
Darren tiba di Yunanda Group dan langsung menuju ruangan Asya. Saat Pintu ruangan itu terbuka, terlihatlah Asya yang duduk di sofa dengan wajah cemberutnya.
Darren mendekat dan duduk di sampingnya. "Ada apa? Hmm?" Tanyanya lembut. Namun, Asya masih diam tak menjawab.
Darren menarik nafasnya. Mugkin Asya marah karena ia tidak membolehkannya pergi tadi.
"Aku tahu, ini kesalahanku. Aku akan keluar sebentar. Kamu tenangkan dirimu."
Saat Darren hendak berdiri, Asya dengan cepat memeluknya. "Aku nggak marah."
"Benarkah? Lalu, kenapa cemberut?" Darren balas memeluk dan mencium puncak kepalanya.
"Aku lagi kesel sama Papa. Masa, vidio call nya dimatiin sepihak sama Papa? Aku kan masih mau ngomong sama Mama."
"Mungkin handphonenya kehabisan baterai."
Asya terdiam sejenak. Apa yang dikatakan Darren ada benarnya. "Iya juga, ya? Kenapa aku nggak kepikiran?" Gumamnya. "Tapi, tetap saja. Papa kan bisa kirim pesan."
"Ya sudah, kalau kamu merindukan Mama, kita ke rumah Mama saja sekarang."
"Mama sama Papa lagi di rumah Kakek."
"Kita ke rumah Kakek."
Asya menggeleng. "Aku lagi malas berpergian." Balasnya.
"Ke Grisam Group?" Pertanyaan Darren sontak membuat Asya mendongak. Wanita itu mengangguk pelan sambil tersenyum manis. Membuat Darren tak tahan untuk mengecup bibirnya.
Cup...
Namun, reaksi yang Asya tunjukkan membuat Darren terdiam. Asya melepaskan pelukannya dan menegakkan tubuhnya. Wajahnya dingin dan menatap Darren dengan sorot mata tak suka.
Wajah Darren menegang. Ia meneguk ludahnya. Dia lupa sekarang Asya sedang kedatangan tamunya. Mood wanitanya itu sering berubah-ubah jika dalam keadaan itu. Dan dia salah sudah melakukan sesuatu tanpa meminta izin terlebih dahulu. Jika malam ini Asya tidak mengizinkannya tidur bersama, maka dia yakin akan begadang hingga pagi karena susah tidur.
"Sayang..."
"Pfftttt... Hahaha... Hahaha... Kamu... Hahaha... Kenapa wajah mu tegang begitu?" Asya tertawa bahagia melihat ekpresi tegang suaminya.
Darren yang melihatnya bernafas lega. "Jadi, kamu mengerjaiku?"
"Hahaha... Kamu... Lucu sekali, sayang." Ucap Asya sambil terus tertawa. Namun, tiba-tiba...
Grep... Darren merangkul pinggangnya dan menariknya mendekat, hingga tubuh mereka saling berdempetan. Seketika, tawa Asya terhenti. Ia menatap wajah tampan Darren yang kini jaraknya begitu dekat dengannya.
"Kamu sudah mengerjaiku. Sekarang, kamu harus dihukum."
"Di huk... Hmmpp..."
Darren langsung membungkam bibir Asya dengan bibirnya. Ia mencium lembut bibir istrinya. Tidak ada penolakan dari Asya. Darren memejamkan matanya, memperdalam ciumannya. Namun, ciuman yang awalnya lembut berubah lebih agresif.
Asya yang merasakan Darren mulai hilang kendali, memukul pelan dada lelaki itu.
"Huh... Akuhh... Sedang datang bulan."
Deg... Wajah Darren langsung berubah lesu. Ia lagi-lagi lupa jika istrinya sedang datang bulan. Darren menarik nafasnya, lalu menatap Asya dengan senyuman kecil.
"Ayo, ke kantorku!"
"Ayo!" Jawaban Asya tak sesemangat tadi. Ia tiba-tiba kasihan pada suaminya.
Darren membantu Asya berdiri. Pasangan suami istri itu kemudian segera menuju parkiran. Setelah memastikan istrinya duduk dengan nyaman, Darren melajukan mobil menuju Grisam Group.
Jalanan yang cukup lenggang membuat waktu perjalanan mereka cukup singkat. Darren langsung membawa Asya ke ruangannya setelah tiba di Grisam Group.
"Duduklah! Aku akan meminta seseorang membawakan minuman."
"Aku nggak mau minum."
__ADS_1
"Lalu?" Darren ikut duduk di samping Asya. Wanita itu mendekat dan langsung memeluk sang suami.
"Lalu apa? Aku nggak mau minum atau makan. Nanti saja saat makan siang."
"Baiklah." Balas Darren, sambil mengusap rambut istrinya.
"Sayang,"
"Hmm?"
"Apa pekerjaanmu banyak hari ini?"
"Nggak begitu banyak."
"Boleh temani aku tidur?"
"Tidur? Di pagi hari begini?"
"Iya. Ada yang salah? Ini nggak begitu pagi. Sudah jam sepuluh."
"Baiklah. Ayo, ke kamar saja!"
Asya mengangguk. Keduanya segera menuju ke kamar yang ada di ruangan itu. Asya segera berbaring ketika berada di dalam kamar. Begitu juga Darren. Lelaki itu ikut berbaring. Membawa Asya dalam pelukannya, dan mengusap rambut wanita itu. Hingga tanpa sadar, Asya pun terlelap.
Darren melepaskan pelukannya, lalu bergerak mengecup kening Asya. Lelaki itu kemudian keluar, mengambil berkas-berkas yang harus ia kerjakan, lalu membawanya masuk dalam kamar. Dia akan mnyelesaikan pekerjaannya sambil menemani sang istri yang tertidur.
***
Asya mengerjab pelan, lalu meregangkan tubuhnya. Pergerakannya membuat Darren yang duduk di sampingnya sambil bekerja, menoleh.
"Sudah bangun?"
"Hmm." Gumam Asya. Wanita itu memiringkan posisi tidurnya ke arah Darren. Tangannya bergerak memeluk pinggang Darren.
"Jam berapa sekarang?"
"Hampir jam dua siang."
"Hmm."
"Apa kamu sudah makan?"
"Belum. Aku menunggumu."
"Kenapa menungguku? Kamu juga kenapa nggak membangunkan ku?"
"Aku nggak tega." Darren meletakkan semua pekerjaannya, lalu bergeser mendekati Asya dan mengecup keningnya.
"Cuci muka mu! Aku akan menghubungi seseorang untuk mengantarkan makanan."
Asya mengangguk, kemudian beranjak menuju kamar mandi. Darren menghubungi seseorang untuk membawa makanan, lalu beranjak keluar, mengembalikan berkas-berkas yang dikerjakannya ke ruang kerja, lalu kembali ke kamar.
"Sudah selesai?"
"Iya."
Darren menuntun istrinya menuju sebuah pintu yang terhubung dengan ruangan santai miliknya. Darren menarik kursi untuk Asya duduki, kemudian duduk di depan sang istri.
Seorang perempuan datang dengan mendorong troli makanan yang Darren minta.
"Silahkan tuan, nona."
"Ya." Balas Darren.
"Terima kasih." Ucap Asya. Perempuan itu kemudian berpamit pergi.
Asya menatap makanan yang ada di meja. Semua makanan kesukaannya. Tidak satupun makanan yang disukai Darren.
__ADS_1
"Kenapa semua makanan kesukaan ku? Makanan kesukaan mu?"
"Aku menyukai apa yang kamu suka." Ucap Darren, membuat Asya tersenyum. Pipinya memerah karena ucapan Darren itu.
"Ayo, makan! Kita sudah melewatkan waktu makan siang."
Asya mengangguk. Ia dan Darren mulai menyantap makanan mereka. Darren lebih banyak menyuapi Asya dari pada mengisi perutnya.
"Kamu tidak makan?"
"Makan." Jawab Darren. "Buka mulutmu!"
"Berhentilah menyuapiku! Sekarang gantian! Aku yang akan menyuapimu."
"Bailkah. Tapi, habiskan sesendok ini."
Asya menurut. Ia melahap sesendok makanan yang Darren berikan. Kemudian bergantian dia yang menyuapi Darren.
"Oh ya, sayang. Dimana Jiyo? Aku nggak lihat dia saat datang tadi."
"Jiyo di kantor cabang."
"Kantor cabang? Sejak kapan?"
"Sejak kamu bilang, mau makan siang bersama, tanpa Jiyo."
Asya menepuk jidatnya. Dia hanya bilang tanpa Jiyo, bukan berarti harus mengirim Jiyo ke kantor cabang. Darren benar-benar.
"Kenapa?" Tanya Darren tanpa rasa bersalah.
"Enggak."
"Ayo, lanjut makan!" Asya hanya mengangguk. Ia lanjut menyuapi Darren dan sesekali menyuapi dirinya.
"Setelah dari sini, mau kemana lagi?" Ucap Darren.
"Eeemm... Kita ke mall lagi gimana?"
"Boleh. Tapi, jangan lupa sama bayarannya."
"Bayaran apa?" Asya pura-pura lupa. Masih ingat saja Darren sama bayarannya itu.
"Jangan pura-pura! Aku tahu, kamu masih mengingatnya dengan baik."
"Baiklah. Kalau begitu, nggak jadi ke mall."
"Kenapa?"
"Ada bayarannya juga. Bisa-bisa, kemana-mana kamu minta bayaran terus."
"Enggak. Ke mall gratis. Bayarannya cuma hari ini. Hari-hari selanjutnya, gratis."
"Beneran?"
"Bener."
"Makasih, sayang."
"Sama-sama."
***
Mobil yang ditumpangi Darren dan Asya tiba di rumah hampir jam 8 malam. Darren menenteng barang yang dibeli Asya saat di mall tadi. Keduanya langsung menuju kamar.
"Sayang, aku mandi duluan ya?"
"Ya."
__ADS_1
Darren meletakkan barang yang dibawanya di sofa. Ia meraih satu paper bag dan membukanya. Sebuah baju bayi, yang begitu imut. Seulas senyum muncul di bibir Darren.
"Semoga kehadiranmu membawa kebaikan untukku dan aunty mu." Ujar Darren, lalu kembali menyimpan baju tersebut.