ROMANTIKA HIDUP

ROMANTIKA HIDUP
76. Warna Sari 15.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Danny berkata demikian, karena dia setuju kalau Marons bersama Kaliana. Dia berharap, dengan kehadiran Kaliana, bisa menyembuhkan banyak luka yang ditinggalkan Rallita kepada Marons. Walaupun Marons tidak pernah menceritakan hal itu kepadanya dan Yogi, tapi mereka tahu waktu pernikahan bersama Rallita sangat menyakitinya.


Marons melihat keseriusan Danny saat berkata demikian, tapi dia tidak mau menanggapimya dengan serius. "Kau kira lagi main mobil mobilan, jadi bisa ditikung? Lagian siapa yang mau tikung Kaliana?" Tanya Marons dengan wajah tersenyum. Mengingat sikap Kaliana dan dia sudah menyatakan perasaannya kepada Kaliana sebelum diminta oleh Danny.


"Aku bicara begini, karena aku temanmu. Jadi jika kau suka Anna, nyatakan itu padanya, sebelum keduluan Bryan. Kau tau siapa Bryan bukan?" Danny sengaja mengatakan demikian untuk mendorong Marons, agar bisa cepat menyatakan perasaannya jika suka pada Kaliana.


"Mengapa kau berpikir, Bryan suka pada Kaliana?" Marons bertanya sambil melihat Danny dengan serius. Dia mengenal Bryan hanya sambil lalu, sebatas rekan bisnis bersama Pak Adolfis.


"Aku hanya melihat perubahan sikap dan perlakuaan Bryan kepada Kaliana sejak bertemu pertama kali. Instingku saja, saat bekerja sama untuk menolong Chasi." Ucap Danny cepat, agar Marons bisa mengerti.


"Yaaa... Kalau soal wajah, relatif bagi setiap orang. Kalian sama tampan sesuai versi masing-masing. Soal tajir, kalian sama-sama melintir. Yang berbeda dari kalian, Bryan masih bujangan, kau sudah duda." Danny berkata lebih lanjut, membandingkan Marons dengan Bryan, agar bisa memanasin hati Marons.


"Oooh... Kalau soal bujangan atau duda, perbedaan yang ngga perlu dibedakan. Kalau itu kau bandingkan dari penglihatan Kaliana, aku punya kelebihan yang tidak punya Bryan. Aku punya kenangan dengan Kaliana, yang tidak dipunyai Bryan. Jadi tidak usah khawatirkan hal itu." Marons berkata dengan tenang, karena dia tahu siapa Kaliana dan mempercayainya.


"Kau bisa lihat Kaliana, terhadap teman penyidiknya. Apa dia kurang tampan dan kurang dekat dengan Kaliana? Bertahun-tahun mereka bekerja bersama, dan mungkin penyidik itu memiliki perasaan khusus padanya. Tetapi Kaliana mempunyai sikap yang jelas, jadi tidak perlu dipikirkan." Marons berkata lagi dengan tenang, mengingat perlakukaan Bram kepada Kaliana mungkin sama dengan Bryan.


"Jika benar kau menyayanginya, kau terlihat 'PD' sekali mendengar ada yang punya perasaan khusus terhadap Anna." Danny berkata dengan hati bertanya-tanya, melihat sikap Marons. 'Apakah dia belum bisa move on?' Tanya Danny dalam hati.

__ADS_1


"Yaaa... Boleh dikatakan demikian. Aku PD, karena tau di mana berpijak. Tidak perlu mengkhawatirkan ada orang yang masuk ke pekarangan rumah tidak berpagar. Karena rumah itu sudah memiliki pengaman sendiri dari dalam." Marons berkata serius, mengingat perasaan Kaliana terhadapnya.


"Bukankah pengalaman adalah guru yang baik? Kita mengamankan dari luar, tapi jebol dari dari dalam." Marons berkata sambil memikirkan kehidupannya bersama Rallita. Walaupun dia menjaga, Rallita bisa mengkhianatinya.


Marons berpikir, Danny bukan orang bodoh jadi mengerti maksudnya. Dia tidak perlu katakan dengan jelas bahwa dia dan Kaliana sudah resmi berpacaran. Nanti juga Danny akan tahu dengan sendirinya. Paling dia akan diceramahin karena tidak katakan itu padanya dan Yogi. Seperti dulu, dia tidak pernah katakan sudah berpacaran dengan Rallita. Saat bilang mau melamarnya, mereka menceramahin dia setelah bertanya banyak hal.


"Kau sendiri yang masih bujangan, masih tunggu apa lagi? Kau bisa menilai Bryan, tapi tidak memperhatikan dirimu. Itu ada dua anggota team sopape yang cantik dan baik hati. Kau tidak tertarik pada salah satu dari mereka?" Tanya Marons serius, karena melihat Yicoe dan Novie adalah wanita yang sangat baik dan cocok untuk dijadikan istri oleh Danny.


"Maksudmu, Yicoe dan Novie? Astagaaa... Mereka memang wanita yang sangat baik hati dan cantik. Tapi auranya sama dengan Anna. Tulangku bisa pindah tempat, jika salah bersikap atau berucap." Ucap Danny sambil tersenyum, membayangkan Yicoe dan Novie.


"Kau terlalu membayangkan yang aneh-aneh. Mereka punya hati yang baik, jadi tidak mungkin menyakiti orang yang mereka sayang." Marons berkata serius, karena dia percaya, Yicoe dan Novie akan bersikap sama seperti Kaliana terhadap orang yang disayang.


"Yang penting, aku sudah ingatkan. Kau berjuang sendiri, kalau mau salah satu dari mereka. Jangan coba minta bantuan Kaliana untuk merayu mereka. Atau kau belum move on dari dia?" Marons berkata demikian, karena tahu Danny pernah pacaran dan putus. Pacarnya lebih memilih nikah dengan aktor yang lagi terkenal.


"Syukur kau sudah tau itu, jadi aku tidak perlu katakan sesuatu tentangnya padamu, supaya kau bisa move on." Marons berkata serius dan juga tenang, melihat Danny sudah tidak emosi lagi saat membicarakan mantannya.


"Loooh... Siniii... Katanya mau istirahat. Mengapa tidak istirahat dulu?" Marons terkejut melihat Kaliana menengok ke ruang keluarga. Dia menepuk sofa di sampingnya dengan wajah tersenyum, agar Kaliana mau masuk dan duduk di sampingnya.


"Ngga usah... Aku mau ke atas untuk lihat yang lain saja. Aku tau niat jelekmu. Mau ledekin aku kan?" Kaliana tidak mau masuk ke ruang keluarga, karena melihat Marons sedang berbicara dengan Danny. Dia tidak mau mengganggu, jadi berkata demikian.

__ADS_1


"Mba' Anna, mari masuk. Aku mau ke kamar untuk mandi." Danny berkata demikian, karena melihat Kaliana sudah mandi dan mau berikan kesempatan kepada Marons. Kaliana mengangguk lalu berjalan mendekati salah satu sofa di ruang keluarga lalu duduk di sana.


"Aku panggil, tidak mau. Tapi Danny yang minta masuk, langsung mau. Tadi kau mandi ngga pakai air?" Tanya Marons dengan wajah serius yang dibuat kesal, karena memang mau ledekin Kaliana.


"Iyaaa... Aku mandi dengan pasir, jadi bisa lihat orang yang mau iseng." Ucap Kaliana sambil tersenyum lalu berjalan mendekati Marons dan duduk di sampingnya. Marons tersenyum lalu mengacak rambutmya yang agak basah.


"Naah, kan... Aku sudah tau, kau akan lakukan itu, jadi ngga enak sama Pak Danny." Kaliana berkata sambil menepis tangan Marons dari kepalanya.


"Aku hanya bersihkan pasir yang ada di kepalamu. Makanya, mandi pakai air, supaya aku ngga perlu bersihkan rambutmu." Ucap Marons sambil tersenyum lebar.


"Mandi atau ngga mandi, kau memang mau acak rambutku. Kau ngga istirahat?" Tanya Kaliana mengalihkan topik pembicaraan.


"Rencanya mau merem sebentar, tapi Danny ngajak ngobrol. Jadi ngga terasa waktu berlalu. Kau sendiri, mengapa tidak istirahat? Bukankah tadi bilang mau istirahat?" Marons bertanya dengan serius, karena ada yang dipikirkan Kaliana. Marons bisa lihat itu di raut wajah Kaliana.


"Iyaa... Tadinya begitu, tapi kelamaan di kamar mandi." Ucap Kaliana menyamarkan yang sedang dipikirkannya. Marons melihatnya dengan serius.


"Kau berendam berapa lama dalam bathtub?" Marons bertanya setelah melihat kulit Kaliana dari dekat.


"Hehehe... Aku hampir ketiduran dalam bathtub, jadi sudah ngga bisa tidur lagi. Aku masih pikirkan Bram, karena belum balas pesanku. Semoga tidak terjadi sesuatu dengannya." Kaliana berkata pelan, karena tidak bisa menyimpan dari Marons tentang apa yang membuatnya cemas.

__ADS_1


...~°°°~...


...~●○¤○●~...


__ADS_2