
...~•Happy Reading•~...
Bagi Kaliana, Marons bisa dipercaya dan Kaliana mempercayainya. Jika tidak demikian, dia tidak menyimpan nama itu di hatinya setelah banyak tahun berlalu dan banyak pria berusaha mendekatinya. Sikap Marons kepadanya di waktu yang lalu, sebagai pembanding ketika ada pria yang terang-terangan menyatakan suka padanya. Dia akan menjauhi, atau menjadikan mereka teman yang baik.
"Ingat itu baik-baik, karena semua yang kita bicarakan nanti berdasarkan itu. Tidak ada prasangka, atau praduga dari isi kepalamu yang ada tumbuh banyak pohon ini." Ucap Marons sambil mengacak rambut Kaliana.
"Kau selalu punya cara untuk mengacak rambutku. Sayang aku tidak berani melakukannya padamu. Kalau tidak, sudah kuaduk-aduk kepalamu..." Ucap Kaliana kesal, karena tidak bisa menepis, tangan Marons dari kepalanya.
"Kau kira kepala dan rambutku ini adukan semen dan pasir?" Tanya Marons, makin mengacak rambut Kaliana.
"Jangan kau balas lagi, nanti ngalihin pembicaraanku." Ucap Marons cepat, saat melihat Kaliana akan membalas ucapannya.
"Kau selalu curang..." Ucap Kaliana kesal, tidak bisa membalas ucapan Marons.
'Kalau tidak begitu, mana mungkin aku bisa menang darimu.' Marons berkata dalam hati, sambil tersenyum.
"Mulai sekarang, tidak ada lagi yang kau sembunyikan dariku. Aku tau, tadi kau baru teringat tidak ingatkan Danny soal kejadian di depan restoran bukan?" Marons bertanya dengan serius, sambil menatap Kaliana.
"Hehehe... kebaca jelas di dahiku, ya. Padahal tadi aku pikir nyamuk bisa mengalihkan pikiranmu." Kaliana tertawa, karena itu yang ada dalam pikirannya saat menepuk dahinya.
"Kau tau dari mana, aku melarang Danny? Hal Itu biasa kami alami dalam bekerja, jadi aku tidak perlu lakukan itu kepada Danny." Kaliana berkata demikian, tapi dia hampir menepuk dahinya lagi karena lupa memberitahukan Danny.
__ADS_1
Hal seperti itu memang biasa mereka alami. Tetapi itu sebelum bertemu dengan Marons dan dia harus mempertimbangkan perasaannya. Selama ini, dia selalu melakukan apa yang dia pikirkan dan anggap baik bagi pekerjaannya dan juga team nya. Sehingga tadi dia lupa untuk mengingatkan Danny.
"Lalu mengapa Danny terkejut, saat aku tanya apa yang terjadi. Dia langsung bilang, 'Mbak Anna belum bilang? Kalau begitu, tanyakan saja pada Mbak Anna.' Kau pikir dia akan tutup mulut, jika aku ketok kepalanya?" Marons mengingat apa yang terjadi, saat berbicara dengan Danny dan dia ketelepasan bicara soal pemasangan GPRS oleh anggota polisi di mobil Kaliana.
"Kalau begitu, lepas tanganku supaya aku bisa mengangkat jariku untuk lakukan peace." Ucap Kaliana yang merasa bersalah, dan mau lakukan peace untuk berdamai dengan Marons. Dia teringat mengingatkan Danny soal Bryan, tapi lupa untuk kejadian di parkiran.
"Tidak perlu lakukan itu. Jika aku tidak peace, sekarang kau dan teammu bisa ada di sini? Aku akan membiarkanmu menghadapinya sendiri." Ucap Marons serius dan terus menahan tangan Kaliana yang masih ada dalam genggamanannya.
"Tapi begini, Arroo... Lepaskan tanganku dulu, supaya aku bisa konsen dengan apa yang akan kau bicarakan. Kau tidak perlu meyakinkan aku dengan melakukan ini. Aku kan, sudah bilang tadi. Aku percaya padamu, jadi tolong lepaskan." Ucap Kaliana pelan, berharap Marons mau melepaskan tangannya.
Kaliana tidak bisa konsentrasi, karena kehangatan tangan Marons sangat mempengaruhi laju cepat detak jantungnya. Entah sengaja atau tidak, Marons malah menikmati tangan Kaliana seperti wanita, lembut.
"Sebentar lagi... Aku kira tanganmu sudah berubah kaku seperti s'kop. Ternyata masih lembut, jadi aku ngga akan khawatir jika mengaduk rambutku." Ucap Marons sambil tersenyum. Membuat Kaliana menarik tangannya dengan kecepatan tinggi, lalu memukul lengan Marons.
"Aku memang sengaja melakukannya, tapi bukan untuk ngerjain. Hanya iseng, agar kau tidak banyak protes setelah aku bicarakan ini." Ucap Marons, kembali serius.
"Sekarang kau dengarkan aku...! Jangan menyangga, atau memotong pembicaraanku. Aku akan berikan kesempatan untukmu nanti, agar apa yang mau aku bicarakan tidak ada yang terlewatkan." Marons berkata pelan, tapi serius. Kaliana mengangguk mengiyakan dan tidak jadi berdiri. Dia mengerti maksud Marons.
"Aku sudah lihat yang Putra lakukan. Hal ini sudah aku khawatirkan sejak kau tunjukan video tentang Jaret pada acara gelar perkara itu." Marons berkata sambil memandang Kaliana dengan serius. Kaliana pun jadi konsentrasi dan serius setelah mendengar apa yang dikatakan Marons.
"Aku bukan meragukan kebisaan atau kemampuanmu dan team. Tetapi saat ini, kau perlu konsentrasi untuk menolong Chasina. Jangan sampai terganggu dengan apa yang dilakukan keluarga Jaret. Juga orang-orang yang berhubungan dengan narkoba." Ucap Marons serius, sambil menepuk pelan tangan Kaliana yang ada di atas meja.
__ADS_1
"Sekarang kau dan team bukan saja mengganggu Jaret dan keluarganya, tetapi juga jaringannya. Mereka tidak akan tinggal diam dan membiarkan kalian membongkar jaringannya." Marons berbicara dengan serius, karena rasa khawatir akan keselamatan Kaliana dan teamnya.
"Hal ini sudah aku pikirkan sejak malam itu, tapi belum sempat bicara denganmu. Banyak kejadian setelah gelar perkara itu, hingga aku tidak pikirkan hal itu lagi." Mengetahui Kaliana adalah Anny, konferensi pers, pembicaraan dengan Pak Adolfis dan pekerjaan kantor membuat Marons tidak fokus untuk membicarakan tentang Jaret sebagai pengedar yang ditunjukan oleh Kaliana.
"Tapi setelah mendengar yang dikatakan Danny tadi, aku langsung teringat itu lalu menghubungimu. Apalagi ada polisi yang terlibat, akan sangat berbahaya untuk kalian semua." Marons sangat khawatir, sehingga meminta Kaliana tidak kembali ke kantor, tapi langsung ke rumahnya.
"Jadi mulai sekarang, kalian bekerja di sini sampai semua ini selesai." Marons berkata tegas, memberikan keputusannya.
"Tapi Areoo... Maaf, sebelumnya. Kantorku itu, baru saja aku sewa sebelum menangani kasusmu. Masih sangat baru dan masih lama selesainya." Kaliana tidak sabar menyangga, saat mendengar keputusan Marons. Dia mengerti situasi yang dikatakan Marons, tapi dia bingung untuk bekerja di rumah Marons.
"Niii... Jejakmu sudah terlacak... Biarkan saja kantor itu untuk sementara waktu. Jika perlu, aku akan minta staff yang mengurusnya. Yang penting, kau dan teammu tidak kembali lagi ke sana." Marons makin serius, saat mendengar apa yang dikatakan Kaliana.
"Jadi maksudmu, untuk sementara kami semua pindah dan bekerja di rumah ini?" Tanya Kaliana yang mulai mengerti, mereka semua akan bekerja di rumah Marons. Tapi apa bedanya, jika mereka juga tahu tempat tinggal mereka. Karena Kaliana dan team tinggal di satu tempat.
"Bukan hanya bekerja, tapi tinggal di rumah ini." Ucap Marons lagi untuk menekankan rencananya kepada Kaliana. Mendengar itu, Kaliana tertegun sampai tidak bisa berkata apa pun. Hal itu terlalu mendadak untuknya.
"Arrooo... Terima kasih untuk semuanya. Tapi biarkan aku bicara dengan teamku untuk hal ini. Aku tidak bisa putuskan sendiri dalam kedua hal ini. Kami selalu bersama dalam ambil keputusan tentang apa yang akan kami lakukan." Ucap Kaliana akhirnya, agar bisa memberikan ruang baginya untuk berpikir.
"Niii... Kau perlu mendengar pertimbangan mereka. Tetapi kau sendiri tau, keputusannya ada di tanganmu. Jangan egois, pikirkan keselamatan mereka juga." Ucap Marons tidak memberikan ruang pertimbangan yang luas kepada Kaliana.
...~°°°~...
__ADS_1
...~●○¤○●...