Sahabat Possessive

Sahabat Possessive
Bab 35


__ADS_3

Hari-hari berlalu. Darrel sering meluangkan waktunya bersama Aurel. Dia juga mencarikan pekerjaan untuk Aurel. Hal yang sama dilakukan Asya. Gadis itu bahkan menyiapkan waktu khusus untuk Aurel. Seperti saat ini, dia sedang bersama Aurel dengan membawa Alisha. Dia ingin mengenalkan Aurel pada Alisha.


"Emm... Kak Asya, siapa perempuan ini?" Bisik Alisha, pelan. Matanya terus melirik ke arah Aurel yang duduk didepan mereka.


Asya tersenyum pada Alisha. "Kenalin. Dia Aurel, sahabat Kakak. Sahabat Darrel sama Jiyo juga."


Aurel tersenyum manis ke arah Alisha sambil mengulurkan tangannya. Sudut bibir Alisha tiba-tiba terangkat membentuk senyuman. Seoleh senyuman Aurel menular padanya.


"Saya, Aurel."


"Alisha, Kak." Alisha menyambut tangan Aurel.


Setelah berkenalan, gadis itu masih belum berhenti menatap Aurel.


"Alisha, kenapa terus natap Kak Aurel?" Asya menyentuh tangan Alisha.


"Eh. E-enggak, Kak. Alisha kayak pernah dengar nama Kak Aurel. Tapi... Ah, aku ingat." Alisha terpekik girang. "Kak Darrel. Setelah pulang dari kota C, Kak Darrel langsung istirahat tuh. Alisha yang mau nagih pesanan Alisha, langsung ke kamar Kak Darrel. Alisha malah dengar Kak Darrel panggil-panggil nama Kak Aurel. Alisha jadi mikir, jangan-jangan, Kak Aurel sama Kak Darrel pacaran lagi." Alisha tersenyum menggoda menatap Aurel.


Aurel tersipu malu. Asya yang melihatnya ikut tersenyum.


"Benaran, kamu sama Darrel pacaran?" Asya ikut menggoda.


"E-enggak." Bantah Aurel, cepat.


"Nggak apa-apa juga kok kalau Kak Aurel pacaran sama Kak Darrel."


"Alisha udah punya pacar, ya." Tuduh Asya, balik menggoda Alisha.


"Ihh.. Enggak loh ya. Alisha nggak punya pacar."


"Beneran? Terus Axel Axel itu?"


"Kak Asya...."


"Rel, kamu tahu nggak. Si Axel ini suka cubit-cubit pipi Alisha. Terus katanya juga jagain Alisha."


"Benarkah? Waahh... Berarti Alisha benaran nih, udah punya pacar." Aurel menaik turunkan alisnya, ikut menggoda Alisha.

__ADS_1


"Kak Asya sama Kak Aurel apaan sih? Alisha sama Axel itu sahabatan."


"Sahabatan bisa jadi pacar kan?" Celetuk Asya.


"Kayak Kak Asya sama Kak Darren?"


Ucapan Alisha langsung membuat Asya bungkam. Alisha jadi gelagapan mendapatkan reaksi seperti itu dari Asya. Tapi, detik berikutnya, Asya malah terkekeh. Membuat Aurel dan Alisha ikut terkekeh meski tak tahu, apa yang membuat Asya terkekeh.


Asya mengusap lembut rambut Alisha. "Kamu jangan pacaran dulu, ya. Fokus buat belajar dan kejar mimpi kamu. Semua jalan hidup Tuhan yang atur. Pasti ada saatnya kita bertemu orang yang tepat." Ucap Asya. Alisha mengangguk patuh. Asya membuat Alisha semakin menyukainya.


Gadis kecil itu bergerak memeluk Asya. Ia lalu menggerakkan tangannya memanggil Aurel unruk mendekat. Setelah itu, ia juga memeluk Aurel, gadis yang baru ia kenal belum sampai sehari. Ia rasa, Aurel berbeda dari Naomi. Ketiganya berpelukan sambil tersenyum. Namun, tanpa mereka sadar, setetes air mata jatuh dari pelupuk mata Aurel.


Kamu benar, Asya. Jalan hidup kita Tuhan yang atur. Meski begitu, aku tetap menjadi orang yang tak pantas ada dalam takdir hidup Darrel. Batin Aurel.


***


Darrel sudah bersiap dengan stelan kantornya. Laki-laki itu terlihat begitu tampan dengan jas hitam yang ia kenakan. Alisha yang baru tiba di ruang makan berdecak kagum melihat kedua Kakaknya yang sama-sama mengenakan jas hitam.


"Ya, Tuhan. Emang pesona anak kembar nggak main-main." Pekiknya, membuat Alula dan Gara menggeleng. Para pelayan yang mendengarnya mengulum senyum. Darrel semakin belagak sombong dengan memebenarkan jasnya. Sementara Darren, hanya berwajah datar sambil menatap lembut ke arah Alisha.


Gadis kecil itu mengecup pipi Ibu dan Ayahnya, lalu menarik kursi, duduk.


Semua yang ada di meja langsung menatap Alisha. Gadis itu lalu fokus mengoleskan selai pada rotinya.


Tapi, ia merasakan ada yang sedang menatapnya. Saat ia mengangkat kepala, ia bisa melihat jika semua sedang menatapnya.


"Kenapa pada natap Alisha?" Gadis itu bertanya bingung.


"Siapa yang ngajarin kamu soal pacaran?" Tanya Gara, datar.


"Hah? Nggak ada, Yah. Cuman tahu dari novel yang Alisha baca."


"Alisha nggak boleh pacaran dulu." Darren membuka suara. Alisha langsung menatapnya sambil tersenyum.


"Sayang, kenapa malah senyum? Yang Kak Darren bilang itu benar, lho." Alula berkata lembut.


"Iya, Bu. Alisha tahu. Alisha senyum karena ucapan Kak Darren sama kayak ucapan Kak Asya. Sama-sama ingatin Alisha nggak boleh pacaran dulu. Benar-benar sehati kalian." Alisha tersenyum senang. Alula ikut tersenyum, begitupun Gara.

__ADS_1


"Ck. Deeekk... Dek. Udah sejak lama Kakak mu ini tampan. Kenapa baru sekarang kamu sadarnya? Kalah kamu sama Nadia sama Yana." Celetuk Darrel, memasukkan sepotong roti ke mulutnya.


"Itu kan karena Kakak suka tebar pesona sama mereka. Lagian kan, mereka jarang lihat yang tampan-tampan. Alisha kan udah sering. Bahkan punya yang paling tampan. Ya... Walaupun harus dibagi sama Ibu." Alisha melirik Ibunya, lalu Ayahnya.


Alula kembali menggeleng. Ia tahu Gara lah yang dimaksud Alisha. "Seharusnya Ibu yang bilang begitu. Sayangnya, Ibu harus berbagi orang yang paling tampan sama Alisha." Ujar Alula, mencubit pelan hidung putrinya.


Wajah Gara langsung memerah mendengar perkataan Alula. Bahkan rona merahnya menjalar sampai telinga. Meskipun ia tahu, Alula bercanda pada Alisha. Tapi, dia merasa Alula seperti sedang menggodanya.


Keempat orang yang melihat Gara seperti itu tak bisa menahan tawa. Darrel tertawa paling keras. Alula dan Alisha terkekeh, dan Darren, hanya mengulas senyum sambil menggeleng.


***


Semua karyawan berkumpul di salah satu ruangan di Grisam Group. Ruangan yang di desain seperti Aula besar, yang di khususkan untuk mengumpulkan karyawan atau untuk pelatihan karyawan baru.


"Selamat pagi," Sapa Darren begitu dingin.


"Selamat pagi," Semua karyawan menjawab dengan antusias. Kapan lagi mereka disapa Darren? CEO mereka itu sangat dingin, bahkan untuk membalas ucapan selamat pagi dari mereka. Hanya saat-saat seperti inilah yang bisa membuat mereka bisa saling menyapa.


"Saya tidak akan berbicara panjang. Hari ini, saya akan memperkenalkan COO (Chief Operating Officer) baru perusahaan ini, Darrel Alvero Grisam." Darren menatap Darrel. Ia menggerakkan sedikit kepalanya, memanggil Darrel. Kemudian menyerahkan mic nya pada Darrel.


"Selamat pagi," Sapa Darrel.


"Selamat pagi," Balas mereka serentak. Tapi, di dominasi suara karyawan wanita.


"Senang sekali melihat kalian semangat seperti ini. Perkenalkan, saya Darrel Alvero Grisam. Saya akan menjadi COO di perusahaan ini. Semoga kita semua bisa bekerja sama dengan baik."


Setelah menyelesaikan sesi perkenalan, Darrel menuju ruangannya bersama Darren dan Jiyo. Ruangannya berada di lantai ke 29, sebelum lantai ruangan Darren.


"Kamu boleh mengatur ruangan ini sesuai keinginanmu." Suara Darren terdengar. Mereka sedang duduk di sofa ruangan Darrel.


"Aku menyukainya. Nggak ada yang harus diubah."


"Sekarang, kau sudah menjadi COO. Seharusnya, kita merayakannya bukan?" Ucap Jiyo.


"Tentu saja. Aku akan mengajak kalian ke restoran setelah jam kantor nanti."


"Oke. Siap-siap saja, akan ku habiskan uang mu nanti." Ucap Jiyo tersenyum misterius.

__ADS_1


"Lakukan saja." Darrel menanggapi dengan santai.


__ADS_2