
...~•Happy Reading•~...
Papa Jaret jadi curiga, setelah mendengar apa yang dikatakan istrinya. Banyak pertanyaan berputar di kepalanya tentang apa yang sedang terjadi. Jika benar demikian, beliau harus bergerak cepat dan mempergunakan sumber daya yang dimilikinya untuk menyelamatkan Jaret dan juga mukanya sebagai pejabat.
"Mengapa kau diam saja? Kau pikir mereka tetap bersikap baik, setelah mengetahui Jaret pemakai dan pengedar?" Mama Jaret gemas melihat suaminya hanya diam saja. Walaupun orang tua Chasina hanya diam saja, mereka tidak boleh anggap sepi. Mereka bisa melakukan banyak hal untuk menyelamatkan anaknya.
"Kau tidak lihat aku sedang pikirkan itu? Apa aku seperti kau, yang mulut bergerak lebih cepat dari pikiran?" Papa Jaret kembali emosi, sambil melihat istrinya dengan marah. Istrinya kadang-kadang berkata pada waktu yang tidak tepat, sehingga membuatnya emosi. Meskipun apa yang dikatakannya itu benar.
"Mulutku bergerak sama cepatnya dengan pikiranku. Makanya bisa ucapkan apa yang aku pikirkan tadi. Kalau tadi aku tidak bilang, apa kau pikirkan itu? Mungkin terlintas di pikiranmu juga, tidak. Selalu lambat menangani segala sesuatu." Mama Jaret terus mengomel, bahkan menuduh tanpa melihat suaminya sudah mulai meradang. Mama Jaret tidak tahan dan tidak terima begitu saja, sikap suaminya dalam menangani kasus Jaret.
"Apa yang kau katakan? Jangan sampai amarahku tumpah di dini. Aku harus berpikir dulu, karena aku ini pejabat pemerintah. Kau bodoh atau dun*gu? Berkata sesuatu seperti petasan banting yang tidak punya akal." Papa Jaret sangat marah mendengar istrinya menganggapnya lemah dan bahkan mau mendiktenya. Tidak menganggapnya sebagai suami yang berkedudukan tinggi di pemerintahaan.
"Justru kau pejabat, gunakan itu. Mereka hanya punya uang. Kita punya uang dan jabatan. Masa kita kalah dari mereka. Tunjukan itu kepada mereka dengan membela anak kita, agar mereka tidak besar kepala." Mama Jaret sangat emosi melihat suaminya tidak mengerti juga tentang kedudukan mereka. Mama Jaret merasa suaminya tidak berusaha secara maksimal untuk membela anak mereka.
__ADS_1
Mama Jaret terus mendesak, karena merasa apa yang dicurigainya benar. Orang tua Chasina hanya diam, tidak mengajak mereka bicara karena sedang bermain di belakang untuk menolong anak mereka. Sedangkan mereka yang memiliki uang dan kekuasaan, membiarkan anak mereka tetap di tahan tanpa ada pertolongan yang sesuai dengan kedudukan dan jabatan mereka.
"Pergunakan orang-orang yang jadi pengemis jabatan itu. Sudah dapat jabatan bagus, lalu lupa diri dan tidak mau bantu saat kita kesulitan." Mama Jaret berkata lagi, karena suaminya pernah membantu banyak orang, hingga dapat kedudukan di pemerintahan. 'Ini saatnya mereka harus balas budi.' Pikir Mama Jaret.
"Kau bicara seperti ubur-ubur. Kau bilang mereka mengemis? Mereka dapatkan jabatan itu, setelah berikan imbalan yang besar untuk kita. Jadi tutup mulutmu, sebelum terjadi sesuatu yang makin menyulitkan kita." Papa Jaret terkejut, mendengar apa yang dikatakan istrinya. Semua orang yang dibantunya, tidak gratis. Oleh sebab itu, tidak bisa begitu saja minta tolong pada mereka.
"Kalau begitu, kau tunggu apa lagi? Hubungi pengacara untuk urus ini. Jangan biarkan dia makan gaji buta. Dia bikin apa saja, sampai tidak tau, kasusnya akan di limpahkan ke Kejaksaan?" Mama Jaret berkata lagi, karena emosinya tidak surut, walaupun sudah melihat suaminya menahan amarah. Mama Jaret terus berpikir, cari cara untuk menolong Jaret.
"Kau yang buta... Apa urusannya petugas polisi itu dengan pengacara kita, sehingga harus melapor padanya, sebelum ke Kejaksaan? Pengacara tau setelah kasusnya dilimpahkan ke Kejaksaan. Sama seperti kita... Dan bukannya kau tau dia baru tiba dari luar negeri?" Papa Jaret membentak, karena beliau tahu istrinya menitipkan uang untuk beli tas ke pengacaranya.
"Jika kau tidak bisa menahan mulutmu dengan bicara serampangan, lebih baik kau tutup mulutmu. Dari pada kau membuka mulutmu, hingga membuat pengacara tersinggung dan pergi." Papa Jaret khawatir, pengacaranya mendengar yang dikatakan istrinya, lalu tersinggung dan marah. Saat ini mereka sangat membutuhkan pertolongannya. Pengacara mereka sudah banyak menolong Jaret dalam berbagai hal.
Tiba-tiba mereka terdiam, karena ART meminta ijin masuk ke ruang keluarga untuk menemui mereka. Mama Jaret melihatnya dengan mata melotot, karena datang pada saat yang tidak tepat dan emosinya belum surut.
__ADS_1
"Maaf, tuan dan nyonya. Saya hanya mau mengantar surat ini. Sudah diantar dari sore. Tadi saya melihatnya lagi, karena belum diambil oleh nyonya dan tuan. Tadi yang antar bilang dari pegadilan." ART berkata terbata-bata, karena takut dimarahi oleh nyonya dan tuannya.
Papa Jaret segera berdiri untuk mengambil surat di tangan ART, saat mendengar surat dari pengadilan. Ketika membacanya Papa Jaret melemparkan surat tersebut kepada istrinya. "Aku kira cintanya buta. Ternyata dia bisa lakukan itu." Ucap Papa Jaret singkat. Mama Jaret mengambil surat yang dilempar suaminya sambil berpikir, apa lagi ini.
"Sekarang mau minta cerai setelah membunuh? Katanya sekolah tinggi dan dan punya jabatan tinggi di perusahaannya, tapi membunuh hanya karena cemburu." Mama Jaret berkata sambil tersenyum sinis setelah membaca surat dari Pengadilan Negeri. Mama Jaret memang tidak terlalu menyukai menantunya, karena Chasina tidak bisa dikendalikan. Chasina selalu tidak menurut pada apa yang dikatakannya.
"Seharusnya dia menceraikannya jika sudah tidak suka, jadi tidak perlu membunuh. Bikin susah semua orang." Ucap Papa Jaret ikutan kesal dan emosi, mengingat apa yang dilakukan Chasina membuat Jaret jadi ikut tertangkap, karena narkoba. Jika Chasina tidak membunuh, mungkin Jaret tidak akan berurusan dengan hukum. Itu yang ada dalam pikiran mereka, sehingga sampai sekarang tidak pernah mengunjungi Chasina di tahanan.
"Tinggalkan wanita itu, dan tidak usah membicarakannya. Kalau mengingatnya, rambutku bisa berubah warna. Tidak ada guna Jaret menikah dengannya. Sampai sekarang tidak bisa memberikan anak. Sekarang baru minta cerai? Ini pasti akal-akalan dia dan orang tuanya, karena sudah merasa di atas angin, jadi minta cerai." Kata Mama Jaret makin kesal dan gondok mengingat Chasina yang tidak bisa memberikan anak bagi Jaret.
"Siapa yang membicarakannya? Bukankah kau yang mengomel terus dari tadi tentang dia? Biarkan Jaret menceraikannya, jadi dia tidak ada hubungan lagi dengan kita. Biarkan dia membusuk di penjarah, jika terjadi sesuatu dengan Jaret." Papa Jaret berkata dengan rahang mengeras, menahan emosi. Beliau ikut kesal karena Chasina belum berikan keturunan baginya. Tetapi malah memberikan masalah bagi keluarganya. Sehingga Papa Jaret ikut sependapat dengan istrinya.
"Dia dan keluarganya bisa membayar pengacara untuk menolongnya. Jadi kita lihat saja, dia bisa berbuat apa selain minta cerai. Mereka menikah atau tidak, sudah tidak ada pengaruhnya lagi untuk kita." Mama Jaret menambahkan lagi, karena setuju dengan suaminya. Beliau malah menyesal, bukan Jaret yang menceraikannya.
__ADS_1
...~°°°~...
...~●○¤○●~...