ROMANTIKA HIDUP

ROMANTIKA HIDUP
78. Canser (Canda tapi Serius) 2.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Danny sontak melihat ke arah Marons dengan cemas. Apa yang belum lama mereka bicarakan di ruang keluarga, kini terjadi di depan mereka. Marons mendengar sendiri kedekatan Kaliana dengan Bram. Kini Danny tahu, Marons bukan saja akan ditikung oleh Bryan, tetapi juga oleh Bram.


Bagi Danny, Bryan masih berupa sikap dalam bentuk perhatian. Tetapi Bram sudah langsung dalam ucapan, walau dibungkus dengan candaan. Danny jadi mengerti apa yang dikatakan Marons, mungkin saja Bram memiliki perasaan khusus kepada Kaliana.


Danny terkejut melihat Marons sangat tenang, bahkan ada senyum tipis di wajahnya. 'Apakah Marons tahu sesuatu atau begitu percaya diri, sehingga menganggap itu bukan sesuatu yang perlu dipikirkan atau dipersoalkan?' Tanya Danny dalam hati. Dia tidak mengerti dengan sikap Marons dalam menghadapi hal ini.


Tanpa diketahui oleh siapapun dalam ruangan itu, Marons memperhatikan dan menyimak pembicaraan Kaliana dan Bram. Bagi Marons, percakapan Bram dan Kaliana tersirat banyak hal. Tidak bisa dipungkiri, ada kasih sayang dan saling perhatian di antara mereka. Tapi sebagaimana dia meminta Kaliana percaya padanya, dia pun mengingatkan dirinya untuk percaya pada setiap keputusan Kaliana.


Sehingga dia bisa tersenyum mendengar ucapan Bram yang dianggapnya candaan sebagai teman dekat seprofesi. Mungkin saja yang dikhawatirkan Kaliana ada benarnya tentang kondisi Bram. Mungkin juga Bram sedang menutupi sesuatu dari Kaliana untuk melindunginya. Berbagai kemungkinan ada dalam pikiran Marons.


Melihat Kaliana sedang menutup mulutnya dengan tangan untuk memahan tawanya, itu adalah hal lumrah. Akan jadi aneh jika dia tidak tertawa mendengar yang dikatakan Bram. Sedangkan semua anggotanya juga melakukan hal yang sama. Termasuk dirinya juga ikut tersenyum mendengar candaan Bram. Kaliana tetap menjadi dirinya. Tidak berusaha untuk menutupi sesuatu darinya.


📱"Aku sudah duduk manis dan belum lapar, jadi salahmu sendiri belum makan. Cepat katakan, supaya bisa pergi cari makan." Kaliana berkata serius, setelah bisa mengendalikan tawanya. Walaupun dia ucapkan itu dengan wajah tersenyum.

__ADS_1


📱"Siaap...! Aku masih di Jakarta. Aku dimutasi ke satuan Narkotika. Aku..." Bram tidak meneruskan ucapannya karena dipotong oleh Kaliana yang terkejut mendengar jawabannya.


📱"Whattt...?! Kau sedang bercanda bukan?" Kaliana benar-benar terkejut, karena tidak menyangka akan hal itu. Dia sontak berdiri, seakan tidak percaya dengan yang didengarnya. Bram tidak mendapat balak, malah dimutasikan ke tempat yang sangat dihindari oleh mereka saat bertugas dulu.


📱"Lebih baik kau duduk dan dengar yang aku katakan sampai selesai. Aku bisa lupa apa yang kau tanyakan. Nanti habis waktu untuk tanya pertanyaanmu lagi." Bram yakin Kaliana pasti sedang berdiri seperti kebiasaannya jika dengar sesuatu di luar perkiraannya. Kaliana kembali duduk sambil menekan kedua tangannya ke bawah untuk menurunkan emosinya.


Semua orang dalam ruangan jadi fokus dengan percakapan Kaliana dan Bram, karena penasaran. Mereka ingin tahu kebenarannya, terutama Pak Yosa dan Marons. Begitu juga dengan Danny, pikirannya jadi ke segala arah. 'Jika Pak Bram sudah pindah, bagaimana nasib Chasina?' Itu yang ada dalam pikirannya.


📱"Aku baru saja di mutasikan oleh 'Bintang' ke sini. Katanya ini reward untukku, karena sudah menangkap Jaret. Jadi aku sibuk menjalani prosesnya belakangan ini dan juga harus menyesuaikan diri dengan kondisi yang baru." Bram mulai menjelaskan dengan serius. Kaliana makin yakin, Bram tidak sedang bercanda.


📱"Whaattt...? Reward...? Mereka sedang membuangmu ke sana, karena penangkapan itu. Sekarang kau benar-benar di sarang para nyamuk yang haus darah." Kaliana jadi emosi dan berkata dengan marah. Dia sangat khawatir Bram ditempatkan di bagian narkotika. 'Pantas dia minta Pak Yosa membantunya.' Kaliana berkata dalam hati, menginggat permintaan Bram sebelumnya.


📱"Iyaa... Tidak ada judul pun, kau telah disingkirkan dengan sengaja. Entah marah, sakit hati atau iri hati dengan kinerjamu. Atau mungkin merasa terganggu, dengan manuvermu yang telah menyeret Jaret ke Kejaksaan." Kaliana berkata dengan kesal. Bram diam mendengar apa yang dikatakan Kaliana yang sedang emosi.


📱"Mungkin juga mereka khawatir, jika kau tetap di situ, asupan nutrisi mereka terhambat. Karena kau tidak membiarkan orang salurkan nutrisi ke kantong mereka." Kaliana berkata serius, karena dia tahu Bram tidak mau menerima uang yang tidak jelas peruntukannya.

__ADS_1


📱"Atau yang diatas takut kau akan menyalip mereka dengan prestasimu, sehingga mereka bisa tertinggal atau kinerja mereka akan dipertanyakan." Kaliana berkata serius setelah berpikir cepat tentang proses mutasi Bram yang tiba-tiba setelah dia melakukan tangkapan besar dan jadi pusat perhatian publik.


📱"Itu juga yang aku pikirkan, saat mendengar keputusan 'Bintang'. Tapi dalam posisiku, harus terima dan laksanakan. Maka jadilah sekarang aku berhadapan dengan para pengedar dan juga bandar." Bram membenarkan apa yang dipikirkan Kaliana. Karena dia juga berpikiran sama dengannya. Terlalu tiba-tiba setelah dia menyerahkan kasus Jaret ke Kejaksaan.


📱"Iyaa... Pasti semua sudah diatur dan diputuskan bersama, dengan tempat yang baru. Kau harus ekstra waspada, karena itu tempat yang sangat menggoda dalam banyak hal. Selain tangkapan, barang sitaan, banyak nyamuk sangar di situ, yang tidak bisa fokus pada pekerjaan." Kaliana berkata demikian, karena kebanyakan para petugas di sana tidak bisa diprediksi wataknya. Kadang sering error setelah ada barang sitaan yang mereka coba.


📱"Iyaaa... Makanya aku minta bantuan Pak Yosa pada saat-saat tertentu, jika ada yang mau ditangkap. Aku ngga bisa minta bantuan Raka, walaupun dia minta ikut. Aku tidak ijinkan dia ke tempat gelap seperti ini. Bisa-bisa dia tergoda atau digoda oleh sesama petugas, hingga masa depan kariernya akan mati di sini." Bram menjelaskan lagi, mengapa Raka tidak bisa ikut dengannya. Walau pun dia dengan senang hati mau ikut bersamanya.


Kaliana mendengar penjelasan Bram sambil berpikir. Situasi yang tidak terduga ini, membuat dia harus berpikir cepat agar bisa mengambil keputusan. Bukan saja karier Bram akan mati di sana, tetapi Bram juga bisa mati di sana jika tidak berhati-hati. Barang sitaan sangat menggoda, sehingga Bram bisa dijebak dari berbagai arah. Ujung-ujungnya dia bisa dipenjara karena persaingan atau perebutan posisi untuk bisa dapat barang sitaan.


📱"Sama denganmu juga. Jika kau tidak hati-hati dan mencoba hasil sitaan, kau akan seperti ikan cupa*g berenang di salah air." Kaliana berkata serius, karena dia pernah melihat para petugas salah ambil keputusan, karena pernah coba cicipi narkoba yang disita oleh mereka. Sehingga tidak fokus dengan pekerjaan dan sering ngawur.


📱"Bukan cuma salah air, tapi juga salah makan. Jadinya, mati lupa kejang." Bram berkata sambil tersenyum mendengar ucapan Kaliana dan dirinya membahasakan para petugas yang pernah gunakan narkoba.


📱"Lupakan para cupa*g itu dan tidak usah khawatir, soal pekerjaan yang sekarang. Dengan pekerjaan dan banyak kasus yang kau tangani di bagian sebelumnya, kau bisa atasi pekerjaan di situ." Kaliana coba menyemangati Bram, agar bisa fokus menjalani tugas yang baru. Pak Yosa yang mendengar ucapan Kaliana, mengangkat kedua jempolnya, tanda menyetujui apa yang dikatakan Kaliana.

__ADS_1


...~°°°~...


...~●○¤○●~...


__ADS_2