
...~•Happy Reading•~...
Penyidik Arif mengangguk mengerti maksud Kaliana dengan kata-katanya. Dia sudah terbiasa mendengar itu, saat berbicara dengan Bram tentang penyelidikan mereka. Bram suka menyebut berbagai situasi dengan kata kiasan yang kurang dimengerti oleh orang tertentu.
"Itu mengenai alamat rumah. Apa pihak Kejaksaan memiliki alamat ini dalam daftar untuk digeledah?" Tanya Kaliana lagi sambil menunjuk alamat tempat di lantai dasar apartemen.
"Tidak ada... Jika ada, pasti saya tau. Apalagi ini adalah apartemen mewah, pasti saya ingat tempatnya." Penyidik Arif menjawab serius, sambil berpikir. Mereka tidak tahu banyak tentang harta kekayaan orang tua Jaret.
^^^'Apakah ada sesuatu dengan pihak penyidik atau Papa Jaret, sehingga itu semua tidak ada dalam laporan?' Penyidik Arif bertanya pada dirinya sendiri.^^^
"Bisa jadi, pihak Kejaksaan tidak tahu ini, karena hanya fokus pada harta kepemilikan orang tua Jaret. Kembali, nanti Mas Arif periksa daftar kekayaan Jaret dalam bentuk property yang ada pada PPATK. Pasti pihak Kejaksaan akan menemukan daftar nama-nama ini." Kaliana berkata sambil menunjuk daftar yang ada di tangannya yang dibuat team sopape.
^^^Kembali Arif memeriksa dan meneliti lembaran yang diberikan Kaliana sambil diterangi oleh Bram yang ikut melihat juga apa yang diberikan Kaliana.^^^
"Jika tidak ada dalam daftar kekayaan Jaret yang diberikan oleh pihak PPATK, Mas tolong cek pihak pengelolah apartemen. Siapa pemilik tempat laundry di lantai dasar apartemen ini." Kaliana berkata sambil menunjuk lembaran kertas yang ada di tangan Arif.
"Sama halnya dengan 3 unit apartemen mewah di sini. Ini nama ke 3 unitnya. Mas bisa cek, sekalian. Hasil penyelidikan kami, semua ini atas nama Jaret. Semoga belum dibalik nama atau dijual oleh orang tua Jaret." Kaliana berkata lagi dengan serius.
^^^Penyidik Arif dan Bram terus memeriksa semua lembaran yang dibelikan Kaliana dengan cermat dan teliti. Jika ada yang kurang jelas, mereka langsung menanyakan kepada Kaliana.^^^
"Oleh sebab itu, tadi saya bilang. Jangan biarkan orang tua Jaret berakrobatik dengan semua ini. Kami yakin Jaret tidak mungkin lakukan sesuatu untuk menyulap semua ini bisa berganti kepemilikan. Kecuali pihak kepolisian membiarkan Jaret jalan tol dari penjara ke tempat ini." Kaliana berkata sambil melirik Bram dan berharap Bram tidak tersinggung.
__ADS_1
"Jangan melihatku... Aku tidak punya wewenang untuk memberikan dia akses untuk masuk jalan tol." Bram berkata sambil melihat Kaliana, karena dia mengerti maksud lirikannya.
^^^Sontak Kaliana mengakat dua jarinya sebagai tanda peace. Bram jadi tersenyum melihat wajah Kaliana yang sedang melihatnya dengan wajah lucu.^^^
"Berarti sama juga dengan tabungan tadi, ya. Jaret mungkin tidak tau dengan property ini juga." Arif berkata pelan, setelah memikirkan keterangan Kaliana tanpa melihat interaksi Bram dan Kaliana.
"Dari perilaku Jaret yang menempel dan menikmati kekayaan istrinya, kami yakin dia tidak tahu memiliki semua ini, termasuk tabungan-tabungan itu. Jika dia tau, mungkin semuanya sudah berubah jadi sabu dan alat isap." Kaliana berkata lagi dengan serius, setelah memikirkan perilaku Jaret yang dia ketahui saat menyelidiki kematian Rallita.
"Jadi ini juga harta yang dibeli oleh orang tua Jaret atas nama anaknya dan anaknya tidak tau memiliki semua ini? Berarti orang tua Jaret memiliki dokumen pribadi Jaret dan bisa memalsukan tanda tangan anaknya." Penyidik Arif berkata sambil berpikir dan melihat ke arah Bram, Kaliana dan Pak Yosa
^^^Bram dan Pak Yosa yang hanya menyimak dari tadi jadi tersenyum melihat Arif sedang melihat mereka dengan serius, sambil berpikir tentang apa yang baru dikatakan Kaliana.^^^
"Rif, Rif... Welcome to the jungle." Bram berkata sambil tersenyum lebar, lalu menepuk pelan pundak Arif yang masih berpikir serius.
"Ada yang lebih sadis dari ini, ngga?" Tanya Arif setelah mencerna semua yang dikatakan Kaliana.
^^^Selama ini dia bertugas di balik meja dan memeriksa semua dokumen atau barang bukti yang ditemukan. Sekarang hampir setahun terakhir, dia dipercayakan untuk bekerja di lapangan, sehingga dia menghubungi Bram untuk bertemu dan berdiskusi tetang pekerjaan barunya.^^^
"Adaaa... Silahkan bongkar dan urai dengan benar dan teliti saja kasus yang beginian, Mas. Akan terlihat semua jenis cacing yang sudah terdeteksi, mau pun yang belum diberikan nama. Karena belum bisa dikategorikan ke jenis cacing pita atau cacing tanah." Kaliana berkata asal, karena melihat keseriusan Arif. Dia berusaha menurunkan tensi pembicaraan mereka.
^^^Pak Yosa dan Bram jadi tersenyum, tapi Arif menanggapi dengan serius. Dia menganggap, kalimat candaan Kaliana itu benar adanya.^^^
__ADS_1
"Bisa saja, setelah Kejaksaan eksekusi, ada banyak hewan berkaki dua muncul bersama cacing-cacing piaraan mereka." Kaliana meneruskan ucapannya dalam membahasakan para koruptor, karena emosi dan kesal.
"iyaa, Mba'. Melihat semua ini, nanti bisa terlihat banyak hewan kaki dua berdasi dan bersepatu." Arif berkata serius, lalu tersenyum mendengar ucapannya jadi mirip dengan Kaliana.
"Bisa sekali, Mas... Tapi kami mau batasi informasi hanya seputar orang tua Jaret saja." Kaliana berkata dengan tenang, karena itu adalah keputusan bersama team sopape
^^^Kaliana tidak mau team nya masuk terlalu dalam, karena mau lebih fokus pada kasus yang menjadi tanggung jawab mereka.^^^
"Waktu kita terbatas, dan Mas Arif juga dituntut untuk menyelesaikan kasus yang berhubungan dengan orang tua Jaret dalam waktu singkat. Kami akan bantu sebisanya kami." Kaliana berkata lagi, lalu mengambil kembali bundelan yang disiapkan Novie.
"Begini, Mas Arif. Ini kita berandai-andai. Tapi kami yakin dengan informasi yang kami peroleh sampai tadi sebelum berangkat ke sini. Jadi jika setelah ini, terjadi perubahan dan tidak seperti yang kami sampaikan malam ini, itu berarti orang tua Jaret punya jalur bawah tanah yang harus digali oleh pihak Kejaksaan." Kaliana berkata lagi, lalu dengan cepat mengambil lembaran informasi dari bundelan, sambil diterangi oleh Pak Yosa.
"Tadi saya katakan seandainya, yaa... Jika Mas Arif sudah selidiki dan memastikan alamat rumah itu milik Jaret, segera geledah. Ada petunjuk barang bukti yang bisa ditemukan di rumah itu untuk menjerat orang tua Jaret." Kaliana membuka lembaran sambil dibantu Pak Yosa dan di terangi oleh Bram.
"Kita abaikan nilai rumah ini. Nanti Mas bisa cek sendiri berapa harga rumah ini, sekarang. Nsmun rumah ini pun harus masuk dalam daftar kekayaan orang tua Jaret, karena harga rumah di lingkungan ini, sangat fantastik. Bukan jeti-jeti, tapi meli-meli." Kaliana berkata serius, agar pihak Kejaksaan tidak mengabaikan rumah yang berharga miliaran itu.
"Sebentar, Mba'... Jika kami bisa buktikan orang tua Jaret memalsukan data diri Jaret untuk membuat tabungan itu, berarti kita bisa buktikan rumah itu juga dibeli dengan memalsukan dokumen Jaret. Dengan demikian, kami sendiri akan memasukan rumah ini dalam daftar sitaan kekayaan orang tua Jaret. Apa lagi saat ini semua kepemilikan Jaret masih dibekukan." Penyidik Arif mengatakan apa yang sudah dipikirkan sejak tadi.
...~°°°~...
...~●○¤○●~...
__ADS_1