ROMANTIKA HIDUP

ROMANTIKA HIDUP
110. Bertaktik 13


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Jaret terpaksa mengingat lagi peristiwa gelar perkara di rumah orang tua Rallita yang sudah ingin dilupakannya. Jika mengingat peristiwa itu, kembali emosinya meningkat dan amaranya meluap kepada Kaliana yang sudah menjebloskannya ke tahanan dengan semua bukti yang dia perlihatkan di depan aparat kepolisian.


Begitu juga dengan Chasina yang jadi penyebab kematian Rallita, sehingga diadakannya gelar perkara tersebut. Dia sudah berusaha menghindari semuanya dengan berbagai cara agar tidak terkait dengan kematian Rallita, malah terkait dengan kasus narkoba. Hal itu membuatnya sangat benci dan dendam kepada kedua wanita itu. Terutama kepada Kaliana yang lebih berpihak kepada suami Rallita, Marons.


"Wanita bernama Kaliana yang pimpin gelar perkara malam itu bersama penyidik kepolisian. Dia sengaja berikan semua foto dan video itu, agar saya ditangkap. Dia pasti bekerja sama dengan suami Rallita yang dendam pada saya." Akhirnya Jaret menyebutkan nama orang yang dia maksudkan. Dia tidak menyebutkan nama Chasina, agar terhindar dari hal yang tidak harapkan. Perselingkuhannya akan diungkit dan dipertanyakan oleh pengacara yang baru.


Kedua pengacara saling bertatapan setelah mendengarnya. Terutama pengacara Elly, langsung menggelenkan kepala ke arah pengacara Andi, agar tidak usah mendengar apa yang dikatakan Jaret. Walaupun pengacara Elly belum bertemu dengan wanita yang bernama Kaliana, tapi semua foto dan video yang pernah dilihatnya itu asli, bukan hasil editan.


"Pak Jaret, jika semua bukti ini tidak benar, hanya rekayasa belaka, apakah anda memiliki bukti yang benar untuk membantah ini?" Tanya pengacara Andi serius dan tegas. Beliau tidak mau mengikuti apa yang diinginkan Jaret. Maunya harus bebas, tanpa pedulikan cara peroleh kebebesan itu. 'Memangnya kami Mr. Prok yang mengatakan prok-prok, lalu semuanya jadi seperti yang diinginkan?' Pengacara Andi berkata dalam hati, karena tidak senang dengan sikap Jaret.


Jaret terdiam saat mendengar pertanyaan pengacara Andi yang tidak terpikirkan olehnya. Dia hanya ingin bebas dari semua tuduhan, hingga bisa lakukan apa yang sedang direncanakan di luar tahanan. Dia berpikir keras untuk menjawab pertanyaan pengacara Andi tapi tidak menemukan jawaban atau alasan yang cocok, agar bisa diterima oleh pengacara Andi. Hal itu membuatnya gusar tapi harus menahan diri, agar tidak terlihat.


Melihat Jaret terdiam dan tidak bisa memberikan argumentasi yang meyakinkan, pengacara Andi menyadari kebenaran bukti yang diberikan pengacara Elly. Hal itu membuat kepalanya berdenyut, karena harus memikirkan cara yang tepat. Mungkin tidak bisa menolongnya untuk bebas, tapi sedikit banyak dia tidak dihukum maksimal.


"Pak Jaret... Di persidangan nanti, kita tidak bisa mengatakan asumsi anda untuk membatah semua bukti yang diberikan Jaksa penuntut. Kami membutuhkan fakta sebenarnya, agar kita tidak jadi bulan-bulanan di ruang sidang." Pengacara Andi berkata serius dan tegas, karena saat sidang nanti beliau tidak ingin terlihat bodoh. Apalagi persidangan Jaret sedang jadi pusat perhatian dan dinantikan publik. Pengacara Andi menyadari ruang pengadilan bisa mengangkat namanya, atau menjatuhkannya.


"Sekarang dengarkan kami baik-baik agar persidangan nanti, anda tidak mengatakan apa yang anda perkirakan atau sangkakan kepada seseorang. Anda sedang didakwa atas kesalahan yang ditudukan kepada anda, bukan orang-orang yang anda sebutkan tadi. Jadi tidak perlu mengalihkan perhatian Jaksa penuntut dan Hakim kepada mereka untuk menunda hukuman yang harus anda terima." Pengacara Andi berkata tegas dan serius untuk mengingatkan Jaret, akan kesalahannya.

__ADS_1


"Jadi mari kita siapkan diri untuk hadapi sidang, dengan membahas bukti-bukti yang ada. Mungkin dengan membahasnya bersama pengacara Elly, kita bisa temukan cela untuk menolong anda. Minimal bisa mengurangi hukuman anda." Pengacara Andi berkata lagi setelah melihat Jaret tetap diam. Pengacara Elly mengangguk pelan ke arah pengacara Andi, tanda setuju. Beliau yakin, Jaret akan kesulitan di ruang pengadilan, jika tetap dengan pemikiran seperti itu.


Pengacara Elly keluar ruangan untuk menghubungi Papa Jaret, agar bisa menghubungi petugas jaga. Mereka butuh waktu tambahan mempersiapkan Jaret menghadapi sidang. Oleh sebab itu, pengacara Elly butuh bantua Papa Jarek menghubungi koneksinya untuk memudahkan rencana mereka.


Setelah mendapat ijin dari petugas jaga, pengacara Elly kembali ke ruang pertemuan, lalu memanggil pengacara Andi agar menyikir sejenak dari Jaret. Mereka perlu bicara berdua untuk mengatur strategi sebelum membahasnya dengan Jaret.


~•••~ ~•••~ ~•••~


Di sisi yang lain ; Bram masih berada di ruang kerjanya meneliti bukti kasus yang akan ditanganinya. Setelah merasa ruangan di depannya mulai sepi, Bram keluar untuk melihat situasi dan ruangan tempat bawahannya bekerja. Ketika melihat hanya tinggal beberapa orang dan Parikus sedang menelpon, Bram kembali masuk ke ruangannya. Dia mengambil tas kerjanya lalu keluar meninggalkan ruang kerjanya.


"Kalian sudah boleh pulang, jika tidak ada lagi yang perlu dikerjakan di sini." Bram berkata dengan tenang dan serius kepada anggotanya yang masih menunggunya pulang.


Tidak lama kemudian, ponselnya bergetar dan melihat siapa yang menghubunginya, Bram segera merespon.


📱"Halloo, Anna. Lagi sibuk?" Bram bertanya saat merespon panggilan Kaliana, tanpa candaan.


📱"Halloo, Bram. Kami baru selesai pertemuan dan mau istirahat sejenak. Bagaimana?" Tanya Kaliana, karena Bram tiba-tiba kirim email kepada Putra, bahwa ingin bicara dengan boss nya.


📱"Kalau begitu, tunggu sebentar. Aku ada perlu denganmu dan Putra." Jawab Bram cepat, mengunakan kesempatan istirahat Kaliana dan anggota teamnya.

__ADS_1


📱"Ok. Perlu bantuan apa?" Kaliana bertanya cepat, saat mendengar Bram sedang membutuhkan bantuannya.


📱"Putra bisa cek panggilan telpon?" Tanya Bram lagi, sebelum menyampaikan maksudnya menghubungi Putra.


📱"Bisa. Nomor telpon siapa yang ingin kau selidiki?" Kaliana berkata cepat, karena dia dan Putra belum lama menyelidiki nomor telpon orang tua Jaret.


📱"Ada dua nomor yang ingin aku tahu, mereka hubungi siapa saja. Apa bisa sekarang sambil aku berbicara denganmu? Sorry. Aku sedang buru-buru, jadi tidak bisa tunggu." Bram berkata lagi dengan serius, karena mengharapkan bantuan Kaliana dan team nya.


Kaliana segera melihat ke arah Putra yang sedang berbicara dengan Pak Yosa dan memberikan isyarat kepadanya agar mendekat dan menyampaikan permintaan Bram. Putra mengangkat tangannya dan membentuk jarinya, 'OK'.


📱"Bisa, Bram... Kirim saja nomornya ke email yang tadi. Kita tetap bicara, agar aku bisa infokan yang diperoleh Putra." Kaliana berkata sambil mengikuti Putra ke ruang kerja, agar bisa melihat yang dikerjakan Putra, sekaligus mengatakan itu kepada Bram.


📱"Baik... Itu aku sudah kirim dua nomor, tapi tolong lihat koneksi nomor pertama dengan siapa saja dan dimana." Bram berkata serius, karena ada yang direncanakan saat melihat Parikus sedang telpon dengan serius, hingga tidak menyadari kehadirannya.


Semua yang diminta Bram dikatakan kepada Putra, agar bisa menyelidiki satu persatu. Putra mengangguk dan memberikan tanda 'OK' kepada Kaliana dengan bersemangat, karena akan melakuan sesuatu yang paling disukainya.


"Mba' ... Nomor pertama ada berhubungan dengan nomor kedua. Tapi lebih sering dengan nomor ini. Nomor yang sering dihubungi tidak ada identitas. Ini sepertinya nomor-nomor batok." Putra berkata sambil menunjuk nomor telpon tidak beridentitas yang suka dijuluki anggota team sopape dengan batok (plesetan dari tuyul yang b*tak).


...~°°°~...

__ADS_1


...~●○¤○●~...


__ADS_2