
...~•Happy Reading•~...
Selesai tertawa, Putra kembali menunjukan wajah kesal yang lucu untuk mengganggu Yicoe dan Novie.
"Ngga usah dibahas lagi kakak-kakakku yang tidak cantik dan tidak baik hati, karena tidak membawaku makanan enak." Putra berkata sambil mengibaskan tangannya. Ketiga wanita kembali tertawa melihat wajah Putra yang kesal, tapi dibuat lucu dan juga gaya kemayu seperti Novie.
"Iniiiii.... Kami bawa roti kesukaanmu." Novie mengeluarkan roti isi selai srikaya kesukaan Putra dari paper bag yang dibawanya. Yicoe hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala, mengingat mereka hampir lupa membeli sesuatu untuk Putra, karena Novie ngebut dan harus putar balik.
"Ternyata kakak-kakaku emang cantik dan..." Putra tidak meneruskan ucapannya, karena Yicoe sudah menghentikan ucapannya dengan mengangkat tangannya. Novie dan Kaliana tertawa, melihat Putra langsung mingkeem.
"Ngga usah diteruskan kalimatmu. Kami sudah haffal lagu pujianmu. Lebih baik segera makan, sebelum aku sambar bagianmu." Yicoe berkata cepat dan berlaga galak dengan gerakan tangan hendak mengambil roti di tangan Putra.
"Jangan Kak, Coe. Aku mau makan satu saja, karena aku mau berikan spasi di usus, agar ada tempat untuk makanan enak yang sedang dimasak Bibi." Putra berkata lalu dengan cepat menggigit salah satu roti yang diterimanya dari Novie. Kaliana dan Novie hanya bisa menggelengkan kepala melihat Putra segera makan roti di tangannya.
"Kau tau dari mana, Bibi sedang masak makanan enak?" Kaliana bertanya sambil melihat Putra yang sedang mengunya dengan cepat. Dia heran Putra bisa tahu, karena dia sendiri tidak tahu Bibi sedang memasak apa.
"Tadi aku turun mau ambil minuman, tercium bau harum ayam goreng dari dapur, Mba'. Makanya aku mau makan roti sedikit saja, biar ada banyak tempat kosong buat ayam goreng dengan teman-temannya." Putra menjelaskan mengapa dia tahu Bibi sedang memasak makanan enak.
"Astagaaa... Pantesan kau semangat sekali hari ini dan membuat spasi di perutmu dengan tidak banyak minum." Kaliana berkata sambil tersenyum, karena mengingat Putra tidak banyak minum. Biasanya dia akan bediri dan ambil minuman berkali-kali untuk meluruskan kakinya.
__ADS_1
^^^~°°Kaliana sengaja tidak meletakan tempat minuman di ruang kerja, agar mereka bisa berdiri dan berjalan keluar ambil minuman untuk meluruskan kaki mereka yang kadang harus duduk berjam-jam. Salah satu cara untuk berolah raga kaki, kata Putra.°°~^^^
"Sambil tunggu Pak Yosa dan Pak Danny, kau jelaskan perkembangan postinganmu untuk kedua kakakmu. Aku mau ke bawa lihat dan bicara dengan Bibi. Kita semua akan makan siang di rumah." Kaliana berkata cepat, lalu meninggalkan anggotanya di ruang kerja karena Pak Yosa sudah mengirim pesan bahwa sedang dalam perjalanan pulang.
Yicoe dan Novie mengangkat tangannya ke atas alis seperti anggota militer sedang bersikap siap ke arah Kaliana dengan wajah tersenyum. Kaliana mengibaskan tangannya menanggapi apa yang dilakukan Yicoe dan Novie lalu keluar meninggalkan mereka.
"Ada apa dengan postinganmu, Putra. Apa pancinganmu dapat ikan yang banyak?" Tanya Novie penasaran. Begitu juga dengan Yicoe yang langsung mendekati Putra untuk melihat hasil postingan yang dimaksud Kaliana.
"Dapat, Kak. Buaanyak, dan besar-besar, ikannya." Jawab Putra tersenyum lucu, sambil memperlihatkan semua yang sedang terjadi di dunia maya untuk Yicoe dan Novie.
Mereka tersenyum senang melihat foto yang diupload Putra jadi viral dan nama Papa Jaret tranding. "Pasti mereka saat ini sedang ngap-ngapan." Novie berkata sambil terus mengamati dan membaca komen netizen di foto yang diupload Putra.
Beberapa lama mereka terus melihat dan meneliti hasil postingan Putra. Tanpa terasa waktu berlalu dengan cepat. "Kita turun lihat di bawah dulu, Vie. Mungkin Bibi sudah selesai masak dan kita perlu menyiapkan meja." Kata Yicoe sambil melihat jam dinding dan menyadari, Kaliana belum kembali naik ke ruang kerja.
"Ayooo, Coe... Nanti selesai makan baru kita teruskan lagi. Aku jadi penasaran dengan yang baru ditiup Putra. Aku juga ingin tambahin foto baru dari orang tua Pak Jaret, agar beri peringatan bagi yang suka flexing dengan harta nyuri." Novie berkata sambil menepuk pelan pundak Putra, lalu berjalan keluar di susul Yicoe.
Setelah tiba di bawah, mereka melihat Kaliana sedang berbicara dengan Bibi di dapur. "Kalian sudah turun, rupanya. Mari bantu siapkan meja makan, karena Pak Yosa dan Pak Danny sebentar lagi tiba." Kaliana berkata sambil tersenyum senang melihat Yicoe dan Novie sudah berada di dapur.
Bibi sudah mulai terbiasa dengan kehadiran dan bantuan team sopape, jadi tidak protes lagi jika Kaliana dan anggota team mau membantunya menyiapkan meja makan. Bibi hanya menyiapkan masakan sesuai dengan kebutuhan semua orang. Hal itu membuatnya bekerja dengan senang hati, karena mereka seperti keluarga besar.
__ADS_1
^^^~°°Tidak seperti sebelumnya, saat Rallita masih hidup. Rumah sangat sepi dan suram. Semua masakan yang disiapkan kadang tersisa dan bahkan dibuang. Di saat-saat tertentu Bibi terpaksa makan masakan yang dimasak, karena Rallita tiba-tiba keluar dan tidak makan di rumah. Sedangkan Marons hanya makan malam di rumah pada waktu-waktu tertentu.°°~^^^
^^^~°°Sekarang dengan adanya Kaliana dan anggota teamnya, Bibi jadi sering tertawa melihat mereka yang kadang bercanda dan saling ledekin dengan kata-kata dan tingkah yang lucu. Apalagi mendengar Putra selalu memuji masakannya yang lezat dengan gaya dan kata-kata lucu.°°~^^^
Melihat mereka dengan senang hati mau membantunya, Bibi membiarkan Kaliana dan anggota teamnya bantu menyiapkan meja. Hal itu membuatnya sangat senang menyiapkan menu-menu baru untuk Kaliana dan anggota teamnya.
Bibi juga merasa senang melihat wajah Marons lebih happy saat berada di rumah. Marons telah berikan banyak uang untuknya, agar bisa siapkan keperluan Kaliana dan teamnya. Sehingga Bibi dengan leluasa dan senang hati menyiapkan semua keperluan anggota team sopape.
"Bi... Nanti setelah makan, kami masih duduk di ruang makan. Jadi kalau sudah sajikan dessertnya, Bibi istirahat saja. Kami yang akan rapikan meja dan yang lainnya." Kaliana berkata sambil menata menu yang sudah dimasak Bibi di atas piring yang sudah disediakan oleh Bibi.
"Ngga papa, Non... Bibi di dapur saja, karena Bibi mau buat roti untuk nanti sore dan besok pagi." Bibi berkata cepat, karena sudah mengerti maksud Kaliana. Marons sudah menjelaskan pekerjaan Kaliana kepada Bibi, sehingga memintanya untuk tidak mendekat jika mereka sedang adakan pertemuan di rumah. Baik di ruang makan, ruang keluarga atau ruang kerja mereka.
"Oooh, baik, Bi... Terima kasih." Kaliana berkata dengan hati senang, karena membayangkan Putra akan kegirangan dan diledikin oleh Yicoe dan Novie saat bau harum roti memenuhi dapur.
"Biasanya kami panggil dulu, baru turun makan. Sekarang sudah turun sebelum kami kirim signal." Yicoe berkata saat melihat Putra masuk ke ruang makan. Kaliana yang hendak keluar dari dapur sambil membawa sepiring besar ayam goreng, jadi tertahan. Dia ingin Putra penasaran, dan berikan kesempatan Yicoe dan Novie mengganggu Putra.
Bagi Kaliana, dengan cara seperti itu, mereka bisa menjaga pikiran mereka tetap waras. Tidak mudah stres dengan pekerjaan yang kadang butuh konsetrasi tinggi dan juga menguras energi. Apalagi Putra yang sering berada di depan laptop/komputer.
...~°°°~...
__ADS_1
...~●○¤○●~...