
...~•Happy Reading•~...
Pak Adolfis mengingat putrinya dengan hati sedih. Chasina masih berbicara dengan tenang seperti biasanya. Hanya matanya yang terlihat merah dan sembab. Dia tidak menjelaskan penyebab dia melakukan yang dituduhkan, tetapi meminta untuk menyewa pengacara Pak Marons. Pak Adolfis makin mengerti yang dikatakan oleh Ayah Marons, bahwa sedang terjadi sesuatu, karena Chasina meminta hal yang sama dengan Marons.
Pak Adolfis langsung menyadari, apa yang dikatakan oleh Ayah Marons adalah benar. Bukan suatu basa-basi untuk menghibur atau menunjukan empati saja. Sehingga setelah berbicara dengan Chasina, Pak Adolfis segera menghubungi Marons.
📱"Oooh... Saya turut prihatin atas apa yang terjadi dengan Chasina, Pak. Saya baru tahu dari Ayah, kalau Chasina putri anda. Sebagaimana yang sudah Ayah sampaikan, saya menawarkan bantuan kepada Chasina. Jika Pak Adolfis setuju, pergunakan jasa pengacara dan juga detektif yang menolong saya." Marons langsung kepada inti maksudnya, agar pembicaraan mereka tidak melebar dan membaurkan maksudnya.
📱"Iya, Pak Marons. Ayah anda sudah katakan itu, dan membuat saya bingung dengan tawaran anda. Tapi saat mendengar permintaan Chasi yang sama, saya jadi berpikir tentang apa yang anda sampaikan." Pak Adolfis berkata serius, menunjukan keseriusannya kepada Marons.
📱"Iya, Psk. Walaupum ini terdengar aneh dan tidak masuk akal untuk meminta ini, saya hanya bisa katakan itu. Nanti perkara ini disidangkan, Pak Adolfis akan tau, kenapa saya menawarkan bantuan ini kepada Chasina. Padahal yang tewas, itu istri saya." Marons berusaha meyakinkan Pak Adolfis.
📱"Terima kasih Pak Marons. Saya sedang bingung apa yang terjadi. Mengapa putri saya yang berpendidikan dan rajin beribadah bisa lakukan hal seperti ini." Pak Adolfis mencurahkan apa yang dipikirkannya.
📱"Kalau yang itu, saya tidak bisa berkomentar, Pak Adolfis. Saya hanya mau katakan, seseorang melakukan sesuatu pasti ada banyak faktor penyebabnya. Lingkungan dan orang di sekitar, bisa mempengaruhi sikap dan perbuatan seseorang." Marons berkata serius, tanpa menyinggung Jaret, suami Chasina.
📱"Iya, Pak Marons. Kami berpikir dia sudah berkeluarga dan punya kesibukan sendiri, jadi kami tidak ikut campur. Sehingga hanya dalam waktu tertentu baru bertemu dan berbincang-bincang dengannya. Kami kira hidupnya baik-baik saja, karena tidak ada keluhan darinya." Pak Adolfis masih menyampaikan rasa sesalnya.
📱"Sekarang semua sudah terjadi, tidak ada gunanya sesali ini. Pak Marons bisa kirim nomor pengacara dan detektif yang direkomendasikan? Biar saya yang berbicara dengan mereka, karena Chasi memintanya begitu." Ucap Pak Adolfis lagi, karena menyadari rasa sesalnya tidak bisa menolong putrinya.
📱"Baik, Pak. Nanti setelah ini, saya kirim nomor mereka. Pak Adolfis yang kuat, agar Chasina juga kuat melewati ini. Tolong doakan juga, agar usaha kita semua, bisa menolong Chasina." Marons berkata pelan dan mengakhiri pembicaraan mereka setelah Pak Adolfis mengucapkan terima kasih.
__ADS_1
Marons segera hubungi Danny untuk memberitahukan rencana Pak Adolfis yang akan menghubunginya. Sekalian mengirim nomor Pak Adolfis, agar Danny bisa mengetahui siapa yang menghubunginya.
Tanpa diketahui Marons, Pak Adolfis malah menghubungi Kaliana terlebih dahulu. Menurut beliau, pengacara Marons sudah pasti akan menolong jika Marons yang meminta. Atau jika tidak bisa, mereka masih punya pengacara. Sedangkan detektif, lebih dibutuhkan saat ini untuk mencari bukti yang mungkin bisa meringankan Chasina.
Kaliana yang sedang berada di ruang keluarga, terkejut melihat ponsel untuk umum bergetar. Dia segera merespon, walau nomornya tidak dikenal. Karena dia tahu, mungkin itu menyangkut pekerjaannya sebagai detektif.
📱"Halloo, selamat malam. Ada yang bisa dibantu?" Tanya Kaliana saat merespon panggilan Pak Adolfis.
📱"Halloo, apa saya salah sambung? Saya mau berbicara dengan detektif Kalia." Pak Adolfis ragu-ragu saat mendengar suara wanita. Beliau berpikir itu nama detektif pria yang dikirim oleh Marons.
📱"Oooh... Saya sendiri, Pak. Saya Kaliana. Ini dengan siapa dan ada yang bisa kami bantu?" Tanya Kaliana lagi dengan percaya diri. Dia sudah terbiasa menghadapi orang yang terkejut saat menelpon dan mengetahuinya wanita.
📱"Oooh... Iya, Pak. Saya tahu." Kaliana hanya bisa katakan itu, karena merasa tidak enak dengan orang tua Chasina. Dialah yang menggelar kasusnya dan menemukan Chasina bersalah.
📱"Baik, Bu. Mungkin kita bisa bertemu, tapi sekarang saya katakan dulu. Kami mau menyewa jasa Ibu untuk menolong putri kami. Mungkin Ibu bisa menolong, agar dia tidak dihukum berat karena kesalahannya." Ucap Pak Adolfis pelan dan berharap.
📱"Begini, Pak Adolfis. Sebentar ya, Pak. Tidak usah ditutup." Kaliana berkata cepat melihat Marons memberikan kode dengan jarinya 'OK'. Setelah Kaliana berhenti telpon, Marons memberikan kode sambil berbicara tanpa suara. Marons katakan, terima, sambil memberikan tanda OK lagi.
📱"Halloo, Pak. Baik... Nanti setelah ini saya akan hubungi Pak Adolfis. Apakah Pak Adolfis sudah bertemu Ibu Chasina?" Tanya Kaliana, mengingat belum ada kabar dari Bram.
📱"Sudah Bu. Ini masih di depan kantor polisi. Terima kasih sudah mau menolong putri kami. Nanti setelah ini kita bertemu dengan pengacara kami." Ucap Pak Adolfis lagi, karena menyangkut perjanjian kerja dan berapa besar dana yang akan diberikan kepada Kaliana.
__ADS_1
📱"Baik, Pak. Terima kasih." Ucap Kaliana lalu mengakhiri pembicaraannya dengan Pak Adolfis.
"Kau yang berikan nomorku untuk Pak Adolfis?" Tanya Kaliana sambil melihat Marons dengan serius. Dia jadi teringat Marons tadi minta kartu namanya.
"Kalau tadi aku katakan mau berikan nomormu untuk Papa Chasina, apakah kau akan berikan?" Tanya Marons serius sambil berjalan mendekati Kaliana.
"Tidak. Aku hanya akan bantu Pak Danny, jika Bu Chasina memakai jasa Pak Danny sebagai pengacaranya." Ucap Kaliana serius. Dia hanya mau membantu Chasina, karena melihat apa yang dialami oleh Chasina dan juga medengar penuturannya saat GP.
"Saat melihatmu memeluknya setelah acara itu, aku tidak mengerti mengapa kau lakukan itu. Tetapi kemudian kau meminta Danny jadi pengacaranya, aku tahu arti pelukanmu padanya." Marons berkata pelan dan sudah berdiri di depan Kaliana.
"Sekarang dengarkan aku dan coba memgerti pelukannku. Kau bisa menolong siapa saja, tapi lihat situasi dan kondisi orang itu." Ucap Marons yang langsung memeluk Kaliana.
"Ini adalah pekerjaanmu. Dalam keadaan tertentu, kau harus bersikap profesinal. Ada yang bisa kau berikan bantuan dengan gratis, tapi ada orang tertentu yang bisa membayar untuk menerima jasamu." Ucap Marons yang masih memeluk Kaliana.
"Apa kau kira keluarga Chasina bisa diperlakukan seperti teman penyidikmu itu? Mungkin kalian berkolabarasi untuk kasus ini, tapi teman penyidikmu lebih banyak menerima manfaatnya darimu. Orang tua Chasina akan menerima manfaat dari jasamu, tapi kau juga harus menerima yang sepadan, seimbang. Kau ada prasangka apa dengan apa yang aku lakukan ini?" Tanya Marons serius, karena dia ingin Kaliana dan team menerima manfaat yang sepadan dengan hasil kerja mereka.
"Aku tidak akan berprasangka, jika kau lepaskan pelukanmu. Kau selalu saja tiba-tiba lakukan hal begini." Ucap Kaliana sambil mendorong dada Marons, karena khawatir anggota team keluar dari ruang keluarga. Dia juga menghindar agar Marons tidak mengetahui detak jantungnya yang berdegup bertalu-talu. Marons jadi tersenyum, tapi tidak melepaskan pelukannya,
...~°°°~...
...~●○¤○●~...
__ADS_1