Sahabat Possessive

Sahabat Possessive
Bab 163


__ADS_3

Pagi hari, setelah sarapan bersama, semua bersiap-siap untuk memulai kegiatan liburan sesuai dengan list yang sudah disiapkan para wanita.


Darren keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melikit pinggangnya. Tatapannya langsung jatuh pada Asya dan Doni. Wanita itu duduk di pinggir ranjang sambil menyisir rambut Doni yang berdiri menghadapnya. Sementara si kembar, keduanya sudah berada di stroller.


"Doni?"


Doni yang sedang menghadap Asya segera berbalik ketika mendengar suara Gara.


"Papa," ucapnya sambil tersenyum pada sang Papa.


"Hadap sini lagi, sayang," ucap Asya, kemudian lanjut menyisir rambut Doni.


Darren hanya memperhatikan Ibu dan anak itu. Melihat bagaimana tulusnya seorang Asya pada Doni.


"Udah. Anak Mama udah tampan."


"Terima kasih, Ma."


"Iya sayang," balas Asya. Matanya lalu menatap sang suami yang masih berdiri di tempatnya. "Lho sayang, kok belum pakai baju?"


"Mau kamu yang pakai in," jawab Darren.


Asya hanya bisa menggeleng mendengar jawaban sang suami. "Doni sama adek, ya? Mama mau bantu Papa pakai baju."


Doni terdiam dan berbalik menghadap Darren. Ia mengamati Darren dari atas kepala hingga ujung kaki. "Kenapa Papa harus dibantu pakai baju? Papa kan udah besar? Doni aja pakai baju sendiri."


Asya tersenyum kikuk. Bagaimana caranya ia jelaskan kalau suaminya itu, jika sudah manja, akan melebihi sifat kekanakan Doni. Jika dia salah bicara, Doni akan semakin banyak bertanya.


"Tangan Papa sakit."


"Papa sakit?" Doni cukup terkejut mendengar Papanya sakit. Dengan cepat ia mendekati Darren dan meraih tangan lelaki itu.


"Tangan bagian mana yang sakit? Biar Doni pijatkan."


Darren tersenyum. Ia mengusap pelan puncak kepala Doni menggunakan tangan kirinya. "Tangan kanan. Sekarang udah mendingan. Kamu nggak perlu khawatir."


"Apa tangan Papa sakit karena menggendong Doni?"


"Enggak. Ini sakit bukan karena menggendong Doni. Jangan menyalahkan diri kamu okey? Papa baik-baik saja." Doni dengan pelan menganggukkan kepalanya. "Sekarang, bantuin Papa sama Mama jagain adek ya?"


"Iya, Pa."


Asya yang melihat interaksi Ayah dan anak itu tersenyum bahagia.


***


Setelah semuanya siap, mereka berangkat menuju tempat sesuai yang tertulis dalam list yang dipegang Irene. Semua merasa bahagia bisa berlibur bersama dan berbagi kebahagiaan. Arya dan Tia juga begitu bersyukur bisa menikmati moment ini bersama sang putra dan sahabat-sahabat mereka. Semuanya menikmati liburan dengan perasaan gembira.


"Sha." Axel memisahkan diri dari orang tuanya dan mendekati Alisha yang sedang membeli jajanan.


"Axel. Kenapa? Mau jajan juga?"


Laki-laki itu menggeleng. "Nggak."

__ADS_1


"Berapa semuanya?" tanya Alisha pada penjual.


"125.000."


Alisha mengeluarkan uang dari sakunya, namun Axel dengan cepat menahannya. "Gue aja," serunya.


Alisha menatapnya sejenak, kemudian mengangguk. Setelah membayar, keduanya berjalan kembali menemui yang lain.


"Kenapa jalan sendiri? Lo bisa ajak gue atau yang lain buat nemenin lo." Raut khawatir terlihat jelas di wajah Axel saat mengatakan hal tersebut pada Alisha.


Gadis itu tersenyum manis. "Nggak apa-apa kok. Nggak jauh juga. Ayah juga terus perhatiin Alisha," ucapnya, sambil menatap sang Ayah yang tak sedikitpun melepas pandangannya dari sang putri.


"Tetap aja, Sha. Gue tetap khawatir."


"Axel lucu ya?"


Kening Axel mengerut. "Lucu apanya?" balasnya tak paham.


"Hehe... Lucu aja. Axel suka berubah-ubah. Kadang ngeselin kayak semalam, kadang dingiin banget, dan kadang aneh."


Axel tersenyum tipis. "Cuman lo yang bisa liat gue kayak gitu." Alisha tersenyum mendengarnya. Entah kenapa, ia senang saat Axel berkata seperti itu.


"Oh ya, Sha."


"Hmm?" Alisha menatap wajah lelaki itu.


"Kalau gue bilang gue ci—"


"Ayo, Axel. Kak Aurel sama yang lain udah tungguin."


Axel hanya mengangguk. Ia menggenggam tangan Alisha, lalu membawa gadis itu mendekati keluarga mereka.


"Sini, deketan. Kita mau foto bareng," ucap Asya, menarik lembut Alisha untuk ikut berfoto. Dan otomatis, Axel mendekat dan juga ikut berfoto.


Setelah banyak foto yang diambil, mereka memutuskan untuk melakukan hal lain. Tapi, tidak dengan Axel. Laki-laki itu menahan tangan Alisha yang hendak pergi.


"Ada apa?" tanya Alisha bingung.


"Foto kita berdua."


"Ya udah. Ayo," sahut Alisha semangat. "Pak, tolong fotoin kita ya?"


Alisha memberikan handphonenya pada laki-laki yang dimintai tolong untuk memfoto mereka. Setelah itu, ia berdiri di dekat Axel dengan sedikit memberi jarak.


Keduanya mulai berpose. Alisha dengan gayanya yang imut nan cantik, sementara Axel dengan gaya nya yang cool. Kedua remaja itu tak lepas dari perhatian Gara dan yang lainnya. Mereka bahkan berhenti dan menunggu keduanya dengan sabar.


"Udah," ucap Alisha, setelah sudah cukup foto yang diambil.


"Sekali lagi," ucap Axel, dengan tampang datarnya.


Alisha mengangkat wajahnya dan menatap Axel. Ingin protes, tapi Axel sepertinya tak kan peduli. Alisha menarik nafasnya kemudian menatap laki-laki yang ia mintai tolong.


"Sakali lagi ya, Pak. Maaf ngerepotin."

__ADS_1


"Nggak masalah," jawab laki-laki itu.


Alisha kembali berpose sesuai keinginannya. Tapi tiba-tiba, Axel melingkarkan tangannya di pinggang Alisha kemudian menariknya mendekat. Membuatnya dan Alisha berdekatan dengan mata yang saling menatap satu sama lain.


Cekrek...


"Sempurna," ucap si laki-laki yang memotret keduanya. "Ini foto yang paling bagus," lanjutnya.


Suara laki-laki itu membuat Alisha menjauhkan dirinya dari Axel. Ia menatap ke arah keluarganya. Bisa ia lihat wajah terkejut mereka atas perbuatan Axel yang tiba-tiba. Sementara Axel, ia bersikap santai seolah tidak terjadi apa-apa. Laki-laki itu bahkan dengan santainya menerima handphone Alisha dari si laki-laki yang membantu memfoto mereka.


Senyum tipis terukir di bibirnya saat melihat hasil foto tersebut, terutama foto terakhir.


"Alisha, ayo nak!" Suara Gara membuat Alisha yang terdiam menatap mereka langsung berjalan mendekat. Ia menggandeng tangan sang Ayah kemudian jalan bersama-sama dengan yang lain. Axel juga ikut bergabung di bagian paling belakang rombongan, sambil menggenggam handphone Alisha dan senyum tipis yang masih terukir.


***


Seharian penuh menghabiskan waktu jalan-jalan, semuanya kembali ke penginapan. Alisha dan Axel berjalan beriringan karena arah kamar mereka yang sama. Wajah Alisha terlihat begitu senang. Sepertinya ia sangat menyukai liburan kali ini.


"Masuk kamar langsung tidur. Nggak usah main-main handphone lagi," peringat Axel dengan suara dinginnya.


"Iya. Alisha juga udah mulai ngantuk kok."


Keduanya sama-sama berhenti di depan pintu kamar Alisha. Tangan Axel terulur mengusap rambut gadis itu.


"Mimpi indah. Gue sayang sama lo," ucapnya.


"Axel."


"Hmm?"


Alisha menyerahkan salah satu paper bag yang dipegangnya. Axel menerimanya dengan kening mengerut.


"Apa ini?"


"Hoodie," jawab Alisha. "Semalam aku lihat kamu kayak kedinginan pas di taman. Dan kebetulan tadi aku lihat hoodie itu. Kayaknya cocok sama kamu. Jadi aku beli."


Axel tersenyum mendengarnya. Sebenarnya dia memiliki jaket dan hoodie. Hanya saja ia tidak ingin mengenakannya semalam. Udara semalam juga tidak begitu dingin baginya.


"Makasih," ucap Axel yang diangguki cepat oleh Alisha.


"Dipakai."


"Pasti."


"Ya udah, Alisha masuk dulu."


Axel menganggukkan kepalanya. Ia mendekat dan menangkup kedua pipi Alisha, kemudian mengecup keningnya. Alisha yang diperlakukan seperti itu terdiam mematung. Ini kedua kalinya Axel mengecup keningnya. Ada perasaan aneh dan jantungnya berdetak cepat.


"A-Axel..."


"Selamat tidur. Masuk gih!"


"Iya. Selamat tidur juga, Axel," balas Alisha setelah berusaha menenangkan perasaannya.

__ADS_1


__ADS_2