
...~•Happy Reading•~...
Semua anggota team sopape memperhatikan layar TV dengan serius setelah mendengar apa yang dikatakan Kaliana.
"Benar, Coe... Yang mengherankan, Jaret tidak menarik atau memakai dana dari semua tabungan yang ditabung tanpa menyertakan nomor rekening itu." Ucap Novie yang melihat lebih teliti, setelah Putra mulai memisahkan kekayaan Jaret menurut kategorinya.
"Putra tolong lingkari yang dimaksudkan Novie, agar kita bisa lihat mana-mana saja yang transaksi tuyul." Ucap Pak Yosa yang mulai memahami maksud Yicoe dan Novie. Putra segera melakukan yang diminta oleh Pak Yosa.
"Benar... Itu bukan transferan, tapi ditabung dengan datang sendiri, langsun ke bank. Jadi tidak mencantumkan nomor rekeningnya. Mungkin orangnya tidak memiliki tabungan di bank tersebut." Kata Yicoe lagi setelah Putra melakukan yang diminta Pak Yosa.
"Putra, cari nama orangnya, agar kita bisa lihat siapa tuyulnya. Kenapa dia memberikan secara berkala, tapi tidak ada transkaksi dengan dana-dana itu." Ucap Kaliana serius, setelah melihat yang dimaksud rekan-rekannya.
"Ini dari orang yang sama dan dalam waktu yang lama." Ucap Pak Yosa, setelah diperlihatkan oleh Putra nama yang tercantum di tabungan.
"Putra, perlihatkan profil mereka. Nama itu sangat familier bagiku." Ucap Kaliana cepat, karena sangat penasaran. Begitu juga dengan yang lain, semua menanti dengan tidak sabar, karena penasaran dan sependapat dengan Kaliana. Nama yang tercantum pernah mereka tahu.
"Astagaaa... Kita sedang membuka kotak pendora." Ucap mereka bersamaan, setelah melihat profil yang diperlihatkan Putra. Yicoe dan Novie sontak menutup mulutnya dengan tangan, karena terkejut.
"Astagaaa... Ini bukan tuyul, tapi tuyul-tuyulan. Mereka sengaja menyimpan dana dengan nama Jaret." Ucap Yicoe setelah melihat profil orang tua Jaret yang telah dikonfirmasi oleh Putra dengan jelas. Mereka terkejut melihat wajah Papa Jaret, karena sering melihatnya di media sosial sebagai pejabat pemerintah.
"Mungkinkah Jaret tidak tau tentang semua ini? Karena tanbungannya yang lain, aktif lakukan transaksi." Novie mencoba menebak, berkaitan dengan tidak ada penarikan atau penggunaan dana dari rekening-rekening tersebut.
"Bisa jadi demikian. Dia tidak tahu ada memiliki uang yang banyak ini. Putra, tolong lihat, apakah Jaret ada menggunakan dana dari Bu Chasina. Baik berupa CC (credit card) atau kartu debet." Kaliana berpikir cepat setelah melihat dan mendengar yang dikatakan anggota teamnya.
__ADS_1
Putra segera lakukan yang diminta Kaliana. Ketika Putra memperlihatkan di layar, semuanya jadi tercengang. Jaret sering menggunakan dana dari Chasina, karena yang membayar penggunaan CC Jaret adalah Chasina.
"Anna... Gugatan cerai Bu Chasina bukan saja sebagai kunci untuk melacak kekayaan Jaret, tapi juga merupakan kunci pembuka kotak pendora." Ucap Pak Yosa serius setelah menyadari apa yang terjadi dan berkaitan dengan gugatan cerai Chasina.
"Pak Yosa benar, tadi aku sudah bicarakan dengan Pak Danny. Tapi hanya pikirkan kunci pembuka ke kekayaan Jaret. Yang sekarang kita lihat bukan hanya itu." Ucap Kaliana sambil menunjuk layar TV.
"Ini seperti kata peribahasa: 'Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui'. Yang kita lakukan ini, bahkan lebih dari kata peribahasa itu." Kaliana berkata serius, karena yang ada dipikirannya sudah ke segala arah. Kasus yang mereka kerjakan akan menyangkut kasus lainnya.
"Yang akan kita lakukan ini bukan seperti peribahasa itu saja ; 'Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, tetapi juga sekalian nangkap ikan yang banyak." Kaliana sontak berdiri, karena adrenalinnya mengalir deras memikirkan apa dan siapa yang akan mereka hadapi di depan.
"Astagaaa... Kau benar Anna. Bukan hanya ikan yang banyak saja, tapi juga ikan besar." Pak Yosa yang sudah mengerti maksud Kaliana sontak ikut berdiri. Adrenalinnya sebagai seorang petugas polisi pun berpacu, membayangkan yang belum pernah terjadi selama bertugas.
"Ayooo... Mari berdiri semua, saling pegang tangan dan berdoa dalam hati menurut keyakinan kita masing-masing, agar Tuhan menolong kita." Pak Yosa meminta anggota team berdiri, lalu saling menggenggam tangan dan menundukan kepala untuk berdoa.
"Pak Yosa benar... Kita sudah tidak bisa mundur lagi. Mari kita maju bersama, karena Tuhan akan melindungi orang yang melakukan hal baik. Kita tidak bermaksud mencari kesalahan orang lain. Tetapi semua itu mendatangi kita." Ucap Kaliana serius setelah memikirkan semua yang akan terjadi dan juga tindakan Pak Yosa.
"Insya Allah, semua yang kita lakukan diridohi." Semua anggota team mengaminkan apa yang diucapkan Yicoe. Ungkapan Yicoe merupakan doa dan harapan, sekaligus menyemangati anggota team yang lain untuk maju di jalan-Nya. Dia sudah bisa bayangkan apa yang akan mereka hadapi jika mengotak-atik sesuatu yang disimpan secara rahasia.
Mereka semua terdiam dan duduk dalam perenungan dengan pemikiran masing-masing. Tidak ada yang bersuara dalam waktu yang cukup lama.
"Maaf, Non... Ini sudah lewat jam makan siang." Tiba-tiba Bibi masuk ke ruang keluarga untuk mengingatkan mereka bahwa sudah waktunya makan. Hal itu menyadarkan mereka. Perut Putra yang biasanya menangis minta makan, sekarang tidak menunjukan tangisannya.
"Terima kasih, Bi..." Ucap mereka serentak dan bersamaan lalu berdiri. Mereka berjalan mengikuti Bibi ke ruang makan.
__ADS_1
"Maaf, Bibi... Kami tidak bisa bantu, karena ada kerjaan yang mendadak dan penting." Ucap Kaliana yang sudah berjalan bersisian dengan Bibi.
"Tidak apa-apa, Non. Tuan muda sudah bilang sama Bibi. Non dengan yang lain di sini untuk bekerja dan Bibi harus bantu siapkan yang Non perlukan. Jadi Non dan yang lain bilang saja, jika perlu sesuatu." Ucap Bibi sopan dan hormat kepada Kaliana.
"Terima kasih, Bi..." Ucap Kaliana dan anggota team yang lain, lalu duduk di meja makan yang sudah tersedia menu makan siang lengkap.
Melihat meja makan penuh dengan makan siang, Putta tersenyum senang. Yicoe dan Novie langsung menyikut Putra yang duduk di antara mereka.
"Aku salah posisi duduk. Seharusnya, aku duduk dengan Pak Yosa agar terhindar dari senggolan." Ucap Putra sambil menggelengkan kepalanya. Membuat mereka semua tersenyum sebelum berdoa untuk makan.
Setelah makan, mereka tidak menyalahkan TV, tetapi masih duduk di meja makan. Semua perangkat makan telah dibersihkan dan meja telah dibersihkan, tapi mereka masih duduk untuk berdiskusi tentang apa yang mereka temukan.
Tiba-tiba ponsel pribadi Kaliana berdering. Mendengar nada deringnya, Kaliana memberikan kode kepada Putra, bahwa Marons yang telpon dan dia mau bicara dengan Marons. Putra mengangguk mengerti, lalu berdiri mengambil perangkatnya.
📱"Niii... Kalian sedang apa?" Tanya Marons, saat Kaliana merespon panggilannya didering yang kesekian kali.
📱"Kami baru selesai makan dan sedang duduk sebentar di meja makan. Sudah tiba?" Ucap Kaliana, menjelaskan dan juga bertanya tentang keadaan Marons. Dia baru menyadari, waktu berlalu dengan cepat.
📱"Kalau belum tiba, aku sekarang jadi superman. Bisa terbang di angkasa lalu menghubungimu. Ini efek makan siang terlambat atau merindukanku...?" Tanya Marons sambil melihat jam tangan, tapi wajahnya tersenyum membayangkan wajah kesal Kaliana, mendengar ucapannya.
...~°°°~...
...~●○¤○●~...
__ADS_1