Sahabat Possessive

Sahabat Possessive
Bab 154


__ADS_3

Axel dan Hardi menatap alat-alat rias yang Alisha letakkan di depan mereka. Setelah pulang sekolah, Alisha mengajak dua laki-laki itu ke rumahnya. Dan sekarang, mereka berada di gazebo halaman belakang rumah.


"Nah, kalian berdua udah kenyangkan? Sekarang, aku mau dandanin kalian jadi perempuan," ucap Alisha.


"Hehehe... Sha, lo beneran mau dandanin kita? Masa cowok ganteng kayak kita jadi cewek?" ujar Hardi, mencoba bernegosiasi dengan Alisha.


"Cuman hari ini kok jadi perempuan nya. Besok-besok nggak lagi. Lagian, kamu sendiri yang bilang bisa jadi perempuan."


"Nurut aja!" seru Axel sambil melirik Hardi tajam.


"Nah, Axel aja nurut. Masa kamu enggak? Axel nggak ngomong apa-apa lho tadi."


"Hehehe... Ya udah. Gue nurut."


"Nah, gitu dong," ucap Alisha. "Sekarang, Axel duluan."


"Gue?"


"Iya, Axel duluan."


Laki-laki itu menarik nafasnya. Dengan terpaksa laki-laki itu mendekat ke arah Alisha. Keduanya duduk saling berhadapan.


Alisha tersenyum cerah. Dengan cekatan ia mulai mengoleskan make up ke wajah Axel. Alisha semakin semangat saat Axel hanya diam dan membiarkan dia melakukan apa saja pada wajah lelaki itu.


Setelah beberapa saat, Alisha selesai. Ia menatap wajah Axel yang kini balas menatapnya dengan wajah datarnya.


"Axel cantik," ucap Alisha. Mendengar itu Hardi dengan segera bergeser dan melihat wajah Axel.


"Pfftttt... Lo can-tik, Xel," ucapnya sambil menahan tawa. Ia tak peduli lagi jika Axel akan memukulnya. Dia tidak bisa menahan diri untuk tidak mengucapkan sesuatu saat melihat Axel didandan seperti ini.


Bibir dengan lipstik yang merah menyala, bulu mata lentik, dan pipi yang merah merona. Hanya satu yang kurang. Alisha tidak memberikan wig pada Axel.


"Nggak usah ketawa deh. Sekarang giliran kamu!"


Senyum Hardi luntur seketika. Ia pikir, Alisha sudah puas mendandani Axel. Ternyata dugaannya salah.


"Harus banget ya gue didandani juga?"


"Harus! Kamu kan yang kasi ide," jawab Alisha. Dan dengan terpaksa, Hardi menuruti apa yang Alisha katakan. Gadis itu tersenyum senang. Alisha mulai merias wajah Hardi. Saat tangannya hendak menyentuh bibir Hardi, menghapus lipstik yang belepotan, Axel dengan cekatan menahannya.


"Nggak usah sentuh bibir dia! Bibir gue aja yang lo sentuh!" ucap Axel, membuat Alisha terdiam menatapnya. Axel kemudian meraih tisue dan memberikan benda tersebut pada Hardi. "Ada cermin. Lo bisa liat, bagian mana yang belepotan!" lanjutnya, setelah menyerahkan tisue pada Hardi.


Hardi hanya bisa menerima tisue dengan tatapan melongo menatap Axel. Bisa-bisanya Axel bersikap seperti itu.


Posesifnya ketularan kak Darren Darrel nih si Axel. Batin Hardi.


"Dandanannya udahan. Udah sore. Seharusnya lo istirahat," ucap Axel.


"Yaaahh... Nggak seru. Dandannya juga baru sebentar, belum selesai juga. Masa udah disuruh berhenti?" ucap Alisha.


"Yang penting kamu udah senangkan sekarang?"

__ADS_1


"Eemm... Iya. Ya udah kalian pulang gih! Udah sore."


"Pulang, Di!" suruh Axel tanpa menoleh pada Hardi. Hardi yang disebut namanya oleh Axel menatap lelaki itu dengan kening mengerut.


Dengan perasaan bingung, ia berucap sambil menunjuk dirinya sendiri. "Gue Xel? Tapi—ya udah gue pulang." Hardi langsung meralat ucapan protesnya saat mendapat tatapan tajam Axel.


"Sha, gue balik dulu," ucap Hardi meraih tasnya hendak pergi.


"Yakin mau pulang? Nggak dibersihin dulu make up nya?"


Hardi yang sudah memunggungi Alisha dan Axel sontak berbalik. Ia dengan cepat mendekat pada Alisha dan Axel.


"Hampir aja gue lupa! Pasti diketawain seisi rumah lo," ucap Hardi, meraih pembersih make up.


Setelah membersihkan make up di wajahnya, Hardi meraih facial wash yang Alisha berikan dan membawanya menuju toilet. Ia akan mencuci wajahnya.


"Gue langsung balik. Ni benda gue simpan di toilet. Lo ambil sendiri," ucap Hardi, kemudian pergi setelah mendapat anggukkan Alisha.


Gadis itu tidak sadar jika sejak tadi, Axel terus menatapnya. Dan saat menolah ia baru tahu jika Axel sedang menatapnya.


"Axel nggak pulang?" tanyanya polos.


"Bersihin muka gue!"


"Ya udah. Sini deketan," ucap Alisha. Axel memajukan wajahnya hingga jarak antara mereka semakin dekat.


Alisha dengan cekatan menmbersihkan make up di wajah lelaki itu. Ia benar-benar fokus membersihkan wajah lelaki itu. Berbeda dengan Axel yang malah fokus menatap wajah Alisha.


***


Alisha berdiri di halaman depan sambil menatap Axel yang menaiki motornya. Sekarang sudah pukul 8 malam dan Axel baru akan pulang. Laki-laki itu menyuruh Hardi pulang, tapi dia sendiri betah di rumah Alisha. Bukan tanpa alasan dia menyuruh Hardi pulang. Sengaja ia melakukan itu karena ingin berdua saja dengan Alisha.


Namun, dia harus menelan harapannya berduaan sama Alisha saat Doni, Dafa, Roy dan Lala ikut bergabung bersama mereka. Untung si kembar Alan Alena dan Meeya tidak dititipin Asya sama Aurel pada mereka. Seandainya benar dititipkan, ia akan menganggap sebagai ajang latihan jika punya anak bersama Alisha nanti.


"Axel hati-hati ya, bawa motornya. Jangan ngebut-ngebut. Kalau udah sampai rumah, kabarin," ucap Alisha.


Axel tak menjawab. Ia hanya menatap Alisha dengan wajah datarnya.


"Sini dekatan," ucap Axel tiba-tiba.


Alisha tak membantah. Ia menurut, mendekati Axel yang sudah duduk di atas motornya.


"Ada ap—"


Cup...


Satu kecupan mendarat di pipi Alisha, dan Axel lah pelakunya. Gadis itu mematung di tempatnya. Sementara Axel dengan santainya memakai helmnya. Setelah itu tangannya terulur mengusap kepala Alisha.


"Gue balik," ucap Axel tanpa menghentikan usapannya di rambut Alisha.


Alisha mengangguk. Tapi sesaat kemudian, ia menahan tangan Axel yang mengusap kepalanya. "Kenapa Axel cium pipi Alisha?"

__ADS_1


Axel tersenyum tipis dari balik helmnya. "Karena gue sayang sama lo," ucapnya. "Gue balik. Jangan kemalaman tidurnya."


Alisha lagi-lagi mengangguk. "Axel juga hati-hati," ucap Alisha.


Setelah motor Axel melaju menjauh, Alisha berbalik hendak kembali ke rumah. Dan dia mendapati Ayahnya berdiri di teras rumah. Dengan cepat ia berlari mendekati ayahnya.


Dengan senyum mengembang, Alisha meraih lengan Gara dan memeluknya.


"Ayah lihat?" tanyanya.


"Lihat apa?" tanya balik Gara.


"Axel cium pipi Alisha," jawabnya polos. Gara mengangguk pelan. Tangannya terulur mengusap rambut putrinya.


"Kata Axel, itu artinya dia sayang Alisha."


"Jaga diri kamu baik-baik. Ayah nggak ngelarang kamu berteman. Tapi, jangan sampai melewati batas antara laki-laki dan perempuan."


"Alisha nggak ngerti,"


Gara menarik nafasnya. Putrinya ini kadang sangat cerdas kadang juga sangat lambat mencerna dan memahami ucapannya. Tapi, dia masih punya Alula yang akan membantunya menjelaskan pada Alisha.


"Nanti ibu yang jelasin sama Alisha, ya?" Alisha mengangguk.


"Sekarang ayo masuk."


Alisha lagi-lagi mengangguk. Ayah dan anak itu lalu sama-sama masuk rumah.


***


Asya baru saja keluar dari kamar mandi dan tiba-tiba sepasang tangan melingkar di pinggangnya. Senyum tipis muncul di bibirnya. Itu sudah pasti suaminya, Darren. Entah dari kapan laki-laki itu sudah ada di kamar. Saat Asya ke kamar mandi tadi, Darren masih berkutat dengan dokumen-dokumen di ruang kerjanya.


"Kamu sejak kapan di kamar?" tanya Asya. Ia berbalik dan melingkarkan tangannya di leher Darren. Sebelah alisnya memicing melihat tatapan Darren padanya.


"Ada apa?" tanya Asya.


"Aku kangen," ucap Darren dengan suara beratnya.


"Kita kan setiap hari ketemunya," jawab Asya pura-pura tak mengerti ucapan Darren.


"Kangen yang lain dari kamu."


Asya terkekeh pelan. "Mau apa? Bentar lagi si kembar pasti bangun."


"Nggak lama," ucap Darren.


Saat ia menundukkan wajahnya hendak mencium bibir Asya, suara tangis Alan dan Alena melengking membuat Darren menarik nafasnya. Sementara Asya terkekeh pelan melihat ekspresi sang suami.


"Aku kan udah bilang. Jam segini, bukan waktu yang tepat," ujar Asya lalu menjauh dari Darren, menghampiri ranjang putra dan putrinya.


Darren menghembuskan nafasnya sekali lagi, kemudian ikut mendekat ke ranjang Alan Alena, dan menggendong Alan yang masih berbaring karena Asya menyusui Alena terlebih dahulu. Meski kedua anaknya menghalangi tujuannya saat ini, tidak sedikitpun terbesit rasa kesal pada mereka.

__ADS_1


Dia yang menginginkan mereka. Dan dia harus menerima apapun tentang mereka, termasuk terbaginya waktu Asya dengannya.


__ADS_2