
...~•Happy Reading•~...
Novie memutar balik jet sky nya, sehingga dia dan Marons berputar mengelilingi Siska dan temannya. Sedangkan Kaliana dan Yicoe, memukul salah satu dari mereka berdua yang terdekat dengan jet sky Marons atau Novie.
"Coe, gebuk yang terdekat denganmu, tapi jangan membuat mereka ko'itt." Kaliana mengingatkan Yicoe, agar tidak menggunakan semua kekuatannya untuk memukul Siska dan temannya. Yicoe mengerti maksud Kaliana, dia melumpuhkan saja dan jangan membuat mereka tewas atau tenggelam.
Ikatan penutup hidung dan mulut Siska sudah terlepas, tapi mereka berdua masih memakai penutup kepala dan wajah. Sehingga dalam kondisi ombak yang diciptakan oleh jet sky Maron dan Novie membuat Kaliana dan Yicoe tidak bisa mengetahui yang mana Siska, yang mana temannya.
"Uuuupppsss... Sedikit kuat..." Yicoe berkata pelan dan serius, karena dia menyadari memukul sedikit lebih kuat saat yang seorang di antara mereka kebawa ombak ke arah jet sky Novie.
"Semoga bukan kakinya..." Novie berkata pelan sambil berharap, karena jika demikian, mungkin bisa membuat orang tersebut duduk di kursi roda.
"Biarkan mereka minum sedikit air rasa garam..." Kaliana berkata cepat, saat melihat mereka berdua sudah tidak melawan karena Marons dan Novie terus berputar di sekitar mereka lalu Kaliana dan Yicoe memukul tangan dan kaki mereka bergantian dengan tongkat.
"Itu sudah dekat pantai. Coe, pegang bahu yang terdekat denganmu, lalu tarik. Vie, pelan saja agar tidak terlepas." Kaliana memberikan instruksi untuk membawa Siska dan temannya ke pantai.
Marons dan Novie membawa jet sky pelan ke arah pasir di tepi pantai. Lalu membantu Kaliana dan Yicoe mengangkat Siska dan temannya yang sudah lemas, tak berdaya dan meletakan mereka di atas pasir.
"Bram, ini tangkapanmu." Kaliana berkata pelan, saat melihat Bram sudah turun dari kapal dan sudah melepaskan respirator. Bram berjalan cepat mendekati Kaliana, tapi masih mengenakan tutup kepala dan wajahnya.
"Kalian segera menyingkir. Tadi Putra sudah hubungi petugas pantai dan Polisi Jakut." Bram berkata pelan dan serius, lalu menarik tangan teman Siska untuk mendekatkan dia ke Siska. Bram sengaja membuat mereka p berdampingan, agar mudah ditangani dan diawasi.
^^^Sedangkan Raka ada di kapal dengan para tawanan, karena Pak Yosa sudah kembali ke dermaga dengan kapal keluarga Marons.^^^
^^^Kaliana menepuk pundak Bram, lalu memberikan isyarat kepada Marons, Yicoe dan Novie kembali ke jet sky. Mereka segera meninggalkan Bram dan tangkapannya untuk kembali ke kapal.^^^
__ADS_1
^^^Beberapa saat kemudian, pihak penjaga pantai tiba di tempat disusul oleh pihak kepolisian. Bram segera menunjukan Kartu Tanda Anggota (KTA) sebagai polisi, agar petugas yang baru datang bisa bekerja sama atau membantunya.^^^
^^^Sedangkan Kaliana, Marons, Yicoe dan Novie sudah kembali ke kapal dan menyelimuti diri mereka dengan handuk yang ada dalam kapal, persediaan keluarga Marons.^^^
"Bram, tunggu aba-aba dariku untuk buka tutup mukanya." Kaliana mencegah dan mengingatkan Bram yang hendak membuka tutup muka Siska, karena Kaliana punya rencana lain untuk menuntasksn kasus penangkapan Bram.
Setelah tiba di anjungan dan melihat situasi Bram dari drone yang masih dioperasikan Putra, Kaliana merasa lega. Polisi pantai sudah datang, disusul oleh pihak kepolisian.
"Tenang, Bram. Kami ada di belakangmu, jika ada penjaga pantai atau polisi nakal yang coba menikungmu." Kaliana berkata serius, karena dia sudah memberikan instruksi kepada Putra untuk mengamankan Bram.
"Show, Putra...!" Kaliana memberikan instruksi kepada Putra
"Buka, Bram...!" Kaliana memberikan instruksi terakhir kepada Bram.
Mendengar ucapan Kaliana, Bram perlahan membuka tutup muka Siska. Melihat Siska masih dalam keadaan sadar, Bram membuka tutup mukanya juga lalu melihat Siska dengan rasa marah yang meluap dan juga sinis.
"Semoga kau membusuk di penjara." Bram berkata dengan geram, meluapkan amarahnya saat melihat Siska coba menggerakan tangannya.
^^^Semua yang dilakukan Bram disaksikan oleh penjaga pantai dan polisi yang berdiri didekatnya.^^^
^^^Di antara penjaga pantai ada yang coba maju untuk mencegah tindakan Bram, tapi polisi menariknya ke samping, agar penjaga pantai berhati-hati. Polisi mencurigai, Bram tidak sendiri menyergap, melihat kondisi Siska.^^^
"Bram pindah ke samping, biar kami bisa melihat wajahnya." Kaliana berkata cepat, karena wajah Siska tidak terekam dengan baik oleh drone.
^^^Bram jadi teringat dengan drone dan Putra. Dia segera melakukan yang diminta oleh Kaliana. Dia merasakan tidak semua petugas yang sudah hadir di tempat itu, ada di pihaknya.^^^
__ADS_1
^^^Putra telah melakukan proses Bram membuka wajah Siska secara live. Sehingga terjadi kegemparan di sosisl media. Vidoe penangkapan yang disiarkan Putra secara live jadi viral dalam sekecap.^^^
^^^Pimpinan Bram segera menghubungi semua anggota di bagian narkotika untuk segera datang ke kantor untuk membicarakan apa yang dilakukan Bram. Pimpinan Bram juga menghubungi Parikus untuk mengetahui apa yang sedang terjadi, sebelum rapat.^^^
"Bram, buka satunya. Aku pingin tau hantu itu." Kaliana berkata serius, karena teman Siska itu tiba-tiba muncul, entah dari mana dan berteriak ke arah Siska untuk lompat. Membuat dia terbagi konsentrasi, hingga bisa ditendang oleh Siska.
^^^Kaliana bersyukur, tidak menyentuh tubuhnya tapi membuat pergelangan tangannya sakit, karena menangkis tendangan Siska yang tiba-tiba.^^^
Bram mulai merasakan perubahan aura semua yang ada di sekitarnya. Para penjaga pantai dan polisi mulai brrsikap baik dan sigap. 'Pasti telah terjadi sesuatu.' Bram berkata dalam hati.
^^^Bagaimana tidak, Putra merekam semua yang hadir di sekitar Bram lalu dibagikan kepada publik. Kaliana meminta Putra lakukan itu, agar mencegah para aparat kotor mencelakai Bram.^^^
Bram perlahan membuka tutup muka teman Siska, agar bisa direkam oleh Putra. Ketika tutup mukanya terbuka, bukan saja teman Siska yang terkejut, tetapi juga Bram. Team Sopape yang sedang berada di anjungan kapal dan menyaksikan juga sangat terkejut.
"Oooh... Goodneeesss...! Teriak Bram sambil melihat wajah orang yang baru dibuka penutupnya mulai memutih, sambil menatap Bram dengan wajah ketakutan.
"Apa yang terjadi dengan negara iniii...?" Teriak Bram dengan suara mengglegar, sambil menggepalkan tangannya dan mengangkat wajahnya ke langit malam.
Bram tidak tahu mau marah kepada siapa, hanya bisa berteriak berulang kali, saat melihat Jaret berbaring di samping Siska dengan wajah terkejut dan memutih.
"Tidak ada yang boleh mendekat...!" Perintah Bram dengan suara mengglegar, karena khawatir dengan keselamatan dirinya dan juga keselamatan Siska dan Jaret.
^^^Bisa saja di antara para aparat yang hadir ada orang-orang Siska dan Jaret, atau ada yang mau menyingkirkan Siska atau Jaret untuk mengamankan posisi mereka.^^^
"Pak Yosa, heelllpp...!" Bisik Bram pelan. Dia tidak bisa percaya pada siapa pun saat ini, selain Kaliana dan anggotanya. Dia percaya, Pak Yosa memiliki anggota aktif yang bisa dipercaya.
__ADS_1
...~°°°~...
...~●○¤○●~...