
...~•Happy Reading•~...
Pak Adolfis menatap Kaliana dengan tatapan meneduhkan dan bijaksana sambil tersenyum tipis. Beliau mengakui kesalahan putranya yang suka seenaknya dan arogan. Mungkin selama ini, tidak ada yang pernah atau tidak berani melawannya, sehingga membuat harga dirinya terkoyak saat Kaliana tiba-tiba melawannya.
Apalagi Kaliana seorang wanita. Selama ini, Bryan selalu dipuja dan dikejar oleh banyak wanita. Membuat dia terkejut, ada wanita yang tidak tertarik padanya, bahkan berani melawannya dengan kata-kata yang tajam menusuk. Hal itu membuat harga dirinya terluka dan sangat marah. Pikiran rasionalnya menguap bersama emosinya yang naik level.
"Aku tidak sabar melihat jenis senjata yang kau gunakan, hingga berani melawanku." Ucap Bryan yang tidak menanggapi isyarat Daddy nya, membuat Pak Adolfis terhenyak. Begitu juga dengan Danny yang sudah tahu karakter Kaliana, jika ditantang.
"Pak Bryan... Senjataku sama tajamnya dengan ucapanku. Kalau mau coba, boleee... Sekali-sekali kita perlu menguji kemampuan sebelum bekerja. Silahkan tentukan waktu, aku siap melayani..." Ucap Kaliana dingin tanpa bergeming dengan kemarahan Bryan.
"Tapi sekarang, anda perlu antri. Pak Adolfis, tolong katakan kepada putra anda ini. Belajar menentukan prioritas dalam hal-hal tertentu. Sekarang ini, adiknya sedang menunggu pertolongannya di penjara. Jadi jangan egois, pikirkan diri sendiri dan egonya sebagai laki-laki." Ucap Kaliana kepada Pak Adolfis, tanpa melihat Bryan yang wajahnya makin memerah.
'Kalau kami bekerja tidak profesional dan serampangan, hari ini mungkin adik anda belum ada dalam tahanan.' Kata Kaliana dalam hati, sambil melirik kakak Chasina yang masih menatapnya dengan wajah yang memerah.
"Pak Adolfis... Tolong shareloc rumah anda kepada saya, karena tidak ada manfaatnya saya duduk di sini untuk kepentingan putri anda. Sekarang saya mau ke rumah anda untuk bertemu dengan sopir Bu Chasina." Ucap Kaliana sambil mengambil ponsel dari kantong rompinya.
"Bu Kaliana, jangan menanggapi ucapan putra saya. Mari kita bicarakan maksud pertemuan ini. Namun sebelum bicara, kita makan siang dulu." Ucap Pak Adolfis pelan kepada Kaliana dan coba menenangkan Bryan yang masih emosi, karena ucapan-ucapan Kaliana yang tajam dan baru pernah didengarnya.
__ADS_1
"Maaf, Pak Adolfis. Saya tidak bisa makan siang dalam dituasi seperti ini. Makanannya tidak akan meluncur dengan mulus lewati tenggorokan saya. Jadi, alangkah baiknya bicarakan saja maksud Pak Adolfis mengundang saya. Soal makan siang, nanti saya cari makanan yang bisa melewati tenggorakan saya tanpa hambatan." Kaliana berkata demikian, karena dia sudah tidak berselera untuk makan bersama di tempat itu.
Pak Adolfis mengerti maksud Kaliana yang mungkin sudah tidak berselera untuk makan bersama mereka. "Kalau begitu, Bu Kaliana tolong lihat surat perjanjian ini dan menanda tanganinya, sebelum bekerja. Biar kita sama-sama enak dalam bekerja." Ucap Pak Adolfis, lalu memberikan isyarat kepada pengacara keluarga untuk melanjutkan tugasnya.
Bryan langsung diam mendengar apa yang dikatakan Kaliana lalu mengalihkan emosinya dengan minum air mineral di depannya. Dia menyadari, yang dikatakan Kaliana benar. Dia pulang untuk membantu Daddynya menolong Chasina, adiknya.
Kaliana mengambil lembar kertas yang diberikan pengacara kepadanya. "Pak Adolfis, bisa tunggu sebentar? Saya perlu membaca surat perjanjian ini, supaya kita bisa bekerja dengan baik dan profesional. Ooh, iyaa... Saya bisa koreksi, jika ada yang perlu saya koreksi, ya?" Tanya Kaliana serius, sambil melihat Pak Adolfis untuk meminta persetujuan. Pak Adolfis mengangguk mengerti.
"Point ini, Pak. Tolong dikoreksi, atau dicoret saja. Saya tidak bisa menolong Bu Chasina, jika beliau bersalah. Kami bekerja profesional, jadi jika menemukan bukti Ibu Chasina bersalah, kami tidak bisa menolongnya." Ucap Kaliana serius, agar surat perjanjian tersebut tidak mengikat hasil akhir kerja mereka.
"Mengenai point ini untuk membahas perkembangan kasus dengan Pak Bryan, saya kira tidak perlu. Semua bukti yang kami temukan akan kami berikan kepada pengacara Bu Chasina untuk persiapan pembelaan di persidangan." Ucap Kaliana serius, karena tidak nyaman untuk bekerja sama dengan Bryan.
"Begini, Bu Kaliana... Bryan saya minta pulang ke sini untuk membantu saya dalam menghadapi persoalan adiknya. Jadi mohon pengertiannya, Bu Kaliana. Saya ada kesibukan, jadi tidak bisa memantau setiap saat. Kami berdua akan berbagi tugas dalam menghadapi situasi ini." Ucap Pak Adolfis pelan, berharap Kaliana melembut dan mau mengerti posisinya sebagai seorang ayah dan juga pebisnis.
"Baik, Pak. Tapi beliau tidak boleh ikut campur. Kami biasa bekerja sendiri. Jadi saat kami melapor, dan ada yang tidak mengerti, beliau boleh tanya dan kami akan jelaskan. Tetapi untuk cara kerja kami, dilarang masuk dan mengatur atau intervensi." Kaliana berkata tegas. Bryan hanya mendengar, tanpa berkomentar. Kaliana khawatir Bryan sok berkuasa dan banyak maunya, saat melihat cara kerja mereka yang mungkin tidak sesuai dengan pemikiran dan hatinya.
Ucapan Kaliana tetang adiknya yang sedang menunggu di penjara, telah memukul telak kesadarannya. Sehingga dia diam saja sambil mendengar dan menanti semua koreksian Kaliana. Dia bukan orang bodoh dan tidak sayang kepada adiknya, sehingga tidak mengerti apa yang dikatakan Kaliana.
__ADS_1
"Baik, Pak. Yang lain tidak perlu dikoreksi." Ucap Kaliana, lalu tanda tangan lembar kertas, termasuk bagian yang dicoret dan dikoreksi dengan tulisan tangannya. Kemudian memberikan lembaran di tangannya kepada Bryan, karena melihat namanya yang tercantum dalam surat perjanjian tersebut.
Bryan terkejut melihat Kaliana langsung tanda tangan, tanpa negosiasi dana yang akan diterima. Atau menambah point khusus untuk menunjang kerja mereka, dana khusus. 'Apakah dia tidak mengenal siapa kami, sehingga tidak menaikan budgetnya?' Tanya Bryan dalam hati. Bukankah detektif mobilitasnya tinggi dan butuh banyak biaya?' Tanya Bryan lagi dalam hati.
Itu yang dipikirkan Bryan. Sedangkan Kaliana sampai dua kali melihat angka yang akan diterima. Ketika mau koreksi, dia teringat pesan Marons agar tidak boleh dikoreksi. Baginya, 1/4 dari angka yang diberikan sudah lebih dari cukup. Dia menahan diri dan juga jarinya untuk tidak koreksi.
Bryan yang hendak tanda tangan, menambah dengan tulisan tangan di bagian bawanya. 'Angka di atas diterima bersih. Semua biaya tidak terduga dalam bekerja, HARUS reimbuse.' Bryan menambahkan itu, karena melihat Kaliana tidak akan reimburse pengeluaran tidak terduga.
Bryan memberikan lembaran yang untuk pengacara dan juga untuk Kaliana. Ketika melihat tulisan tangan Bryan, Kaliana melihat Bryan dengan wajah tidak mengerti. Tetapi Bryan hanya minum air mineral sambil melirik reaksi Kaliana dari pinggiran gelas saat membaca tulisan tangannya.
Kaliana yang mau mengucapkan sesuatu, langsung terdiam. Dia mengingat apa yang dikatakan Marons. Ucapan Marons kembali terngiang di benaknya, 'jangan koreksi yang mereka berikan'.
'Biarkan, saja. Soal reimburse atau tidak, itu urusan nanti. Untuk apa persoalkan yang tidak urgent.' Kaliana berkata dalam hati untuk mengingatkannya dan mengendalikan ucapannya. 'Bukankah pengeluaran team sopape dalam bekerja menyelesaikan kasus, tidak perlu dilaporkan kepadanya?' Tanya Kaliana sendiri dalam hati, agar tidak memperpanjang perdebatan.
...~°°°~...
...~●○¤○●~...
__ADS_1