ROMANTIKA HIDUP

ROMANTIKA HIDUP
49. Warna Sari 9.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Pak Yosa jadi tersenyum, membayangkan apa yang terjadi di belakang itu di rumah. Pasti akan terjadi kejar-kejaran, sambil Putra mengangkat dua jarinya. Sekarang Putra hanya bisa teriak, tanpa bisa menghindar dari pukulan Kaliana.


"Aku memang mau minta Pak Yosa mengemudi, bukan menghindari friksi hati, tapi mau bertemu Pak Bram. Jadi diam, ya... Jangan macam-macam... Awas aku lihat friksi hati di akun sosial mediamu. Aku potong jatah makanmu." Kaliana berlaga galak, seakan sedang mengancam Putra. Dia sangat mengenal kebiasaan Putra, jadi mengingatkannya terlebih dalu.


"Terlambat, Mba'... Sudah beredar sejak tadi..." Ucap Putra sambil mengangkat dua jarinya, sebagai tanda 'peace'. Dia telah mengupload karikatur pria dan wanita dengan hati yang sedang berdebat menggunakan kata-kata galak, tapi romantis.


Putra telah membuat karikatur tersebut, saat menunggu Kaliana dan Danny melakukan pertemuan dengan Pak Adolfis dan Bryan. Karena Kaliana tidak meminta dia untuk merekam pembicaraan mereka, jadi dia mengisi waktu dengan membuat gambar-gambar lucu dan menggemaskan. Dimana hati Marons dan hati Kaliana sedang berdebat, tapi tanpa mencantumkan nama.


Danny hanya mendengar ucapan mereka, tapi tidak mengerti maksud ucapan Putra dan Kaliana. Pak Yosa hanya bisa gelengkan kepalanya. Tetapi Kaliana jadi memukul lengan Putra, setelah melihat semua sosial media Putra hari ini telah penuh dengan karikatur berbagai gambar hati pria dan wanita.


Apalagi melihat Putra menunjuk layar ponselnya, ada nama Novie dengan gambar karikatur sedang menangkis pukulan lawan yang keren. Putra makin tersenyum senang, karena Novie menelponnya pada waktu yang tepat. Sehingga dia bisa terhindar dari cubitan atau pukulan Kaliana.


📱Putraaa... Apa terjadi sesuatu dengan hatimu?" Teriak Novie dan Yicoe bersamaan, saat Putra merespon panggilannya. Mereka telah melihat karikatur yang dibuat Putra di sosial medianya. Mereka mengira itu berkaitan dengan hati Putra, yang mungkin mulai suka pada seseorang.


📱"Bukan Kakak-kakakku yang cantik, baik hati dan rajin memberiku makan. Itu menyangkut hati orang yang sedang berkasus hati." Balas Putra, tapi dua jarinya tetap terangkat ke arah Kaliana, tanda peace.


📱"Ooooh... Pulang ceritain, ya... Kalau ngga, kami sembunyikan puding jeruk buatan Bibi..." Ucap Yicoe, lalu langsung mematikan telponya. Mereka tahu, pasti Kaliana ada di dekat Putra, sehingga Putra tidak menyebutkan nama. Hal itu membuat mereka makin penasaran.


Putra menggaruk kepalanya, setelah Yicoe mematikan telpon dan melihat Kaliana mengacungkan kepalan tangannya ke arah Putra, tanda mengancam dengan wajah yang dibuat galak.

__ADS_1


Kaliana memberikan isyarat kepada Putra, bahwa dia akan menghubungi Bram. "Lebih baik kau segera hubungi Pak Bram, sebelum Konmas Ham perlindungan lelaki menjemputku." Kaliana berkata dengan wajah serius, tapi hatinya tersenyum mengingat ucapan Marons tersebut.


Kaliana jadi ingin sampai di rumah, agar bisa menghubungi Marons. Dia sangat rindu untuk berbicara dengan Marons. Hal yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya, saat sedang bekerja.


Putra mengangguk, lalu segera melakukan yang diminta Kaliana. Dia segera menghubungi Bram dan mengamankan pembicaraan mereka.


📱"Dan, senyap...?" Tanya Kaliana tentang kondisi Bram saat merespon panggilannya. Dia berharap, Bram sudah tidak ada dalam ruangannya.


📱"Senyap... Aku sudah pindah ke ruang olah raga. Bagaimana...?" Jawab Bram dan sekaligus bertanya, karena tidak mengerti, mengapa Kaliana menghubunginya lagi. Padahal mereka sudah bertemu pada saat makan siang.


📱"Ok, Dan. Aku tunggu di gua, ya. Ada titipan kopi untukmu dan yang lain. Aku tunggu, sampai kau datang. Bagaimana caranya, kau usahakan sendiri. Jangan sampai nyamuk ikut, karena kopinya banyak." Ucap Kaliana memberikan gambaran tentang apa yang akan diberikan kepada Bram. Pak Yosa menyarankan tempat tersembunyi (gua) untuk Kaliana bertemu dengan Bram.


📱"Kenapa tiba-tiba ada kopi? Kau dapatkan kopi dari mana?" Tanya Bram tidak mengerti, karena tadi sudah bertemu Kaliana dan tidak ada pembicaraan seputar itu. Dia tidak mau bantuannya dibayar oleh Kaliana dari penghasilan yang diterimanya.


📱"Ok... Tunggu... Aku koordinasi dulu, karena kami sedang bersiap-siap untuk pindahan pandora." Bram berkata serius, lalu segera mengakhiri pembicaraan mereka setelah saling memberikan kode tempat pertemuan.


Pak Yosa segera menjalankan mobil menuju tempat pertemuan yang dikatakannya kepada Kaliana. Beliau lebih tahu tempat yang aman untuk bertemu Bram di luar kantornya. Danny hanya menyimak dan berusaha mengerti setiap ucapan Kaliana dan anggota teamnya.


Setelah tiba di tempat tujuan, mereka menunggu kedatangan Bram sambil bercakap-cakap seputar rencana gugatan cerai Chasina dan dampaknya bagi chasina dan mereka. Kemudian Kaliana menggunakan waktu menunggu dengan menyandarkan punggungnya, sejenak.


Tidak lama kemudian, sebuah motor trail berhenti tidak jauh dari mobil Kaliana. Seorang pria berpakaian gelap mendekati mobil mereka, lalu mengetok kaca jendela di samping sopir. Kaliana segera membuka pintu belakang, saat mendengar kode ketokan Bram (itu sering mereka lakukan saat Kaliana masih aktif bertugas).

__ADS_1


Mengetahui pintu mobil belakang yang dibuka, Bram segera mundur, lalu naik dan duduk di samping Kaliana. Dia segera melepaskan masker dan penutup kepalanya, saat melihat ada juga Danny.


Melihat Bram yang duduk di samping Kaliana, Danny mengangguk hormat. Dia tidak menyangka yang datang adalah sang penyidik. Karena penampilan Bram sangat berbeda saat mengenakan seragam dinas. Baju penyamaran Bram membuat dia terlihat sangat tampan dan keren.


"Kau belum pulang rumah?" Tanya Bram saat melihat Kaliana masih mengenakan pakaian yang sama, saat bertemu dengannya tadi.


"Belum... Ini baru selesai bertemu keluarga Bu Chasi. Beliau titip ini untukmu dan petugas lain yang mengamankan Bu Chasi." Ucap Kaliana lalu menyerahkan amplop coklat yang sudah dibungkus dengan plastik sampah berwarna hitam.


Bram tertegun saat menerima apa yang diberikan Kaliana. "Kau minta ini dari mereka?" Bram bertanya, tapi sedikit protes. Dia mengira Kaliana minta mereka membayar jasanya untuk memindahkan Chasina.


"Aku tidak minta... Tapi beliau menawarkan. Aku terima karena bukan kau saja yang akan mengamankan Bu Chasi... Anggap saja, ini rejekimu atas kebaikan yang kau lakukan." Kaliana menepuk pelan tangan Bram untuk menenangkannya.


"Kau harus ingat juga, bukan kau saja yang akan mengamankan beliau. Jadi kau berikan kopi juga untuk yang jaga di sana, saat kau tidak ada." Ucap Kaliana mengingatkan, agar Bram mau menerimanya dengan ikhlas.


Pak Yosa mengangkat tangan dari depan membentuk tanda ok, agar Bram menerima apa yang diberikan Kaliana. Tetapi Danny yang melihat kedekatan Bram dengan Kaliana, dia mengira mereka sepasang kekasih. 'Pantas Kaliana mendapat banyak bantuan darinya.' Itu yang ada dalam pikiran Danny.


"Mengapa kau tersenyum melihatku?" Tanya Bram kepada Putra yang sedang melihatnya dengan tersenyum. Putra segera menggelengkan kepalanya, karena melihat sinar lazer di mata Kaliana.


Padahal dia mau mengatakan; 'Aku tersenyum senang, karena akhirnya bisa bertemu dan melihat langsung 'negriku, bangsaku', tapi tidak bisa sebutkan 'rakyatku, merdekaaa...!' Ucap Putra dalam hati. Kaliana sudah mengerti arti senyuman Putra saat melihat Bram. Pasti dia sedang teringat ucapan Yicoe dan Novie tentang salam mereka.


...~°°°~...

__ADS_1


...~●○¤○●~...


__ADS_2