Sahabat Possessive

Sahabat Possessive
Bab 56


__ADS_3

Asya memasuki cafe tempat Aurel bekerja. Langkahnya langsung tertuju ke ruangan Aurel. Saat pintu ruangan tersebut dibuka, dia tidak bisa menahan senyumnya. Gadis itu langsung memeluk Aurel.


"Asya, ada apa?" Tanya Aurel, membalas pelukan Asya.


"Aku sangat bahagia, Aurel."


"Ada apa? Jangan membuatku penasaran. Ayo, ceritakan padaku!"


"Kita duduk dulu."


Asya segera menutup kembali pintu dan berjalan bersama Aurel menuju sofa. Senyum di bibir gadis itu tidak pernah lepas.


"Ayo, katakan! Apa yang membuatmu begitu bahagia?"


"Darren mengungkapkan perasaannya padaku. Dia mencintaiku, Aurel."


"Darren? Benarkah?" Asya dengan semangat mengangguk, mengiyakan pertanyaan Aurel.


"Ya Tuhan, Asya. Aku juga ikut bahagia." Aurel memeluk Asya. Melihat wajah bahagia sahabatnya, membuat ia ikut bahagia. "Aku ikut bahagia."


Asya melepaskan pelukannya. Ia menatp wajah Aurel. "Terima kasih." Ucapnya, membuat Aurel mengangguk.


Asya sedikit menundukkan kepalanya, menatap perut Aurel. Ia mengusap perut Aurel dengan lembut.


"Hallo, baby. Apa kabar? Sehat-sehat ya, kamu di dalam sana. Aunty sangat bahagia. Aunty juga sangat menantikan kelahiranmu. Aunty sayang baby."


"Baby juga sayang sama Aunty." Balas Aurel, menirukan suara anak kecil, yang kemudian membuat keduanya tertawa bersama.


"Oh ya, Asya. Kapan Darren mengungkapkan persaannya?"


"Kemarin."


"Huuuhh... Akhirnya... Dia sadar juga dengan persaannya."


Asya tersenyum menanggapinya. "Kamu sudah makan siang?"


"Belum. Saat mendapat pesan kalau kamu akan kemari, aku memutuskan untuk makan siang dengamu."


"Uuhhh... Manis sekali sahabatku ini." Asya mencubit pelan kedua pipi Aurel.


"Asyaa..."


"Hehehe... Ayo, kita makan di depan saja! Aku yang akan mentraktir mu."


"Ya-ya. Gadis yang sedang dipenuhi cinta." Ucap Aurel, membuat keduanya kembali terkekeh bersama, sambil berjalan keluar dari ruangan tersebut.


***


Seperti biasa, setelah pulang kerja, Darrel akan pulang bersama Aurel atau akan menemui Aurel di apartemen. Ia akan tinggal beberapa jam disana, kemudian pulang ke rumahnya.


Darrel memarkirkan mobilnya lalu memasuki rumah. Malam ini ia pulang sedikit lebih larut. Darren juga sudah berada di rumah sebelum Darrel tiba.


"Dari mana kamu?" Suara dibgin Gara terdengar saat Darrel berbalik menutup pintu.


Lelaki itu menoleh dan mendapati sang Ayah berdiri sambil menatapnya. Darrel mendekati Gara dengan raut wajahnya yang tenang.


"Aku dari ketemu teman-teman."


"Jangan berbohong Darrel. Ayah tahu, seberapa banyak teman-temanmu."


"Ayah..."


"Kamu habis menemui gadis itu kan?"

__ADS_1


"Ayah tahu?"


"Kamu lupa? Ayah bahkan bisa menarikmu menjauh dari gadis itu."


"Ayah..."


"Ayah bukan orang yang mengabaikan perubahan yang terjadi pada anak-anak Ayah. Apa kamu pikir Ayah tidak akan menyelidikimu saat kamu selalu pulang terlambat dengan alasan berkumpul dengan teman-temanmu?"


Darrel terdiam. Ya, dia melupakan siapa Ayahnya. Seorang yang dingin namun peduli dengan setiap perubahan yang terjadi pada keluarganya.


"Ayah ingin berbicara sesuatu denganmu." Ujar Gara, lalu bergegas menuju ruang keluaraga.


Darrel tidak banyak bicara dan segera menyusul sang Ayah. Ia duduk di sofa yang berhadapan dengan Ayahanya.


"Ada apa, Yah?"


"Kenan sudah menemukan beberapa petunjuk tentang gadis itu." Ucap Gara.


Deg... Jantung Darrel seperti ingin berhenti. Hatinya sangat ingin mengabaikan masalah itu. Melupakan gadis itu dan menjalankan hidupnya bersama Aurel. Tapi, ia kembali berpikir, bagaimana jika gadis itu mengandung? Ia tahu, bagaimana rasanya hidup tanpa Ayah.


"Ayah adalah Ayahmu. Ayah tahu, apa yang kamu rasakan pada gadis yang sering kamu temui itu. Tapi, Ayah tidak ingin anak Ayah menjadi seorang yang brengsek. Orang yang sudah merusak dan meninggalkan begitu saja."


"Maafkan aku, Yah."


"Kamu tidak perlu meminta maaf. Ayah hanya tidak ingin anak Ayah salah mengambil keputusan. Ayah tidak menyalahkan perasaan mu. Tapi, Ayah tidak ingin kamu lepas dari tanggung jawabmu hanya karena fokus pada perasaanmu."


"Ya, aku paham apa yang Ayah katakan. Apa saja informasi yang Paman Kenan dapatkan?"


"Orang-orang yang bekerja dibawah pengawasan Kenan mendapatkan rekaman cctv dari sudut lain hotel tersebut. Meskipun wajahnya tidak begitu jelas, mereka akan berusaha menemukan identitasnya. Ben juga sudah berada di sana untuk menyelidiki langsung."


"Paman Ben? Bukankah seminggu lalu dia di kota ini?"


"Ya. Ayah memintanya pergi 5 hari lalu." Darrel hanya mengangguk.


Setelah Ayahnya pergi, Darrel menunduk dan mengacak rambutnya. Ia menarik nafasnya dan membuangnya sedikit kasar. Dengan tidak semangat, Darrel berdiri dan berjalan gontai menuju kamarnya.


"Ada apa?" Suara Darren yang berdiri bersandar di pintu kamar membuat Darrel mendongak menatapnya.


Dia berjalan dengan malas dan ikut menyandarkan tubuhnya tepat di samping Darren.


"Paman Kenan sudah menemukan perempuan itu. Meskipun wajahnya tidak begitu jelas, aku yakin secepatnya identitas perempuan itu akan ketahuan. Apalagi Paman Ben sudah ada disana. Sudah pasti akan lebih mudah mengetahui identitas gadis itu."


"Bukan kah itu bagus?"


"Ya... Itu memang bagus. Tapi..." Darrel menjeda ucapannya dan menunduk. "Aku mencintai Aurel." Sambungnya.


"Hufthh..." Terdengar helaan nafas Darren. "Aku sudah menduganya."


"Maksudmu?" Darrel menatap wajah Darren yang sedang memfokuskan tatapannya ke depan.


"Aku tahu kamu menyukai Aurel bukan karena ikatan persahabatan, melainkan perasaan antara perempuan dan laki-laki. Bukan hanya aku yang bisa melihatnya. Asya dan mungkin juga Jiyo, bisa melihatnya. Aku juga yakin kalau Aurel juga mencintaimu."


"Tapi, kamu harus ingat! Ada gadis yang harus kamu tanggung jawabkan. Jangan sampai kamu mengikat kedua-duanya. Itu akan menyakiti mereka."


Darrel terdiam dan kembali menunduk mendengar ucapan Darren. Matanya menatap lantai yang dipijaknya. Hatinya terasa sakit jika mengingat bahwa dirinya dan Aurel tidak bisa bersama. Tiba-tiba saja, ia teringat akan kondisi Aurel sekarang. Bagaimana kehidupan Aurel dan bayinya nanti saat Darrel fokus pada tanggung jawabnya? Hal itu membuat Darrel menarik nafasnya.


"Darren!"


"Hmm?"


"Aurel hamil!"


Deg... Darren langsung menoleh menatap kembarannya.Tidak bisa ia pungkiri, ia terkejut mendengar ucapan Darrel.

__ADS_1


Darren menerik nafasnya, dan kembali tenang. "Anakmu?" Hanya pertanyaan itu yang keluar dari mulut Darren.


"Bukan. Aku nggak tahu. Aurel juga tidak memberitahuku. Dari ekspresi Aurel yang ku lihat, sepertinya sesuatu yang buruk pernah terjadi padanya."


Darren menghembus nafas lega. Setidaknya, anak yang dikandung Aurel bukan anak Darrel. Jika itu anak Darrel, bagaimana nasib kedua wanita tersebut. Mereka pasti akan sangat terluka.


"Syukurlah. Ku pikir anakmu."


"Bukan. Tapi, aku sudah berjanji untuk bertanggung jawab. Aku akan menganggap anak itu sebagai anakku."


Darren lagi-lagi terdiam. Adik kembarnya membuatnya cukup terkejut untuk kedua kalinya.


Cinta membuat orang tidak bisa berpikir jernih. Batin Darren.


Darren menegakkan tubuhnya lalu menepuk pundak Darrel.


"Istirahatlah! Tenangkan pikiranmu." Ujar Darren, lalu berjalan menuruni tangga.


***


Pagi hari, Darren sudah berada di rumah Asya. Sesuai janjinya, dia akan sarapan pagi bersama Asya di rumah Asya. Acara sarapan paginya bersama Asya diketahui oleh Alisha. Gadis itu sangat bahagia dan memaksa Darren agar cepat ke rumah Asya. Dan di sinilah Darren. Di rumah Asya, tepatnya di ruang makan.


Asya dengan cekatan mengambil sarapan untuk Darren.


"Ini. Ayo, dimakan!" Ucapnya.


Lelaki itu mengangguk dan meraih makanan yang Asya letakkan. Irene dan Edo yang melihat hubungan Asya dan Darren yang kembali membaik, tersenyum senang. Putri mereka tidak murung lagi seperti sebelum-sebelumnya.


"Bagaimana Grisam Group, Darren?"


"Baik Paman." Balas Darren.


"Kerja sama perusahaan kita?" Tanya Irene.


"Semuanya baik, Ma. Tidak ada yang perlu di khawatirkan." Sela Asya.


"Syukurlah. Papa takut saja saat ada masalah diantara kalian kemarin."


"Hanya salah paham." Ucap Darren.


Setelah perbincangan kecil tersebut, mereka kembali melanjutkan sarapan mereka. Naomi yang baru saja masuk ke ruangan tersebut mengerutkan keningnya. Dari punggungnya saja, dia tahu itu Darren.


Darren? Dia sarapan disini? Batinnya.


Ia berjalan cepat menuju meja makan. "Selamat pagi, semuanya." Sapanya, dengan senyum mengembang.


"Selamat pagi." Balas Asya, Irene dan Edo. Sementara Darren, tidak satu kata pun yang keluar dari mulutnya. Jangankan menjawab, menoleh saja dia enggan.


"Darren. Kamu juga sarapan disini?" Tanya Naomi. Lagi-lagi Darren tidak menjawabnya.


Naomi tersenyum kaku, lalu menarik kursi dan duduk. "Asya tolong ambilkan roti dan selai nya untukku."


Asya mengangguk. Tapi, saat tangannya menyentuh makanan itu, suara Darren terdengar.


"Berikan selai dan roti itu untukku." Ucap Darren.


Asya menatapnya lalu menatap Naomi. Kemudian ia memberikan selai dan roti itu untuk Darren.


"Buatkan untukku." Asya menatap Darren. Tidak biasanya lelaki itu seperti ini. Biasanya dia akan mengoleskan sendiri selai nya.


"Kau bisa ambil sendiri makananmu." Darren berucap dingin pada Naomi. Membuat gadis itu tersenyum paksa, dengan tangan yang mengepal dibawah meja.


Sepertinya kalian sudah berbaikkan. Lihat saja, aku akan merusak kembali hubungan kalian. Batin Naomi.

__ADS_1


__ADS_2