
...~•Happy Reading•~...
Pak Yosa menganguk mengerti maksud Kaliana. Beliau berharap, Bram tidak mengalami kesulitan atas tindakannya yang cepat mengambil keputusan. Begitu juga dengan harapan Kaliana, agar Bram bisa fokus menyelesaikan kasus yang sedang ditanganinya dan tidak membawa resiko buruk kepada karier dan dirinya.
"Putra, tolong lihat 'nomor batok B'. Apakah tetap berada di lokasi yang sama, atau sudah berpindah posisi?" Kaliana meminta Putra memantau nomor batok yang satu lagi, agar bisa mengetahui interaksi nomor tersebut dengan nomor lain atau sedang pindah lokasi.
Putra melakukan apa yang diminta Kaliana dengan cepat, agar mereka bisa beristirahat. "Nomor batok B tidak aktif, Mba'. Apakah terus dipantau juga bersama nomor Pak Bram?" Tanya Putra yang masih melihat pergerakan nomor 'batok A' bersama Bram.
"Tidak usah. Mungkin malam ini Pak Bram tidak akan hubungi kita, karena sedang sibuk menyelidiki ponsel yang baru disitanya. Jadi mari kita istirahat, agar besok bisa bangun pagi-pagi dan tunggu kabar dari beliau." Kaliana berkata cepat setelah memikirkan keterangan Putra. Dia berpikir, Bram mungkin sedang bekerja dan berpikir mereka sudah tidur. Jadi tidak akan menghubunginya dan Kaliana tidak mau menghubungi Bram, agar dia tidak berpikir sedang dipantau.
"Untuk aktivitas besok, kita tunggu dari Pak Bram. Sedangkan Pak Yosa, akan menyelidiki nomor 'batok B', setelah Putra mengetahui lokasi tepatnya." Kaliana berkata setelah memikirkan apa yang akan dilakukan besok hari. Karena mereka selalu mendiskusikan kegiatan untuk dikerjakan di esok hari, sebelum tidur.
"Baik... Nanti besok kita lihat, aku kerjakan yang mana terlebih dulu, karena aku akan keluar dengan Pak Danny." Pak Yosa berkata pelan, lalu berdiri mengikuti anggota team yang sudah berdiri, kecuali Putra.
Pak Yosa hanya mengingatkan Kaliana akan pembicaraan sebelumnya dengan Danny. Agar bisa diatur dengan baik oleh Kaliana. Apa yang sudah dibicarakan dan diputuskan bersama Danny, jangan sampai terabaikan karena kondisi Bram yang sedang menangani kasus baru.
"Iya, Pak Yosa. Terima kasih sudah ingatkan. Kita tidak usah bicarakan apa yang sedang dilakukan Pak Bram dengan Pak Danny. Biarkan Pak Danny konsentrasi menangani kasus Bu Chasina dan Pak Marons yang akan disidangkan." Kaliana berkata cepat setelah diingatkan oleh Pak Yosa tentang rencana yang akan dilakukan oleh Danny dan Pak Yosa di esok hari.
__ADS_1
"Selain itu juga, kita belum tau apa yang sedang dilakukan Pak Bram akan bergulir ke mana. Apa masih terkait dengan kasus yang sedang kita tangani, atau kita hanya sebagai pendukung Pak Bram saja." Kaliana telah berpikir, mungkin saja, apa yang ditangani Bram tidak berkaitan dengan kasus yang sedang mereka tangani. Tetapi dia harus menepati janjinya kepada Bram, bahwa team sopape akan membantunya.
"Iyaa... Tergantung siapa pemilik ponsel nomor 'batok A' yang dijumpai Pak Bram di sel tahanan. Jika itu milik Pak Jaret, kita akan bekerja sangat keras setelah ini." Novie berkata tiba-tiba sebelum keluar dari ruang kerja. Apa yang dikatakan Novie membuat semua orang melihatnya dengan wajah terkejut.
"Aku baru pikirkan itu barusan, setelah mendengar yang Mba' Anna katakan tadi." Novie berkata lagi, sambil mengangkat jarinya, tanda peace, setelah melihat semua orang hendak protes untuk apa yang dikatakannya. Wajah mereka semua seakan mau katakan: 'Mengapa baru katakan itu, sekarang.' Itu ada dalam pikiran Novie, sehingga mengangkat kedua jarinya.
"Astagaaa... Mengapa itu tidak terpikirkan oleh kita? Bukankah Pak Jaret sedang ditahan di sel tahanan bagian narkotika? Aku setuju dengan Novie. Jika benar itu milik Pak Jaret, kita akan kerja keras untuk membuktikan apa yang diperoleh Putra di dunia maya adalah sebenarnya terjadi di dunia nyata." Yicoe berkata cepat dan kembali duduk. Begitu juga dengan yang lain kembali duduk, sambil berpikir dalam diam tentang kemungkinan terbaru yang baru terpikirkan.
"Jika itu benar, maka sekarang kita harus istirahat. Kemungkinan besok akan ada kejutan yang membuat kita harus bekerja ekstra. Kau juga Putra, istirahat. Besok kau akan sangat diperlukan, sebelum kita lakukan sesuatu dan setelah dihubungi Pak Bram." Kaliana berkata cepat, setelah mereka semua duduk memikirkan perkembangan yang baru terpikirkan.
Semuanya mengangguk mengerti, lalu berdiri lagi dan berjalan keluar dari ruang kerja. Begitu juga dengan Putra yang tidak jadi begadang, mengingat yang dikatakan Kaliana padanya.
~°°°~ ~°°°~ ~°°°~
Di sisi yang lain ; Seperti yang dipikirkan Kaliana, Bram tidak jadi menghubunginya setelah melihat isi ponsel Jaret dan jam dinding dalam ruang kerjanya. Dia berpikir, Kaliana dan teamnya mungkin sudah tidur. Jadi dia mengurungkan niatnya, lalu meneruskan penyelidikan. Dia bekerja cepat mengamankan semua yang ditemukan di ruangan sel Jaret untuk jadi bukti tambahanm, sebelum terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Bram memanggil Erfan untuk masuk ke ruangannya. "Erfan... Apa yang terjadi di sel tahanan jangan kau bicarakan dengan yang lain. Kita tunggu besok dan lihat apa yang terjadi, baru dibicarakan." Bram berkata kepada Erfan yang sudah masuk ke ruangannya dan memberi hormat.
__ADS_1
"Siap, Pak...!" Petugas Erfan mengerti yang dikatakan pimpinannya.
"Sekarang kau boleh keluar dan pulang. Katakan itu juga buat yang lain, agar segera pulang." Bram berkata lagi dengan tegas, memberi perintah.
"Siap, Pak...! Petugas Erfan memberi hormat lalu keluar dari ruangan Bram.
Bram meminta semua anggotanya untuk pulang, termasuk Erfan. Setelah berpesan padanya untuk tidak bicarakan apa yang baru saja yang mereka lakukan di sel tahanan. Agar tidak terjadi keributan sebelum dia mengamankan semua yang ditemukan di sel Jaret.
Sedangkan Parikus, sudah tidak ada di meja kerjanya, saat dia bersama Erfan kembali dari ruang tahanan. Bram makin penasaran dengan peran Parikus, karena menemukan hanya tiga nomor telpon dalam ponsel Jaret. Salah satunya adalah nomor telpon Parikus yang disimpan dengan nama 'rikusP'.
Sedangkan nomor yang satunya adalah nomor yang disimpan dengan nama 'jamuGd'. Bram yakin ini nomor 'batok B' yang dimaksudkan Putra. Karena dia mengingat apa yang dikatakan Kaliana, nomor 'batok A' intens berhubungan dengan nomor 'batok B'. Sedangkan nomor yang satunya adalah milik Jaret sendiri.
Bram jadi penasaran dengan orang yang bernama 'jamuGd'. Siapa sebenarnya dan apa hubungannya dengan Jaret. Mengapa dia dan Parikus sangat penting, sehingga Jaret hanya menyimpan kedua nomor tersebut.
Bram tidak mungkin kembali ke sel tahanan untuk menanyakan Jaret tentang hubungan mereka. Dia yakin tidak akan dapat apapun dari Jaret untuk hal itu. Jadi dia berharap akan dibantu oleh Putra untuk melacak nomor tersebut.
Ketika berada di tempat parkir, Bram merasa ada yang mengawasinya. Dia tidak jadi ke tempat parkir mobilnya, tapi segera ke tempat parkir motor trail miliknya yang sengaja parkir jauh dari mobil dinas. Dia jadi sangat waspada, karena dia belum bisa prediksi, berapa orang yang akan dihadapinya.
__ADS_1
...~°°°~...
...~●○¤○●...