terkait ke apa yang kau lakukan. Semua uang di tabungan dan deposito itu, legal. Sudah aku laporkan dan ada dalam daftar kekayaan kita." Papa Jaret berkata serius, melihat kepanikan di wajah istrinya. Beliau khawatir, istrinya mengotak-atik tabungan mereka di bank dengan maksud mau menyembunyikan.


"Baik...!" Mama Jaret mengangguk mengiyakan apa yang dikatakan suaminya, tapi pikirannya tidak bisa beralih dari semua yang disimpan di safe deposit box miliknya. 'Mengapa aku tadi tidak pikirkan itu saat ke bank?' Mama Jaret ngebatin, di sela rasa panik dan menyesalnya.


"Itu kau mau simpan di sini?" Tanya Mama Jaret saat melihat suaminya sedang memasukan kembali semua emas batangan, uang dollar dan lainya ke dalam kantong bank yang dibawanya.


"Sudah tidak bisa di sini, karena brankasnya tidak muat lagi. Aku akan membawanya untuk simpan di tempat lain. Siapin makan malamnya, aku mau mandi dan pergi membawa ini." Papa Jaret berkata cepat, lalu meninggalkan istrinya ke kamar mandi. Beliau tahu, istrinya akan bertanya atau protes tentang tindakannya, jadi buru-buru ke kamar mandi.

__ADS_1


...~°°°~...


...~●○¤○●...


__ADS_2