ROMANTIKA HIDUP

ROMANTIKA HIDUP
141. Canser (Canda tapi Serius) 6.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Setelah Yicoe dan Novie berlalu, tiba-tiba Danny berdiri di pintu ruang kerja sambil melihat ke dalam ruangan.


"Apa aku mengganggu? Ada yang mau aku bicarakan." Ucap Danny sambil melihat ke arah Kaliana dan Marons bergantian. Dia berharap tidak menganggu Kaliana dan anggota team sopape, karena ada yang mau dia bicarakan dengan Marons.


^^^Danny telah mencari Marons di lantai bawah dan kamarnya, tapi tidak ditemukan. Jadi dia mencari ke ruang kerja team sopape.^^^


"Ngga, Pak Danny. Yang lain belum pada ngumpul. Ayoo, masuk." Kaliana berkata cepat, lalu mempersilahkan Danny masuk. Marons menarik kursi di sampingnya lalu menepuknya, sebagai isyarat untuk Danny duduk di kursi tersebut. Danny berjalan mendekati Marons, lalu duduk di sampingnya.


"Mba' Anna sudah tau info, tentang persidangan Pak Jaret?" Tanya Danny setelah duduk dan menepuk pelan pundak Marons.


"Sudah, Pak Danny. Tadi Pak Bram baru info, persidangannya tidak jadi dilaksanakan dan belum ada keputusan untuk persidangan berikutnya, karena kesehatan Pak Jaret belum bisa diprediksi." Kaliana menjelaskan apa yang dikatakan Bram.


"Iyaa, itu benar. Pembicaraan di antara pengacara, kondisi Pak Jaret tidak bisa berada di persidangan. Emosinya tidak stabil dan omongannya ngelantur. Pengacaranya melarang untuk ikut persidangan dan minta ijin untuk diperiksa kesehatannya. Mungkin orang tuanya minta dibawa ke rumah sakit." Danny menjelaskan apa yang didengarnya kepada Kaliana dan Marons.


"Sepertinya, bermasalah dengan narkoba. Jika dia begitu terus, kita tunggu dan dengar saja. Ada issu yang berkembang, itu sengaja dilakukan agar dia bisa direhab." Danny menceritakan issu yang dibicarakan para pengacara. Persidangan Jaret yang tertunda sudah jadi perbincangan di media dan masyarakat.


"Kalau rencana mereka seperti itu, yaa, kita tunggu dan lihat saja. Apa yang akan dilakukan oleh orang-orang di sekitarnya. Sebelum dipindahkan, biarkan dia seperti gasing dalam tahanan dalam waktu yang tidak menentu juga." Kaliana berkata serius sambil berpikir tentang rencana Jaret dan keluarganya.


"Tapi dengan dia begitu, ada kabar baik buat kita. Persidangan gugatan cerai sudah ditetapkan, besok. Pengadilan sudah kirim surat ke kantor dan tadi aku sudah baca dan bicarakan dengan asisten di kantor untuk persiapan." Danny berkata serius dengan hati lega.

__ADS_1


^^^Dia bersyukur Kaliana sudah pulang, jadi bisa bicara dengan Kaliana. Ada perkembangam baru dengan kasus yang sedang mereka tangani.^^^


"Itu mengenai Pak Jaret. Sekarang mengenai Pak Ewan, mantan mertuamu." Danny berkata pelan sambil menepuk pundak Marons di sampingnya.


"Ada apa dengan beliau? Sudah keluar atau tidak jadi persidangan juga?" Marons berkata dengan tenang, tapi serius. Dia berpikir telah terjadi hal yang sama dengan mantan mertuanya.


"Kau tau sendiri, masa tahanan sementaranya akan berakhir. Jadi harus segera dijadwalkan waktu sidangnya, atau perpanjang waktu penahanannya." Danny menjelaskan dengan serius.


"Lalu mereka sedang tunggu apa lagi? Bukankah semua bukti sudah diserahkan ke Kejaksaan?" Tanya Marons sambil menatap Kaliana dan Danny bergantian.


"Mantan mertuamu utus anaknya dan pengacara ke kantorku. Karena aku tidak ada, jadi berbicara dengan asistenku. Mereka minta maaf dan mau ajukan permohonan damai." Danny menjelaskan pelan, agar Marons bisa mencerna apa yang diminta oleh Papa Rallita, mantan mertuanya.


"Katakan pada mereka, tidak perlu minta maaf. Aku sudah melupakan semua yang dilakukannya. Jika maafku bisa membebaskannya, bebaskan saja. Yang penting sudah tau akibatnya, jika lakukan sesuatu yang kotor, pasti kotoran itu akan menempel di tubuhnya." Marons berkata serius dan tegas.


^^^Dia lebih memilih menata hati dan hidupnya dengan lebih baik. Banyak pelajaran hidup yang dia peroleh dari kejadian yang menimpahnya. Tuhan sudah meluputkan dia dari tuduhan membunuh istrinya. Itu adalah sesuatu yang sangat dia syukuri. Sehingga dia sangat berempati dengan kondisi Chasina di tahanan. Karena dia hampir berada di posisi yang sama dengan Chasina saat ini.^^^


"Tidak semudah itu. Soal minta maaf dan memaafkan adalah urusan hati masing-masing. Tapi proses hukumnya tetap berlanjut. Apa yang ditunduhkan kepada Pak Ewan saat ini tidak bisa diselaikan dengan kata maaf, karena berhubungan dengan kesaksian Punguk." Danny berkata serius dan tegas.


"Kita tidak menuntut beliau. Yang kita tuntut itu, Punguk yang ketahuan mau menjebakmu. Jadi biarkan pengacara Punguk yang bertarung menghadapi pengacara Pak Ewan." Danny menjelaskan dengan serius sambil melihat Marons dan Kaliana yang sedang memperhatikannya,


"Kau hanya perlu bersaksi melawan Punguk, sebagaimana tuntutan kita. Kau hanya mengatakan apa yang terjadi di Malang dan juga mantan sekretarismu. Soal bukti-bukti yang diberikan Mba' Anna, itu bagianku untuk menguatkan kesaksianmu." Danny berkata serius, karena dia sudah bisa perkirakan, persidangan untuk tuntutan mereka akan digelar.

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan sekretaris itu? Apa dia sudah dibebaskan?" Marons jadi teringat dengan mantan sekretarisnya yang juga ditahan setelah keluar dari rumah sakit.


"Samaaa... Mereka semua ada dalam tahanan. Nanti di persidangan baru diputuskan, dia bebas atau bagian dari kaki tangan Punguk. Hakim yang akan memutuskan itu." Danny kembali menjelaskan dengan serius.


Marons yang mendengar itu, hanya bisa mengelengkan kepalanya. "Ini yang sering dibilang Ibuku. Makanan sudah di mulut, tapi dilepein. Bukan dapat makanan lebih enak, tapi makanan sampah." Marons berkata dengan emosi mengingat sekretarisnya yang sudah dapat perkerjaan baik dan bisa bantu keluarganya, malah dibuang untuk sesuatu yang belum tahu wujudnya.


"Mungkin karena usia dan mulai putus asa, belum ada yang meliriknya. Jadi ada seorang pria berpenampilan lumayan keren mendekatinya dan mengajaknya pacaran, yaaa..." Danny tidak meneruskan ucapannya.


"Lepein pekerjaan dan berubah jadi penghianat?" Tanya Marons meneruskan ucapan Danny dengan serius, mengingat sekretarisnya yang menghianati dia.


"Jangan mencari alasan dengan katakan usia makin banyak dan putus asa belum dapat pasangan. Apa kau lebih muda dari dia? Apa kau di usiamu ini, nambrak sembarang pintu untuk bisa punya pasangan?" Marons berkata serius sambil melihat Danny.


"Mengapa jadi ke aku?" Tanya Danny sambil menunjuk wajahnya dan melihat Marons dengan heran.


"Apa aku harus jadikan Anna, Yicoe atau Novie yang jadi contoh? Jika kau katakan itu di depan mereka, mereka akan menertawaimu sambil guling-gulingan di lantai." Marons berkata serius sambil menggerakan tangannya ke lantai.


^^^Kaliana dan Putra yang sejak tadi diam mendengar percakapan Marons dan Danny, sontak melihat Marons dengan heran.^^^


"Usia mereka bertiga apa lebih muda dari dia? Kau lihat mereka putus asah atau panik karena itu, lalu sosor saja ke sembarang arah seperti soang?" Marons berkata dengan serius, sambil melihat Danny.


Tanpa sadar, Kaliana dan Putra langsung menutup mulut dengan tangan, lalu terduduk di lantai sambil menahan tawa. Yicoe dan Novie yang sudah selesai mandi dan hendak masuk ke ruang kerja, mendengar ucapan Marons jadi tertawa. Sontak menutup mulut dengan kedua tangan lalu bersandar di tembok dekat pintu sambil menahan tawa, hingga melorot ke lantai.

__ADS_1


...~°°°~...


...~●○¤○●~...


__ADS_2