ROMANTIKA HIDUP

ROMANTIKA HIDUP
74. Panik 3.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Apa yang dikatakam Hakim Alvian saat pertemuan, yaitu meminta petugas kehakiman meyerahkan surat darinya kepada pihak terkait, kembali terngiang di ingatan pengacara Elly. 'Apa surat itu sudah diproses?' Pikir pengacara yang mulai curiga. 'Apakah kekayaan Jarat sudah dibekukan?' Pengacara Elly kembali bertanya dalam hati, sambil melihat Mama Jaret sedang mengeluarkan ponsel dari tasnya dengan tangan bergetar. Kondisi Mama Jaret membuatnya waspada terhadap situasi yang akan dihadapi.


Mama Jaret segera menghubungi suaminya untuk memastikan seperti yang dikatakan pengacara Elly. Tangannya yang sakit dan bergetar membuat pengacara segera membantu, agar ponsel tidak jatuh dari tangannya. Mama Jaret sangat tidak tenang, membuat dirinya terlihat berantakan.


📱"Pah... Kau ada di mana? Apa kau bisa memindahkan uangnya?" Tanya Mama Jaret cepat, setelah suaminya merespon panggilannya. Rasa khawatir terdengar jelas dari suaranya yang bergetar.


📱"Kau membuatku terkejut... Tadi sangat macet, jadi ini baru saja tiba di bank untuk mengurus pindahannya. Ada apa lagi?" Tanya Papa Jaret yang merasa terganggu dengan panggilan istrinya. Beliau makin kesal, karena sedang terburu-buru, tapi istrinya seperti orang yang tidak mengerti situasi.


📱"Jangan urus pindahannya dulu, tapi coba ke ATM untuk tarik tunai. Apakah kartu di bank itu bisa berfungsi atau tidak, karena aku tidak bisa tarik tunai... ATM di Bank ini, beritahukan tranksaksi tidak bisa diproses." Mama Jaret berkata cepat, tidak mempedulikan suaminya yang sedang kesal.


Mendengar yang dikatakan istrinya, Papa Jaret menahan langkahnya lalu berpegangan pada pegangan kursi yang akan didudukinya. Walau belum tahu pasti penyebabnya, tapi mereka dalam kondisi seperti sekarang membuatnya panik. Papa Jaret langsung mengakhiri pembicaraan dengan istrinya lalu memberikan isyarat kepada sekretarisnya agar tetap duduk menunggunya. Papa Jaret kembali keluar menuju ATM yang ada di samping bank tersebut untuk coba lakukan tranksaksi seperti yang dikatakan istrinya.


Papa Jaret berjalan cepat sambil bertanya-tanya dalam hati, apakah telah terjadi sesuatu dengan tabungan Jaret? Saat masuk ke tempat ATM, beliau segera mengeluarkan kartu ATM milik Jaret dari bank yang sedang didatanginya untuk lakukan transaksi.


Ketika memasukan kartu, pin dan pilih nilai nominal yang hendak ditarik sesuai kartu platinumnya, Papa Jaret terkejut melihat kalimat yang sama seperti dikatakan istrinya. Hal itu membuat Papa Jaret segera keluar lalu mengajak sekretarisnya kembali mobil. Papa Jaret mengirim pesan kepada istrinya, bahwa mengalami hal yang sama.


Papa Jaret segera meminta sopirnya mencari ATM bank lain lagi, tempat menyimpan uang Jaret (mereka memiliki beberapa tabungan atas nama Jaret dan ATM nya dipegang sesuai kesepakan bersama istrinya). Beliau tidak masuk ke bank, tapi terlebih dahulu ke tempat ATM untuk lakukan transaksi. Ketika mengalami hal yang sama, Papa Jaret keluar menemui sekretarisnya yang sedang menunggu di luar tempat ATM.

__ADS_1


"Pak... Tolong lihat ini..." Sekretarisnya memperlihatkan layar ponselnya kepada Papa Jaret. Ketika melihat pemberitaan tentang gugatan cerai yang dilakukan Chasina kepada Jaret jadi perbincangan, Papa Jaret sontak menggenggam pundak sekretarisnya.


Apalagi melihat di video tersebut, kakak Chasina sedang diwawancarai oleh wartawan tentang kebenaran gugatan cerai Chasina. Ketika mendengar jawaban Bryan, Papa Jaret makin panik. Beliau mengembalikan ponsel sekretaris lalu memintanya segera kembali ke mobil.


"Ini sudah berapa lama diberitakan? Mengapa sudah diberitakan di mana-mana?" Tanya Papa Jaret yang telah duduk dalam mobil sambil melihat layar ponselnya.


"Sudah lebih dari satu jam yang lalu, Pak." Jawab sekretaris cepat dengan hati cemas, melihat pimpinannya yang panik sambil terus mencari berita tentang gugatan cerai Jaret.


"Mengapa kau baru katakan itu sekarang?" Tanya Papa Jaret kepada sekretarisnya dengan emosi bercampur panik.


"Maaf, Pak... Tadi sibuk untuk membantu bapak, jadi tidak sempat lihat sosial media. Ini baru lihat saat tunggu bapak di ATM." Jawab sekretaris cepat untuk menghindari kemarahan pimpinannya.


Walaupun Bryan hanya membenarkan berita tentang gugatan cerai Chasina, tapi ucapan selanjutnya membuat Papa Jaret kembali memegang ponselnya dengan tangan bergetar. Padahal Bryan hanya mengatakan kepada wartawan: "Untuk mengetahui lebih jelas tentang gugatan cerai Ibu Chasina, silahkan tanyakan pada pengacaranya."


Papa Jaret mencari berita tentang pengacara Chasina untuk mengetahui apa yang dikatakannya. Beliau sangat khawatir kondisi Jaret, karena mereka belum sempat memberitahukan Jaret tentang gugatan cerai Chasina terhadapnya.


Ketika mendengar jawaban pengacara Chasina, Papa Jaret berkeringat dingin. Mungkin bagi orang yang tidak mengetahui kondisi Jaret dan keluarganya, jawaban Danny biasa saja. Tetapi bagi orang tua Jaret dan pihak-pihak tertentu, itu adalah sinyal dan juga peringatan. Hal itu membuatnya sangat khawatir dan takut. Jawaban Danny kepada wartawan yang mewawancarainya ini, membuat Papa Jaret memegang kepala dan mencengkram rambutnya, karena kepalanya mulai terasa sakit.


^^^~°°"Iya benar... Ibu Chasina telah mengajukan gugatan cerai kepada suaminya. Sekarang sudah diproses oleh pengadilan. Kami sedang menunggu putusan, setelah pihak terkait memeriksa kekayaan suaminya untuk pembagian harta gono gini." Jawaban Danny.°°~^^^

__ADS_1


Papa Jaret segera turun dari mobil langsung masuk ke bank untuk memeriksa deposito atas nama Jaret. Ketika mengalami hal yang sama, maka sadarlah Papa Jaret, kekayaan Jaret telah dibekukan. Hal itu membuatnya langsung terduduk di ruang tunggu bank. Tanda bahaya berputar di kepalanya, sehingga tangannya memegang lututnya yang bergetar, tanpa bisa dikendalikan.


Papa Jaret memanggil security dengan tangannya untuk minta minuman, agar bisa mengurangi rasa panik yang sudah membuatnya gemetar. Apalagi belum sempat makan siang, hanya makan roti yang diberikan sekretarinya. Setelah minum, Papa Jaret berkata kepada security untuk minta bertemu dengan manager bank sambil menyerahkan kartu namamya.


Tidak lama kemudian security kembali bersama manager, lalu menyalaminya dengan hangat dan hormat. Kemudian mengajak Papa Jaret ke ruang kerjanya, setelah mendengar maksudnya kedatangannya.


"Apakah Pak Japry mau mengambilnya sekarang?" Tanya managar sopan dan hormat. Manager sangat mengenal baik Papa Jaret yang adalah seorang pejabat pemerintah.


"Iyaa... Saya mau mengambil Safe Defosite Box (DSB) milik saya." Papa Jaret berkata pelan, sambil berharap camas tidak terjadi sesuatu dengan SDB nya. Beliau sadar akan keadaan yang mulai mengancam. Sehingga bergerak cepat untuk menyelamatkan yang bisa diselamatkan. Apalagi sedang berada di bank tempat menyimpan milik pribadinya di SDB.


Sambil menunggu manager memproses permintaannya, Papa Jaret menghubungi istrinya. Beliau yakin, istrinya belum mengetahui tentang pemberitaan tersebut. Jika sudah tahu, pasti sudah menghubunginya.


📱"Renette... Segera ke tahanan untuk menemui Jaret, agar bisa jelaskan gugatan cerai Chasina." Ucap Papa Jaret cepat, setelah istrinya merespon panggilannya.


📱"Ada apa dengannya? Kenapa tiba-tiba harus ke sana? Apa di situ sudah beres? Kepalaku sedang sakit." Tanya Mama Jaret beruntun, karena tidak mengerti maksud permintaan suaminya. Beliau sedang shock setelah menerima pesan suaminya tentang tabungan Jaret yang tidak bisa ditarik, membuatnya sakit kepala.


📱"Lihat sosial media dan pemberitaan tentang perceraian Jaret, kau akan mengerti maksudku. Sekarang segera hapus semua postingan flexingmu di sosial media sebelum terlambat." Papa Jaret berkata serius, mengingat postingan istrinya di sosial media tentang kehidupan hedonnya.


...~°°°~...

__ADS_1


...~●○¤○●~...


__ADS_2