ROMANTIKA HIDUP

ROMANTIKA HIDUP
77. Canser (Canda tapi Serius).


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Marons memperhatikan Kaliana dengan serius, saat mendengar yang dia katakan. Marons bisa maklumi kecemasannya, karena situasi Bram mungkin hampir sama dengan kondisi Kaliana dan team. Tetapi posisi Kaliana lebih bebas, sedangkan Bram terbelenggu oleh peraturan institusinya.


"Apakah tidak ada cara lain untuk menghubunginya?" Marons jadi ikut serius memikirkan kondisi Bram. Biar bagaimana pun, Kaliana juga memiliki kenangan bersama Bram dan Marons belum bisa membicarakan hal itu dengan Kaliana. Mereka dalam kondisi yang belum bisa membicarakan sesuatu yang sangat pribadi.


Mereka baru bertemu dan baru menjalin hubungan lebih intim dari seorang teman, yaitu berpacaran. Jadi Marons lebih berhati-hati untuk menanyakan itu kepada Kaliana. Seorang teman baik, selayaknya khawatir terjadi sesuatu dengan temannya.


Kaliana menggelengkan kepalanya, lalu menjelaskan cara mereka berkomunikasi saat situasi tidak baik. Itu sering mereka lakukan saat masih bertugas bersama di kesatuan. Marons mendengar dengan serius semua penjelasan Kaliana.


Mereka masih berbicara saat Danny keluar dari kamar, setelah mandi. Tiba-tiba, Putra berlari masuk ke ruang keluarga lalu memberikan isyarat dengan tangan kepada Kaliana dan juga berkata. "Mba'.. Pak Bram telpon...!" Putra kembali berlari naik ke ruang kerja, setelah berkata demikian.


Kaliana sontak menepuk tangan Marons lalu segera berlari mengikuti Putra. Marons juga berdiri, lalu berjalan cepat. Demikian juga dengan Danny, segera berjalan cepat mengikuti Kaliana dari belakang bersama Marons. Melihat Kaliana sudah ada di ruang kerja, Putra langsung merespon panggilan Bram yang sudah menunggunya.


📱"Sayangku... Cintaku... Sorrriiii..!" Ucap Bram, saat Putra merespon panggilannya, tapi ponsel Kaliana dalam kondisi spiker. Jadi semua dalam ruangan bisa mendengar suara Bram. Kaliana tertegun mendengar sapaan Bram, karena merasa kehadiran Marons dalam ruang kerja. Tetapi dia segera merespon panggilan Bram.


📱"Negriku... Bangsaku... Apa kabar?" Kaliana sudah tidak enak untuk mematikan spiker, karena Marons sudah ada di ruang kerja. Walau pun begitu, hatinya merasa lega mendengar sapaan Bram. Bagi Kaliana, itu sinyal yang baik, Bram masih bisa bercanda.


Bagi Marons, tidak mengapa. Dia pernah mendengar sapaan Bram demikian, saat dirinya diberikan handsfree oleh Putra di kantornya yang lama. Sehingga bisa mendengar percakapan Kaliana dengan Bram, tanpa diketahuinya.


"Rakyatku...!" Novie berkata sambil membuka kedua tangannya, saat mendengar sapaan Kaliana dan Bram.

__ADS_1


"Merdeka...!" Jawab Yicoe dan Putra bersamaan sambil mengepalkan tangan lalu tertawa. Pak Yosa ikut tertawa dengan hati lega mendengar sapaan Bram. Mereka sangat senang, karena sudah lama tidak mendengar sapaan Bram tersebut.


📱"Anna... Kau ada di mana? Kenapa berisik sekali?" Tanya Bram serius, karena mendengar suara banyak orang yang berbicara dan tertawa.


📱"Aku sedang berada di antara orang-orang yang sedang persiapan, mau adakan upacara." Kaliana berkata sambil mengepalkan tangannya ke arah Yicoe, Novie dan Putra. Mereka jadi tersenyum sambil menutup mulut dengan tangan.


📱"Oooh... Team mu mau lakukan upacara setelah dengar sapaan kita? Apa perlu aku tambahkan gombalan lagi?" Bram berkata sambil tersenyum. Sayup-sayup dia mendengar apa yang dikatakan anggota team sopape, karena Kaliana terlambat melarang anggota teamnya melakukan candaan mereka. Walaupun pelan, Bram bisa mendengar.


📱"Iiiiih.... Berhenti...! Ternyata kau dalam keadaan baik-baik saja, tapi tidak kasih kabar. Yaaa, sudah...! Silahkan teruskan hibernasinya." Kaliana berkata dengan kesal, mendengar Bram masih bisa bercanda. Sedangkan dia sedang mencemaskannya.


📱"Eeeeiiittt... Sabarrr... Jaga kestabilan tensimu. Aku lakukan itu, karena sedang menghibur diri setelah sekian banyak jembatan berduri dilewati." Bram berkata serius dalam candaannya. Kaliana jadi terdiam, karena dia mengerti ucapan Bram kali ini tidak bercanda.


📱"Makanya, kurangi gombalanmu. Ada apa?" Tanya Kaliana serius. Dia bisa merasakan keresahan Bram saat menarik nafas cepat.


📱"Annaaa... Aku bisa pinjam Pak Yosa untuk sementara waktu?" Tanya Bram serius, karena dia sudah memikirkan rencana setelah berada di tempat tugas yang baru.


📱"Pinjam Pak Yosa? Kenapa tidak pinjam aku?" Tanya Kaliana tidak mengerti, karena kalau Bram mengajaknya, semua anggotanya akan ikut. Tetapi kalau ajak Pak Yosa sendiri, berarti ada maksud tertentu dari Bram.


📱"Kau ngga usah... Pak Yosa saja... Kalau aku pinjam kau, sama saja pinjam para bidadari yang kau bilang itu. Aku khawatirkan mereka, termasuk Putra." Ucap Bram bercanda, tapi serius. Dia ingat Kaliana pernah katakan, ada anggota team nya yang cantik-cantik.


📱"Memangnya aku mau ijinin Pak Yosa bersamamu tanpa mengetahui tugasnya? Tidak akan aku ijinin...!" Kaliana berkata tegas, karena memang tidak mau Pak Yosa masuk dalam team Bram. Kaliana akan khawatir setiap saat memikirkan Pak Yosa tanpa terkonek dengan mereka.

__ADS_1


📱"Astagaa... Sejak kapan kau tidak memikirkan keslamatanku? Aku sedang memikirkan keselamatanmu, makanya tidak menghubungi dan tidak mengajakmu. Sudahlah... Nanti saja dibicarakan. Kau katakan dulu, mengapa kirim pesan itu." Bram teringat tentang pesan yang dikirim Kaliana kepadanya.


Tadi saat Kaliana merespon panggilannya, dia jadi lupa dengan tujuan utama menghubungi Kaliana. Dia menghubungi Kaliana, karena ada kiriman pesan dari Putra. Dia malah bicara tentang Pak Yosa yang ada dalam rencananya.


📱"Tidak usah belok... Kalau tidak memikirkan keslamatanmu, aku tidak kirim pesan. Terusin saja yang tadi. Ada apa tiba-tiba perlu Pak Yosa bergabung?" Kaliana berkata serius, karena mengenal Bram. Dia tidak mungkin mengajak Pak Yosa yang sudah pensiun untuk bergabung, jika tidak ada masalah dengan sesama rekan kerjanya.


📱"Pak Yosa tidak cerita, kalau aku sudah pindah bagian?" Tanya Bram heran dengan pertanyaan Kaliana. Dia bertanya dalam hati. 'Apakah Kaliana belum tahu dia sudah dimutasi?'


Sontak Kaliana melihat ke arah Pak Yosa yang sedang menyimak pembicaraan Kaliana dan Bram. Pak Yosa langsung menyilangkan tangannya sambil geleng kepala, pertanda tidak tahu.


📱"Mengapa kau berpikir, Pak Yosa tau kau sudah pindah bagian?" Kaliana bertanya sekaligus menyelidiki maksud pertanyaan Bram.


📱"Perpindahanku lumayan rame di sini. Aku kira Pak Yosa sudah tau, karena sering berhubungan dengan orang-orang di sini." Bram berkata cepat dan menjelaskan, sekaligus merasa tidak enak terhadap Kaliana.


📱"Astagaaa... Kau membuatku berpikir yang tidak-tidak. Pak Yosa pernah ke situ karena sedang menyelidiki kasus Pak Marons. Setelah selesai, tidak ke situ lagi. Kau dipindahkan kemana? Apa masih di Jakarta? Lalu bagaimana dengan 'Pandora'?" Tanya Kaliana beruntun, karena mulai cemas memikirkan kasus yang sedang ditanganinya.


📱"Annaaa... Keluarin semua kereta gandengmu, biar aku sekalian jawabnya. Kau kalau cemas, pasti semua petasan berbunyi di kepalamu." Bram berkata serius dan juga bercanda untuk mengurangi rasa cemas Kaliana.


📱"Aku jawab dari yang terakhir dulu, supaya kau tidak cemas. Pandora sudah di tempat yang aman dan sekitarnya sudah aku laundry, bersih." Bram menjelaskan sambil memberikan isyarat bahwa dia sudah memberikan titipan Pak Adolfis untuk yang menjaga Chasina.


📱"Sekarang, jika kau sedang berdiri, cari tempat untuk duduk. Kalau haus, segera minum. Kalau lapar, jangan dulu makan, karena aku juga sedang lapar." Bram berkata serius, lalu tertawa mendengar ucapannya. Kaliana dan anggota team sontak menutup mulut dengan tangan, agar tidak didengar oleh Bram.

__ADS_1


...~°°°~...


...~●○¤●○~...


__ADS_2