ROMANTIKA HIDUP

ROMANTIKA HIDUP
32. Warna Sari 7.


__ADS_3

...~β€’Happy Readingβ€’~...


Sedangkan Kaliana telah keluar dari ruangan makan untuk merespon panggilan Marons di telpon pribadinya. Dia tahu Marons sedang sibuk dan tidak banyak waktu, sehingga dia harus segera merespon panggilan Marons.


πŸ“±"Niiii... Kalian sedang apa?" Tanya Marons, karena Kaliana merespon panggilannya setelah deringan yang ke sekian kali.


πŸ“±"Kami baru selesai sarapan dan mulai mengatur untuk rapiin di atas." Kaliana tidak mau membicarakan telponan Bryan atau ledekan anggota teamnya, agar tidak panjang pembicaraan dan bisa mengganggu konsentrasi Marons.


πŸ“±"Aku kira kalian sudah mulai bekerja, karena kau lama baru respon panggilannku. Ini aku sudah di bandara. Sebentar lagi mau boarding. Nanti sudah tiba di sana, aku kabari." Marons berkata demikian, karena Kaliana tidak biasanya merespon panggilannya selama itu.


πŸ“±"Kalau ada apa-apa, hubungi aku. Kalian semua hati-hati dan ingat yang aku bicarakan tadi malam. Kalau bisa jadwal sidangku dimundur, karena aku belum tau berapa lama di sana." Marons berkata lagi, karena perkembangan pembicaraan dengan Ayahnya yang tidak bisa ikut bersamanya membuat semua bisa berubah.


πŸ“±"Baik... Nanti aku bicarakan dan kabari. Arro juga hati-hati di sana." Kaliana berkata pelan, sambil berpikir untuk memajukan kasus yang mana. Kalau sudah bicara serius, mereka bagaikan orang yang tidak memiliki hubungan khusus.


πŸ“±"Kenapa ada suara riuh seperti itu? Apa terjadi sesuatu?" Tanya Marons diluar pembicaraan, karena sayup-sayup terdengar suara tawa dan canda team sopape yang kadang terdengar.


πŸ“±"Kau masih ada waktu untuk mengobrol...?" Tanya Kaliana yang baru menyadari, suara anggota teamnya terdengar sampai ke tempatnya berdiri dan juga Marons yang sedang berbicara dengannya.


πŸ“±"Masih... Makanya bisa menelponmu. Ada apa?" Tanya Marons yang tidak mengerti arah pertanyaan Kaliana. Setelah berbicara dengan Ayahnya, dia mau kirim pesan, tetapi melihat masih ada waktu, dia segera hubungi Kaliana.


πŸ“±"Mereka lagi ledekin aku, gara2 yang kau lakukan tadi malam." Ucap Kaliana cepat, karena khawatir ada yang lewat dan mendengarkan pembicaraan mereka dan makin panjang ledekan mereka padanya.

__ADS_1


πŸ“±"Aku lakukan yang mana? Siapa yang melihat?" Tanya Marons dengan wajah tersenyum, membayangkan ada yang melihat kebersamaan mereka. Dia bertanya demikian, karena ada banyak yang mereka lakukan tadi malam.


πŸ“±"Lihat saja sosial medianya Putra. Kau akan tahu yang mana." Kaliana merasa jengah untuk mengatakan 'saat kau menciumku'. Dia tahu, jika mengatakannya, Marons juga akan sama dengan anggota teamnya, mengganggunya.


πŸ“±"Hahahaha... Ternyata Putra melihat aku sedang mencuri." Marons tertawa melihat karikatur yang ada di akun media sosial Putra.


'Jangan-jangan Bibi tadi malam melihat juga.' Marons berkata dalam hati. Dia tidak mau mengatakan yang dipikirkannya kepada Kaliana, agar Kaliana tetap merasa nyaman terhadap Bibi.


πŸ“±"Putra selalu saja ada saat terjadi adegan biiiiip..., di antara kita. Sosial medianya penuh dengan karikatur semua adegan kita. Pukul, memukul. acak, mengacak. Sekarang cium, mencium." Ucap Marons lagi, sambil melihat media sosial Putra lalu tersenyum.


Marons bagaikan sedang melihat komik tanpa teks. Tapi dia, Kaliana dan anggota team sopape lainnya bisa tau ceritanya. Karena selain membuat karikatur dirinya dengan Kaliana, ada juga berbagai mimik wajah anggota team sopape melihat mereka berdua dari berbagai sudut. Marons jadi tertawa, karena senang melihat karikatur yang digambar oleh Putra.


πŸ“±"Kau juga, mencuri ngga bilang-bilang." Kaliana berkata pelan, tapi membayangkan, sedang memukul lengan Marons. Membuat dia tersenyum sendiri, memikirkan hal itu.


πŸ“±"Sudaaa... Ngaa usah dibahas lagi, karena pagi ini aku sudah habis diledekin mereka. Aku sudah kasih tau yang terjadi diantara kita, supaya mereka jangan berprasangka buruk kepada kita. Akhirnya...., yaa itu yang sedang riu reda..." Kaliana menjelaskan, agar Marons tahu, anggota team sopape sudah tahu hubungan mereka.


πŸ“±"Oooh... Ok... Niii, ini sudah mau boarding. Ada salam tempel ngga?" Marons berkata untuk ledekin Kaliana, agar tidak mengingat lagi soal curi mencuri tadi malam.


πŸ“±"Iyaa.. Ada salam tempel." Kaliana berkata pelan, tapi membuat semburat merah di wajahnya. Karena dia membayangkan yang dilakukannya terhadap Marons tadi malam.


"Waaaah... Salam tempel apa yang bisa membuat wajah orang begitu merona merah?" Ucap Putra yang sudah ada di dekat Kaliana. Membuat Marons tertawa dan mengakhiri pembicaraan mereka. Dia masih tertawa, membayangkan Putra sedang ledekin Kaliana.

__ADS_1


Kaliana langsung memukul lengan Putra berkali-kali. "Mbak Annaaa... Aku salah apa? Aku hanya bertanya, karena wajah Mbak Anna sangat merah." Putra berkata sambil berlari menjauh dari pukulan Kaliana.


"Kau selalu saja berada di tempat yang tidak seharusnya." Ucap Kaliana lalu memukul lengan Putra, membuat Putra tertawa senang bisa membuat karikatur baru. Dia juga tertawa, karena Kaliana memukulnya seperti memukul Marons. Jika Kaliana memukul tidak dari hati, lengannya sudah merah atau membiru, menginggat pukulan Kaliana bisa membuat seseorang pingsan.


"Mbak, aku tidak sengaja menguping. Tadi aku diminta Pak Yosa untuk beritahu, Pak Bryan mau bicara dengan Mbak." Ucap Putra sambil mengelus lengannnya seakan-akan sakit, karena Kaliana sudah berhenti memukul lengannya.


"Ooh... Pak Bryan belum selesai bicara dengan Yicoe?" Tanya Kaliana heran, dia mengira yang berbicara dengan Bryan adalah Yicoe. Dia segera kembali ke ruang makan lalu mengambil ponsel dari tangan Pak Yosa.


πŸ“±"Maaf, Pak Bryan. Tadi ada yang perlu saya selesaikan. Gimana, Pak." Tanya Kaliana cepat dan merasa tidak enak hati terhadap Bryan yang ternyata masih menunggunya.


πŸ“±"Sebenarnya saya ingin berbicara langsung, tetapi ini mendesak dan saya butuh pendapat anda. Apa saya bisa bicarakan di sini?" Bryan berkata cepat, karena tahu Kaliana sedang sibuk dan dia butuh saran atau pendapat Kaliana.


πŸ“±"Sebentar ya, Pak Bryan." Kaliana juga cepat, karena mengetahui keseriusan Bryan dan mungkin akan menyangkut kasus adiknya. Tadi dia baru bicara rencananya terhadap Jaret, mungkin sekarang tentang adiknya. Kaliana memberikan kode kepada Putra untuk merekam pembicaraannya dengan Bryan. Sedangkan anggota team yang lain segera mengambil peralatan mereka, melihat wajah serius Kaliana.


πŸ“±"Baik, Pak. Bicarakan saja. Ada apa?" Kaliana berbicara lagi, setelah Putra memberikan kode 'OK' kepadanya. Begitu juga dengan anggota team yang lain sudah kembali ke ruang makan.


πŸ“±"Ada beberapa orang hubungi Daddy dan juga saya. Mereka katakan dari kejaksaan atau mengenal baik orang kejaksaan dan banyak alasan lagi untuk menghubungi kami. Mereka menawarkan jasa, bisa membantu Chasi dalam kasusnya. Menurut mereka, hukuman Chasi bisa diringankan. Chasi bisa diusahakan untuk dapat hukuman terendah." Bryan menjelaskan dengan detail tentang orang-orang yang menghubunginya dan juga Pak Adolfis.


πŸ“±"Pak Bryan... Dengarkan saya, baik-baik. Jangan coba-coba mengikuti apa yang mereka tawarkan. Itu hanya permainan, karena mereka tahu siapa Ibu Chasi dan juga keluarganya." Kaliana berkata serius, sambil memberikan kode kepada yang lain untuk mendengar.


Kasus Chasina akan menjadi liar, jika Pak Adolfis dan Bryan mengikuti kemauan aparat hukum. Kaliana sudah menduga ini akan terjadi, karena Chasina selain pengusaha, dia berasal dari keluarga konglomerat yang dikenal di negeri ini.

__ADS_1


...~°°°~...


...~●○€○●~...


__ADS_2