
...~•Happy Reading•~...
Kaliana pernah kerja bersama Bram, jadi sangat mengerti Bram dalam menangani kasus. Setiap ucapan atau tindakannya ada kode bagi patner kerjanya, jika sedang terjadi sesuatu.
"Pak Danny, siap-siap untuk persidangan kasus Punguk. Aku akan berusaha bicara dengan Pak Bram, agar kasus Bu Chasina yang terakhir, jika memungkinkan." Ucap Kaliana yang terus berpikir, mencari solusi yang baik.
Putra segera mengirim pesan kepada Marons. Kaliana tidak mau langsung menghubungi Marons, karena tidak tahu kondisinya di Korea. Dia khawatir, teleponnya akan menganggu pekerjaan Marons. Dia sudah berpesan tadi malam minta dihubungi di sela kesibukannya, tapi sampai sekarang Marons belum menghubunginya. Jadi Kaliana berpikir, Marons sedang sibuk.
"Tidak masalah jika kasus Punguk yang duluan, Mbak Anna. Kami sudah siap, tunggu Pak Marons sebagai penggugat tiba. Tetapi jika Pak Marons tidak bisa tepat waktu, aku akan menyampaikan itu kepada hakim agar aku yang mewakilinya sambil menunggu." Danny mengerti maksud Kaliana untuk menghubungi Marons.
~°°°~ ~°°°~ ~°°°~
Di sisi yang lain ; Suhu di kantor Bram sudah memanas sejak pihak-pihak tertentu mengetahui Bram telah memindahkan Chasina ke 'Mako' untuk mengamankannya. Mereka mulai curiga dengan apa yang dilakukan Bram kepada Chasina. Sehingga rekan-rekannya yang tadinya hendak mengambil untung dari keberadaan Chasina mulai meradang. Terjadi gesekan antar berbagai kesatuan yang mulai terang-terangan menyerang Bram.
Apalagi bagian narkotika mulai mengendus, Bram telah memperoleh bukti tentang peredaran narkoba jenis sabu yang dilakukan oleh Jaret. Mereka jadi marah, karena sedang mengusahakan agar Jaret direhabilitasi sebagai pemakai saja. Tanpa melibatkan pengedar, atas permintaan orang tua Jaret. Keterlibatan orang dalam yang berkaitan dengan kasus Jaret, mulai terendus juga oleh Bram.
Membuat gesekan makin terasa. Apalagi pihak-pihak yang terkait dengan kasus tersebut mulai bergerilya mencari bukti yang telah diperoleh Bram. Hal itu terdeteksi oleh Bram dan team penyidiknya. Sehingga dia bergerak cepat dengan melakukan rapat interen, lalu melimpahkan kasus tersebut ke Kejaksaan dengan semua bukti yang diberikan Kaliana.
__ADS_1
Bram sengaja datang ke Kejaksaan terang-terangan, agar bisa menarik perhatian media. Sedangkan anggota teamnya menyebarkan berita tentang kehadirannya di Kejaksaan. Sehingga para pemberita yang mengetahui itu, segera menunggu dia keluar dari kantor Kejaksaan.
Harapan Bram, dengan diketahui publik, pihak-pihak yang terlibat dalam kasus tersebut berhenti mencari bukti padanya. Karena semua bukti sudah ada di tangan Kejaksaan. Bram berharap juga, publik akan menjadi pagar untuk memantau mengamankan kasus tersebut.
Dengan perhatian publik, pihak Kejaksaan juga tidak bisa melakukan sesuatu yang negatif untuk membaurkan kasus Jaret. Bram berharap, JPU (Jaksa Penuntut Umum) bisa bermain sesuai rel, sehingga kasus Jaret akan terbuka secara terang benderang. Oleh sebab itu, mengapa dia katakan kepada para media yang mewancarainya, 'tunggu tanggal persidangan, karena kasusnya sudah dilimpahkan ke Kejaksaan'.
Tetapi tidak terduga, tindakan Bram melimpahkan kasus tersebut ke Kejaksaan membuat suasana kantornya makin memanas. Apa yang dikatakan Bram jadi perbincangan di media, membuat sesama rekan kerja terutama bagian narkotika meradang dan panik. Para pimpinan segera adakan pertemuan dadakan saat melihat Bram kembali jadi trending.
Kinerja kepolisian kembali jadi sorotan media dan publik. Sebenarnya, apa yang dilakukan Bram membuat kinerja kepolisian mendapat respon positif dari masyarakat. Netizen memuji kinerja pihak Kepolisian yang menangani kasus Jaret dengan serius. Tetapi bagi satuan narkotika, apa yang dilakukan Bram merupakan ancaman. Bagian mereka akan jadi sorotan publik, jika ada yang main kotor. Mereka harus segera bersih-bersih, mencegah terjadi kekacauan di dalam tubuh mereka sendiri.
Para pimpinan dari berbagai kesatuan segera adakan pertemuan darurat untuk membahas dan mengevaluasi tindakan Bram. Pimpinannya dicercar berbagai pertanyaan tentang apa yang sedang terjadi dan yang dilakukan Bram. Pimpinannya menjadi gusar, karena tidak bisa menutupi tindakan Bram. Padahal Bram sudah diingatkan untuk bersabar, menunggu waktu yang tepat. Tetapi tindakan Bram sudah melibatkan banyak pihak dan bisa mengacak-acak keharmonisan hubungan dalam instusi.
Raka langsung bersikap siap dan hormat dengan gerakan tangannya memberikan kode kepada Bram dengan menunjuk ke atas. Bram yang melihat gerakan, jadi mengerti. Dia segera menyiapkan diri untuk dipanggil menghadap pimpinannya. Semua resiko sudah dia pikirkan dengan matang, saat memutuskan untuk melimpahkan kasus Jaret ke Kejaksaan.
Tidak lama kemudian, seperti yang dipikirkan Bram, dia dipanggil menghadap pimpinannya. Dengan menarik nafas panjang dan dalam, dia segera menemui pimpinannya.
"Mengapa kau tidak katakan pada saya akan melimpahkan kasus tersebut ke Kejaksaan?" Tanya pimpinannya saat Bram berada di depannya untuk melapor.
__ADS_1
"Saya sudah melapor, akan melimpahkan kasus tersebut setelah melengkapi buktinya. Bapak sudah setuju dengan apa yang saya katakan. Jadi setelah lengkap, saya limpahkan ke Kejaksaan." Ucap Bram tenang dan serius. Dia sudah pikirkan penangkal untuk hadapi situasi seperti ini.
Pimpinannya terkejut mendengar penjelasan Bram, tapi tetap menjaga wibawa di depan bawahannya. "Bukankah saya katakan untuk bersabar?" Beliau lupa pernah mengatakan itu dan tidak menduga, apa yang dikatakannya itu membuat Bram mengambil tindakan demikian, tanpa melapor terlebih dahulu.
"Bapak tidak perlu khawatir dengan kasus tersebut. Setelah berada di tangan Kejaksaan, mereka akan tangani dengan profesional. Semua bukti yang kita serahkan, bisa membuat terdakwa dihukum maksimal." Bram menjelaskan dengan serius untuk meyakinkan pimpinannya. Dia tidak berpikir negatif, melihat sikap pimpinannya yang gusar.
"Kau tidak bisa membaca situasi di sini? Ini bukan hanya kasus terdakwa. Saya mengira sudah memberikan sinyal padamu untuk tidak buru-buru mengusut kasus tersebut. Tetapi kau malah mengusutnya dengan lebih cepat." Ucap pimpinannya pelan tapi hatinya kesal dengan apa yang dilakukan oleh Bram. Tindakannya membuat para petinggi mencecarnya dan menekannya karena tidak becus memimpin bawahannya.
"Karena tindakanmu itu, aku tidak bisa menahanmu. Kau segera bersiap-siap akan dimutasikan ke satuan narkotika." Pimpinannya berkata tegas, tapi hatinya tidak tenang. Bram adalah seorang penyidik kasus kriminal dengan prestasi cemerlang, akan dimutasikan. Itu sudah jadi keputusan dalam rapat pimpinan yang baru dilaksanakan dan beliau tidak bisa mencegahnya.
Bram terkejut mendengar apa yang dikatakan pimpinannya. Dia makin waspada dan jadi berpikir ke segala arah. "Kau sudah bisa kembali ke ruangan dan tunggu perintah selanjutnya." Perintah pimpinannya tegas, mengabaikan rasa terkejut Bram yang melihatnya dengan serius.
Pimpinannya merasa sedikit bersalah, mengingat rekan-rekan sesama pemimpin kesatuan berencana untuk menyikirkan Bram yang berani melawan pimpinannya dengan bertindak sendiri. Para pemimpin mau menyikirkan Bram dengan cara memutasikan dia ke satuan narkotika, agar bisa berhadapan dengan para sindikat dan menenggelamkan dia di sana.
Bram terus melihat pimpinannya dengan serius sambil berpikir keras. Dia tidak bisa menolak atau melawan perintah pimpinannya. Dengan berat hati dan berserah, dia menerima semua yang diperintahkan.
"Siap, Pak...!" Ucap Bram sigap, singkat dan hormat. Kemudian segera meninggalkan ruang kerja pimpinannya.
__ADS_1
...~°°°~...
...~●○¤○●~...