ROMANTIKA HIDUP

ROMANTIKA HIDUP
106. Warna Sari 22.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Putra hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan langsung duduk di kursi meja makan sambil menggerakan jari di mulutnya, seakan sedang makan paha ayam dan menarik tangannya ke arah kanan. Hal itu membuat Yicoe yang sedang peralatan makan di meja makan, mau menimpuknya dengan sendok.


Putra tertawa senang sambil mengangkat kedua jarinya tanda 'peace', saat melihat mimik kesal Yicoe. Kaliana segera masuk ke ruang makan sebelum Putra makin ledekin Yicoe. Novie yang sudah ambil piring berisi lauk pauk yang lain, segera menyusul Kaliana ke ruang makan.


"Sudah cuci tangan, belum? Segera cuci tangan sebelum ayam goreng terjangkit kuman-kuman di tanganmu." Kaliana berkata sambil meletakan ayam goreng di meja makan disusul oleh Novie.


Putra segera berdiri, lalu berjalan ke dapur untuk mencuci tangannya. "Terima kasih, Bi.. Hari ini perutku bisa berpesta." Putra berkata kepada Bibi yang sedang menyiapkan buah-buahan di wadahnya, sambil tersenyum. Bibi juga jadi tersenyum mendengar ucapan Putra.


"Terima kasih juga, Den. Sudah suka masakan Bibi. Ini, coba cicipi angurnya, manis apa ngga? Biar Bibi siapkan buah yang lain, kalau ngga terlalu manis." Bibi mempersilahkan Putra mengambil buah anggur yang sedang ditatanya di piring buah. Putra mengangguk, lalu mengambil anggur yang ditawarkan oleh Bibi. Putra mengangkat kedua jempolnya ke arah Bibi setelah mencicipi anggur, tanda manis.


Kemudian dia kembali ke ruang makan untuk bertemu dengan yang lain. Senyumnya makin lebar, saat melihat Danny dan Pak Yosa sudah pulang. Pertanda mereka akan segera makan siang.


"Mengapa wajahmu senang sekali setelah mencuci tangan? Jangan bilang kau sudah cuci mulutmu juga di belakang." Novie berkata setelah melihat Bibi membawa anggur yang telah ditata ke ruang makan.


"Aku selalu ketahuan, kalau melakukan sesuatu dengan mulutku." Putra berkata sambil membersihkan mulutnya dengan tissu. Mendengar itu, semua yang ada di ruang makan jadi tertawa, begitu juga dengan Bibi yang hendak kembali ke dapur.


"Putra, tolong ambil perlengkapanmu sambil menunggu Pak Yosa dan Pak Danny bersihkan tangan. Jangan sampai ada yang menghubungi dan kita tidak tahu." Kaliana berkata cepat sebelum mereka keasyikan bercanda dan lupa, mungkin saja Marons akan menghubunginya.


Putra mengangguk dan mengangkat jarinya membentuk 'OK'. Dia segera naik ke ruang kerja untuk mengambil perlengkapan yang diperlukan, karena mengerti maksud Kaliana. Setelah turun ke ruang makan, dia meletakan di atas buffet yang ada di ruangan itu.

__ADS_1


Pak Yosa dan Danny yang sudah masuk segera meletakan semua yang dibawanya lalu mencuci tangan untuk makan, karena melihat Putra sudah duduk di meja makan sambil melihat semua menu yang sedang ditata oleh Yivoe dan Novie.


Pak Yosa menepuk pelan punggung Putra, lalu duduk di sampingnya. "Dengan semua masakan yang disiapkan Bibi, jika kau tetap seperti tiang listrik, kami akan membasmi semua cacing2 diperutmu." Pak Yosa berkata sambil tersenyum. Semua yang sudah duduk di meja makan jadi tertawa. Putra hanya bisa mengelus perutnya sambil membuat mimik lucu ke arah Pak Yosa.


Setelah berdoa, mereka menikmati makan siang tanpa canda atau tawa, karena menu makan siang yang disiapkan Bibi sangat lezat. Putra hanya melirik Novie dan Yicoe yang sedang asyik makan, sehingga tidak memperhatikannya sudah ambil beberapa potong ayam. Dia tersenyum senang, luput dari perhatian anggota yang lain. Danny jadi tersenyum melihat Putra makan sambil tersenyum, setelah melirik Novie dan Yivoe.


~°°°~ ~°°°~ ~°°°~


Selesai makan siang, mereka duduk sejenak di meja makan setelah Kaliana, Yicoe dan Novie menyingkirkan peralatan kotor ke dapur dan membiarkan buah-buah segar di atas meja makan untuk dinikmati.


Sambil menikmati buah-buahan segar, mereka membicarakan foto viral dan nama Papa Jaret yang tranding. Pak Yosa dan Danny segera mengeluarkan ponsel mereka untuk melihat apa yang dikatakan Kaliana. Danny menyadari, animo publik sangat besar terhadap kasus yang sedang ditanganinya. Hal itu membuat dia mempelajari yang sedang terjadi di sosial media dengan serius.


Tiba-tiba ponsel pribadi Kaliana berdering. Mendengar suara ringtonnya, Kaliana memberikan kode kepada Putra untuk mengamankan pembicaraannya. Kemudian berdiri meninggalkan meja makan dan berpindah ke ruang keluarga. Semua yang di meja makan mengangguk mengerti, ketika Kaliana minta permisi untuk menerima panggilan di telponnya.


📱"Ngga, Arro... Kami sudah selesai makan, tapi masih duduk sambil nikmati buah-buahan yang disiapin Bibi. Kau sudah makan?" Kaliana menjawab dan balik bertanya dengan hati senang, karena Marons sudah menghubunginya. Dia telah menunggu telpon Marons dari pagi, tapi sampai waktu tiba makan siang Marons belum menghubunginya.


📱"Ini baru selesai makan dan istirahat sejenak, jadi menghubungimu. Apa kalian semua baik-baik saja?" Marons menyandarkan punggungnya dan berbicara pelan. Dia pergunakan waktu istirahat untuk menghubungi Kaliana agar bisa mengetahui situasi di rumah.


📱"Kami semua baik... Pekerjaan lancar, Pak Danny dan Pak Yosa sudah pulang. Jadi kami semua makan siang di rumah. Apa kau sibuk sekali hari ini?" Kaliana tidak bisa tahan untuk menanyakan aktivitas Marons.


📱"Iyaa, Niii... Aku sedang di luar kota bersama Ayah, makanya berangkat pagi-pagi. Ada masalah sedikit di perusahaan, jadi aku dan Ayah perlu turun tangan. Aku usahakan bisa kembali nanti malam, jadi jangan kangen. Nanti hatiku garuk-garuk." Marons berkata cepat, lalu tertawa mendengar ucapannya.

__ADS_1


📱"Mengapa aku yang kangen, hatimu yang gatal?" Kaliana menanggapi candaan Marons dan tersenyum senang.


📱"Ooh, jadi hatimu mulai menyimpang? Sudah tidak konek lagi dengan hatiku? Kalau begitu, dari sini aku akan kembali ke Korea saja. Percuma buru-buru pulang, malah dicuekin." Marons menunjukan seakan sedang merasa kesal, tapi hatinya sangat senang bisa bicara dengan Kaliana.


📱"Yeeee... Begitu saja, ngambek. Sejak kapan jadi tukang ngambek?" Tanya Kaliana sambil tersenyum, membayangkan wajah ngambek Marons yang belum pernah dilihatnya.


📱"Sejak kau ada di hatiku..." Marons berkata serius, tapi hatinya tertawa mendengar ucapannya yang spontan. Dia melihat wajah heran Ayahnya yang baru masuk ruangan, karena melihatnya sedang tertawa.


Marons meletakan jarinya di bibir saat Ayahnya hendak memanggilnya. Ayah Marons hanya bisa gelengkan kepala dan kembali keluar dari ruangan setelah memberikan isyarat kepada Marons bahwa Ayahnya hendak memulai pertemuan.


📱"Guubraakk... Sejak kapan kau mulai suka ngerayu?" Kaliana menirukan suara orang yang jatuh sambil tertawa mendengar ucapan Marons yang tidak biasanya.


📱"Sejakkk, kau ada di hatiku...!" Marons kembali mengulang kalimat yang sama untuk menggangu Kaliana, hanya nadanya yang berbeda.


📱"Guubraaaakkkk...!" Kaliana hanya bisa mengatakan kata itu, karena dia tahu Marons sedang ledekin dan mau mengganggunya. Jika dia mengatakan sesuatu lagi, Marons akan mengatakan kalimat yang mirip dengan itu.


📱"Baru dengar begitu saja sudah gubrakkk. Apalagi aku lakukan yang lain. Sejak kapan suka gubrak-gubrakan?" Marons masih mau ledekin Kaliana, karena dia baru pernah dengar kata itu diucapkan Kaliana dan itu bisa membuatnya rileks sejenak.


📱"Sejaaakkk, jatuh cinta padamu." Kaliana membalas Marons, lalu menutup mulutnya dengan tangan agar tawanya tidak didengar yang lain.


📱"Guubraakkk... Hahahaha... Udahan dulu yaa... Lagi ditunggu Ayah. Nanti aku ngga bisa pulang malam ini." Marons mengakhiri pembicaraan mereka sambil tertawa senang.

__ADS_1


...~°°°~...


...~●○¤○●~...


__ADS_2