
...~•Happy Reading•~...
Putra mengangguk mengerti maksud Kaliana. Dia terus memperhatikan layar monitor dan memperlihatkan yang diperlukan Kaliana.
"Mba' Anna... Apakah kita perlu jawab rasa penasaran netizen pada foto orang tua Pak Jaret yang kita upload itu?" Putra bertanya kepada Kaliana, setelah membaca banyak permintaan di kolom komentar yang meminta kelanjutan dari postingan tersebut.
"Sabar, kita fokus untuk milik Pak Jaret dulu. Foto orang tua Pak Jaret hanya pancingan kepada pihak terkait, bahwa mereka sedang dipantau kinerjanya." Kaliana berkata sambil berpikir cepat atas pertanyaan Putra. Dia memikirkan cara menjawab dan melibatkan netizen dalam menangani kasus Chasina.
"Tolong ambil keterangan dari pihak pengadilan negeri tentang kasus perceraian Bu Chasi dan Pak Jaret yang mengatakan: 'Keputusannya sedang menunggu pihak terkait melakukan verifikasi untuk pembagian harta gono-gini.' Kita akan dorong mereka untuk bekerja lebih cepat dengan itu." Kaliana berkata setelah melihat Papa Jaret berusaha menghubungi pihak aparat hukum. Dia berpikir untuk satu langkah di depan Papa Jaret.
"Sambil menunggu yang lain pulang, kita buat sedikit gertakan kepada pihak PPATK, bahwa kinerja mereka sedang dipantau. Jadi tidak bisa berlama-lama atau berniat main petak umpet." Kaliana berkata setelah berpikir tentang rencana mempercepat keputusan cerai dari pengadilan negeri terhadap gugatan cerai Chasina.
"Putra, tolong ambil usaha atas nama Pak Jaret. Kita akan meniupnya, dari sana." Putra melakukan apa yang diminta Kaliana dan memperlihatkan usaha Jaret. "Mengapa tidak apartemennya saja Mba'? Ada tiga dan kita bisa pancing dengan bagaimana cara membaginya." Putra memberikan saran sambil menunjuk apartemen milik Jaret.
"Itu terlalu menyolok dan gampang menghitungnya. Kalau perusahan, kita bisa pancing respon dan pendapat netizen, karena Bu Chasi seorang pengusaha. Jadi apakah lebih memilih yang mana dari salah satu perusahaannya untuk digabungkan sebagai cara mengembangkan sayap usahanya." Kaliana berkata sambil berpikir melakukan cara yang baik untuk rencananya.
"Selain itu, karena kita sudah melibatkan netizen dalam perkara ini, mari kita lakukan lagi seakan sedang iseng, padahal kita sedang memberitahukan kepada publik dan pihak terkait bahwa dua perusahaan yang bergerak di bidang yang berbeda itu milik Pak Jaret." Kaliana berkata lagi, sambil menyusun strategi untuk mendesak pihak terkait yang sedang menyelidiki harta kekayaan Jaret.
"Baik, aku mengerti maksud Mba' Anna. Kita sandingkan keduanya, dan mengajak netizen memilih mana perusahaan yang cocok untuk Bu Chasi." Putra berkata sambil mengangkat dua jempol ke arah Kaliana.
__ADS_1
'Pasti akan rame, jika netizen mulai memilih berdasarkan pertimbangan masing-masing. Dengan demikian, usaha atas nama Pak Jaret akan terekspos dengan sendirinya.' Putra berkata dalam hati, setelah memikirkan rencana Kaliana.
"Aku tidak perlu membuat narasi lagi, karena kau sudah katakan itu. Jadi setelah semua ini sedikit reda, silahkan ditiup. Kita tunggu respon publik lagi dengan alasan dan pertimbangan mereka pilih yang mana. Padahal mungkin Bu Chasi tidak pilih mana pun, karena tidak cocok dengan usahanya sendiri." Kaliana berkata dengan senang, karena Putra bisa mengerti yang dia maksudkan.
^^^~°°Putra terus melihat dan membaca respon publik pada foto orang tua Jaret, lalu tersenyum senang mengetahui animo masyarakat yang begitu besar. Kaliana sibuk memikirkan dan mengatur strategi untuk mewujudkan apa yang mereka rencanakan terkait penyelesaian kasus Chasina yang sedang mereka tangani. Tanpa terasa, waktu berlalu dengan cepat.°°~^^^
Sebelum tiba waktu makan siang, Yicoe dan Novie sudah kembali ke rumah sambil membawa banyak tentengan di tangan. Mereka meletakan semuanya di ruang keluarga lalu naik ke lantai atas untuk menemui Kaliana dan Putra yang sedang bekerja di ruang kerja.
"Kalian sudah pulang rupanya." Kaliana berkata setelah dirinya dan Putra menjawab salam dari Yicoe dan Novie. Kaliana melihat jam dinding yang ada di ruangan itu dan terkejut, karena hari sudah siang. Kemudian dia tersenyum senang, mengetahui Yicoe dan Novie pulang sebelum tiba waktu makan siang.
"Iya, Non. Alhamdulillah... Jalanan lumayan lancar, jadi ada yang bisa ngebut." Yicoe yang sudah ada dalam ruangan berkata dengan senyuman di wajah, sambil melirik Novie yang sedang memelototinya dengan wajah digalak-galakin.
Melihat Novie tidak menanggapinya, Yicoe tersenyum senang dengan mimik lucu ke arahnya. "Non, Kami letakan semuanya di ruang keluarga. Mau tetap di situ, atau dibawa ke sini?" Yicoe bertanya sambil berjalan masuk mendahului Novie dan duduk di kursi kerja mereka.
"Biarkan di situ saja. Nanti setelah makan siang baru kita cek dan pilah pilih." Kaliana berkata sambil mengangkat jempolnya ke arah Yicoe dan Novie yang bekerja cepat di luar, hingga bisa cepat kembali pulang ke rumah.
"Apa kabarmu, kesayangan netizen?" Tanya Novie kepada Putra yang hanya membalas salam mereka lalu kembali konsentrasi pada papan keyboard dan layar monitor. Novie sengaja becanda dengan ledekan dan menepuk pelan pundak putra sambil melewatinya.
"Aku sudah tidak jadi kesayangan kakak-kakakku yang cantik dan baik hati jika memberiku makanan enak, ini?" Balas Putra sambil melihat Novie dan Yicoe dengan wajah memelas yang lucu.
__ADS_1
"Iiiih... Kami hanya baik hati jika memberimu makanan enak? Kalau tau begitu, tadi kita beli kan*cut model baru untuknya, Coe. Biar kalau dipakai, belakangnya iissiiiiss..." Novie berkata sambil ngelirik Yicoe untuk memberikan isyarat, maksudnya mau ledekin Putra.
"Iya, yaa, Vie. Pasti bagus dipakai Putra. Selain bisa membuat sembriwing, bolongan transparan bentuk love di belakang akan sangat bagus dipakai Putra." Yicoe yang cepat mengerti maksud Novie, ikut ledekin Putra. Dia jadi tertawa geli dalam hati membayangkan bentuk CD yang dikatakannya.
Putra sontak berdiri dan memegang pant*atnya. "Memang ada CD yang model seperti itu?" Tanya Putra terkejut, lalu kembali duduk saat melihat ketiga wanita dalam ruangan itu tertawa geli.
"Adaaa... Buat para pria yang mau pamer lekukan belakangnya." Jawab Novie cepat. Dia sudah bayangkan bentuk CD yang dimaksudkan Yicoe. Kemudian dia melipat sikutnya untuk memberi contoh lekukan belakang Putra.
"Sini dekatin sikutmu, Vie." Yicoe berkata cepat dan meminta Novie mendekat. Dia mendapat ide, setelah mendengar candaannya dan respon Novie dengan melipat sikutnya. Novie mendekat sambil sikutnya tetap dilipat seperti sebelumnya.
"Ternyata memang bagus, yaa, Vie." Yicoe berkata lagi setelah meletakan jari yang dibentuk love di lipatan sikut Novie, sambil menahan tawa. Begitu juga Kaliana yang melihat tingkah Novie dan Yicoe mengganggu Putra.
"Yeee... Kakak-kakak ini, mana ada CD model begitu? Dan siapa juga yang pakai CD begituan?" Putra berkata sambil mengibaskan tangannya sebagai isyarat untuk tidak mau tanggapi candaan dari Yicoe dan Novie.
"Yaaaa, Coe... Dia ngga tau, kalau ada pria-pria tertentu sangat menyukai model begituan." Novie berkata sambil membuat tangannya melambai, kemayu.
"Iiiihh... Ji*jai..." Putra menanggapi gaya Novie dengan ikut melakukan gaya melambai yang kemayu, membuat mereka berempat tertawa terbahak-bahak.
...~°°°~...
__ADS_1
...~●○¤○●~...