Sahabat Possessive

Sahabat Possessive
Bab 33


__ADS_3

Darren, Darrel, Asya dan Jiyo tiba di apartemen yang dimaksud. Mereka memasuki lift menuju unit apartemen milik Darrel.


Asya dan Jiyo saling menatap bingung ketika Darrel mengetuk pintu dan menekan bel. Bukan kah itu unit apartemen miliknya? Kenapa Darrel mengetuknya? Apakah ada seseorang didalam?


Jiyo yang tidak bisa menahan dirinya pun bertanya.


"Kenapa kamu harus mengetuknya? Bukankah ini milikmu? Apa ada seseorang yang tingal disini?"


"Ya. Ada yang tinggal disini." Jawab Darrel, tenang.


Saat Asya ingin bertanya, pintu apartemen terbuka.


Ceklek...


Asya dan Jiyo mematung, begitupun dengan orang yang membuka pintu. Perempuan yang tak lain adalah Aurel itu, menatap mereka dengan mata yang berkaca-kaca. Begitupun dengan Asya. Sementara Jiyo, dia terlihat bingung dan terkejut. Tapi, ada rasa bahagia yang tak bisa ia bendung melihat Aurel berdiri tepat di hadapannya.


"Aurel."


Asya langsung menubruk tubuh gadis itu dan memeluknya erat. Hal yang sama dilakukan Aurel. Ia memeluk Asya tak kalah eratnya.


"Aurel, kemana saja kamu? Kamu menghilang begitu saja sejak kelulusan kita. Aku sangat merindukanmu." Air mata Asya menetes begitu saja.


"Maafkan aku." Hanya itu yang bisa keluar dari mulut Aurel. Perasaan senang, bersalah, bercampur jadi satu.


Di belakang mereka, Darren, Darrel dan Jiyo tidak lepas memperhatikan keduanya. Benar yang Darrel katakan. Rasa sayang Asya pada Aurel melebihi rasa sayang Asya pada Naomi. Darren bisa merasakan itu saat memperhatikan tingkah Asya.


Asya melepaskan pelukannya. Tangannya terulur mengusap air mata Aurel. Dengan senyum lembutnya, ia berkata pada Aurel.


"Jangan menangis."


"Tidak, Asya..."


"Kamu masih ingatkan? Kita adalah gadis kuat. Jadi..."


"Jangan menangis." Ucap mereka bersamaan. Mengingat kembali kata-kata penyemangat mereka ketika mereka mengalami kesulitan.


Aurel kembali memeluk Asya. "Terima kasih, karena tidak marah padaku."


"Tidak ada alasan yang membuatku harus marah padamu."


"Aku sudah meninggalkan kalian tanpa memberi kabar."


"Lupakan saja. Itu masa lalu."


Aurel mengangguk. Ia kemudian melepas pelukannya. Ia lalu menatap Jiyo.


"Jiyo," Ucapnya pelan.


Lelaki itu tersenyum padanya. Ia bergerak mendekat sambil merentangkan tangannya untuk memeluk Aurel. Namun, ia harus menelan kembali keinginannya karena Darrel menarik jas sekaligus kemeja yang ia kenakan. Membuat tubuhnya kembali mundur.


"Ck. Apa-apaan kamu ini?" Kesal Jiyo.


"Kamu nggak boleh peluk dia."


"Kenapa? Dia juga sahabatku."


"Tetap nggak boleh. Laki-laki nggak boleh peluk perempuan tanpa ada ikatan."


"Cih. Lepaskan! Ada ikatan persahabatan." Jiyo melepaskan tangan Darrel. Tapi, Darrel dengan cepat berdiri di depan Jiyo, menghalangi.


"Darrel!"


"Apa?"


"Ck. Kelewatan." Kesal Jiyo.


Asya dan Aurel yang melihatnya terkekeh pelan. Sedangkan Darren, sudut matanya menyipit melihat tingkah Darrel. Meskipun Darrel bersikap seolah sedang bercanda, dia bisa mengkap jika kembarannya itu melakukannya sungguh-sungguh.


"Ayo, Aurel! Kita masuk duluan. Biarkan saja mereka."


"Ayo!"


"Ayo, Darren!" Darren mengangguk dan berjalan masuk. Turut meninggalkan Darrel dan Jiyo.


"Ck. Itukan mereka pada masuk." Kesal Jiyo.


"Sudah! Ayo, masuk!" Darrel pun ikut masuk dan disusul oleh Jiyo.

__ADS_1


Kasihan banget hidupku. Punya sahabat dua-duanya pada posesif. Batin Jiyo.


Mereka pun duduk bersama di sofa. Asya duduk berdekatan dengan Aurel. Tangannya bahkan memeluk lengan Aurel.


"Oh ya, Aurel. Perkenalkan, ini kembaranku, Darren."


Aurel menatap Darren dan tersenyum padanya. Dia tidak mengulurkan tangannya untuk memperkenalkan diri. Darrel memberitahunya, Darren sering mengabaikan jabat tangan dengan seorang gadis. Jadi, cukup memperkenalkan diri saja.


"Saya, Aurel. Senang bertemu denganmu."


"Darren," Balasnya dengan wajah datar.


"Aku harap kamu memakluminya. Darren memang dingin seperti ini sejak kecil." Bisik Asya, membuat Aurel mengangguk.


"Dia yang kamu temui waktu di hotel kota C." Lanjut Darrel.


"Ya," Balas Aurel. Sekarang dia paham. Dia merutuki dirinya karena menyimpulkan semuanya dengan cepat. Dia tidak memperhatikan dengan jelas. Meskipun mereka berwajah sama, mata keduanya berbeda.


Asya dan Jiyo yang memang tidak tahu apa-apa, merasa bingung. Keduanya saling memandang.


"Hotel kota C?" Tanya Jiyo dan Asya bersamaan.


"Ya. Dia bekerja disana. Dia bertemu Darren saat mengantar makanan ke kamar Darren." Jelas Darrel.


"Mengantar makanan?" Suara Jiyo dan Asya kembali terdengar secara bersamaan.


"Kamu bekerja sebagai pengantar makanan di hotel?" Tanya Asya.


Aurel mengangguk sambil tersenyum. Berusaha menyembunyikan kesulitannya selama ini.


"Aurel, ketakan pada kami apa yang terjadi padamu selama ini?" Timpal Jiyo.


"Iya. Kenapa kamu bisa bekerja seperti itu? Bukankah kamu bisa bekerja di perusahaan Ayahmu?"


"Perusahaan itu bukan milik Ayahnya lagi." Ucap Darrel membuat semua menoleh padanya. Aurel menggeleng agar Darrel tidak menceritakan semuanya. Tapi, Darrel mengabaikannya. Darrel pun mulai menceritakan semua, sesuai yang Aurel ceritakan pada dirinya.


Asya sampai meneteskan air matanya. Hidup sahabatnya sangat sulit. Tapi, dia tidak berada di samping gadis itu.


"Maafkan aku, Aurel. Aku benar-benar sahabat yang buruk. Aku nggak tahu bagaimana sulitnya hidup sahabatku. Aku nggak ada saat kamu membutuhkan ku." Asya memeluknya.


"Aku juga minta maaf, Aurel." Timpal Jiyo.


"Tapi, Aurel..."


"Asya. Kamu. Kalian semua adalah sahabat terbaik. Dalam masa sulitku, aku selalu bersemangat saat mengingat kebahagiaan kita bersama."


Walaupun saat itu aku berpikir, tidak akan ada kebahagiaan seperti itu lagi. Tapi, Tuhan masih mengizinkanku untuk merasakan kebahagiaan tersebut. Lanjut Aurel dalam hati.


"Terima kasih."


"Aku yang seharusnya berterima kasih, Asya. Kalian sudah mau menjadikanku sahabat kalian."


Setelah semua hal yang mereka lewatkan, mereka memutuskan makan siang bersama. Lalu, berpamitan pulang. Darrel masih tinggal. Ia ingin menemani Aurel.


Darren, Asya dan Jiyo kembali ke perusahaan. Darren mengantar Asya ke perusahaannya. Asya menatap Darren yang sedang menyetir. Dari sudut matanya, Darren tahu, jika Asya sedang memperhatikannya.


"Ada apa?" Tanyanya tanpa mengalihkan tatapannya dari jalanan.


"Hmm? Enggak." Asya mengelak.


"Katakan saja."


"Emm... Bagaimana Aurel menurutmu?"


"Sopan." Balas Darren, singkat.


Ia menoleh pada Asya, dan mendapati gadis itu mengulum senyum. Ia langsung teringat akan rencana gila Asya yang berusaha mendekatkannya dengan Naomi.


"Jangan berpikir macam-macam, Asya." Peringatnya, tetap fokus pada jalanan.


"Macam-macam gimana?" Asya menatap wajah Darren dari samping.


Benar-benar tampan. Kagumnya dalam hati.


"Seperti kamu berusaha mendekatkan aku dan gadis itu."


Maksud 'gadis itu' adalah Naomi. Asya terdiam sejenak. Ya, itu salahnya. Dia terlalu memaksa agar Darren mau dekat dengan Naomi. Sekarang, dia akan membiarkan semuanya berjalan semestinya. Dia tidak akan ikut campur lagi. Biarkan Darren yang memilih sendiri.

__ADS_1


"Aku nggak berpikir seperti itu. Emm... Tapi, sepertinya boleh juga." Balasnya, mencoba menggoda Darren.


"Asya!" Suara Darren berubah sedikit dingin. Seolah sedang memberi peringatan pada Asya.


"Apa?" Balasnya, tanpa merasa bersalah sedikitpun.


"Jika kamu melakukannya, aku akan bertindak pada Aurel seperti apa yang aku lakukan pada gadis itu."


"Kamu serius?"


"Ya."


"Meskipun Darrel menyukainya?"


Darren terdiam sejenak. Darrel menyukai Aurel. Bahkan Asya dapat melihatnya.


"Aku akan tetap melakukannya jika dia bersikap seperti gadis itu. Gadis yang bersikap buruk, nggak pantas untuk Darrel."


"Huufth... Benar-benar teguh pendirian. Aku nggak akan melakukannya lagi. Aku hanya bercanda. Aku juga nggak mungkin buat pertikaian diantara kalian. Apalagi kalian ini saudara. Kembar lagi." Ucap Asya.


Darren tersenyum tipis dan mengelus kepala Asya.


"Oh ya, Darren."


"Hmm?"


"Kenapa aku tidak pernah mendengar kamu menyebut nama Naomi? Kamu selalu menyebutnya dia, gadis itu, perempuan itu. Nggak pernah sekalipun nama Naomi keluar dari mulutmu."


"Namanya tidak pantas ku sebut."


Asya menarik nafasnya mendengar jawaban Darren. Lelaki itu benar-benar tidak menyukai Naomi.


"Sebanrnya dia gadis baik. Hanya saja dia mulai berubah. Entah karena apa, aku nggak tahu."


"Kamu masih membelanya?"


"Dia sahabatku. Aku harus memberitahunya jika dia salah. Bukannya aku membela."


"Ya. Sahabat yang mencelakai sahabatnya sendiri."


"Huufthh..." Asya hanya menarik nafasnya. Suasana mobil menjadi hening hingga tiba di Yunanda Group.


Mobil Darren berhenti. Saat Asya hendak turun, Darren menahannya.


"Tunggu."


Asya berbalik menatapnya. "Ada apa?"


"Aku akan menjemputmu."


"Hah? Untuk apa?"


"Aku sudah berkata untuk membantumu menyelesaikan pekerjaanmu."


"Kamu serius dengan ucapanmu itu tadi?"


"Ya."


"Astaga, Darren. Aku bisa menyelesaikannya. Saat pulang nanti, kamu pulang saja dan istirahat. Pekerjaanku bisa aku selesaikan."


"Bawa semua berkas itu. Kita selesaikan bersama di rumahmu."


Asya kembali menarik nafasnya. Perkataan Darren adalah bentuk jika dia tidak ingin dibantah. Asya hanya mengangguk pasrah.


Darren mengusap kepala Asya sambil tersenyum kecil. "Aku akan menjemputmu nanti."


"Hah? Ng-nggak perlu. Aku akan pulang sendiri."


"Aku akan menyuruh orang ku membawa pulang mobilmu."


Asya lagi-lagi menarik nafasnya. Darren benar-benar susah dibantah.


"Aku yang akan meminta orang Papa membawanya pulang." Ucap Asya, kembali pasrah.


Darren kembali tersenyum tipis. Kali ini, dia tidak mengelus rambut Asya, tapi ia menarik gadis itu dan mencium keningnya.


Wajah Asya langsung memerah. Jantungnya berpacu dengan cepat. Selama dia bersama Darren, lelaki itu tidak pernah berlaku seperti itu padanya. Darren hanya memeluknya, tidak sampai menciumnya. Dia menganggap, jika ini adalah Pertama kalinya Darren menciumnya. Dan tanpa ia sadari, itu sudah yang keberapa kalinya.

__ADS_1


Dengan gugup, Asya menjauhkan wajahnya dari Darren. "A-aku pergi dulu." Ucapnya, langsung mendorong pintu mobil dan berlari memasuki kantornya.


__ADS_2