Sahabat Possessive

Sahabat Possessive
Bab 162


__ADS_3

Seperti yang Asya katakan kemarin, jika jet pribadi paman Gio dan papa Edo akan berangkat lebih dulu dari mereka. Saat ini anggota keluarga Grisam satu persatu mulai memasuki jet pribadi milik Gara.


"Doni. Sini, sebelahan sama Aunty," ucap Alisha, menggerakan tangannya menyuruh Doni mendekat. Doni yang masih terus menempel pada Darren segera mendekat pada Alisha.


"Aunty nggak bakal cium-cium Doni kan?" tanya anak itu. Alisha selalu saja mencium pipinya setiap kali mereka berdekatan.


"Kamu nggak mau dicium Aunty?"


"Ya jelas nggak mau, Dek. Kamu ciumnya sampai pipi Doni merah," sahut Darrel. Benar-benar cari masalah laki-laki satu itu.


"Bilang aja Kak Darrel iri Alisha nggak cium Kak Darrel."


"Ngapain juga iri? Kakak juga setiap hari dapat ciuman dari Aurel sama Meeya."


"Ayaah... Kak Darrel nya ngeselin," rengek gadis itu pada Gara.


"Darreeel!"


"Iya Ayah. Bercanda," ucap Darrel. Ia lalu menyibukan dirinya bersama Aurel dan Meeya.


"Ayo, Doni. Aunty nggak akan cium sampai pipi kamu merah. Maaf ya, kalau aunty selama ini suka kasar sama Doni."


Doni mengangguk. "Aunty nggak kasar. Cuman suka nggak sadar."


Alisha terkekeh mendengarnya. Benar apa kata Doni. Dia gemas, dan suka nggak sadar tiap kali cium keponakannya itu. Bukan hanya Doni, si kembar Alan Alena, Meeya, diciumnya sampai nangis. Lala dan Roy juga tidak terlepas dari dia. Bahkan Dafa yang sudah besar pun tidak bisa menghindari Alisha.


Setelah menempuh perjalanan hampir 10 jam penerbangan, mereka pun tiba. Orang-orang Gara sudah menunggu untuk membawa mereka ke penginapan.


"Biar aku yang gendong Alan," ucap Darren. Ia dengan penuh hati-hati menggendong putranya itu. Asya hanya tersenyum tipis dan menggendong Alena. Semuanya berjalan menuju mobil yang sudah terparkir. Beberapa pengawal yang sejak tadi menunggu membawa barang-barang mereka.


"Doni mau ikut Mama sama Papa atau sama Kakek Nenek?" tanya Asya lembut pada putranya.


"Doni sama Ibu, Ayah sama Alisha saja," ucap Alula yang kemudian diangguki Doni.


Anggota keluarga Grisam itu kemudian menaiki mobil masing-masing menuju penginapan dimana sudah ada Edo dan yang lainnya yang menunggu.


Hampir 3 jam perjalanan, mereka tiba di penginapan.


"Akhirnya kalian sampai juga," ucap Edo saat rombongan Gara tiba.


"Kau tidak perlu khawatir seperti itu," ucap Gara sambil menggendong Doni.


"Ck. Aku tidak khawatir padamu. Aku khawatir pada cucu-cucuku," balas Edo. Ia mengusap lembut rambut Doni, kemudian mencium kening anak itu. Ia lalu beralih pada si kembar dan Meeya. Saat ia hendak mengusap rambut Alisha yang bardiri disebelah Alula, sura dingin Gara terdengar.


"Jangan sentuh putriku, Edo!" seru Gara.


Edo menatap jengah Gara. "Dia juga putriku. Kalau kau lupa, dia adik Asya," balas Edo yang kemudian langsung mengusap puncak kepala Alisha.


Gadis cantik itu tersenyum manis pada Edo. Namun, tanpa dia sadari, Axel terus menatapnya sejak tadi.


***


Langit menggelap. Semua sudah mulai terlelap. Lelah. Itulah Gara dan yang lainnya rasakan. Sementara rombongan Edo dan Gio, mereka baru saja menuju kamar masing-masing setelah berbincang-bincang.


Axel kembali keluar dari kamar setelah beberapa saat berdiam diri di ruangan tersebut. Langkahnya berhenti tepat didepan kamar Alisha. Hari ini, dia tidak ada kesempatan sedikitpun untuk berbicara dengan Alisha. Bahkan gadis itu tidak membalas pesannya.


Tok... Tok... Tok...


"Sha!" Suara Axel terdengar setelah mengetuk pintu. Dia yakin, gadis itu pasti sudah tidur. Tapi anehnya, ia masih ingin melihat gadis itu. Hanya sekedar melihat, tidak perlu mengobrol.


Tidak ada jawaban membuat Axel mengetuknya sekali lagi. Tapi, hasilnya masih sama. Laki-laki itu menarik nafasnya sejenak, kemudian berbalik hendak kembali ke kamarnya.


Ceklek...


"Axel?"


Sudut bibir lelaki itu langsung terangkat membentuk senyum. Dengan segera ia berbalik dan mendekat pada Alisha.


"Lo belum tidur?" tanyanya.


Alisha menggeleng. "Belum ngantuk."


"Nggak capek perjalanan jauh?"


"Enggak. Aku tidur terus di perjalanan tadi," balasnya sambil tersenyum.


"Mau keluar nggak?"


"Hah? Kemana?"


"Jalan-jalan aja. Di sebelah penginapan ini ada taman."


"Emm... Boleh. Aku ambil handphone dulu."

__ADS_1


"Pakai jaket sekalian. Dingin."


Alisha mengangguk. Dengan cepat gadis itu melesat masuk ke kamarnya, kemudian keluar dengan membawa handphone dan jaketnya.


"Tolong pegangin." Alisha memberikan handphonenya pada Axel, kemudian mulai mengenakan jaketnya. "Udah. Sini handphonenya," lanjutnya setelah selesai mengenakan jaketnya.


"Ayo!" Axel meraih tangan Alisha dan menggenggamnya.


"Tunggu dulu." Axel menghentikan langkahnya setelah mendengar ucapan Alisha. Satu alisnya terangkat, tak mengerti kenapa Alisha menghentikannya.


"Axel nggak pakai jaket?"


"Nggak."


"Di luar dingin. Nanti Axel kedinginan."


"Gampang. Gue tinggal peluk lo."


"Alisha nggak bercanda ya."


"Gue juga nggak bercanda," balasnya, kemudian mendekat dan menarik pintu kamar Alisha hingga tertutup. "Ayo!" lanjutnya, manarik lembut tangan Alisha menjauh dari kamar tersebut.


"Mau kemana kalian?"


Suara dingin yang mendominasi membuat langkah Axel dan Alisha terhenti. Dua remaja itu berbalik dan menemukan Darren berdiri sambil menatap dengan sorot dingin ke arah mereka.


"Kakak belum tidur?"


"Jawab saya Axel!" Suara Darren semakin terdengar dingin. Ia bahkan mengabaikan pertanyaan Alisha dan beralih menatap tajam Axel. Dia percaya Axel. Tapi dia tidak suka Axel membawa Alisha tanpa izin seperti ini.


"Kita mau jalan-jalan ke taman samping penginapan."


"Begitu cara kamu bawa adik saya malam-malam begini? Tanpa izin."


"Gue nggak berpikir bawa Alisha tanpa izin. Gue cuman nggak mau ganggu kalian yang lagi istirahat."


"Alisha juga butuh istirahat."


"Kak, Alisha belum ngantuk." Alisha menyela. Dia tidak tega melihat Axel disalahkan oleh Kakaknya.


Darren menarik nafasnya. Ia mendekat pada Alisha dan mengelus puncak kepalanya dengan lembut. "Alisha pernah dengar penjelasan Ibu mengenai batasan antara perempuan dan laki-laki kan?" Alisha mengangguk. "Alisha masih ingat kan?"


"Masih, Kak. Alisha juga udah janji nggak bakal langgar batasan-batasan itu." Darren mengangguk mendengarnya. "Jadi, Alisha boleh ya keluar sebentar sama Axel? Alisha cuman mau lihat keadaan malam hari disini."


"Siaap."


"Jagain adik saya. Jangan macam-macam! Jangan lama-lama juga!" Axel hanya mengangguk mengiyakan ucapan Darren.


Setelah mendapat persetujuan Darren, dua remaja itu segera berlalu menuju taman. Wajah Alisha berbinar. Ternyata tamannya begitu bagus. Bahkan ada beberapa orang yang masih asik menikmati suasana di taman tersebut.


"Lo suka?"


"Suka banget," jawab Alisha. "Bagus banget. Aku jadi penasaran sama pemandangan taman di siang hari."


"Besok pagi kita kesini lagi."


"Besok kan ada jadwal kita ke tempat X. Axel lupa?"


Axel terdiam. Ya, dia lupa jika besok dan tiga hari kedepan sudah ada jadwal tempat-tempat yang akan mereka semua kunjungi. Para Ibu-Ibu sudah membuat list tempat mana saja yang akan mereka kunjungi.


"Ya udah. Kalau ada kesempatan, kita kesini lagi." Alisha mengangguk dengan mata yang tak pernah lelah menelusuri taman tersebut.


"Ayo, duduk dulu." Axel menuntun pelan Alisha untuk duduk di kursi panjang yang ada di taman tersebut.


"Kenapa nggak balas pesan gue tadi?" tanya Axel, membuat Alisha yang sedang mengagumi keindahan taman tersebut menoleh menatapnya.


"Alisha matiin handphonenya. Jadi nggak tahu kalau Axel kirim pesan."


Axel hanya mengangguk pelan. Suasana diantara keduanya seketika sunyi. Alisha sibuk dengan urusannya mengagumi keindahan taman, dan Axel yang sibuk menatap Alisha, mengagumi wajah cantik gadis itu.


"Oh ya, Axel. Kita— kenapa Axel lihatin Alisha?" tanya gadis itu saat mendapati Axel terus menatapnya.


"Gue suka lihatin lo."


"Ck. Aneh."


"Nggak masalah gue aneh," balasnya. "Lo mau ngomong apa?"


"Enggak. Alisha cuman mau nanya. Kita kan udah kelas 12 nih, nggak lama lagi bakalan lulus. Axel nanti mau lanjut dimana?"


"Gue ikut lo aja," balas Axel tanpa berpikir panjang.


"Iiihh... Serius ini, kenapa malah bercanda sih!"

__ADS_1


"Gue serius. Dimana pun lo mau lanjut, dan universitas apapun yang lo suka, gue bakal selalu sama lo."


"Axel nggak punya tujuan hidup? Nggak mikirin masa depan Axel? Kenapa terus ngikutin Alisha? Gimana kalau yang Alisha suka, tapi Axel nggak suka?"


"Tujuan hidup gue lo, Sha. Masa depan gue tergantung lo."


"Maksudnya?"


"Nanti lo akan ngerti," balas Axel, kemudian beranjak dari duduknya. "Ayo, balik!"


"Hah? Secepat ini balik? Alisha masih pengen disini Axel."


"Nggak! Balik sekarang!"


"Alisha lagi peng— aaa... Axel kenapa Alisha digendong!!" Alisha sedikit berteriak, membuat beberapa pengunjung taman memperhatikan mereka.


Sementara Axel, ia tak memperdulikannya. Dengan wajah datarnya, ia berjalan menajauhi taman sambil tetap menggendong Alisha.


"Axel, turunin nggak?"


"Nggak!" Laki-laki itu menjawab singkat. Dia tahu Alisha. Gadis itu cukup nekat untuk kembali lagi ke taman jika ia menurunkannya. Darren mempercayainya. Dia tidak ingin kepercayaan Darren hilang gara-gara tidak menepati janji untuk tidak boleh lama.


"Axel jahat tahu nggak?"


Axel tak menjawab lagi. Biarkan Alisha mengatainya jahat. Untuk sekarang, ia ingin mendapat kepercayaan Darren terlebih dulu.


"Alisha nggak suka Axel! Turunin Alisha!" Alisha semakin kesal saat mereka memasuki penginapan. Selain itu, ia juga malu dilihat beberapa oarang yang masih terjaga.


Axel tetap bungkam. Ia mengabaikan Alisha dan fokus berjalan ke arah kamar gadis itu.


"Eh, kenapa ini? Kenapa Alisha digendong?" Suara Darrel terdengar begitu berisik. Jiyo yang berdiri di sebelahnya sampai menutup telinga. Alisha yang awalnya kesal dengan Axel langsung memejamkan mata berpura-pura tidur. Sial sekali bertemu Darrel. Dan double sial, karena ada Jiyo.


Axel berhenti dan menatap datar Darrel dan Jiyo. Kemudian tatapannya beralih menatap Alisha yang tiba-tiba diam tak mengoceh lagi. Segaris senyum yang begitu tipis terukir di bibirnya melihat Alisha berpura-pura tidur.


"Axel. Kenapa diam?" tanya Jiyo. Kini keduanya sudah berada di dekat Axel.


"Alisha tidur." Axel menjawab singkat.


Darrel menatap intens Axel. Meski memiliki mata yang berbeda dengan milik Gara, namun aura intimidasi Gara melekat pada Darrel. Jiyo mengakui itu. Bahkan Axel pun merasakan aura intimidasi Gara saat Darrel menatap intens dirinya.


"Kamu nggak apa-apain adik saya kan?" tanya Darrel serius.


"Nggak. Gue tahu batasan," balas Axel.


"Ya udah. Biar saya yang bawa Alisha ke kamarnya."


"Gue aja."


Tanpa menunggu respon Darrel dan Jiyo, Axel meninggalkan kedua laki-laki itu. Darrel tak tinggal diam, dan mengekori Axel. Begitupun dengan Jiyo.


"Lo malu?" gumam Axel, membuat Alisha membuka sebelah matanya mengitip, kemudian sepenuhnya menatap Axel yang kini menahan senyum.


"Awas ya, kalau bilang-bilang kak Darrel sama kak Jiyo kalau Alisha pura-pura," ancam Alisha.


Axel terkekeh pelan, lalu membuka pelan pintu kamar Alisha. Laki-laki itu berjalan mendekati ranjang.


"Turunin sekarang. Alisha bisa ke kasur sendiri."


"Mau ketahuan sama Kak Darrel? Hmm?"


Alisha melotot ke arah Axel. Laki-laki itu begitu menyebalkan malam ini.


"Baringinnya pelan-pelan. Setelah itu langsung keluar! Jangan macam-macam!" Suara Darrel yang terdengar dari ambang pintu membuat Alisha kembali memejamkan matanya. Untung ia tidak memaksa Axel menurunkannya. Bisa-bisa ia ketahuan.


Axel lagi-lagi terkekeh dengan tingkah Alisha. Jika tidak ingat semua nasihat papanya, dia mungkin sudah... Ah sudahlah. Cukup dia saja yang tahu apa isi pikirannya.


Axel segera membaringkan Alisha dan menyelimutinya. Dengan pelan ia mengusap rambut gadis itu kemudian mengecup keningnya.


Deg!


Alisha terkejut dengan jantung yang berdetak cepat. Bukan hanya Alisha, perbuatan Axel juga membuat Darrel dan Jiyo yang berdiri di ambang pintu melotot. Berani sekali dia mengambil kesempatan mencium Alisha tepat di depan mata mereka.


Semenetara Alisha, ia menggigit bibir bawahnya, menahan diri untuk tidak membuka mata dan memarahi Axel. Ia juga sangat malu. Pasti Darrel dan Jiyo melihatnya.


Axel menjauhkan wajahnya dari kening Alisha, kemudian berjalan menuju pintu dengan tampang dinginnya yang tenang, seolah tidak terjadi apa-apa.


"Berani sekali kamu Axel," ucap Jiyo dengan tatapan tak percaya.


"Cuman kening, bukan bibir," balas Axel santai.


Darrel yang mendengarnya kembali melotot. Sementara Jiyo meneguk ludahnya. Axel ini satu spesies dengan Darren. Dingin menghanyutkan.


"Maksud kamu cium bibir dulu baru bisa dikatakan berani?" tanya Darrel dengan suara sedikit meninggi. Tapi, ia segera mengecilkan suaranya saat sadar Alisha sedang tidur.

__ADS_1


"Mungkin." Axel mengedikkan bahunya kemudian berjalan meninggalkan Darrel dan Jiyo yang masih berdiri di ambang pintu kamar Alisha.


__ADS_2