
...~•Happy Reading•~...
Beberapa waktu kemudian, hari mulai gelap, Kaliana dan Pak Yosa tiba di tempat pertemuan yang ditentukan Bram. Suasana masih sepi, tidak ada tanda-tanda kehadiran Bram atau seorang pun.
"Kita parkir dulu, Pak Yosa. Seperti biasa, pasti Bram sedang menanti di titik pantau." Kaliana berkata pelan sambil mengawasi sekitar.
^^^Kaliana yakin, Bram sudah datang, tapi sedang memantau titik pertemuan yang diberikan kepadanya. Itu sudah biasa mereka lakukan saat berdinas dulu. Oleh sebab itu, dia tetap mengawasi sekitar walau keadaan terlihat sepi.^^^
^^^Pak Yosa segera memarkirkan mobil di tempat yang aman, sehingga bisa melihat siapa yang datang mendekati mobil mereka. Tapi mesin mobil tetap dibiarkan hidup oleh Pak Yosa.^^^
Tidak lama kemudian, dua motor trail berhenti tidak jauh dari mobil mereka. Dua orang berpakaian gelap turun dari motor, sambil menenteng helm di tangan. Kemudian salah seorang mengetuk jendela kaca di samping Pak Yosa dengan kode ketukan yang biasa dipakai oleh Bram, Pak Yosa dan Kaliana.
Pak Yosa segera membuka kunci pintu mobil, karena tahu Bram yang mengetuk. Bram segera membuka pintu mobil belakang sebelah kanan, lalu masuk dan duduk. Sedangkan seorang lagi di sebelah kiri, lalu duduk di belakang, samping Bram yang sedang membuka penutup kepalanya.
"Malam, Pak Yosa. Malam, Anna." Sapa Bram sambil menepuk pundak Pak Yosa yang duduk di depannya.
"Malam... Malam, Dan." Jawab Pak Yosa dan Kaliana bersamaan, sambil membalikan badan mereka ke arah kursi belakang untuk melihat Bram dan temannya.
"Anna, Pak Yosa, kenalkan ini Pak Arifin. Penyidik yang aku maksudkan." Bram memperkenalkan orang yang datang bersamanya dan juga sudah membuka penutup kepalanya, lalu tersenyum ke arah Pak Yosa dan Anna.
^^^Kaliana dan Pak Yosa mengangguk dan memperkenalkan diri. Mereka saling menatap dan mengamati seorang dengan yang lain.^^^
Penyidik Arifin tertegun melihat ke arah Kaliana. Dia tidak menyangka yang dimaksudkan Bram dengan mantan rekan penyidiknya adalah wanita. Apalagi wanita seperti yang sedang menatapnya dengan tersenyum tenang, sambil memperkenalkan namanya.
__ADS_1
^^^Wajahnya terlalu cantik untuk jadi seorang penyidik yang sering berhadapan dengan lawan yang tidak lembut. Tapi saat melihat mata beningnya, terlihat jelas dia seorang wanita tegas, cerdas dan sangat jeli mengamati lawannya.^^^
^^^Seorang wanita yang pantas dikagumi dan dihormati. Bukan hanya karena parasnya yang cantik, tapi dedikasi dan pilihan karier yang tidak umum. Karier yang kebanyakan dikuasai oleh kaum pria.^^^
^^^'Sebelum mendengar hasil penyelidikanmu, aku ingin angkat topi untukmu.' Penyidik Arifin berkata dalam hati.^^^
Kaliana juga mengamati penyidik Arifin untuk memastikan apa yang dikatakan Bram. Bagi Kaliana yang hanya sekilas melihatnya, dia membenarkan yang dikatakan Bram. Matanya mencerminkan kebaikan hati dan jujur.
^^^Kaliana selalu mengingat pesan Papanya. 'Mata seseorang adalah jendela hatinya. Walau pun seseorang yang berpura-pura baik, matanya akan mengatakan niat hatinya.' Sehingga Kaliana selalu berusaha untuk melihat orang yang akan diselidiki di matanya, sebelum meminta keterangan atau kesaksian.^^^
'Penyidik Arifin seorang penyidik kejaksaan yang masih tergolong muda, usianya hampir sama dengan Bram. Sama bugar dan sigap seperti Bram.' Pak Yosa berkata dalam hati, saat berkenalan dan mengamati teman Bram.
"Silahkan Anna... Bicara saja dengan Arif." Bram mempersilahkan Kaliana dengan menyebut nama, agar tidak terlalu resmi dalam berkomunikasi.
"Ooh, ok. Kita bicarakan orang tua Jaret dulu, ya. Karena kami ada perlu dengan Bram setelahnya." Kaliana berkata cepat, agar Bram tahu, ada yang perlu mereka bicarakan dengannya. Bram dan Arif mengangguk mengiyakan, karena mengerti maksud Kaliana.
"Silahkan, Mba'... Panggil Arif saja, seperti Bram. Biar ngga terlalu formal." Arif berkata pelan dan sopan. Dia berusaha tidak terlalu formal, agar mereka lebih akrab saat berkomunikasi.
"Baik. Kalau begitu, panggil Anna saja. Saya akan menyapa senyaman saya saja." Kaliana berusaha mengakrabkan diri sebelum berbagi informasi.
"Boleh kami tau, apa saja yang ditemukan di rumah orang tua Jaret? Karena Bram katakan Kejaksaan sudah lakukan penggeledahan di rumah mereka. Saya bertanya begini, agar kami bisa yakin, tidak ada yang terlewatkan." Kaliana berkata cepat, untuk menghemat waktu. Masih ada lagi yang akan dibicarakan dengan Bram.
^^^Kemudian penyidik Arif menyampaikan apa saja yang ditemukan di rumah orang tua Jaret. Sama seperti yang dikatakan Bram kepada mereka, hanya ada sedikit tambahan yang tidak terlalu berpengaruh untuk dijadikan barang bukti.^^^
__ADS_1
"Apakah Kejaksaan sudah selidiki kekayaan Jaret?" Tanya Kaliana lagi untuk memastikan semua keterangan yang mereka terima.
^^^Penyidik Arif jadi mengerti yang dikatakan Bram kepadanya tentang teman penyidiknya. Dia akan bertanya dulu sebelum memberikan informasi. Agar dia tahu, informasinya bermanfaat atau tidak.^^^
^^^Temannya bisa dipercaya, jadi tidak usah curiga dengan berbagai pertanyaannya atau berpikir dia hanya mencari informasi atau hanya kepo dengan kasus orang tua Jaret. Itu yang diingatkan Bram, saat mengajaknya bertemu.^^^
"Kami belum selidiki kekayaan Jaret, karena pihak PPATK katakan sedang selidiki sumbernya. Mereka perkirakan itu sumber dari narkoba, sebagaimana yang dituduhkan padanya sebagai pengedar. Jadi jika bisa dibuktikan sumbernya dari itu, dia akan dihukum sangat berat." Arif menjelaskan apa yang dikatakan PPATK.
"Makanya mereka sudah bekukan semua kekayaannya dan sedang bekerja keras untuk menemukan sumbernya. Agar Jaksa penuntut bisa menetukan lamanya hukuman dan lalukan persidangan." Penyidik Arif jelaskan lagi kepada Kaliana dengan serius.
^^^Kaliana sontak melihat Pak Yosa, dengan heran. Ternyata pihak PPATK tidak mengaitkan pancingan foto flexing orang tua Jaret yang diposting Putra dengan kekayaan Jaret. Pak Yosa juga melihat Kaliana dengan heran, karena pihak terkait tidak berpikiran ke arah yang mereka maksudkan.^^^
"Begini, Mas. Saya bahasakan begini saja, agar saya mudah menjelaskan." Kaliana agak sungkan langsung menyebut nama Arif, karena baru pertama bertemu dan saling menyapa. Sangat berbeda dengan Bram, yang sudah bertugas bersama bertahun-tahun. Arif mengangguk, mengerti.
^^^Kaliana membuka dokumen yang disiapkan Novie, lalu mengambil lebaran yang sudah dilabelin Putra, sehingga dia tahu yang mana diperlukan sesuai barang bukti yang mereka peroleh. Kemudian Kaliana berbalik dan berbicara di antar kursinya dan kursi Pak Yosa dengan Bram dan Arif.^^^
"Ini Mas, saya tunjukan... Ini bukan barang bukti tapi informasi. Kami jamin semua ini akurat. Mas bisa selediki sumber dana di tabungan Jaret nanti." Kaliana menunjuk semua nomor rekening yang diperoleh Putra. Bram dan Arif memperhatikan penjelasan Kaliana dengan serius.
"Ini tidak ditransfer, jadi tidak bisa terlacak asalnya. Tapi kami sudah periksa orang yang menabung di tabungan Jaret. Ini orang tua Jaret, yang menabung secara berkala dan tunai. Mereka hanya menabung, tanpa menarik." Kaliana menjelaskan dengan tenang dan serius.
"Jika tabungan ini punya Jaret, dia akan menariknya, minimal satu kali. Tapi dia tidak pernah lakukan sekali pun." Kaliana menjelaskan sambil menunjuk semua tabungan yang ditemukan Putra.
"Jadi menurut Mba', Jaret tidak tahu tentang uang-uang ini?" Tanya penyidik Arif yang mulai bersemangat karena telah menemukan titik terang. Kemana kekayaan orang tua Jaret dialihkan.
__ADS_1
...~°°°~...
...~●○¤○●~...