
...~•Happy Reading•~...
Semua orang dalam ruangan ikut memikirkan apa yang dimaksudkan Bram. Mereka belum mengerti maksud dari pernyataannya dan itu membuat mereka penasaran. Bram tidak tahu, banyak orang yang sedang mananti penjelasan dari apa yang dipikirkannya.
📱"Bukankah dengan mereka pindahin aku ke sini, aku memiliki akses yang lebih luas dari dalam untuk menangani kelanjutan kasus Jaret? Semua bukti yang kau berikan untuk kasus narkoba Jaret akan jadi bukti real, karena aku akan mencari bukti terkait berdasarkan petunjuk dari buktimu. Sehingga itu akan menjadi bukti yang sah." Bram berkata dengan suasana hati yang berbeda. Beban mutasi yang membebaninya terasa diangkat.
📱"Astaga, Bram... Kau benar. Jadi tidak akan ada pertanyaan kepada Jaksa penuntut tentang keabsahan bukti yang diperoleh Putra. Kau bisa membuatnya jadi valid dengan bukti yang ada di situ. Agar bisa menolong Jaksa penuntut menuntut hukuman maksimal dan juga melawan pengacara Jaret." Kaliana berkata sambil tercengang dengan apa yang dipikirkannya dan Bram. Kepindahan Bram membuka peluang baru bagi Bram dan juga teamnya.
Semua orang dalam ruangan ikut tercengang dengan pemikiran Bram. Mereka menyadari kebenaran apa yang dipikirkan Bram. Dia akan lebih mudah mengacak dari dalam, karena berada di pusatnya. 'Pasti tidak terpikirkan oleh pengambil keputusan untuk memindahkan Bram ke bagian itu.' Marons membantin.
📱"Kondisi ini mengajari kita dan juga memberikan motivasi untuk terus bekerja dengan baik dan menjadi orang baik. Manusia boleh mereka-reka hal yang buruk, tetapi Tuhan merubahnya menjadi baik untuk menolong orang yang baik." Kaliana berkata pelan sambil merenung apa yang terjadi dengan Bram.
📱"Thanks, sudah mengingatkan dan memotivasiku." Bram jadi merenungi dengan serius apa yang dikatakan Kaliana. Tuhan sedang menolongnya dengan cara yang tidak terduga.
📱"Sekarang aku tau, akan mulai dari mana. Sementara ini aku akan bergerilya untuk menyelidiki dan cari bukti pendukung kasus Jaret sebelum kasus yang lainnya. Karena sebentar lagi kasusnya akan disidangkan. Aku akan memulai dari bukti petunjuk yang diperoleh Putra." Bram makin senang, karena sudah tahu akan mulai dari mana.
📱"Baik... Nanti kau bisa komunikasikan itu dengan Putra, agar dia bisa menuntunmu. Aku akan menginjinkan dia menembus kelambu di tempatmu." Ucap Kaliana serius, karena selama ini dia tidak mengijinkan Putra membobol untuk mengakses eks kesatuannya.
__ADS_1
📱"Siap...! Anna... tolong alihkan perhatian publik dan nyamuk di sini ke arah kekayaan Jaret. Aku mau selidiki sesuatu tentang Jaret dan nyamuk besar di sini. Kau tolong buat mereka sibuk, agar tidak menyadari jejakku." Bram menjelaskan tentang rencananya di tempat yang baru, setelah berbicara dengan Kaliana.
📱"Ooh... Kalau begitu, kau harus gerak cepat, karena Putra sudah mulai meniup tentang kekayaan Jaret. Kau bisa baca dan ikuti itu di berbagai media sosial. Sudah mulai ada perbincangan dan dipertanyakan publik setelah gugatan cerai Chasina diberitakan." Kaliana menjelaskan, sambil melihat layar monitor yang di tunjukan Putra.
Publik sudah mulai memperkirakan banyaknya harta gono-gini yang akan diterima Chasina dan juga mulai membicarakan kekayaan Jaret yang ditiup Putra. Mungkin Jaret memiliki harta yang banyak, jika benar dia sebagai pengedar.
📱"Pascok...! Aku akan segera menyelidiki di sini." Ucap Bram cepat setelah melihat pemberitaan media sosial. Semuanya 'pascok' (pas dan cocok) dengan waktu yang ada dan pembicaraan mereka.
📱"Ok... Hati-hati dan fokus pada kasus utama. Biasanya kasus yang di sekitar akan terserap dengan sendirinya." Kaliana mengingatkan demikian, dari pengalamannya dan Bram menangani berbagai kasus kejahatan.
📱"Siap...! Kalau begitu, setelah situasi di sini terkendali, aku akan traktir kalian semua makan." Ucap Bram dengan hati senang. Dia tidak menganggap tempat yang baru sebagai beban lagi. Tetapi sebagai ladang baru yang bisa dieksplor untuk dapatkan hal baru bagi jenjang kariernya.
📱"Astagaaa... Siapa yang mau makan gunung? Selain sudah tidak sanggup, aku tidak akan membiarkan kau dan Pak Yosa mengambil laukku di puncak. Aku cukup makan bukit saja, supaya bisa mengawasi tanganmu dan tangan Pak Yosa yang akan mengambil laukku. Kalian tidak bisa lagi membuatku hanya makan nasi dan sayur." Bram berkata lalu tersenyum mengingat masa-masa mereka dinas bersama dan dia tidak bisa memarahi Pak Yosa sebagai seniornya, saat mengambil daging atau ayam di puncak nasinya.
📱"Bram... Sekarang, kau tidak perlu mengawasiku dan Pak Yosa. Sekarang aku sudah makan teratur. Hanya makan nasi dan lauk pauk secukupnya. Begitu juga dengan Pak Yosa, sudah tidak bisa makan banyak lagi, karena tengkuknya akan kaku." Kaliana berkata sambil melirik Pak Yosa yang masih menggaruk kepalanya.
📱"Tapi boleh juga, aku akan terima traktiranmu. Syaratnya, kau tetap makan gunung. Sekarang ada yang perlu kau waspadai, yaitu Putra. Aku akan mengajarinya, cara mengambil laukmu di puncak gunung." Kaliana berkata sambil tersenyum. Terbesit ide saat melihat Putra sedang melihatnya.
__ADS_1
📱"Putra lawanku? Tapi mengapa badannya seperti tiang listrik? Kau mengurangi jatahnya? Atau kau tidak melatih ototnya?" Tanya Bram serius, karena pernah bertemu dengan Putra dan melihat tubuhnya tidak gemuk.
Putra sontak menggaruk kepalanya yang tidak gatal, mendengar Bram mengatakan badannya seperti tiang listrik. Yicoe mendekati Putra lalu menganggkat tangannya membentuk otot lengannya, lalu menunjukkan itu kepada Kaliana.
Putra tersenyum senang sambil mengangkat jempol kepada Yicoe yang membelanya, bahwa dia ada memiliki otot di lengan. Kaliana mengabaikan apa yang dilakukan Yicoe dan Putra.
📱"Semua makanannya disedot angin malam, sebelum jadi otot. Sanaaa... Pergi makan sebelum badanmu lurus seperti tiang listrik juga." Ucap Kaliana sambil meletakan jari di bibirnya sebagai isyarat kepada Putra, yang hendak protes. Kaliana berkata demikian, karena Putra suka begadang.
📱"Hahaha... Iyaa, sekarang makin lapar. Titip salam untuk semua. Ooh iya, doakan, ya." Bram tertawa mendengar apa yang dikatakan Kaliana. Kemudian mengakhiri pembicaraan setelah meminta dukungan doa dan Kaliana membalas salamnya.
Kaliana langsung meletakan kedua lengannya di atas meja dengan hati lega. Pembicaraan lama dengan Bram menguras energinya. Karena sambil berbicara, dia terus berpikir untuk menyusun rencana yang sesuai. Seperti sekarang, dia pun masih berpikir tentang apa yang dikatakan Bram tentang mutasinya dan rencana Bram menyelidiki pimpinannya.
"Putra, jangan lupa kirim emailnya ke Pak Bram, agar beliau segera kirim bukti kasus selokan untuk kita bandingkan dan analisa. Pak Yosa, tolong cek, siapa yang gantikan Pak Bram di tempat tugas yang lama, ya." Kaliana berkata sambil berpikir apa yang akan dilakukannya. Dalam kondisi seperti itu, dia lupa ada Danny dan Marons bersama teamnya.
"Pak Yosa, apakah tidak kenal senior di bagian itu? Mungkin ada yang bisa dipercaya untuk kita mintai tolong?" Tanya Kaliana pelan sambil melihat ke arah Pak Yosa yang sedang melihatnya. Pak Yosa menggeleng pelan sambil memberikan isyarat dengan mata kepada Kaliana, bahwa ada Marons dan Danny bersama mereka.
...~°°°~...
__ADS_1
...~●○¤○●~...