
...~•Happy Reading•~...
Mendengar percakapan Mama Jaret dan suaminya, pengacara Jaret jadi panik. Instingnya memberikan peringatan, akan ada bahaya. Banyak hal yang tidak diketahuinya tentang kekayaan Jaret. Pengacara tahu Papa Jaret memiliki uang dan aset yang banyak, tapi tidak tahu kalau Jaret juga memiliki kekayaan yang banyak.
Gugatan cerai istrinya bagaikan pintu menuju kekayaan Jaret. Pengacara telah membaca salinan surat perjanjian pra nikah Jaret dan istrinya. Beliau sudah tahu juga, tentang perselingkuhan Jaret, jadi benar yang dikatakan Hakim. Putusan cerai akan sangat mudah setelah mengetahui berapa banyak kekayaan Jaret.
Tetapi melihat reaksi Mama Jaret dan juga suaminya, pengacara yakin penyelesaiannya tidak akan mudah. Banyak masalah akan terjadi di depan, jika Jaret memiliki banyak harta untuk dibagikan. Tidak mungkin orang tuanya akan tinggal diam atau menerima begitu saja. 'Pantas Mama Jaret memintanya untuk bicara dengan pengacara Chasina, agar mau membatalkan gugatan cerainya. Berapa pun uang yang diminta oleh pengacara Chasina sebagai imbalannya, akan berikan oleh mereka.' Pengacara Jaret berkata dalam hati.
~°°°~ ~°°°~ ~°°°~
Di sisi yang lain ; Papa Jaret yang sangat emosi setelah berbicara dengan istrinya, hampir melepar ponsel yang ada di tangan ke tembok ruang kerjanya. Gerakannya tertahan, oleh bunyi ketokan pintu ruang kerjanya. Sekretarisnya mengetok pintu sambil memanggil namanya, karena mendengar suara teriakan dari dalam ruang kerja.
Papa Jaret mengurungkan niat lalu menurunkan tangannya. Kemudian mengatakan tidak apa-apa kepada sekretarisnya, tanpa mempersilahkan masuk. Setelah suasana kembali tenang, Papa Jaret menarik nafas panjang untuk melegakan dadanya dan juga agar bisa menurunkan emosinya.
Papa Jaret jadi teringat dengan kekayaan Jaret yang akan diperiksa. Beliau mengabaikan rasa kesal dan marah kepada istrinya, karena ada yang mengancam kenyaman hidup dan masa depannya. Itu lebih penting baginya saat ini, dari pada sekedar melayani ucapan Mama Jaret yang membuatnya makin emosi.
Ponsel yang hampir dilemparnya, dipegang erat dengan tangan bergetar, karena menuruti amarah yang hampir membuatnya celaka dengan tindakan bodoh. Saat ini, ponselnya lebih berharga dari apa pun. Papa Jaret segera menghubungi petugas yang telah ditampol dengan gepokan untuk mengurus kasus narkoba Jaret (sering disebut dengan 'petugas lintah' oleh Mama Jaret) untuk dimintai tolong.
__ADS_1
Setelah tersambung dan berbicara dengan 'petugas lintah' tentang rencananya kepada Chasina, Papa Jaret kembali didera rasa cemas dan panik. Sang 'Bintang' mengatakan belum bisa lakukan permintaan Papa Jaret sekarang, karena Chasina telah dipindahkan oleh sang penyidik ke 'Mako' untuk mengamankannya. Jadi mereka butuh waktu untuk menyusup pagar pengaman yang telah dibuat penyidik yang menangani kasus Chasina.
Papa Jaret kembali emosi setelah berbicara dengan 'petugas lintah'. Semua yang diinginkan tidak berjalan dengan baik. Segala upaya yang dipikirkan dan dikerjakan selama ini baik-baik saja, seakan menguap.
^^^~°°Selama ini, uang bisa lakukan banyak hal untuknya, sekarang malah harus lakukan banyak hal untuk menyelamatkan uangnya. Kondisi ini membuatnya makin frustasi, karena semua di luar kendalinya.°°~^^^
Papa Jaret teringat kepada orang tua Chasina. Beliau jadi curiga akan keterlibatan mereka dalam semua yang dihadapinya. 'Ternyata mereka bermain di belakangku dengan memegang orang yang lebih berkuasa. Pantas kasus Jaret dengan cepat berada di tangan Kejaksaan.' Papa Jaret berkata dalam hati. Baginya, orang tua Chasina mampu melakukan semuanya dengan uang mereka yang berlimpah.
Memikirkan itu, beliau segera membereskan meja kerja lalu memasukan semua berkas di atas meja ke dalam tas kerjanya. Papa Jaret berpikir, akan terlambat jika menunggu 'petugas lintah' membereskan Chasina. Mereka harus pergi ke bank untuk menyelamatkan yang bisa diselamatkan.
Papa Jaret berpikir keras... Data siapa yang bisa digunakan untuk memindahkan uang yang disimpannya atas nama Jaret. Beliau kembali menghubungi istrinya untuk pergi ke bank, bukan ke rumah sakit. Tanpa mempedulikan nada suara Mama Jaret yang tidak menyenangkan, Papa Jaret memberi instruksi dengan cepat kepadanya. Agar segera pergi bersama pengacara ke bank dan buatkan rekening atas nama pengacara, lalu pindahkan uang sebisanya ke rekening tersebut.
Rumah mewah yang rencananya untuk Jaret, tidak jadi diberikan kepadanya. Karena sebelum diberikan, Jaret lebih memilih tinggal di rumah Chasina. Sekarang rumah itu akan dibagi, dan mereka akan kehilangan uang sewa apartemen. Memikirkan semua itu akan berpindah tangan, Mama Jaret jadi sakit kepala, lalu memegang kepalanya yang mulai oleng.
Papa Jaret sontak menepuk dahinya, karena itu juga mungkin lebih banyak dari uang tunai di bank atas nama Jaret. 📱"Itu juga belum sempat dipindah tangan atau balik nama. Semua ini begitu cepat, jadi belum sempat berpikir untuk dipindahkan ke siapa." Ucap Papa Jaret sambil berpikir keras.
📱"Pengacara juga ada di situ bersamamu, jadi bagaimana bisa bantu untuk mengurus legalnya?" Tanya Papa Jaret, mengingat pengacaranya sangat sibuk mengurus kasus Jaret di pengadilan.
__ADS_1
📱"Memangnya tidak ada pengacara lain? Selalu lambat mengurus segala sesuatu." Mama Jaret yang sudah emosi, kembali memancing emosi suaminya.
📱"Kau kira bisa pakai sembarang pengacara untuk mengurus ini? Bukannya nanti tetap jadi milik kita, malah jadi bulan-bulanan pengacara lintah." Papa Jaret mulai emosi mendengar apa yang dikatakan istrinya.
📱"Segera lakukan bagianmu...! Setelah itu bawa pengacara Elly untuk buat dokumennya." Papa Jaret yang sudah emosi, langsung memutuskan hubungan tanpa menunggu jawaban istrinya yang sedang emosi.
Papa Jaret mengajak sekretarisnya ke bank, karena berpikir akan memakai data pribadinya, sebagai pertolongan dalam keadaan darurat. Nanti di perjalanan Papa Jaret akan berpikir, saudara siapa yang bisa dimintai tolong dan tidak akan mengakalinya atau menipunya jika memakai data mereka. Kepala Papa Jaret serasa mau pecah, memikirkan data pribadi yang aman digunakan.
Tiba-tiba pelayan di rumah menghubunginya dan mengatakan ada surat panggilan dari pengadilan, bahwa kasus narkoba Jaret akan disidangkan. Papa Jaret merasa kepalanya akan meledak. Sehingga tanpa sadar, kembali berteriak. Membuat sekretaris yang sudah berada di ruangannya menjadi takut.
Sedangkan di tempat lain Mama Jaret bicara dengan pengacaranya tentang rencana pembuatan nomor rekening untuk menabung uang mereka. Mendengar itu, pengacara jadi waspada akan keselamatannya. Instingnya benar, ada banyak kekayaan Jaret.
"Bu Renette... Saya minta maaf, jika tidak bisa membantu kali ini. Anda tau profesi saya akan jadi taruhannya, kalau tiba-tiba memiliki uang yang banyak. Jadi tolong cari orang lain yang tidak menyolok untuk menyimpan uang anda." Ucap pengacara pelan dan mengharapkan pengertian Mama Jaret.
Mama Jaret melihat pengacaranya dengan berbagai rasa dan juga khawatir. Jantungnya berdetak dengan cepat, karena mereka diburu waktu dan tidak bisa memikirkan orang yang tepat untuk dimintai tolong.
Melihat Mama Jaret yang bingung dan sangat cemas, tiba-tiba pengacara melihat sopir yang ada bersama mereka lalu memberikan isyarat kepada Mama Jaret sambil menunjuk ke arahnya. "Mungkin bisa minta tolong padanya, Bu..." Pengacara berkata pelan untuk memberikan solusi kepada Mama Jaret yang panik dan kebingungan.
__ADS_1
...~°°~...
...~●○¤○●~...