ROMANTIKA HIDUP

ROMANTIKA HIDUP
170. Romantika.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Keesokan harinya, semua anggota team sopape sudah rapi saat sarapan pagi. Sedangkan Marons sudah berangkat kerja dari pagi, jadi tidak bertemu dengan yang lain.


Team sopape akan berangkat pagi ke pengadilan negeri, agar bisa mendapatkan tempat duduk yang sesuai dengan keinginan mereka. Karena perhatian publik sangat besar kepada persidangan kasus Chasina.


^^^Apa lagi setelah Jaret ditangkap bersama Siska dan mengetahui hubungan mereka. Publik jadi bersimpati kepada Chasina yang telah jadi korban suami be*jat dan tidak bertanggung jawab.^^^


Karena animo masyarakat yang begitu besar, pihak pengadilan memberikan kebijakan khusus pada sidang akhir kasus pembunuhan Rallita.


Yang hadir dalam ruang sidang hanya dari keluarga kedua bela pihak dan media resmi. Sedangkan masyarakat atau karyawan Chasina bisa menyaksikan langsung di luar gedung pengadilan yang sudah disediakan televisi berlayar lebar.


^^^Team sopape bisa masuk ke dalam ruang pengadilan bersama Pak Adolfis dan Bryan, karena sudah didaftar oleh Danny sebagai keluarga terdakwa.^^^


Setelah berada di ruang pengadilan, Kaliana melihat yang hadir dari kaluarga Rallita, hanya Mama dan adiknya. Sedangkan Papa Rallita masih di penjara.


^^^Kebart bersama istrinya sedang berada di luar negeri untuk mengobati anak mereka yang sakit. Yendri membiayai pengobatan anaknya dengan Rallita yang diasuh oleh Kebart dan istrinya.^^^


Sehingga tempat duduk keluarga Rallita bisa dibilang kosong. Sedangkan bagian keluarga chasina lebih ramai. Ada keempat anggota team sopape (Putra tinggal di mobil untuk merekam), Pak Adolfis dan Bryan, juga asisten Chasina.


^^^Kondisi itu membuat ruang sidang sangat khimat. Tidak terdengar hingar bingar atau teriakan orang yang meneriakan yel-yel.^^^


Pak Yosa duduk di tempat keluarga Rallita agak ke belakang, agar Putra bisa melihat ruang pengadilan dari beberapa sudut, sekalian mamantau. Sedangkan Kaliana, Novie dan Yicoe duduk dengan keluarga Chasina.


Ketika Pak Adolfis dan Bryan masuk ke ruang pengadilan dan melihat Kaliana, mereka tersenyum, haru. Kaliana memperkenalkan Yicoe dan Novie kepada Pak Adolfis dan Bryan.


"Kakak-kakakku yang cantik, senyumnya jangan terlalu lebar, ya." Putra mengganggu Yicoe dan Novie, karena Pak Yosa memperlihatkan mereka kepada Putra lewat kameranya.


"Iiiisssshhh... Ngga bisa melihat mata kami senang." Novie dan Yicoe lakukan protes, sambil berisik kepada Putra.


Beberapa lama kemudian, menjelang waktu persidangan, Danny bersama asisten dan Chasina juga seorang petugas masuk ke ruang persidangan.


Ketika Chasina mengangkat wajahnya dan melihat Kaliana yang sedang mengepalkan tangannya sambil tersenyum untuk mrnyemangatinya, raut wajah Chasina sontak berubah. Matanya jadi tergenang lalu butiran air mata mengalir di pipinya yang tirus.


Kaliana, Yicoe dan Novie sontak melihat ke arah lain untuk mengurangi rasa haru mereka. Sedangksn Pak Adolfis dan Bryan hanya bisa menunduk setelah Chasina di kursi terdakwa. Sedangkan Danny dan asistennya duduk di tempat pengacara terdakwa.


Ketika Jaksa penuntut masuk ke ruang sidang dan duduk di tempat mereka, Yicoe sangat terkejut lalu sontak menunduk dengan jantung berdegup tidak beraturan.


Melihat resksi Yicoe yang tidak biasanya, Novie memperhatikan Jaksa penuntut yang baru masuk ruangan. "Aahhhaaa.... Ternyata dia pria berkacamata itu." Bisik Novie membuat Yicoe menarik tangannya untuk memintanya diam, sambil menunjuk telinganya sebagai tanda Putra sedang mendengar.

__ADS_1


Sebelum Novie mengatakan sesuatu, hadirin dipersilahkan berdiri, karena hakim segera masuk ruangan. Kaliana merasa sedikit lega, saat melihat Hakim Alvian yang memimpin persidangan. Ada harapan besar di hatinya, Chasina akan menerima keadilan yang seadil-adilnya.


Hakim mempersilahkan terdakwa untuk membaca pledoi. Tetapi suasana hati Chasina tidak bisa dibendung, dia meminta Danny membacakan pledoi mewakilinya.


Setelah mendengar pledoi yang dibacakan oleh pengacara terdakwa, Hakim minta mereka istirahat 15 menit untuk berunding. Danny berdiri mendekati Chasina dan memberikan sapu tangan padanya, karena air mata Chasina terus mengalir saat dia membaca pledoi.


^^^Semua orang yang ada dalam dan luar gedung pengadilan menitikan air mata, saat mendengar pledoi yang dibacakan Danny.^^^


Para Jaksa penuntut merenggangkan tegangan dengan berdiri, sambil melihat semua yang hadir di ruang pengadilan. Ketika salah satu Jaksa melihat ke arah Yicoe dan Novie, Jaksa penuntut berkacamata terkejut, lalu membetulkan kacamatanya untuk meyakinkan penglihatannya.


"Dia mengingatmu..." Bisik Novie pelan sambil menyenggol bahu Yicoe. Jaksa penuntut yang sudah duduk kembali, masih melirik ke arah Yicoe.


"Diam... Itu ada yang baru masuk." Bisik Yicoe, saat melihat Bram masuk ruang sidang lalu duduk di dekat Pak Yosa. Mereka tidak bisa bercakap-cakap, karena Hakim sudah masuk ruang sidang dan mereka harus berdiri.


Tidak lama kemudian, Hakim Alvian meminta Chasina berdiri untuk mendengar keputusan Hakim. Namun sebelumnya, Hakim anggota membacakan secara bergantian semua bukti dan kesaksian di persidangan.


"Berdasarkan semua bukti dan kesaksian yang sudah dibacakan oleh Hakim, kami memutuskan:



Terdakwa Chasina Queensha BEBAS dari segala tuduhan dan dibersihkan nama baiknya.



"Ada pihak yang mau mengajukan banding?" Tanya Hakim Alvian kepada Jaksa penuntut dan pengacara. Pihak Kejaksaan tidak mengajukan banding, begitu juga dengan pengacara.


Chasina sangat terkejut dengan keputusan Hakim, langsung memegang pegangan kursi. Kemudian dia mengatupkan kedua tangan di dada sebagai ucapan terima kasih dengan berurai air mata kepada Hakim.


Chasina berbalik menuju Danny dan memeluknya dengan erat sambil mengucapkan 'TQ'. Lalu Chasina duduk di sampingnya dan menundukan kepalanya untuk bersyukur atas apa yang diterimanya.


^^^Terjadi kegemparan di luar gedung pengadilan. Para karyawan Chasina bersorak dan berteriak memanggil nama bossnya. Kaliana dan team mendekati Pak Adolfis dan Bryan untuk mengucapkan selamat.^^^


"Terima kasih atas perjuangan kalian untuk menemukan bukti itu, hingga bisa membebaskan Chasi. Nanti kami hubungi untuk acara syukuran." Pak Adolfis berkata dengan nada bergetar, karena sangat terharu. Begitu juga dengan Bryan yang menyalami Kaliana, Yicoe dan Novie dengan kedua tangannya.


Kaliana mengajak Pak Adolfis dan Bryan mendekati Chasina yang sudah menunggu dengan air mata berurai. Kaliana tidak bisa berkata-kata, hanya memeluk dan mengelus punggung Chasina untuk menenangkannya.


"Nanti kita bertemu. Silahkan teruskan." Kaliana pamit lalu berjalan meninggalkan Chasina sambil mengelus pelan lengan Pak Adolfis. Dia memberikan kesempatan untuk Pak Adolfis dan kedua anaknya.


Ketika melihat Bram sedang berdiri di samping Pak Yosa dengan seragam lengkap dan topi di tangan, Kaliana jadi tersenyum sumbringa lalu mendekati Bram dan menyalaminya.

__ADS_1


"Sebentar..." Tiba-tiba Jaksa penuntut mendekati Yicoe dan Novie yang hendak menyusul Kaliana.


Sontak Novie bergerak cepat, lalu mengulurkan tangannya ke arah Jaksa penuntut. "Ini nomorku, Pak. Hubungi saja nomor itu, sama saja menghubunginya." Novie berkata cepat setelah memberikan kartu namanya, karena melihat Yicoe sedang grogi, lalu menarik tangan Yicoe untuk menyusul Kaliana.


"Kau tidak kejatuhan balak, tapi kejatuhan bunga. Selamat. Negriku, bangsaku..." Kaliana berkata dengan hati senang, karena melihat 1 bunga di pundak Bram.


"Selamat untuk 2 bunganya, Pak Bram." Yicoe berkata sambil mendorong Novie ke arah Bram, untuk membalasnya. Sontak Bram memegang pundak Novie agar mereka tidak jatuh.


Kaliana hanya bisa tersenyum dan geleng kepala melihat Yicoe dan Novie saling ledekin. Kemudian dia mengajak mereka keluar, karena Marons sudah menunggu di luar. Marons menyalami Bram dengan hangat melihat penampilan Bram dan pangkat yang baru.


Novie yang sudah menguasai debaran jantungnya menyalami Bram. "Selamat ya, Pak." Ucapnya pelan.


"Trima kasih. Tolong siapkan akses..." Kata Bram serius.


"Kemana, Pak..." Tanya Novie, tidak mengerti.


"Ke hatimu..." Jawab Bram singkat dengan wajah serius.


"Guuubbraaakkk..." Kaliana berkata sambil memegang lengan Marons di sampingnya, seakan mau jatuh.


"Ada apa dengan dengkulmu, Anna?" Tanya Bram sambil melihat Kaliana yang sedang menahan tawa, begitu juga dengan yang lain.


"Dengkulku aman. Yang ngga aman, hati Novie..." Kaliana berkata sambil menarik tangan Marons untuk meninggalkan mereka.


Marons merangkul pundak Kaliana lalu mengangkat tangan mereka, melambai, dengan tawa tertahan, tanpa menengok ke belakang.


...~°°°~...


...~●○¤○●~...


...~°°Susah, senang, tawa dan tangis adalah bagian dari Romantika Hidup seseorang. Berjalanlah di jalan-Nya, agar semua itu membahagiakan°°~...


...~●○¤○●~...


...♥︎♡♥︎ The End ♥︎♡♥︎...


...~●○¤○●~...


...~°°°~...

__ADS_1


__ADS_2