ROMANTIKA HIDUP

ROMANTIKA HIDUP
161. Bersiap 6


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Ketika Kaliana melihat Pak Yosa mengangkat jempolnya sebagai isyarat itu adalah Bram, semua anggota team sopape yang ada dalam kapal bernafas lega. Kaliana, segera memberikan isyarat kepada Yicoe dan Novie, agar bisa bersantai.


Alhamdulillah...!" Putra dan Yicoe bersyukur, sambil mengangkat tangan mereka dengan perasaan lega.


"Puji Tuhan...! Kaliana dan Novie juga bersyukur sambil memegang dada dengan perasaan lega.


Mereka semua sangat bersyukur, karena yang datang adalah Bram dan datang tepat waktu, sebelum malam tiba. Mereka segera meletakan semua senjata yang dipegang, sebelum Bram masuk ke dalam kapal.


"Sorriiii... Agak lama, karena kucing-kucingan dulu, dengan yang mengawasi, agar tidak tau tujuan kami." Bram berkata kepada Kaliana yang menunggu di pintu. Kaliana mengangguk, lalu mempersilahkan Bram dan Raka masuk ke dalam kapal menemui anggota teamnya.


"Annaaa... Pantesan kau tidak mau memperkenalkan mereka padaku." Bram berbalik melihat Kaliana dan berkata pelan saat melihat Yicoe, Novie dan Putra yang sedang berdiri menyambutnya. Kaliana hanya bisa gelengkan kepala sambil tersenyum, melihat respon Bram yang sudah diduganya.


^^^Bram melepaskan maskernya, lalu berkenalan dengan Yicoe dan Novie yang terdiam melihat Bram secara langsung dan tidak mengenakan baju dinas. Sangat berbeda dengan apa yang dibayangkan mereka dan dilihat di media selama ini.^^^


^^^Apalagi saat Bram membuka jacket dan hanya mengenakan kaos hitam polos. Otot lengannya terlihat dengan jelas. Putra yang sudah pernah bertemu, jadi tersenyum melihat Yicoe dan Novie hanya bisa menyebutkan nama mereka secara pelan, tidak tegas seperti biasanya. Mereka baru pernah melihat Bram dalam keadaan tidak formal.^^^


"Jangan teruskan gombalanmu. Kita sedang serius menyiapkan semua ini untuk besok malam." Kaliana berkata cepat sambil memukul lengan Bram yang hendak meneruskan perkenalan dengan mengganggu Yicoe dan Novie yang masih terdiam sambil melihat Bram.


"Putra, sini... Aku mau cek, kau itu tiang listrik atau papan penggilisan." Bram mendekati Putra lalu memeluknya dengan hangat, membuat Putra terkejut, tapi balik memeluk Bram.


^^^Sebenarnya, Bram ingin berterima kasih kepada team sopape yang sudah sangat membantu pekerjaannya. Tapi dia hanya berani memeluk Putra, sambil melihat ke arah Yicoe dan Novie. Bram mengucapkan TQ pelan, saat memeluk Putra lalu tersenyum dan mengangkat jempol ke arah Yicoe dan Novie.^^^

__ADS_1


"Ternyata kau ada otot." Bram berkata setelah melepaskan pelukannya, lalu memegang lengan Putra. Ucapan Bram membuat semua yang ada dalam kapal tertawa. Putra pun ikut tertawa, lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Raka yang sudah masuk ke dalam kapal, melepaskan maskernya, lalu Bram memperkenalkan Raka kepada Putra, Yicoe dan Novie. Raka menyebut namanya dan menyalami anggota team sopape dengan sopan dan ramah. Tidak seperti seorang polisi yang tegas, apalagi sedang tidak memakai seragam dinas. 'Orang tidak akan mengira, Raka adalah polisi.' Yicoe, Novie dan Putra ngebatin.


^^^Raka segera membuka jacket, lalu memasukan ke dalam ransel yang dibawanya. Hal yang sama juga, dia lakukan kepada jacket Bram.^^^


"Ini minumannya, Pak." Yicoe dan Novie memberikan air mineral yang ada dalam kapal kepada Raka dan Bram yang sudah lebih santai.


"Terima kasih... Mengapa suasananya berbeda saat sedang telpon dengan Anna?" Tanya Bram masih mau mengganggu Putra, Yicoe dan Novie yang suara mereka kadang terdengar, saat dia sedang telpon dengan Kaliana.


"Sudaaa... Jangan ganggu mereka. Cepat minum. Ada yang mau kita siapkan." Kaliana mengingatkan Bram yang masih mau ledekin Putra, Yicoe dan Novie. Dari pertanyaan Bram, Kaliana tahu, Bram masih mau ledekin anggota teamnya.


"Aku ngga mengganggu mereka, terutama kedua gadis ini. Aku hanya mau mengakrabkan diri, agar jangan sampai nanti mereka salah menggebuk." Bram berkata sambil melirik Novie, yang postur tubuhnya seperti seorang anggota Polwan.


"Kau, entah gombal, entah serius, sama saja. Raka, apa kabarmu?" Tanya Kaliana sambil geleng kepala ke arah Bram dan mengalihkan perhatian kepada Raka yang sudah lama tidak ditemuinya.


"Kami seperti ayam kehilangan induk setelah ditinggal bapak, Bu. Alhamdulillah, bapak masih sering cek-cek kami." Kata Raka sambil tersenyum, bisa bertemu dengan Kaliana dan Pak Yosa lagi.


^^^Suatu suasana kerja yang sangat disukainya. Jadi ketika Bram mengajaknya untuk ikut bergabung dengan Kaliana dan Pak Yosa, dia langsung menerima dengan senang hati dan berlatih dengan tekun, sesuai permintaan Bram.^^^


"Siapin saja jagung yang banyak, pasti indukmu akan sering-sering menengokmu." Kaliana berkata asal, tapi jadi tersenyum dan mengangkat dua jari tanda peace, saat Bram melihatnya dengan wajah galak.


"Apa yang kau bawa, Raka?" Tanya Kaliana, mengalihkan perhatian Bram, agar tidak membalas candanya. Supaya mereka bisa fokus pada tujuan mereka. Apalagi tadi dia melihat Raka membawa ransel di punggung dan jinjing. Sedangkan Bram, hanya di punggung.

__ADS_1


"Raka, keluarin yang dibawa dan perlihatkan pada Bu Anna." Kata Bram cepat, langsung pada mode serius.


"Siaap, Pak...! Raka dengan sigap membuka ransel dan memperlihatkan semua perlengkapan yang dibawa mereka.


^^^Melihat itu, Kaliana merasa lega, karena perlengkapannya hampir sama dengan yang dibeli oleh Marons dan Pak Yosa.^^^


"Ok... Pak Yosa, tolong perlihatkan yang bapak bawa, biar Bram bisa mengatur dan menjelaskan penggunaannya." Kaliana berkata cepat dan serius. Pak Yosa segera mengeluarkan semua peralatan yang dibeli Marons.


Bram tercengang melihat semua yang dikeluarin Pak Yosa. "Kau dapat dari mana?" Tanya Bram sambil melihat Kaliana, dengan perasaan was-was, karena semua peralatan yang diperlihatkan Pak Yosa tidak dijual bebas.


"Itu legal. Pak Yosa yang pergi beli. Ada yang baik hati mendukung kita. Sebentar lagi baru tiba di sini." Kaliana berkata sambil memberikan kode, agar Bram tidak bertanya lagi.


^^^Bram jadi mengerti, pasti mereka dapat dukungan dari Marons. Apalagi melihat kapal yang dipakai Kaliana besar dan mewah. Bram mengangguk mengerti, lalu mengangkat jempolnya ke arah Kaliana. Dia tidak mau bertanya lagi soal yang lain, karena sudah tahu jawabannya.^^^


Melihat Bram sudah selesai minum, Putra memberikan isyarat kepada Kaliana. Kemudian dia berkata kepada Bram, setelah melihat anggukan Kaliana. "Pak Bram, tolong sebutin kalimat ini, ya." Putra menunjukan kalimat yang diberikan Kaliana, yaitu meminta orang yang sedang diburu untuk berhenti." Bram sontak melihat melihat ke arah Kaliana dan Pak Yosa bergantian, karena belum mengerti maksud Putra.


"Kita coba menghentikan mereka, seakan mereka sudah dikepung oleh pasukan. Ini untuk berjaga-jaga saja, nanti Putra dan Yicoe yang akan menentukan, jika itu harus digunakan." Kaliana menjelaskan dengan pelan, agar Bram bisa mengerti maksud dan rencananya.


"Kami perlu suaramu, karena nada suaramu sudah terbiasa dalam situasi seperti ini. Kalau suara Pak Yosa, sudah kurang galak. Sedangkan suaraku, yaa, nggak usah diteruskan. Nanti dikira, malam-malam ada wanita kurang kerjaan yang mau mengganggu. Bukannya mereka takut, malah balik menantang." Kaliana menjelaskan rencananya dengan detail.


...~°°°~...


...~●○¤○●~...

__ADS_1


__ADS_2