
...~•Happy Reading•~...
Kaliana jadi tersenyum melihat wajah Putra yang lucu, seperti anak-anak yang kegirangan melihat ibunya pulang dari bepergian, setelah lama menunggu.
"Lebaiiii... Mana kulihat sayapmu... Patah di tempat yang bisa disolder, ngga?" Kaliana berkata lalu memeriksa punggung Putra sambil tersenyum.
"Benar, Mba'. Patah semua sayap-sayapku, kalau seperti tadi. Lain kali, ponselnya jangan 'dioffin', yaa... Biarkan saja begitu, nanti aku yang acak nomor-nomor yang mau hubungi Mba' Anna." Putra masih protes karena frustasi tidak bisa hubungi Kaliana sepanjang hari.
"Aku sudah bilang, hubungi saja Pak Marons, kalau ada apa-apa atau perlu sesuatu." Kaliana menjawab protes Putra sambil tersenyum lalu memijit pundaknya pelan.
"Kalau aku hubungi Pak Marons, nanti dikira ada sesuatu yang urgent. Padahal aku hanya mau bilang ada yang aneh saja untuk Mba' Anna ." Putra masih menyampaikan uneg-uneg di hatinya. Apalagi dia melihat lokasi ponsel Marons berada di lokasi yang sama dengan guguk liar (Siska).
"Waaaah... Sejak kapan jadi bijak, yaa." Kaliana masih mau ledekin Putra, agar bisa kembali konsentrasi pada pengawasannya dan tidak ngambek lagi.
"Sejak ada Pak Marons..." Putra berkata pelan, seakan berbisik. Takut kedengaran Marons yang mungkin saja tiba-tiba datang. Bagi Putra, Marons sangat baik padanya, tapi auranya membuat orang yang ada di sekitarnya segan dan berhati-hati kepadanya.
"Sepertinya ada yang menyebut namaku..." Ucap Marons yang sudah berdiri di pintu ruang kerja. Putra sontak menengok ke arah pintu, lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ada yang merasa kesepian..." Jawab Kaliana sambil menunjuk ke arah Putra dengan wajahnya sambil tersenyum.
"Bukankah ada kakak-kakakmu yang cantik itu? Pada kemana semua?" Tanya Marons yang baru menyadari ketidak hadiran Yicoe, Novie dan Pak Yosa.
"Apaan, Pak. Mereka lagi ngga cantik. Sudah dapat mainan baru, aku dicuekin. Tuuh..., dengarin saja suara mereka." Putra berkata sambil menunjuk ke arah suara yang terdengar sayup-sayup dengan jempolnya dengan wajah lucu. Marons jadi ikut tersenyum, melihat interaksi Kaliana dan Putra.
^^^Kaliana dan Marons memasang telinga untuk mendengar yang dimaksudkan Putra. Terutama Kaliana yang sejak tadi mau bertanya kepada Putra karena tidak menemukan Yicoe dan Novie di kamar dan melihat Putra sendiri di ruang kerja.^^^
__ADS_1
"Oooh, mereka sudah latihan? Kau tetap di sini, ya. Aku mau lihat mereka sebentar, nanti baru kita bicara lagi." Kaliana berkata sambil menepuk pundak Putra lalu mengajak Marons keluar dari ruang kerja bersamanya.
"Mereka sedang latihan apa?" Tanya Marons sambil jalan di samping Kaliana, dia belum mengerti maksud Kaliana dan Putra.
"Nanti kita lihat, mereka sedang latihan apa. Tapi kita tidak usah masuk, karena mereka sedang berada di ruang gim mu. Kami pinjam untuk latihan team, ya." Kaliana berkata pelan berharap Marons tidak marah, karena dia belum sempat bicarakan itu dengan Marons.
"Ngga pa-pa. Kalian gunakan saja, jika diperlukan." Marons berkata sambil mengusap punggung Kaliana di sampingnya, agar Kaliana tidak terbebani dengan hal-hal yang tidak masalah baginya.
Dari jauh, Kaliana melihat Novie dan Yicoe sedang berlatih menggunakan tongkat, sambil diperhatikan oleh Pak Yosa dengan serius. "Mereka sudah latihan itu rupaya. Yuuuk... Kita kembali ke ruang kerja saja, agar mereka tidak terganggu dan berhenti karena kehadiran kita." Kaliana berkata cepat, saat melihat anggota team sedang berlatih menggunakan tongkat.
^^^Ruang gim Marons berdinding kaca, jadi bisa terlihat dari jauh apa yang sedang dilakukan dalam ruangan. Kaliana merasa senang melihat Yicoe dan Novie yang bersemangat dan serius berlatih.^^^
Marons ikut berbalik seperti yang diminta Kaliana. "Niii... Apa aku bisa ikut berlatih juga?" Tanya Marons tiba-tiba, membuat Kaliana menghentikan langkahnya lalu melihat Marons dengan serius.
"Bukan menggunakan tongkat seperti itu. Nanti bukan tongkatnya yang patah, tapi tulangku yang patah-patah." Marons berkata sambil tersenyum.
"Tadi lihat mereka latihan, jadi pingin juga bisa bela diri. Masa kau lagi berhadapan dengan seseorang yang bermaksud jahat, aku hanya lipat tangan. Sedikit banyak bisa ngimbangi, walau itu di belakangmu." Marons kembali tersenyum, lalu melingkari tangannya ke bahu Kaliana dan mengajaknya kembali ke ruang kerja.
"Kata orang tua, jangan suka sembunyi kuku. Aku tau, kau kuasai ilmu bela diri." Kaliana berkata sambil menyikut pelan perut Marons. Kaliana tahu, Marons bisa bela diri, tapi hanya mau ledekin dia.
"Tau dari mana?" Marons sontak berhenti, lalu melihat Kaliana dengan serius. Marons jadi heran, karena dia belum pernah beradu atau berantem dengan seseorang di depan Kaliana.
"Saat kau mau pukul Jaret malam itu. Melihat kepalan tanganmu yang memutih, aku tau, kau kuasai minimal satu ilmu bela diri." Kaliana berkata serius, lalu mengajak Marons berjalan.
"Ooh itu... Aku dulu masih bujangan pernah berlatih, tapi tidak mahir. Hanya untuk berjaga-jaga sebagai anak laki. Kita bicara sebentar sebelum masuk ke ruang kerja." Marons berkata, lalu mengambil tangan Kaliana dan menggenggamnya, sambil bersandar pada tembok di dekatnya.
__ADS_1
"Kalau tidak bisa latih bela diri, mungkin aku bisa punya senjata api." Marons berkata sambil jalan. Dia menyadari hubungannya dengan Kaliana adalah serius dan profesi Kaliana yang sering bersinggungan dengan bahaya, membuat dia berpikir untuk memperlengkapi diri.
^^^Dengan keahlian dan pekerjaan Kaliana, dia tidak bisa meminta Kaliana untuk meninggalkan aktivitasnya, karena dia sendiri menyukai apa yang dilakukan Kaliana dan teamnya.^^^
"Kau pernah berlatih menembak?" Tanya Kaliana serius, tanpa melihat tangannya yang sedang digenggam Marons dengan erat. Kaliana mengabaikan rasa hangat yang mengalir dari tangan Marons, agar bisa fokus pada apa yang dibicarakan Marons.
"Pernah... Aku dan Ayah pernah berlatih saat kami sekeluarga ke Amerika. Ayah beli senjata untuknya, karna profesi kami kadang-kadang suka ada banyak gangguan. Tapi aku ngga diijinin Ayah untuk punya senjata api." Marons berkata serius, mengingat Ayahnya hanya mengijinkan dia berlatih menembak.
"Tapi aku punya senapan angin. Bukan cuma aku, tapi juga Danny dan Yogi. Kami sering pergi berburu, sebelum menikah. Setelah aku nikah, kami tidak pernah pergi lagi." Marons jadi ingat masa-masa mudanya bersama Danny dan Yogi.
"Kau letakin di mana senapannya?" Tanya Kaliana, karena dia tidak melihat itu dalam rumah Marons.
"Sekarang ngga ada di sini. Aku pindahin ke rumah Ayah sejak Rallita bertingkah. Aku khawatir ada yang khilaf dan gunakan benda itu, saat marah." Marons berkata serius, mengingat dia menyimpan senapannya di rumah orang tuanya, saat mulai sering ribut dengan Rallita.
"Lupakan... Jika kau serius, nanti pergi dengan Pak Yosa untuk lihat jenis senjata yang nyaman untukmu. Sekalian daftar di tempat latihan menembak." Kaliana merespon baik, keinginan Marons.
"Sekalian bisa mengurus ijinnya?" Marons bertanya serius mendengar respon Kaliana yang positif terhadap keinginannya.
"Iyaa... Nanti Pak Yosa yang urus semuanya. Seperti punya anggota team yang lain. Semua senjata api kami legal." Kaliana menjelaskan, agar Marons lebih tenang.
"Maaf, aku ngga liat, ngga liat..." Putra tiba-tiba keluar dari ruang kerja, lalu menutup matanya dengan jari yang direnggangkan, saat melihat Marons sedang berbicara serius dengan Kaliana sambil memegang tangan Kaliana.
...~°°°~...
...~●○¤○●~...
__ADS_1