
Darren menghentikan mobilnya di depan sebuah cafe bernuansa romantis. Pengunjungnya banyak pasangan muda mudi yang sedang menghabiskan waktu bersama.
"Jadi, ini tempat yang kamu maksud?" Tanya Asya.
"Hmm." Darren turun dan membukakan pintu untuk Asya. Ia menggenggam tangan gadis itu dan berjalan bersama memasuki cafe.
"Selamat datang tuan muda, nona muda." Sapa seorang pelayan, menunduk pada Darren dan Asya. Darren hanya mengangguk, sementara Asya tersenyum pada wanita itu.
"Darren, dia mengenali mu?" Bisik Asya.
"Tentu saja. Aku sudah memesan ruang privatnya."
"Hah? Ruang privat? Untuk apa?"
Darren menggentikan langkahnya lalu membalikan tubuhnya menghadap Asya. Tangannya berpindah merangkul pinggang Asya. "Banyak pria disini. Aku nggak mau kamu terus diperhatikan oleh mereka. Cukup aku yang boleh terus menatapmu." Ucap Darren.
Asya tersenyum mendengarnya. Ia melirik pengunjung wanita yang terus melihat Darren sejak tadi. Dan dengan sengaja, ia berjinjit mengecup pipi Darren.
Cup.
"Aku mencintaimu." Ucapnya, bersusah payah menyembunyikan rasa malunya. "Ayo, aku sudah sangat lapar." Lanjutnya.
"Baiklah. Ayo!" Balas Darren sambil tersenyum tipis.
Darren dan Asya bergegas menuju ruang privat yang sudah di pesan Darren. Asya terpukau dengan suasana di dalamnya. Benar-benar disiapkan untuk pasangan.
"Apa kamu suka?"
"Sangat suka." Ucap Asya lalu memeluk Darren dengan senyum gembira. "Terima kasih, Darren."
"Ya. Ayo, duduk." Asya mengangguk. Darren kemudian menarik kursi untuk Asya dan mempersilakannya duduk. Darren sudah mengatur semuanya dengan baik. Sepuluh menit mereka duduk, seorang pelayan datang membawa makanan yang sudah Darren pesankan sebelumnya.
"Silakan dinikmati tuan, nona. Saya permisi."
"Ya." Balas Darren.
"Terima kasih." Ucap Asya. "Wah, Darren, semuanya makanan yang ku suka."
"Makanlah."
Asya mengangguk. Ia langsung menyuapkan sesendok makanan ke mulutnya. Asya tersenyum senang merasakan nikmatnya makanan yang masuk ke mulutnya. Sementara Darren, ia hanya menonton Asya. Ia begitu menikmati wajah cantik Asya yang tersenyum.
"Makanan ini sangat enak." Ucap Asya. Ia kembali menyendokkan sesendok lagi. Sebelum ia memasukkan ke mulutnya, ia menghentikannya.
"Kenapa kamu hanya diam menatapku? Ayo, makan! Rasanya sangat enak. Ayo, buka mulutmu dan rasakan makanannya." Asya tersenyum dan mengarahkan sendok yang berisi makanannya ke mulut Darren. Lelaki tersebut juga ikut tersenyum melihat kelakuan Asya. Dengan senang hati ia melahap makanan itu.
"Bagaimana rasanya?"
"Enak. Dan lebih enak saat makan dari sendok bekasmu." Ucap Darren.
Asya yang tersenyum langsung berubah ekpresi terkejut. Ia mentap sendoknya. Benar, ia lupa jika sendok yang ia gunakan untuk Darren adalah sendok yang ia gunakan tadi.
"Maaf Darren, aku nggak..."
"Kenapa minta maaf? Aku senang makan dari sendok bekas mulutmu. Rasanya lebih nikmat."
Pipi Asya langsung merona mendengarnya. "A-apa yang kamu katakan? Ayo, makan lagi." Asya kembali melahap makanannya tanpa memperhatikan Darren lagi. Jantungnya berdetak begitu cepat saat ini.
"Makanlah pelan-pelan." Ucap Darren.
"Hmm."
"Asya." Panggil Darren lembut.
__ADS_1
"Ada apa?" Asya menatap wajahnya.
Lelaki itu lagi-lagi tersenyum. Ia mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya. Sebuah kotak kecil berwarna merah. Ia membuka kotak tersebut dan mengeluarkan isinya. Sebuah cincin yang begitu indah.
"Da-Darren, ini..."
"Dengarkan aku." Ucapnya, memotong ucapan Asya.
Darren meraih tangan gadis itu. Ia mengecupnya lalu memasukkan cincin tersebut ke jari manis Asya.
"Aku tahu, kamu belum ingin memilikinya. Kamu boleh melepaskannya setelah ini. Aku nggak akan terlalu memaksamu.Tapi, kenakan saat acara ulang tahunmu nanti."
Asya mengangguk. Setetes air mata melesat begitu saja dari mata Asya. Ia beranjak dari duduknya dan langsung memeluk Darren.
"A-aku mencintaimu, Darren." Ucap Asya dalam pelukan Darren.
"Aku juga mencintaimu." Balas lelaki itu, mengecup puncak kepala Asya.
"Hiks... Ap... Apa ini, kamu sedang melamarku?"
Darren tersenyum mendengarnya. "Jika kamu menganggapnya seperti itu, maka seperti itu."
"Seperti itu?"
"Ya, seperti itu."
"Darreeen..."
"Iya-iya. Jika kamu menganggapnya sebagai sebuah lamaran, maka aku melamarmu sekarang. Jika kamu tidak menganggapnya sebagai sebuah lamaran, maka anggap saja sebagai hadiah pertama ulang tahun mu."
"Ulang tahunku masih beberapa hari lagi."
"Nggak maslah. Masih ada hadiah lain."
"Tentu saja. Aku sudah menyiapkan hadiah untukmu."
Asya tersenyum. "Terima kasih, Darren." Ucapnya kemudian kembali memeluk Darren.
"Iya." Balasnya. "Sekarang, ayo makan lagi. Waktu istirahat makan siang kita sudah lewat."
"Iya." Asya mengangguk, kemudian kembali ke tempatnya.
***
Setelah makan siang, Darren langsung mengantar Asya kembali ke kantornya lalu kembali ke Grisam Group. Saat hendak menuju ruangannya, ia tak sengaja melihat Jiyo yang duduk di ruangannya sambil tersenyum. Darren hanya menggeleng dengan wajah datarnya, lalu lanjut melangkah.
"Tuan muda Darren!" Panggilan Jiyo membuatnya berhenti.
Lelaki yang sedang bahagia itu segera menghampiri Darren dengan senyum mengembang.
"Tuan muda, terima kasih sudah bantu mendekatkan aku dengan Nita. Terima kasih juga sudah menghilang dan membiarkanku makan bersama Nita."
"Hmm."
"Aku sudah berhasil mendapatkan nomor handphone Nita."
"Baguslah. Kembali bekerja." Ucap Darren, kemudian masuk ke ruangannya.
"Hah? Hanya itu saja responnya? Menyebalkan sekali Darren." Gumam Jiyo, berbalik ke ruangannya. "Apa salahnya mengucapkan selamat padaku? Sahabat macam apa itu?" Lanjutnya.
"Jiyo!"
"Hah? Eh... Tu-tuan muda." Ucapnya gugup saat melihat Darren di depan pintu ruangan.
__ADS_1
Darren menatapnya dengan tatapan menyelidik. Membuat Jiyo meneguk ludahnya.
"Da-Darren... Ma-maksudku tuan muda. Apa..."
"Ambilkan handphone ku di mobil."
"Baik tuan muda."
Huuuhh... Syukurlah. Ku pikir dia mendengar apa kataku tadi.
"Jiyo!"
"Eh... I-iya, aku pergi." Jiyo dengan cepat bergegas menuju lift. Ia sudah mengata-ngatai Darren tadi. Bagaimana jika lelaki itu sadar akan hal itu. Ia tidak ingin di kirim ke tempat yang jauh. Memikirkan saja sudah mengerikan. Apalagi benar-benar terjadi.
Jiyo segera kembali ke lantai atas setelah mendapatkan handphone Darren. Ia langsung menuju ruangan Darren.
"Ini handphonenya."
"Kamu boleh keluar." Balas Darren.
Setidaknya, ucapkan terima kasih pada sahabatmu ini. Batin Jiyo.
Lelaki itu berbalik dan meraih gagang pintu. Namun, sebelum pintu terbuka, suara Darren kembali terdengar.
"Jiyo!"
Lelaki yang di panggil Darren itu berbalik sambil menunjukkan senyuman manisnya.
"Ada yang bisa saya bantu lagi, tuan muda?"
"Terima kasih. Kembalilah bekerja."
Jiyo terdiam mendengar dua kata pertama yang ia dengar dari Darren. Kata yang jarang sekali ia dengar dari sahabatnya itu.
Darren... Berterima kasih? Apa dia mendengar suara hatiku?
"Jiyo!"
"Ya! Ah... Maaf, tuan muda. Sama-sama atas ucapan terima kasihnya. Saya permisi."
"Hmm."
Jiyo dengan cepat melesat keluar. Sementara Darren, ia bingung dengan sikap sahabatnya itu. Setelah Jiyo pergi, Darren meraih handphonenya dan mendial nomor tanpa nama kontak.
"Hallo, tuan muda."
"Hmm... Bagaimana semuanya?"
"Semuanya aman tuan. Tinggal tunggu tanggalnya dan beberapa hal yang dibutuhkan nanti."
"Bagaimana untuk Darrel dan Aurel?"
"Persiapan untuk tuan muda Darrel hampir selesai semuanya. Tuan Gara dan nyonya Alula merencanakan semuanya dengan begitu baik."
"Ya. Ingat! Pastikan semua persiapannya jangan sampai mengalami kekurangan. Lakukan yang terbaik untuk acara Darrel dan Aurel. Jangan sampai ada hal kecil yang akan mecelakai mereka. Terutama Aurel. Dia sedang mengandung anak Darrel."
"Baik, tuan muda. Tapi, bagaimana dengan rencana anda?"
"Jangan pikirkan itu! Lakukan semuanya sesuai rencana. Saya akan memberi tahu kalian jika ada perubahan."
"Baik, tuan."
Setelah obrolan panjang itu, Darren menutup telponnya. Ia menyandarkan punggungnya. Seulas senyum muncul di bibirnya. Ia membayangkan bagaimana ekspresi Asya saat menerima cincin dari nya tadi.
__ADS_1
"Benar-benar cantik." Gumamnya pelan.