
...~•Happy Reading•~...
Hakim Alvian terus melihat Danny, sambil memikirkan permintaannya dengan serius. Pihak terkait yang memeriksa harta kekayaan Jaret belum bisa memberikan kepastian kepada pihak pengadilan negeri untuk memutuskan perkara gugatan cerai Chasina. Oleh sebab itu, hakim Alvian belum bisa berikan keputusan waktu persidangan kapada penggugat dan tergugat.
Hal itu membuat hakim Alvian memikirkan lagi permintaan Danny. Permintaannya merupakan solusi lebih mudah untuk memutuskan perkara gugatan cerai yang diajukan, tanpa harus menunggu sesuatu yang belum pasti.
"Kalau client Pak Danny mau seperti itu, saya akan bicarakan lagi dengan rekan yang lain. Pak Danny tunggu pemberitahuan dari kami tiga hari ke depan." Hakim Alvian memutuskan setelah berpikir beberapa saat, agar ada waktu membicarakan dengan pihak terkait dan juga rekan hakim.
"Terima kasih, Pak. Dengan begitu, saya jadi bisa konsentrasi untuk kasus lain yang akan segera disidangkan." Danny berkata dengan hati senang dan hormat. Ketika ditanya tentang kasus lain, selain kasus gugatan cerai yang ditanganinya, Danny menjelaskan kasus yang akan ditanganinya dalam waktu dekat, kepada hakim Alvian.
Danny masih berbicara beberapa waktu dengan hakim Alvian. Selain membicarakan berbagai kasus hukum, mereka juga bicara tentang Sisilia, istri hakim, teman Danny. Hakim Alvian menceritakan kondisi Sisilia, saat Danny menanyakan kabarnya. Kemudian mereka berpisah, karena hakim Alvian akan memimpin persidangan.
Danny menunggu di ruang tunggu kantor pengadilan negeri seperti yang diminta oleh Pak Yosa, sambil berbicara dengan team sopape yang sedang memantaunya. Dia mencari tempat duduk yang tidak menyolok, tapi bisa melihat situasi sekitar dan mendiskusikan apa yang dikatakan hakim Alvian.
~°°°~ ~°°°~ ~°°°~
Di sisi yang lain ; Pak Yosa telah tiba di tempat parkir hotel tempat Bram menginap. Beliau tidak langsung turun dari mobil, tapi masih memantau sekitar tempat parkir.
"Pak Yosa, nyalakan kameranya, agar kami bisa bantu lihat situasi hotel. Mungkin ada yang mencurigakan." Kaliana berkata cepat, saat Pak Yosa mengatakan sudah tiba di hotel dan hendak turun dari mobil.
Pak Yosa melakukan yang diminta Kaliana, lalu turun dari mobil. Walau pun tau, Bram sudah mengantisipasi berbagai kemungkinan, Pak Yosa tetap waspada. Ketika sampai di lobby dan hendak menuju kamar Bram, Pak Yosa tersenyum sendiri sambil gelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Coe, untung kau booking kamar Pak Bram di lantai 3. Kalau di lantai 10, bukannya aku yang bantu Pak Bram, tapi Pak Bram yang akan bantu bawa aku ke rumah sakit. Atau sampai di kamar Pak Bram, sudah waktu makan siang." Pak Yosa berkata pelan sambil tersenyum, lalu memutar cari tangga darurat untuk naik ke kamar Bram.
^^^Bram tidak bisa dihubungi untuk turun menjemputnya. Pak Yosa juga, tidak mau meminta tolong pada karyawan hotel untuk membantunya naik lift. Agar tidak panjang urusannya dan harus menjawab banyak pertanyaan dari pihak hotel.^^^
"Hahahaha.... Sekalian uji coba ketahanan Pak Yosa. Percuma tiap pagi latihan turun naik tangga di rumah Pak Marons." Yicoe menjawab Pak Yosa sambil tertawa. Begitu juga dengan anggota team sopape yang lain, jadi tertawa mendengar apa yang dikatakan Pak Yosa.
"Semangat Pak Yosa. Masa kalah sama aku?" Putra menimpali sambil tertawa, membuat anggota team yang lain dan Danny ikut tertawa.
"Sudah pasti aku kalah dengan matamu. Kalau soal turun naik tangga, sudah diuji. Kau ngos-ngosan di ujung tangga. Sudaaaa.... Aku mau ketok kamar Pak Bram." Ucap Pak Yosa yang sudah tiba di lantai 3, menuju nomor kamar Bram. Semua anggota team sopape dan Danny terdiam.
Pak Yosa mengetok pintu sesuai kode berkali-kali, baru terdengar suara di kamar Bram. "Maaf, Pak. Aku tertidur. Rasanya, aku seperti jatuh dari pohon, saat dengar ketokan Pak Yosa." Bram yang kaget bangun lalu membuka pintu untuk Pak Yosa.
^^^Melihat kondisi Bram, Pak Yosa sontak mendorongnya masuk ke dalam kamar, tetapi terlambat. Kaliana dan anggota team yang lain sudah terlanjur melihat tubuh Bram yang bertelanjang dada dan hanya memeggang handuk di pinggangnya.^^^
"Sudaaa... Matiin dulu kameranya. Aku juga lupa ingatin Pak Yosa." Kaliana berkata kepada Putra untuk konsentrasi dengan yang sedang dikerjakan.
Novie dan Yicoe hanya bisa terdiam dan tersenyum sambil menutup mulut dengan kedua tangannya. Kaliana hanya bisa menggelengkan kepala, lalu mengetuk meja untuk memanggil konsentrasi Yicoe dan Novie yang sedang terkesima dengan apa yang baru mereka lihat.
Ternyata tubuh Bram sangat atletis, tidak seperti polisi pada umumnya yang berlemak. "Mata dan pikiran kalian harus dicuci dengan sabun colek. Ayoo, kerjaaa..." Kaliana berkata sambil memberikan kode, mereka sedang didengar juga oleh Danny.
"Maaf, Pak Yosa. Tadi buru-buru dan jalan sangat cepat, jadi pakaian pada basah." Bram menjelaskan sambil mengambil pakaian yang dibawa oleh Pak Yosa. Ketika Bram melepasksn handuk di dalam kamar, Pak Yosa jadi tersenyum dalam hati, mengingat anggota team sopape.
__ADS_1
'Untung sudah dimatiin kameranya. Kalau tidak, Putra akan punya bahan untuk ledekin ketiga kakak wanitanya.' Pak Yosa ngebatin sambil tersenyum.
"Ganti di kamar mandi sanaaa... Kau mau pamer bodymu padaku?" Tanya Pak Yosa untuk ledekin anggota team sopape yang sedang mendengar percakapan mereka. Yicoe dan Novie kembali menutup mulut dengan kedua tangan.
"Sesama kaum, amanlah... Aku sudah mandi, tapi belum ganti baju. Dan juga, body mana yang mau dipamerin, Pak? Ini isinya angin semua." Bram berkata sambil menepuk otot lengannya, sambil tersenyum lalu memakai T-shirt dan celana training Pak Yosa.
"Atau Pak Yosa bawa cctv?" Tanya Bram menebak, dan kembali tersenyum tanpa curiga. Kaliana dan teamnya makin menutup mulut dengan tangan, agar tawa mereka tidak didengar Bram.
"Sanaaa, makan... Sebelum aku tusuk otot anginmu, hingga kempes." Pak Yosa berkata sambil mengibas tangannya, lalu tertawa melihat Bram refleks memegang otot lengannya.
"Pak Yosa bawa makanan juga?" Tanya Bram dengan wajah tersenyum dan hati senang.
"Ituuu, disiapin sama gadis-gadis di rumah. Mereka khawatir kau pingsan, dan tidak bisa bangun untuk bertarung." Pak Yosa berkata untuk ledekin Bram yang langsung mengambil paper bag berisi makanan yang ditunjuk Pak Yosa.
"Pantesan Pak Yosa awet muda, karena dikelilingi para gadis cantik dan baik hati." Bram berkata dengan hati bersyukur, Kaliana dan anggota team nya bisa memikirkan perutnya yang lagi kosong.
"Yang awet muda, mataku, karena melihat wajah mereka tiap hari. Kalau hatiku, bisa lekas aus. Karena melihat tingkah mereka, apa lagi sedang bekerja di lapangan dan bertarung. Mereka lupa, kalau mereka itu para gadis." Pak Yosa jadi curhat kepada Bram, tentang kecemasannya terhadap Kaliana, Yicoe dan Novie.
Ketiga gadis di ruang kerja, sontak mengajukan tinjunya ke depan seakan-akan sedang meninju Pak Yosa. Hal itu membuat Putra cekikan, dan Pak Yosa berdehem, karena mengerti arti tawa Putra.
...~°°°~...
__ADS_1
...~●○¤○●~...