
...~•Happy Reading•~...
Di sisi yang lain ; Terjadi ketegangan di rumah orang tua Jaret. Mama Jaret sejak sore hanya duduk, berdiri dan berjalan mondar-mandir tidak menentu arah di ruang tamu dan juga ruang makan. Mama Jaret Sangat tidak tenang dan gelisah menunggu suaminya yang belum juga pulang ke rumah.
Padahal Mama Jaret telah menghubungi suaminya sejak siang. Walau tidak bisa bicara langsung dengan suaminya, Mama Jaret sudah menghubungi sekretarisnya dan menitipkan pesan padanya. Agar suaminya segera pulang ke rumah, karena ada yang terjadi dengan anak mereka, Jaret.
Tapi hari sudah hampir malam, Papa Jaret belum juga pulang atau memberi kabar tentang keberadaannya. Mama Jaret mau telpon kembali sekretaris suaminya, tapi hatinya tidak enak untuk melakukannya. Berulang kali melihat ponsel, mengambilnya dan kembali diletakan dengan gusar.
Jadi ketika Papa Jaret tiba, istrinya yang sudah tidak tenang dan gelisah sejak siang langsung menyeprot suaminya dengan kata-kata kasar dan pedas. Hingga membuat Papa Jaret emosi, karena sangat menyakitkan telinga dan hatinya.
"Lebih baik, kau segera siapin minuman untukku, jika tidak mau melihatku memechkan semua yang ada dalam ruangan ini." Papa Jaret berkata sambil melihat istrinya dengan emosi yang sudah meluap-luap.
Mama Jaret terdiam, dan tidak meneruskan omelan dan rasa kesalnya. Walau pun masih gondok, Mama Jaret segera berjalan meninggalkan ruang keluarga, karena melihat mata Papa Jaret sudah mulai memerah. Itu pertanda, jika Mama Jaret mengatakan satu kata lagi saja, suaminya akan lakukan apa yang dikatakannya.
"Sudah tahu ada masalah di kantor, masih juga bersikap seperti istri dungu. Apa kau tidak bisa urus anak itu? Apa kau tidak tau fungsi pengacara? Mengapa kau tidak bicarakan dangan mereka, malah mencariku seperti orang gila? Ada pengacara sampai dua orang, tapi bertindak seperti orang yang tidak berpendidikan." Papa Jaret balik menyeprot istrinya yang sudah kembali ke ruang keluarga sambil membawa gelas berisi air mineral di tangannya.
^^^Tangan Mama Jaret bergetar sambil memegang gelas, saat mendengar ucapan suaminya. Tapi beliau berusaha sabar, agar tidak meleparkan gelas di tangannya ke arah Papa Jaret yang sedang melihatnya dengan emosi.^^^
"Aku sudah bilang untuk pergi ikuti persidangannya, tapi tidak mau dengan berbagai alasan. Sekarang ribut dan kalang kabut dengan berbagai alasan." Papa Jaret masih berkata dengan nada marah. Emosinya belum bisa surut, mengingat istrinya sering tidak mau menurut yang dikatakannya.
Sambil mengambil gelas dari tangan istrinya dengan kasar, Papa Jaret masih menumpahkan rasa kesal dan amarah kepada istrinya.
__ADS_1
"Kau kira aku sedang bermain di kantor? Apa kau bodoh, sampai tidak mengerti yang dikatakan sekretaris? Aku sedang berada di ruang pimpinan untuk membereskan semua kekaca..." Papa Jaret tidak meneruskan ucapannya, karena terdengar ketukan di pintu kaca ruang keluarga.
"Maaf, tuan... Pak pengacara ada datang." Ucap ART yang berdiri di depan pintu sambil takut-takut. Suara Papa Jaret yang sedang marah terdengar sampai ke belakang. ART memberitahukan kedatangan pengacara, sambil menunjuk dengan jempolnya ke arah luar.
"Persilahkan mereka masuk dan tunggu di ruang tamu." Papa Jaret berkata cepat lalu minum air mineral yang diambil dari tangan istrinya.
^^^Selesai minum dengan tergesa-gesa, Papa Jaret menarik nafas panjang lalu berjalan cepat ke ruang tamu menemui pengacara.^^^
^^^Mama Jaret jadi penasaran, lalu ikut berjalan di belakang suaminya untuk menemui pengacara dengan rasa was-was dan ingin tahu yang besar.^^^
"Selamat malam, Pak, Ibu." Kedua pengacara berdiri dan menyapa, lalu menyalami Papa dan Mama Jaret yang sudah masuk ke ruang tamu.
"Selamat malam. Silahkan duduk." Papa Jaret menyalami kedua pengacara lalu mempersilahkan kedua pengacara kembali duduk.
"Begini, Pak. Pak Jaret dalam kondisi yang tidak bisa untuk jalani persidangan. Pak Jaret masih konsumsi sabu di tahanan, jadi dalam waktu tertentu emosinya turun naik. Sudah dua hari ini Pak Jaret tidak konsumsi barang haram itu, hingga membuat kondisinya tidak stabil dan sangat kacau." Pengacara Elly menjelaskan sesuai yang disaksikannya saat Jaret di bawa ke pengadilan untuk jalani persidangan.
^^^Papa Jaret sontak memegang kursi di dekatnya lalu duduk di salah satu sofa di depan kedua pengacara. Papa Jaret mendengar penjelasan kedua pengacara tentang kondisi Jaret, secara bergantian. Papa Jaret hanya bisa memegang pelipisnya yang mulai berdenyut, sambil terus berpikir.^^^
"Apakah itu bisa pertanda baik bagi kita?" Tanya Mama Jaret tiba-tiba, yang hanya diam mendengar penjelasan kedua pengacara tentang kondisi Jaret.
Papa Jaret sontak melihat istrinya dengan wajah heran, karena tidak mengerti maksudnya. "Apa yang baik dari kondisi anakmu sepert itu?" Tanya Papa Jaret yang kembali emosi mendengar pertanyaan istrinya.
__ADS_1
"Dengan melihat dia seperti itu, mungkin Jaksa atau Hakim bisa berikan keputusan agar dia direhab, karena sebagai pemakai narko, bukan pengedar." Mama Jaret berkata serius, tentang apa yang dipikirkannya.
Papa Jaret melihatnya dengan serius lalu pikirkan apa yang dikatakan istrinya. "Apa bisa begitu?" Tanya Papa Jaret ke arah kedua pengacara bergantian.
"Kalau belum terjadi penggeledahan di tahanan beberapa hari lalu, itu mungkin bisa terjadi, Pak. Tapi yang sekarang makin bermasalah, karena dalam penggeledahan itu ditemukan bukan saja sabu dan alat isapnya, tapi juga ponsel." Pengacara Andi menjelaskan dengan serius, agar orang tua Jaret bisa mengerti dan menuntut hal yang tidak mungkin.
"Ponsel...? Buat apa dia pergunakan ponsel di tahanan? Kau berikan itu untuknya?" Papa Jaret bertanya dengan emosi ke semua orang yang ada dalam ruang tamu, terutama kepada istrinya.
^^^Papa Jaret berpikir, istrinya yang memberikan ponsel kepada Jaret untuk berkomunikasi dengannya. Kedua pengacara terdiam melihat Papa Jaret melihat istrinya dengan emosi.^^^
"Siapa yang berikan padanya? Apa aku sudah gila? Bagaimana aku bisa seludupkan itu untuknya? Mau bertemu dengannya saja, diperiksa semua bawaanku." Mama Jaret menjawab dengan emosi, karena tidak terima dituduh oleh suaminya.
"Lalu dia dapatkan dari mana dan digunakan untuk apa? Padahal dia tidak menghubungi kami. Sedangkan istrinya sedang di tahanan juga." Papa Jaret bertanya dan berkata dengan serius sambil melihat kedua pengacaranya.
"Hal itu yang memberatkan saya sebagai pengacara yang akan membelanya. Jika ponsel itu jadi bukti tambahan dan telah diperiksa isinya, bapak sudah bisa membayangkan apa yang akan terjadi." Pengacara Andi berkata dengan serius, karena sudah membahasnya dengan pengacara Elly.
Papa Jaret terkejut mendengar penjelasan pengacara Andi. Mereka jadi teringat dengan tuduhan pengedar, yang selama ini mereka mau menyangkalnya. 'Apa masih bisa dibela dengan mengatakan bahwa Jaret hanya pemakai dan bukan pengedar?' Papa Jaret bertanya dalam hati sambil berpikir serius.
"Ini yang dikatakan orang selama ini. Punya anak satu lebih menyusahkan dari pada punya anak selusin." Papa Jaret berkata dengan geram, dengar apa yang dilakukan Jaret sambil melihat istrinya.
...~°°°~...
__ADS_1
...~●○¤○●~...