
...~•Happy Reading•~...
Ketika melihat tidak ada orang yang dicuragai, Yicoe mentowel lengan Novie. Agar mereka bisa berkonsentrasi dengan apa yang sedang mereka lakukan. Banyak hal yang harus mereka kerjakan dan sedang ditunggu di rumah.
"Hanya itu yang kuingat, Vie. Jadi jangan bertanya lagi, aku bingung jawabnya." Yicoe berkata sambil menarik tangan Novie ke tempat dia meletakan kantong berisi pakain yang sudah dipilih sebelum melihat ada wanita mencurigakan yang mau mencopet.
"Alhamdulillah...! Masih ada di tempatnya." Yicoe berkata dengan hati senang, saat melihat kantong berisi semua yang dipilihnya dari jauh masih ada di tempat dia letakan. Novie melihatnya dengan wajah tidak mengerti. Yicoe mentowel lengan Novie dan menunjuk tempat dia meletakan kantong belanjaan dengan wajahnya.
Novie mengangguk mengerti, lalu berjalan cepat ke tempat yang dimaksudkan Yicoe. Mereka membuka kantong belanjaan tersebut untuk memeriksa isinya. Setelah melihat semua yang dipilih masih ada dalam kantong belanjaan, Yicoe mengambil beberapa potong celana pendek lagi yang ada di dekat mereka untuk melengkapi semua pilihan sebelumnya. Kemudian mereka ke kasir terdekat untuk membayar.
"Coe, apa kalian sudah bertukar nopen (nomor ponsel)?" Novie bertanya serius, karena masih penasaran dengan cerita Yicoe dan pria yang telah disukai Yicoe. Menurutnya, cerita Yicoe itu belum selesai. Dia masih ingin tahu kelanjutannya dan berharap ada kelanjutannya.
"Astaga, Vie... Baru juga ketemu. Nama saja ngga tau, mau tukar-tukaran nopen. Kau ada-ada saja. Nanti dikira aku cewek gampangan. Mau-mauan saja, dirayu dengan tawaran gratis." Yicoe berkata sambil mengisi kantong belanjaan dengan potongan T-hirt terakhir yang diambilnya sambil lewat.
Kemudian bersama Novie menjinjing katong belanjaan ke kasir terdekat untuk melakukan transaksi. Setelah membayar, Yicoe memasukan struk belanjaan yang dilipat Novie dan ATM ke dalam tas kecil yang dipakai selempang di bahunya. Mereka tidak memakai rompi, jadi menggunakan tas kecil untuk mengisi dompet dan ponsel mereka.
"Katamu orangnya baik, mau traktir. Hatimu sudah bertalu-talu terhadapnya. Mau minta nopenmu, mengapa tidak kau berikan? Pikiranmu tidak bisa bergerak cepat merespon hatimu." Novie berkata dengan kesal, karena khawatir Yicoe kehilangan kesempatan bagus sesuai dengan hatinya.
__ADS_1
Yicoe melihat Novie dengan alis bertaut, karena belum mengerti arah maksud Novie. "Mengapa melihatku seperti itu? Siapa tahu orang itu jodohmu." Novie berkata serius, saat mendengar Yicoe tidak merespon pria berkacamata dengan memberi nomor telponnya.
"Astagfirullah... Dari mana kau tau dia jodohku? Kau jangan membuatku menyesal. Ayooo, kita pergi..., sebelum semua rencana kita berantakan." Yicoe berkata sambil menyenggol Novie dan menunjuk kantong belanjaan yang diberikan karyawan kepadanya.
Yicoe berusaha tidak menanggapi apa yang dikatakan Novie, karena memikirkan itu membuat ada rasa sesal di hatinya. Dia mengakui kebenaran yang dikatakan Novie karena tidak tahu lagi akan bertemu dengannya kapan dan dimana. Hati Yicoe jadi meredup saat memikirkan hal itu.
Novie menyenggol Yicoe yang sedikit oleng, sehingga katong belanjaan hampir terlepas dari tangannya. "Astagaaa... Konsen Coe, konsen... Aku bilang siapa tauuu... Jadi pasti ada yang tau. Kalau manusia tidak tau, ya, pasti Tuhan tau. Makanya tadi mungkin mengatur pertemuan kalian." Novie berkata pelan di telinga Yicoe, sambil menunjuk ke 'Atas'. Membuat Yicoe tertegun, tapi berusaha mengabaikan apa yang dikatakan Novie. Agar tidak menyesal telah membuang kesempatan.
"Sudahlah, Vie... Semuanya sudah terlanjur terjadi dan sudah lewat. Tidak mungkin kita berdua mengacak isi Mall ini untuk mencari pria berkacamata tadi, bukan?" Yicoe berkarkata pasrah. Dia sudah tidak mau memikirkannya lagi, karena berujung pada rasa sesal.
~°°°~ ~°°°~ ~°°°~
Sebelumnya, saat Yicoe keluar dari ruang keamanan, pria berkacamata ikut keluar dan berjalan pelan agar tidak diketahui oleh Yicoe. Dia sangat penasaran dengan wanita yang telah menarik perhatiannya. Oleh sebab itu, dia ingin mengetahui lebih jauh dengan mengamatinya.
Ketika melihat Yicoe menemui seorang wanita muda yang sedang berada di bagian pakaian dalam, hatinya makin yakin. Yicoe bukan wanita seperti yang dituduhkan oleh si wanita pencopet itu. Yicoe ada datang dengan teman, tapi bukan seperti wanita pencopet itu.
Ketika pria berkacamata melihat gerakan Novie menepis tangan Yicoe di dadanya, dia menarik kesimpulan bahwa mereka berdua bukan wanita pada umumnya. Dari kecepatan gerakan tangan yang diperagakan, mereka pasti menguasai ilmu bela diri. Itu yang ada dalam pikiran pria berkacamata, mengingat kecepatan gerak tangan Yicoe memegang tangannya yang hendak memegangnya, saat hendak ngucapin terima kasih.
__ADS_1
Dia terus melihat dan mengamati dalam diam dari tempat tersembunyi, terhalang dari pandangan. Sehingga Yicoe dan Novie tidak menyadari ada yang memperhatikan mereka. Pria berkacamata terus memperhatikan untuk memuaskan rasa penasaran terhadap Yicoe. Dia tidak mau mendekat, karena Yicoe akan berpikir lain atau berpikiran negatif padanya. Mengapa dia begitu ngotot untuk meminta nomor ponselnya.
Ketika melihat mereka akan mengambil pakaian dalam pria, terbesit dalam pikirannya. 'Apakah mereka sudah menikah?' Tetapi saat melihat mereka saling dorong, dia menarik kesimpulan, mungkin beli untuk saudara lelaki atau ayah mereka. 'Kalau sudah menikah, tidak mungkin mereka ragu-ragu melakukannya.' Pria berkacamata membantin.
Dia jadi tersenyum melihat cara berinteraksi Yicoe dan Novie. Mereka bukan bersaudara, bisa dilihat dari postur tubuh mereka yang berbeda juga dengan wajah. Tetapi kedekatan dan kasih sayang mereka lebih dekat dari pada saudara. Melihat cara mereka bercanda dan berinteraksi saja, sudah membuat hatinya menghangat.
Dia terus melihat apa yang dilakukan kedua wanita tersebut, karena sangat menarik perhatiannya. Saat melihat Yicoe mengambil kantong belanjaan di lantai, dekat tempat dompetnya di copet, dia bisa merangkai kisah yang tadi terjadi. Mengapa Yicoe bisa menolongnya dari wanita pencopet itu. 'Pasti dia bisa melihat tindakan pencopet itu dari tempatnya berdiri.' Pria berkacamata menarik kesimpulan dari apa yang dilihatnya.
Pria berkacamata melihat Yicoe membayar semua barang yang dibeli dengan ATM, makin melengkapi pengamatannya. Mereka memang datang untuk shoping dan sedang terburu-buru seperti yang dikatakan Yicoe. Itu bisa dilihat dari sikap mereka yang tidak melihat-lihat semua yang dipajang dalam Mall. Mereka hanya ke tempat tujuan, mengambil yang diperlukan dan langsung membayar tanpa melihat-lihat lagi.
Setelah melihat Yicoe dan Novie meninggalkan kasir menuju pintu keluar, pria berkacamata bernafas lega. Dia berjalan cepat ke arah pakaian dalam, T-shirt untuk mengambil keperluannya, lalu menuju kasir terdekat untuk membayar.
^^^~°°Tadinya, dia hanya mau membeli keperluan pribadi, tetapi dia berhenti sebentar untuk menerima telpon penting. Fokus dengan pembicaraan di telpon membuat dia tidak menyadari ada yang sudah mencopet dompetnya. Semua yang terjadi setelahnya, menahan langkahnya untuk membeli keperluan pribadi sesuai rencana. °°~^^^
Ketika mengingat lagi peristiwa yang dialaminya dalam hitungan menit. Bisa bertemu dengan wanita yang tidak diduganya, dia menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
'Wanita yang sangat menarik untuk kondisi sekarang ini. Tidak mau menerima ucapan terima kasih dengan ditraktir. Tidak mau bertukar nomor ponsel. Padahal aku sudah melakukannya dengan baik dan sopan. Jika kita berjodoh, pasti akan bertemu lagi. Insha Allah...' Pria berkacamata berkata dalam dalam hati, penuh harap.
__ADS_1
...~°°°~...
...~●○¤○●~...