ROMANTIKA HIDUP

ROMANTIKA HIDUP
94. Pencopet.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Wanita tersebut makin berontak sambil mengumpat ke arah Yicoe, karena melihat pria yang dompetnya diambil tidak melakukan sesuatu, tetapi melihat sekeliling untuk mencari karyawan atau security.


"Kau masih mau mengelak? Saya sudah peringatkan untuk kembalikan baik-baik, tapi malah mengumpat. Rasakan ini...!" Dengan kecepatan tinggi, Yicoe memelintir jari wanita tersebut dengan tangan kanannya, lalu tangan kirinya dengan cepat mengambil dompet yang dimasukan ke balik baju di dada wanita tersebut.


"Ini apa? Haaaa...? Ini apaaa...?" Yicoe menunjuk dompet yang diambil dan sudah ada di tangannya. Wanita itu makin berontak untuk menutipi rasa malunya.


"Sudah pencuri, pembohong lagi. Rasakan ini...!" Yicoe berkata sambil memukul kepala wanita tersebut dengan dompet pria berkacamata itu. Wanita tersebut jadi diam mendunduk, tanpa berani melihat Yicoe dan pemilik dompet yang sedang melihatnya dengan galak.


"Bawa wanita itu. Dia mengambil dompet saya." Pria berkacamata berkata kepada security yang datang mendekati mereka, setelah dipanggil oleh karyawan yang dimintai tolong oleh pria tersebut.


Yicoe mendorong wanita tersebut kepada security yang mendekat, lalu memberikan dompet kepada pemiliknya. Kemudian hendak beralih meninggalkan arena tersebut untuk mencari keperluan mereka. Tetapi lengan kanannya tiba-tiba dipegang oleh pria tersebut, membuat Yicoe refleks memegang tangannya dengan tangan kirinya dan hendak memelintirnya.


"Maaf, saya hanya mau berterima kasih untuk bantuannya." Pria tersebut mengangkat tangan kirinya yang sedang pegang ponsel dan dompet, tanda tidak bermaksud kurang sopan.


Yicoe sontak melepaskan tangannya. "Boleh minta terima kasih, tapi tidak perlu pegang-pegang, kali." Ucap Yicoe galak, karena terkejut pria tersebut memegang lengannya.


"Saya pegang, karena Nona sangat cepat berbalik dan hendak pergi. Sekali lagi, saya minta maaf dan terima kasih untuk bantuannya." Pria berkacamata itu berkata pelan dan sopan. Yicoe langsung mengangguk mengerti maksud pria tersebut dan tidak mau memperpanjangnya.

__ADS_1


"Bolehkah saya traktir makan atau minum sesuatu, sebagai rasa terima kasih saya?" Pria berkacamata menahan langkah Yicoe berbalik, karena masih ingin berbicara dengan Yicoe. Baginya, Yicoe wanita cantik dengan pribadi yang menarik. Dia belum pernah menjumpai wanita dengan kombinasi demikian yang membuatnya tertarik.


Yicoe melihat keseriusan pria tersebut mau mentraktirnya. Ketika melihat matanya, Yicoe sontak mengalihkan pandangannya ke sembarang arah mencari Novie. Mata pria tersebut sangat teduh dan juga mengisyaratkan kecerdasan, walau di balik kacamata.


"Terima kasih, Mas, eeh, Pak... Saya tulus membantu, jadi tidak perlu lakukan itu. Saya permisi..." Yicoe berkata cepat sebelum terjadi sesuatu, jika berlama-lama di tempat itu. Kemudian Yicoe hendak pergi, karena detak jantungnya mulai tidak beraturan. Situasi yang tidak menguntungkan baginya, apalagi pria tersebut terlihat berwibawa.


"Kalau begitu, apakah kita bisa bertukar nomor telpon? Mungkin kita bisa bertemu dalam suasana yang lebih baik." Pria tersebut belum menyerah untuk membiarkan Yicoe pergi.


"Pak, maaf, ya..." Yicoe tidak jadi meneruskan ucapannya, untuk menolak permintaan pria tersebut, karena security berjalan mendekati mereka dengan cepat.


"Pak, maaf. Jangan bicara dan bersikap baik kepada wanita ini. Dia juga salah satu komplotan wanita tadi yang sengaja mendekati bapak." Security berkata cepat dengan nafas tersengal-sengal, karena harus berjalan cepat sebelum Yicoe pergi atau kabur. Itu yang ada dalam pikiran security, setelah mendengar keterangan wanita pencopet tadi.


"Pak, sabar. Mengapa anda berkata seperti itu? Apakah anda punya bukti keterlibatan Nona ini?" Pria berkacamata bertanya serius, karena hati kecilnya tidak bisa menerima apa yang dituduhkan security.


"Wanita yang kami tahan itu katakan, wanita ini juga komplotannya. Mereka mau copet bersama, tapi wanita ini tiba-tiba akting dengan menangkapnya, untuk menarik perhatian bapak." Security menjelaskan dengan cepat dan hendak membawa Yicoe untuk bertemu dengan wanita pencopet itu.


"Berani anda menyentuh tangan saya, saya tidak segan-segan mematahkan tangan anda. Tunjukan tempat anda menahan wanita itu, saya akan ke sana. Jadi tidak perlu pegang tangan saya, karena saya tidak akan kabur. Saya justru ingin bertemu dengan wanita itu." Yicoe berkata cepat, sambil mempersilahkan security berjalan di depan.


Security hendak memanggil seorang karyawan untuk menemaninya membawa Yicoe, tapi dicegah oleh pria berkacamata. "Tidak usah memanggil orang lain. Saya akan menemani Nona ini ke tempat wanita itu." Pria berkacamata berkata cepat kepada security dan mengisyaratkan agar berjalan di depan. Dia akan berjalan di samping Yicoe.

__ADS_1


Hati Yicoe sudah seperti gunung merapi yang siap meletus, tetapi ada rasa malu berada di samping pria berkacamata dalam situasi yang memalukan. Dia berjalan cepat dalam diam dan meradang, sambil menunduk agar tidak terlihat oleh Novie. Jika Novie melihat dan mengetahui yang terjadi, akan panjang urusannya. Mungkin Novie akan menghajar wanita itu, sekalian dengan security yang telah menuduhnya.


"Kau mengatakan apa?" Yicoe berkata cepat, setelah berada dalam ruangan. Wanita tersebut terkejut melihat Yicoe datang bersama security dan pria berkacamata yang terus menatapnya, sejak masuk ruangan.


"Tadi saya sudah katakan, sudah pencuri, pembohong. Sekarang tambah lagi dengan tukang fitnah. Anda mendengar dan percaya pada wanita seperti itu?" Yicoe berkata dan juga bertanya kepada security dengan emosi melihat wanita itu sedikit tersenyum. Ternyata dia mau membalasku, karena telah menangkapnya mencopet. Dia sengaja berkata demikian untuk merusak nama baik, atau sedikit banyak diperiksa oleh security seperti dirinya.


Melihat wanita itu yang merasa sedikit senang dengan kedatangannya, Yicoe menurunkan emosinya. Dia berpikir cepat agar bisa lolos dari tempat itu, tanpa membuat keributan. "Kita berkomplot untuk mencuri di tempat ini. Berarti kita saling kenal, ya... Coba sebutkan nama saya dan kita tinggal dimana?" Yicoe berkata dan bertanya dengan tenang.


Pria berkacamata tersenyum mendengar apa yang dikatakan Yicoe. 'Suatu jebakan yang jitu dan tidak perlu membuang waktu dan energi untuk membuktikan suatu kebenaran.' Pria berkacamata berkata dalam hati, mengakui startegi cerdas yang dilakukan Yicoe.


Wajah wanita pencopet seketika memucat, karena tidak menyangka akan ditanya demikian. Dia tidak bisa menjawab, karena dia memang tidak mengenal Yicoe. Dia tidak bisa sebutkan nama dan alamat asal, karena Yicoe punya tanda pengenal yang akan menggugurkan tuduhannya.


"Saya minta maaf, Mbak. Tadi saya marah, jadi berkata serampangan dan ingin membalas Mbak." Wanita pencopet itu tiba-tiba berlutut minta maaf di depan Yicoe. Melihat itu, security langsung memukul punggungnya dengan tongkat di tangannya.


"Lain kali, kalau mau lakukan sesuatu itu pikir pakai otakmu. Apakah kau tau, sudah membuang waktuku berapa lama? Harus menangkapmu mencopet. Sekarang harus klarifikasi tuduhan ngawurmu. Jika tidak buru-buru, saya akan menyeretmu ke kantor polisi." Yicoe berkata serius sambil melihat wanita tersebut dengan galak.


"Pantas banyak orang tidak mau menolong sesamanya yang mengalami kecopetan, karena khawatir berada dalam situasi seperti ini. Jika di luar, mungkin saya sudah digebukin masa, karena ulah pencopet seperti ini." Yicoe berkata serius, lalu segera meninggalkan ruangan tersebut. Dia bukan saja mengejar waktu, tapi menghindari pria berkacamata yang mau meminta nomor telponnya.


...~°°°~...

__ADS_1


...~●○¤○●~...


__ADS_2