
...~•Happy Reading•~...
Sekretaris terdiam mendengar ucapan pimpinannya. Ternyata pimpinannya belum tahu apa yang sedang terjadi di media sosial tentang foto viral dan namanya yang sedang tranding. Dia berpikir, pimpinannya terlambat tiba di kantor karena masalah foto viral.
"Foto yang seperti beberapa waktu lalu, Pak." Jawab sekretaris pelan, sambil berharap pimpinannya tidak bertanya tentang itu lagi. Dia tidak enak mau mengatakan tentang foto flexing istrinya.
"Saya belum lihat foto mana lagi yang bisa viral. Masalah foto kemaren saja belum beres, sekarang tambah lagi. Kau tolong cari info tentang ini, agar tiba di situ saya bisa tau penyebab dipanggil menghadap. Cari info juga, apa saya dipanggil sendiri atau ada bersama yang lain." Papa Jaret memberikan instruksi kepada sekretarisnya dengan hati cemas dan jantung berdetak tidak teratur.
"Baik, Pak... Saya akan cari info sebelum bapak tiba." Sekretaris berkata cepat untuk mengiyakan, sebelum pimpinannya menumpahkan emosi kepadanya.
"Baik... Sekarang saya akan berangkat ke kantor. Katakan itu kepada siapa saja yang mencariku sebelum saya tiba." Kata Papa Jaret berkata lagi sebelum menutup telponnya.
Setelah mengakhiri pembicaraan dengan sekretarisnya, Papa Jaret memikirkan apa yang terjadi pagi ini. Semuanya datang bagaikan ombak yang bergulung, seakan tidak berhenti. Tadi berita tentang Jaret, sekarang tentang foto viral dan dipanggil pimpinannya.
Pelipisnya kembali berdenyut dan kepalanya mulai sakit, memikirkan apa yang dikatakan sekretaris tentang foto flexing. Papa Jaret membuka akun sosial medianya untuk melihat apa yang sedang terjadi. Kepalanya makin sakit ketika mengetahui kebenaran kata-kata sekretarisnya.
"Apa yang sedang terjadi?" Tanya Mama Jaret cepat dan was-was, saat melihat suaminya jadi emosi dan cemas setelah berbicara di telpon. Sebelumnya sudah tidak tenang, sekarang makin panik.
"Foto flexing kita sedang viral dan namaku jadi tranding lagi. Sekarang sedang dipanggil pimpinan untuk menghadap." Papa Jaret menjelaskan sambil buru-buru mengambil tas kerjanya lalu berjalan keluar ke halaman. Mama Jaret segera berdiri lalu ikut keluar dan berjalan di belakang suaminya.
"Foto flexing? Siapa yang melakukan ini? Ko' selalu bersamaan dengan kasus Jaret dibicarakan? Apa keluarga wanita itu sedang balas dendam terhadap kita?" Mama Jaret berpikir ke arah keluarga Chasina yang marah dan sedang balas dendam kepada mereka dengan mengulak-ngulik kehidupan mereka.
__ADS_1
"Lihat sendiri apa yang sedang dibicarakan media dan netizen. Aku harus buru-buru ke kantor, sebelum terjadi hal yang mengancam posisiku." Papa Jaret berkata sambil masuk ke dalam mobilnya dan segera meninggalkan istrinya yang diam terpaku.
Kemudian Mama Jaret masuk ke dalam rumah, lalu menyalahkan televisi dan juga mengambil ponsel untuk mengetahui apa yang dikatakan suaminya dengan membuka akun sosisl medianya. Ketika melihat foto flexing yang pernah diposting kembali muncul, Mama Jaret memegang dahinya dengan telapak tangan yang bergetar.
Foto yang sedang viral dan dibicarakan di berbagai media itu adalah foto dirinya yang sedang shoping di salah satu galery ternama di Paris sambil memegang tas branded miliknya bersama suaminya.
Mama Jaret berteriak sekeras-kerasnya untuk melampiaskan rasa marahnya. Beliau sangat marah dan tidak tahu harus kepada siapa, karena foto-foto itu sudah dihapus, tapi bisa muncul lagi. Begitu juga dengan foto suaminya telah dihapus, tapi ada yang menyimpannya.
Teriakan Mama Jaret membuat para pelayan berlarian ke ruang keluarga untuk mengetahui apa yang sedang terjadi dengan nyonya mereka. Ketika melihat pelayan berlarian dengan wajah panik, Mama Jaret mengibaskan tangannya untuk menyuruh mereka kembali ke belakang.
~°°°~ ~°°°~ ~°°°~
"Pak Danny tunggu saya di sini. Nanti kita akan saling berkomunikasi, agar tau kondisi masing-masing. Jika Pak Danny sudah selesai, tetap tunggu di sini, jangan ke mana-mana. Tetap konek dengan team, agar bisa tau, apa yang harus dilakukan." Pak Yosa berkata cepat setelah melihat Danny bersiap-siap untuk turun dari mobil.
"Pak Yosa tidak turun bersama saya?" Tanya Danny sambil melihat Pak Yosa dengan serius. Dia berpikir dan juga berharap, Pak Yosa akan menemaninya menemui hakim.
"Tidak, Pak Danny. Kita dikejar waktu, jadi Pak Danny urus di sini, saya akan urus yang lain. Agar sebelum siang kita sudah bertemu lagi." Pak Yosa menjelaskan, ada yang akan dikerjakan saat Danny menemui hakim.
"Baik... Kalau begitu, Pak Yosa hati-hati." Danny menyerah, karena melihat keseriusan Pak Yosa.
"Pak Danny juga. Jaga agar tetap konek dengan team. Lakukan apa yang diminta oleh Anna, karena mereka sedang memantau Pak Danny." Pak Yosa mengingatkan lagi, karena baru pertama kali Danny dibiarkan sendiri setelah mereka tinggal bersama di rumah Marons. Danny mengangguk mengerti, lalu turun dari mobil.
__ADS_1
Setelah berada di dalam kantor pengadilan negeri, Danny melapor untuk bertemu dengan hakim Alvian. Dia diminta tunggu, karena hakim sedang ada pertemuan. Mendengar itu, Danny menyesal tidak meminta bantuan Putra untuk mengacak pembicaraannya dengan hakim Alvian, agar dia bisa berkomunikasi dan membuat janji dengan hakim tanpa terdeteksi oleh pihak-pihak yang memantau mereka.
Setelah menunggu beberapa waktu, Danny dipanggil untuk masuk ke ruang kerja hakim Alvian. Danny menyalami hakim Alvian sambil minta maaf, karena tidak membuat janji terlebih dahulu.
"Tidak apa-apa Pak Danny. Saya juga minta maaf, karena tadi ada pertemuan yang harus saya hadiri sampai selesai." Hakim Alvian berkata sambil mempersilahkan Danny duduk di sofa dalam ruangannya.
^^^Hakim Alvian menghormati Danny, karena sikapnya yang baik dan sopan. Sikap baiknya bukan karena ada kepentingan berkaitan penangan kasusnya. Tetapi tidak memanfaatkan hubungan baik dengan istrinya untuk minta bantuannya.^^^
^^^Hakim Alvian pernah menanyakan istrinya tentang Danny. Apakah pernah menghubunginya untuk tanya perkembangan kasus gugatan yang diajukan atau minta tolong padanya. Tetapi istrinya mengatakan, Danny tidak pernah menghubunginya seperti yang pernah dikatakannya.^^^
"Pak Danny datang untuk menanyakan perkembangan kasus gugatan cerai, atau ada kasus baru?" Tanya hakim Alvian serius untuk meyakinkan keperluan Danny menemuinya. Hakim Alvian menyadari, Danny adalah pengacara yang bisa menangani banyak kasus. Sehingga perlu mengetahui tujuan Danny menemuinya sebelum membahas kasus gugatan cerai yang diajukannya.
"Saya mau menanyakan perkembangan kasus gugatan cerai yang kami ajukan, Pak." Danny menjawab pertanyaan hakim Alvian dengan tenang dan serius. Dia berharap ada jawaban pasti dari hakim untuk gugatan cerai Chasina.
"Baik... Gugatan cerai yang diajukan Pak Danny belum bisa dijadwalkan sidangnya, karena ada masalah dalam pembagian harta gono-gini. Pihak PPATK meminta waktu untuk menelusuri sumber harta tergugat. Menurut mereka, harta yang dimiliki tergugat bukan dari hasil kerja atau usahanya sendiri. Jadi mereka butuh waktu untuk menelusuri sumber kekayaannya." Hakim Alvian menjelaskan dengan pelan dan jelas, agar Danny bisa mengerti dan mau bersabar.
"Baik, Pak. Terima kasih. Kalau kondisinya seperti itu, kami minta bantuannya agar sidang gugatan tetap dilaksanakan untuk diputuskan. Sedangkan pembagian harta gono-gini, nanti setelah pihak terkait selesai lakukan penyelidikan atas harta kekayaan tergugat." Danny berkata serius, berharap hakim Alvian bisa membantu. Hakim Alvian melihat Danny dengan serius.
...~°°°~...
...~●○¤○●~...
__ADS_1