
...~•Happy Reading•~...
Kaliana bertanya demikian, karena mengira Bram tahu ada masalah dengan putusan hukuman kepada Pak Ewan, Papa Rallita.
📱 "Ngga ada masalah... Yang penting kau sudah tau dan ngga usah pikirkan hukuman kepada Punguk. Biarkan saja dia merenungi hidupnya di balik jeruji." Bram berkata dengan hati lega.
📱"Iyaa... Pak Yosa ada di ruang sidang temani Pak Danny dan Pak Marons. Kami tidak bisa hadir, karena sudah tidak bisa membantu apa pun untuk menambah hukuman para terdakwa. Selain itu kami juga sedang latihan." Kaliana menjelaskan, sebelum ditanya oleh Bram.
📱"Ooh, ok.... Aku hubungi bukan mau bicarakan putusan hukuman tadi, tapi mau bicara tentang orang tua Jaret. Pihak Kejaksaan sudah lakukan penggeledahan di ruang kerjanya, juga di ruang kerja beberapa pejabat lainnya. Mereka sudah bawa semua berkas yang mencurigakan." Bram menyampaikan apa yang diceritakan penyidik Kejaksaan padanya.
📱"Tapi sampai saat ini, Papa Jaret belum ditahan oleh Kejaksaan karena barang bukti belum terlalu kuat untuk menjeratnya. Dalam dua minggu ini sudah dua kali diperiksa, tapi belum ada barang bukti kuat untuk menggugurkan semua keterangan yang dibuatnya. Jadi Kejaksaan belum menahannya atau pejabat lain yang bersamanya lakukan penggelapan dan penipuan." Bram terus menjelaskan.
📱"Ooh... Pihak Kejaksaan sudah menggeledah rumahnya?" Kaliana bertanya serius, karena terkejut dengan penjelasan Bram.
^^^Mendengar penjelasan Bram, Kaliana memberikan kode kepada Putra untuk menyiapkan apa yang diperlukan, sesuai dengan pembicaraannya dengan Bram.^^^
📱"Sudah, tapi tidak ada banyak barang bukti yang ditemukan, agar bisa menahannya. Brankasnya hanya berisi beberapa dokumen dan uang yang tidak seberapa. Normal sebagaimana jabatannya dan usaha istrinya." Bram melanjutkan keterangan yang diperolehnya dari penyidik Kejaksaan.
📱"Apakah hanya itu yang dimiliki oleh orang tua Jaret? Apakah Kejaksaan sudah minta keterangan dari PPATK tentang harta Jaret?" Kaliana bertanya serius dan heran dengan apa yang dikatakan Bram.
📱"Iyaa... Hanya itu yang dikatakan penyidik. Kalau soal harta Jaret, mereka sudah jadwalkan untuk minta keterangan PPATK. Mereka akan coba masuk dan menyelidiki lewat itu untuk melihat reaksi orang tua Jaret." Bram berkata pelan dan serius.
^^^Bram tahu, Kaliana tahu lebih darinya dan penyidik. Tidak mungkin Kaliana membidik orang tua Jaret dengan mengulik mereka di sosial media, jika harta orang tua Jaret tidak seberapa. Itu yang ada dalam pemikiran Bram.^^^
📱"Tidak hanya itu... Kita bisa bertemu hari ini? Nanti Pak Yosa kembali dari pengadilan negeri, kami berdua akan bertemu denganmu untuk membahas kekayaan orang tua Jaret." Kaliana berkata tegas, karena mereka tahu bukan seperti yang dikatakan Bram.
__ADS_1
📱"Jika kau bisa atur, kita bisa sekalian bertemu dengan penyidik Kejaksaan, akan lebih baik. Agar kami tidak perlu menjelaskan berulang kali. Kami akan bawa barang bukti dan juga dokumennya." Kaliana berbicara serius, sambil mengatur rencana setelah memikirkan apa yang ditemukan Kejaksaan.
^^^Putra telah menunjukan lokasi dimana orang tua Jaret berada di beberapa waktu belakangan ini. Hal itu membuat Kaliana mengaitkan dengan keterangan hasil penyelidikan pihak Kejaksaan di rumah orang tua Jaret yang baru disampaikan oleh Bram.^^^
📱"Siiiaap... Aku akan hubungi penyidik dan sampaikan yang kau katakan. Kalau begitu, kau tunggu info dariku. Aku akan temui orangnya setelah bicara denganmu." Bram merespon permintaan Kaliana dengan cepat, karena saat ini gerak-geriknya sangat terbatas.
^^^Bram masih terus diawasi, jadi dia harus berhati-hati melakukan sesuatu. Oleh sebab itu, dia sangat mengharapkan bantuan Kaliana dan anggota teamnya.^^^
📱"Ok... Jika bisa bertemu dengan penyidiknya, kau atur waktu dan tempatnya. Aku dan Pak Yosa akan meluncur." Kaliana berkata cepat dan serius, agar Bram segera tindak lanjuti yang direncanakannya.
📱"Siiiaap... Aku akan email waktu dan tempatnya pada Putra, setelah bicara dengannya." Bram berkata, lalu mengakhiri pembicaraan mereka.
"Berarti aktivitas ponsel orang tua Jaret di lokasi itu, untuk menyembunyikan barang bukti." Ucap Kaliana sambil berpikir dan melihat ke arah semua anggota teamnya.
^^^Apa yang dijelaskan Bram telah menjawab pertanyaan mereka belakangan ini, tentang lokasi ponsel orang tua Jaret yang terus berpindah ke beberapa titik.^^^
"Putra, siapkan semua. Aku yakin kita akan bertemu dengan pihak Kejaksaan, jika mereka serius mau menyelidiki orang tua Jeret." Kaliana berbicara serius sambil melihat Putra yang sedang menunggu permintaan darinya.
~°°°~ ~°°°~ ~°°°~
Beberapa waktu kemudian, Pak Yosa kembali ke rumah seorang diri, tanpa Marons dan Danny. Melihat itu, Kaliana bertanya dengan heran ke arah Pak Yosa yang masuk ke rumah setelah memarkirkan mobilnya.
"Pak Marons dan Pak Danny tidak ikut bersama Pak Yosa?" Tanya Kaliana saat Pak Yosa sudah masuk ke dalam rumah dan mereka sedang berbicang-bincang di ruang makan. Walau pun sudah lama selesai makan siang, mereka menunggu Marons, Danny dan Pak Yosa kembali ke rumah.
"Tidak. Tadi aku mengantar Pak Danny dan asistennya ke kantor. Sedangkan Pak Marons dijemput sopir langsung ke kantornya. Ada yang mau mereka kerjakan di kantor, jadi minta aku langsung pulang ke rumah." Pak Yosa menjelaskan setelah duduk bersama anggota team yang lain di ruang makan.
__ADS_1
"Kalau begitu, Pak Yosa istirahat dulu. Kita akan keluar menemui Pak Bram. Kami sedang menunggu email darinya untuk tau waktu dan tempat pertemuan kita." Kaliana berkata kepada Pak Yosa supaya bisa istirahat, karena sudah keluar dari pagi untuk menghadiri persidangan.
Pak Yosa mengangguk lalu segera berdiri untuk naik ke kamarnya, diikuti oleh Putra dan yang lain.
"Ooh, iya... Pak Yosa sudah makan?" Tanya Kaliana cepat sebelum Pak Yosa keluar dari ruang makan.
"Sudah... Kami makan makanan fast food yang dipesan Pak Danny di kantornya. Kalau Pak Marons, aku ngga tau. Mungkin mampir di restoran sambil jalan, atau makan di kantornya." Pak Yosa menjawab Kaliana setelah membalik badannya.
^^^Kaliana mengangguk mengiyakan sambil mengangkat jarinya yang sudah dibentuk tanda OK, lalu berdiri dan ikut naik ke ruang kerja.^^^
"Putra, tolong perlihatkan lokasi ponsel semua orang yang sedang kita awasi." Putra segera melakukan yang diminta Kaliana, setelah berada di ruang kerja.
"Ponsel orang tua Jaret dan yang berhubungan dengannya dipindahkan ke monitor 'atta'... Coe, tolong perhatikan monitor 'atta' dan kasih tanda siapa saja yang hubungi orang tua Jaret, ya. Biar Putra di monitor 'sopa', agar bisa konsen." Yicoe mengangguk, lalu segera ambil posisi untuk lakukan yang diminta Kaliana.
^^^Marons telah membeli satu lagi monitor untuk menunjang pekerjaan team sopape, terutama Putra. Karena Marons melihat banyak orang yang diawasi oleh Putra, sehingga yang terlihat di layar terlalu kecil.^^^
^^^Putra makin senang, lalu mengajarkan kepada Yicoe dan Novie untuk mengawasi bersamanya. Jadi Putra tidak perlu lagi menggati atau memindahkan layar monitor, jika Kaliana minta lokasi seseorang.^^^
^^^Kedua monitor itu dinamai dengan nama julukan kesukaan mereka, agar muda diucapkan saat diminta mengawasi salah satu monitor.^^^
"Vie, tolong siapin semua dokumen yang akan kami bawa untuk bertemu Pak Bram, ya." Kaliana membagi tugas untuk anggota team sopape. Novie segera lakukan yang diminta Kaliana.
"Mba' Annaaa..." Putra tiba-tiba memanggil Kaliana sambil menunjuk layar monitor 'sopa', dimana nomor Jamu.gD diaktifkan.
...~°°°~...
__ADS_1
...~●○¤○●~...