ROMANTIKA HIDUP

ROMANTIKA HIDUP
99. Panik 7.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Di sisi yang lain ; Papa Jaret terlambat tiba ke kantor, karena terlambat bangun. Semua diakibatkan pulang dini hari dari tempat penyimpanan semua isi safe deposit box nya. Sehingga pagi ini, terlambat melakukan sesuatu yang berhubungan dengan urusan kantor.


Tiba di kantor, Papa Jaret berjalan cepat menuju ruangannya, karena sudah dihubungi oleh sekretarisnya berulang kali. "Sebelum kau katakan sesuatu, buatkan saya minuman hangat dan beli sarapan untuk saya. Saya bangun kesiangan, jadi tidak sempat sarapan di rumah." Papa Jaret berkata cepat setelah berada di ruang kerja dan melihat sekretaris akan mengatakan sesuatu kepadanya.


Sekretaris mengangguk kuat lalu segera keluar ruangan untuk menyiapkan yang diperlukan pimpinannya. Dia sebenarnya, mau mengatakan apa yang sedang terjadi di kantor pagi ini. Ada desas desus yang senter dibicarakan tentang pimpinannya, tetapi tidak sampai hati mengatakannya, ketika mengetahui pimpinannya belum sarapan.


Papa Jaret langsung membuka laptop dan memeriksa pekerjaannya yang tertunda beberapa hari ini, karena sibuk mengurus kasus Jaret. Ketika sekretarisnya datang membawa sarapan, Papa Jaret segera sarapan sebelum melanjutkan pekerjaannya yang menumpuk.


"Kenapa kau masih berdiri di situ? Saya hanya perlu sarapan ini dan akan meneruskan pekerjaan yang tertunda. Kau sudah bisa tinggalkan saya, untuk kerjakan yang lain. Nanti saya panggil, jika memerlukan bantuanmu." Papa Jaret hampir selesai sarapan baru menyadari, sekretarisnya masih ada dalam ruangan bersamanya.


"Bapak habiskan dulu sarapannya, ada yang perlu saya sampaikan kepada bapak." Sekretaris berkata cepat, sambil membuka tangan kanannya untuk mempersilahkan Papa Jaret meneruskan sarapannya. Melihat keseriusan sekretaris dan masih tetap berdiri menunggunya, Papa Jaret segera menghabiskan sarapannya.


"Ada apa? Lekas katakan, karena semua dokumen itu belum saya periksa dan tanda tangani." Papa Jaret berkata cepat, sambil menunjuk tumpukan berkas di atas meja kerjanya, lalu berdiri dan berjalan ke kursi di balik meja kerjanya.


Sekretaris tidak mengatakan sesuatu, tetapi membereskan semua perangkat makan Papa Jaret lalu membawanya ke luar ruangan. Papa Jaret melihat punggung sekretarisnya dengan hati bertanya-tanya. 'Mengapa dia tidak mengatakan yang akan dikatakannya, tapi malah membereskan piring dan teman-temannya?'

__ADS_1


Papa Jaret menarik nafas panjang, untuk melegakan dadanya, karena melihat sikap sekretaris yang tidak biasa. Biasanya, dia akan mengatakan apa yang harus dikatakan, kemudian keluar membawa yang harus dibawa dari dalam ruangannya.


"Begini, Pak... Apakah bapak sudah melihat atau mendengar pembicaraan di media sosial pagi ini?" Sekretaris bertanya, setelah kembali menemui Papa Jaret dan berdiri di depannya.


"Belum... Saya sudah katakan tadi, saya bangun kesiangan. Di mobil, saya berusaha tidur, karena masih mengantuk. Jadi saya tidak pikirkan untuk mendengar atau membaca berita. Ada apa?" Papa Jaret meneggakan punggungnya, ketika mengingat kasus Jaret. 'Apakah sudah diberitakan?' Papa Jaret membatin, lalu mengeluarkan ponsel dari dalam tas kerjanya.


"Sebelum lihat sosmed bapak, saya mau berikan informasi dulu, agar bapak tidak terlalu terkejut. Sekarang ini, bapak sedang tranding setelah foto yang diposting oleh akun anonim jadi viral." Sekretaris memberikan informasi awal mula penyebab perbincangan yang sedang berlangsung di kantor.


"Foto apa dan mengapa jadi viral?" Papa Jaret segera membuka sosial media untuk memastikan. Pikirannya mulai berkelana dan panik tentang foto yang dimaksudkan sekretarisnya. 'Apakah kehidupan pribadi saya, tertangkap kamera oleh orang tertentu dan dipublikasikan?' Papa Jaret bertanya dalam hati yang sudah was-was.


Ketika melihat foto yang viral, Papa Jaret merasa sedikit lega. Bukan foto yang ada dalam pikirannya. Tetapi beliau mulai fokus mengikuti pemberitaan, hingga jadi tranding. "Mengapa foto seperti ini bisa jadi viral? Ini mereka dapatkan dari mana? Sedangkan semuanya tidak ada di akun sosial media kami." Papa Jaret bertanya karena heran dengan postingan foto viral yang membuat namanya tranding.


"Sabar, Pak. Pikirkan baik-baik. Apakah itu bukan foto real, tapi sengaja diedit untuk merusak nama baik bapak?" Tanya sekretaris tertegun, karena foto itu terlihat asli.


"Foto-foto itu tidak ada di akun sosmed kami. Mereka dapatkan dari mana dan berani mempostingnya tanpa ijin dari kami? Telpon pengacara saya untuk datang ke sini." Papa Jaret mulai marah dan berdiri dari kursinya.


"Sabar, Pak... Jangan pikirkan tuntut menuntut dulu, Pak. Kalau benar itu foto asli, bapak harus hati-hati. Yang memposting foto itu, akun anonim yang tidak bisa dilacak. Akan buang waktu dan energi untuk melacaknya. Yang harus dipikirkan itu, dampak dari postingannya. Karena ini bukan perbuatan orang iseng, Pak. Akun ini dipercaya publik tentang kebenaran informasinya yang akurat." Sekretaris berkata cepat dan panjang, agar pimpinanannya tidak gegabah mengambil keputusan.

__ADS_1


Papa Jaret terduduk di kursi sambil memijit pelipisnya yang mulai berdenyut, ketika mendengar penjelasan sekretarisnya. Beliau makin panik, karena foto-foto yang diposting adalah asli, bukan editan.


"Bagaimana cara menghentikan berita ini dan orang yang mempostingnya?" Papa Jaret bertanya, tapi tangannya tidak lepas dari pelipisnya yang makin berdenyut.


"Mungkin bapak bisa klarifikasi kebenaran berita itu dengan mengatakan, semua yang dikenakan bapak dan ibu itu 'KW', bukan barang asli. Jadi sesuai dengan penghasilan bapak." Sekretaris memberi saran yang mungkin bisa menyelamatkan pimpinannya. Padahal dia tahu yang sebenarnya, mengingat apa yang dilakukan pimpinannya di bank.


"Tapi jika bapak dan ibu posting banyak foto seperti itu di akun sosial media sebelum ini, tidak usah klarifikasi, Pak. Percuma.... Itu bapak bisa lihat keterangan akun anonim di bawa foto-foto itu. 'Next'. Berarti mereka memiliki foto yang lain lagi." Papa Jaret yang tadinya agak lega dengan solusi yang disarankan sekretaris, kembali panik mendengar apa yang dikatakan sekretarisnya lagi.


Papa Jaret sangat panik, mengingat foto flexing istri dan dirinya di akun sosial media yang begitu banyak. 'Ternyata diam-diam ada yang memantau kehidupan sosial kami. Jadi setiap postingan telah diambil tanpa sepengetahuan kami. Apa maksud dari orang ini?' Papa Jaret terus berpikir sambil memijit pelipisnya yang makin berdenyut.


Jadi percuma juga, kemarin meminta istrinya untuk menghapus postingan flexing mereka. Itu yang ada dalam pikiran Papa Jaret. 'Tetapi jika tidak dihapus, mungkin sekarang sudah terang benderang.' Papa Jaret berkata-kata sendiri dalam hatinya.


'Semoga tidak terjadi sesuatu di kantor ini, berhubungan dengan berita viral ini. Semoga mereka hanya tahu tentang foto-foto itu saja. Aku harus mencari cara untuk membungkam orang yang memposting foto-foto ini. Jika tidak, tamatlah karier dan hidupku.' Papa Jaret terus berpikir dan berkata-kata sendiri dengan dirinya.


Sekretaris jadi bingung melihat pimpinannya hanya diam sambil memijit pelipisnya. Padahal dia tahu suasana kantor sejak pagi tidak kondusif. Terjadi perbincangan di mana-mana tentang flexing pimpinannya.


"Pak, suasana kantor mulai tidak baik sejak pagi, setelah foto bapak viral dan nama bapak jadi tranding. Saya belum menjawab apa pun tentang semua desas desus yang ditanyakan tentang bapak. Jika ini terus berlanjut, bapak harus bersiap-siap untuk dipanggil..." Sekretaris tidak melanjutkan ucapannya, tapi jari jempolnya menunjuk ke atas, sebagai isyarat pada pimpinan tertinggi departemen.

__ADS_1


...~°°°~...


...~●○¤○●~...


__ADS_2